
Tak puas dengan keterangam yang kudapat dari Aaron, aku menghubungi Zuri dan memintanya menemuiku di rumah sakit. Begitu cucu yang cantik itu tiba, aku segera menanyakan apa yang memang ingin kutanyakan. Zuri pun menceritakan kegiatannya hari ini. Aku bahagia mendengar cucuku itu telah diterima sebagai asisten pribadi pimpinan perusahan. Namun, aku berusaha memenangkan diri untuk tidak terlihat khawatir agar Zuri tidak curiga. Tapi sayangnya kekhawatiran itu tidak bisa disembunyikan saat mendengar Zuri akan tinggal di apartemen milik keluarga Daniel. Itu artinya setiap hari Zuri akan berinteraksi dengan Jacky.
"Ada apa, Kakek? Apa Kakek mengenal tuan Jacky Daniel?"
Tubuhku langsung terpaku mendengar pertanyaan itu. Antara menjawab atau tidak, yang jelas kedua hal itu membuatku takut.
"Tuan," panggil Aaron yang akhirnya membuatku sedikit lega. Aaron tahu apa yang membuatku khawatir. Karena sejak dulu aku sudah menceritakan kepadanya soal hubungan antara Zuri, Jacky dan Abigail. Walaupun Zuri marah, tapi aku tahu dia marah akibat rasa penasarannya belum terobati. Aku pun menenangkan Zuri dengan alasan yang masuk akal, walaupun aku tak yakin gadis itu akan percaya.
"Sayang, kita bisa bicara lagi lain waktu, ya. Nanti malam kan kita akan bertemu di ruang makan. Kita akan bicara panjang lebar sebelum kamu pindah ke apartemenmu."
Kulihat ekspresi Zuri yang tampak ragu. Namun itulah yang kusuka darinya, tidak memaksa. Meskipun penasaran sudah menyelimuti dirinya, tapi Zuri tidak memaksakan aku untuk menjawab pertanyaannya. Zuri adalah gadis pintar. Dia tipe orang yang menilai segala sesuatu dengan logika, bukan perlakukan. Jadi walaupun tidak secara langsung aku mengungkapkan soal kekhawatiran tersebut, tapi dari eskpresiku itu pasti sudah membuatnya yakin. Untung saja Aaron memberikan alasan yang tepat, sehingga aku bisa beralasan untuk menghindarinya.
"Anda yakin ini tidak akan berlanjut di meja makan, Tuan?" tanya Aaron sambil menyetir. Saat ini aku dan Aaron dalam perjalanan menuju rumahku.
"Entalah, Aaron. Tapi aku sudah memikirkan cara agar bisa terhindar dari pembicaraan itu. Aku tidak akan ikut makan malam. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
"Baik, Tuan. Anda tenang saja, saya pasti akan membantu Anda."
Tatapanku sendu ke luar jendela. "Apa mungkin ini adalah tanda, bahwa mereka memang seharusnya bersama? Apa menurutku aku salah, telah memisahkan ayah dan anak itu?"
"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya tidak tahu apa yang membuat Anda sampai tega melakukan itu. Jika memang seperti itu adalah hal terbaik bagi Anda, besar kemungkinan itu adalah hal terbaik yang Anda lakukan demi menolong mereka."
Rasa bersalah semakin menyelimuti diriku. Ingin rasanya kumasuk ke dalam lubang dan mengurung diri di sana. Sekarang Zuri sudah bertemu Jacky. Tuhan bahkan mempertemukan mereka dengan cara yang luar biasa. Ya, Tuhan ... seandainya suatu saat semuanya akan terbongkar, aku lebih baik mati daripada harus mengakui kesalahan terbesarku. Aku tidak ingin Abigail marah padaku. Aku tidak ingin Jacky menyalahkanku karena sudah memisahkan dia dari Abigail. Tidak! Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau di hukum. Aku tidak mau di benci oleh mereka.
__ADS_1
Saking kebanyakan berpikir soal itu kondisiku akhirnya menurun. Walaupun tak sedang karena tak berdaya di atas tempat tidur, tapi aku sedikit senang karena hal ini bisa menjadi alasan untuk menghindari Zuri. Aku tidak ingin bertatapan dengan gadis itu. Aku tidak mau dia membahas soal keluarga Daniel lagi, karena itu hanya akan membuat hatiku semakin takut.
Sudut pandang Zuri.
Setelah beberapa menit kakek pergi bersama Aaron, aku juga keluar dari ruangan itu kemudian pulang. Karena waktu makan masih lama, aku menghabiskan waktu mengemasi barang-barang. Besok aku akan tinggal di apartemen.
Aku hampir lupa untuk memberitahu mama. Mama pasti akan kaget jika dengar besok aku akan mulai bekerja dan fasilitas yang kudapatkan. Namun sayangnya saat kuhubungi kontak mama nomornya tidak aktif. Beberapa kali aku mencobanya tapi hasilnya sama. Kulirik jam dinding ternyata menunjukkan pukul enam sore. Mama pasti sedang istirahat. Ini bukan baru pertama kali jika mama mematikan ponselnya. Setiap kali pulang kantor mama pasti akan mematikan ponsel agar tidak ada yang mengganggu waktu tidurnya.
Tak terasa waktu makan malam sudah tiba. Sehabis mandi dengan tubuh terbalut celana pendek hitam dan kaos oblong berwarna merah dengan logo cek list putih di dada aku ke luar kamar untuk mencari kakek. Selain ingin menagih janji kakek untuk membahas soal keluarga Daniel, aku sangat penasaran dan ingin tahu alasan kenapa kakek tidak mengijinkanku tinggal di apartemen itu. Sayangnya begitu tiba di ruang makan aku tidak menemukan siapa-siapa selain Aaron yang sedang berdiri di dekat meja sambil mengawasi salah satu pelayan yang sedang mengatur makan malam di atas nampan.
"Untuk siapa itu?" tanyaku ingin tahu.
"Tuan Robbie. Beliau tidak bisa ikut makan malam, karena kondisi tidak memungkinkan."
"Tuan tidak apa-apa, hanya butuh istirahat. Seharian tadi di rumah sakit membuat tuan kelelahan."
"Kalau begitu aku ingin ke kamarnya. Aku ingin melihat kakek."
Baru saja hendak beranjak Aaron langsung menahanku. "Maaf, Nona. Tuan Robbie sedang istirahat. Jika Anda ingin berkunjung silahkan, tapi jangan sampai Anda mengganggu istirahat beliau."
"Aku hanya ingin melihat kakek. Aku khawatir pada kakek."
"Nona tenang saja, kakek Anda tidak apa-apa. Beliau hanya kelelahan. Tapi jika Anda ingin melihatnya, ayo ikut saya."
__ADS_1
Dengan langkah sedikit cepat aku dan Aaron menaiki tangga menuju kamar kakek diikuti pelayan wanita yang membawa nampan berisi makan malam. Begitu tiba di depan kamar Aaron membuka pintu sangat pelan. Kulihat kakek sedang terbaring dengan kedua mata terpejam.
"Tidurnya nyenyak sekali," bisikku kepada Aaron.
"Setiap kali habis minum obat beliau pasti akan terlelap seperti itu."
Karena lega kakek tidak apa-apa, aku pun pamit untuk makan malam. Tibanya di sana ada seorang pelayan wanita yang sedang berjaga di ruang makan. Karena tak mau makan sendirian aku meminta wanita itu menemaniku makan.
"Maaf, Nona. Tapi saya sudah makan."
"Kamu bohong. Pasti kamu belum makan, bukan? Ayo, temani aku makan. Tidak mungkin juga kan aku menghabiskan semua makanan ini sendirian."
Belum sempat menjawab perkataanku tiba-tiba Aaron datang. "Untung kau ke sini. Ayo, temani aku makan."
"Tapi___"
"Tidak ada tapi-tapian. Cepat duduk lalu makan."
Tak ingin membatah akhirnya Aaron menurut. Pria itu mengambil posisi di depanku. Aku membiarkan Aaron mengambil menu yang dia inginkan lalu menembaknya dengan pertanyaan yang sejak tadi sudah membuatku penasaran.
"Oh iya, menurutmu kenapa ya kakek tidak mengijinkanku tinggal di apartemen keluarga Daniel?" Kuliat ekspresi Aaron tidak berubah, pria itu terus mengunyah tanpa menjawab pertanyaanku. Aku pun tak menuntut, menunggu pria itu selesai makan baru kuserang lagi dengan pertanyaan yang sama, "Aaron, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kakek tidak mengijinkanku tinggal di apartemen Daniel?"
Bersambung____
__ADS_1