
Belum sempat membuka kunci layar di ponsel om Jacky langsung mengambil posisi di samping kemudian merangkulku. Beliau juga menarik kepalaku lalu menempelkan bibirnya ke dahiku.
"Bagaimana kabarmu hari ini? Papa sangat merindukanmu."
Betapa senang hatiku ini. Sikap om Jacky seperti itu sama persis dengan ayah-ayah lain yang memperlakukan anaknya. Meskipun bukan anak kandung om Jacky tapi aku sudah sangat bahagia diperlakukan seperti itu.
"Kabarku baik, Pa."
Tante Ellena berdeham. "Kalau dilihat secara berdekatan kamu dan Zuri sedikit mirip, Jack."
"Benarkah?" tanya om Jacky sambil menatapku.
"Benar, Jack," tambah nyonya Lisa, "Billy, coba kamu duduk di sini."
Nyonya Lisa berpindah posisi di samping tante Ellena. Billy tersenyum kemudian duduk di samping kananku. Tubuh kami bertiga sangat dekat. Aku yang berada di antara dua lelaki tampan ini merasa sesak karena tubuh mereka yang besar.
"Kalian bertiga sangat mirip, sumpah."
Perkataan tante Ellena membuat nyonya Lisa terkikik. "Tunggu sebentar, aku harus mengabadikan momen ini. Aku ingin mengambil gambar kalian bertiga untuk kenang-kenangan."
"Ya ampun, Ma. Jacky, Zuri dan Billy sangat mirip ya. Jack, kamu seperti memiliki dua anak."
Om Jacky tertawa. Billy juga senyum-senyum dengan wajah merah padam. Aku juga senang mendengar penilaian tante Ellena dan nyonya Lisa. Namun ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku jika suatu saat aku akan berpisah dari mereka.
Keluarga Daniel sudah seperti keluargaku sendiri. Mereka semua sangat baik dan perhatian. Sangat bersyukur aku bisa bertemu mereka. Namun cepat atau lambat aku pasti akan meninggapkan mereka. Aku akan berpisah dengan tante Ellena dan nyonya Lisa. Wanita yang super cantik dan baik hati. Aku akan berpisah dengan Billy, pria yang sekarang menjadi pacarku tapi belum tentu bisa menjadi jodohku. Aku akan berpisah dengan kakek buyut. Aku juga akan berpisah dengan kakek Theo yang tak lain adalah saudara dari mantan kekasih kakekku Robbie.
Yang paling membuatku sedih ketika membayangkan berpisah dengan om Jacky. Om Jacky sudah kuanggap seperti papa kandungku. Beliau memberikan apa yang tidak pernah kudapat dari papa kandungku sendiri. Rasanya aku tidak mau dan tidak akan pernah mau berpisah dengan om Jacky.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Bagaimana agar aku tetap bersama om Jacky? Bagaimana agar selamanya aku bisa bersama om Jacky? Seandainya aku berjodoh dengan Billy, aku pasti akan bahagia bisa menjadi menantu om Jacky. Walaupun harus keluar kota untuk menggantikan posisi mama, setidaknya aku masih bisa kembali ke kota ini untuk bertemu dengan om Jacky.
Tapi bagaimana kalau aku tidak berjodoh dengan Billy? Cepat atau lambat aku harus berhenti dari pekerjaan ini, menggantikan posisi mama. Jika itu terjadi lalu bagaimana kalau aku ingin bertemu om Jacky, sedangkan aku sudah bukan juru masaknya lagi?
Aku harus mencari cara agar kehidupanku akan terikat selamanya dengan om Jacky. Aku harus mendekatkan mama dengan om Jacky. Aku harus menjodohkan mereka berdua. Lagi pula kan om Jacky sebentar lagi akan menceraikan tante Debora. Itu artinya status mama dan om Jacky akan sama. Profesi mereka juga sama.
__ADS_1
Ya Tuhan, membayangkan itu saja sudah membuatku gemas. Betapa bahagianya aku jika mendapatkan papa tampan, kaya raya seperti om Jacky yang merupakan pimpinan perusahan ternama dan mama cantik yang juga adalah pimpinan perusahan terkenal di kota lain. Aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia jika di antaraku ada sosok penuh kasih seperti om Jacky dan sosok hebat seperti mama.
Ternyata gambar yang diabadikan oleh tante Ellena dan nyonya Lisa diketahui oleh kakek buyut dan kakek Theo. Satu jam setelah om Jacky dan Billy tiba, kakek buyut dan kakek Theo juga tiba dengan ajudan masing-masing.
Saat ini aku masih di kelilingi oleh Billy dan om Jacky. Di depan kami ada kakek Theo yang duduk bersebelahan dengan istrinya. Tante Ellena dan kakek buyut yang sedang memangku Emelly. Anak itu sepertinya sangat dekat dengan kakek buyut.
Namun tidak bertahan lama kakek buyut berpamitan untuk pergi beristirahat. Usia kakek buyut sudah lebih tua dari kakek Robbie. Jadi wajar jika beliau harus banyak istirahat demi menjaga kesehatannya.
"Zuri, kapan mamamu ke sini? Sekali-kali kamu harus mengundang mamamu untuk datang, Nak," perkataan kakek Theo membuat semua orang setuju.
"Iya, biar kita semua bisa saling mengenal satu sama lain. Kamu sudah seperti keluarga. Jadi sudah seharusnya kami juga mengenal keluargamu," tambah nyonya Lisa.
"Kata Jack kamu punya keluarga di kota ini. Apa itu benar, Sayang?" tanya kakek Theo.
"Benar, Kakek."
"Oh, iya. Perasaan selama ini kamu tidak pernah bilang kepada papa soal keluargamu itu."
Aku hanya tersenyum manis sebagai balasannya.
"Permisi, Tuan," interupsi seorang ajudan mengalihkan pandangan kami semua, "Tuan besar ingin bicara dengan Tuan Jacky."
Om Jacky menatapku. "Tunggu sebentar, ya. Papa akan segera kembali."
"Iya, Pa."
Setelah om Jacky berlalu tante Ellena menatapku lalu berkata, "Tak bisa kubayangkan jika suatu saat Jack akan kehilanganmu. Jack sangat menyayangimu. Dia menyayangimu sama seperti dia menyayangi Billy."
"Aku juga manyayangi kalian semua. Tapi cepat atau lambat aku pasti akan kembali ke kota asal. Aku akan kembali untuk menggantikan posisi mamaku."
Nyonya Lisa berkata, "Zuri, Sayang. Seandainya nenek tidak mengijinkanmu kembali dan tetap menyuruhmu tinggal di kota ini, bagaimana?"
"Benar. Kakek juga sependapat dengan nenekmu. Iya kan, Ellena?"
__ADS_1
"Iya, Pa."
Aku bingung harus menjawab apa. Billy mungkin tahu apa yang kurasakan. Pria itu mengulurkan tangan lalu mengusap lenganku. "Kami semua senang kamu ada di sini. Tidak hanya kakek, nenek, bibi, papa, aku dan Emelly juga tidak mau kamu pergi. Iya kan, Emelly?"
"Ho-oh."
Ekspresi semua orang terlihat sedih. Mereka menatap seakan menunggu jawabanku. "Jujur saja, aku juga tidak ingin berpisah dengan kalian. Keluarga ini sudah seperti keluargaku sendiri. Apalagi hanya kalian yang memberikanku kehidupan seperti ini. Kehidupan yang tidak pernah kudapatkan dari keluargaku sendiri. Berpisah dengan kalian semua sudah pasti akan membuatku tersiksa. Kalian semua adalah hidupku. Kalian semua sudah seperti duniaku."
Aku menangis saking tak kuasa menahannya. Membayangkan berpisah dengan mereka saja sudah membuat dadaku sesak. Billy merangkul dan memelukku. Nyonya Lisa juga bangkit lalu memelukku dengan sangat erat.
"Jangan menangis, Sayang. Kami akan selalu bersamamu. Kami tidak akan meninggalkanmu begitu juga sebaliknya."
Kulihat tante Ellena berdecak setelah menghapus airmatanya. "Daripada membahas hal yang menyakitkan seperti ini, lebih baik kita ke dapur untuk menyiapkan makan malam."
***
Saat ini sudah pukul sepuluh malam. Setelah menghabiskan waktu bersama keluarga Daniel dengan sangat bahagia, aku pamit pulang ke apartemen bersama Billy. Karena aku membawa mobil sendiri Billy terpaksa harus mengalah untuk berduaan malam ini.
Begitu tiba di apartemen aku pun segera masuk ke dalam untuk membersihkan badan. "Aku mandi dulu. Kamu juga belum mandi, kan?"
Billy tersenyum padaku. "Selesai mandi aku akan kembali."
"Iya."
Setelah memberikan ciuman intens yang mendetakkan dada aku akhirnya masuk ke dalam. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba bel pintu apartemenku berbunyi.
Ting! Tong!
Aku berbalik membuka pintu. Begitu melihat Billy yang ternyata kembali lagi membuatku tertawa. "Ada apa?"
Tanpa menjawab Billy langsung mendekat dan ******* bibirku. Aku terkejut tapi tidak menolak. Aku memejamkan mata, membalas ******* panas Billy tapi pria itu melepaskan bibirnya dengan tiba-tiba.
Aku kesal. "Kenapa?"
__ADS_1
Bersambung___