
Saking terkejutnya aku menyandarkan punggung ke sofa dengan mulut tebuka lebar. Billy bukan anaknya om Jacky? Tapi wajah mereka sangat mirip.
"Itulah alasan kenapa sekarang tante masih terikat dengan Stella dan Gilbert. Tante takut mereka akan membongkar kebohongan terbesar tante kepada keluarga Daniel. Jadi mau tidak mau tante terpaksa menuruti semua keinginan mereka demi rahasia itu."
"Berarti soal perselingkuhan tante dengan om Gilbert itu tidak benar? Eh, maksudku, selama ini tante bersama om Gilbert karena rahasia itu kan bukan karena ada hubungan spesial?"
Tante Debora menatap sedih. "Selain karena ancaman Gilbert tante memang punya hubungan spesial dengan lelaki itu. Tante tidak bisa melepaskannya karena dia papanya Billy."
Ya ampun, om Gilbert papanya Billy. Seandainya Billy tahu orang yang paling dia benci adalah papanya ... Ya Tuhan, kutukan apa yang Engkau berikan kepada keluarga Daniel? Kesalahan apa yang mereka lakukan sampai karma seperti ini harus dialami mereka.
"Tante ingin sekali menceritakannya padamu, Sayang. Namun, tante tidak ingin Anggie curiga karena kita terlalu lama berdua. Untuk saat ini kita harus berpura-pura. Tante harap perasaanmu kepada tante tidak berkurang jika sikap tante sedikit kasar. Tante terpaksa melakukan ini, Zuri. Tante belum siap hancur."
Aku memeluk tante Debora. "Aku mengerti, Tante. Sekarang Tante tidak sendiri lagi, ada aku yang akan bersama Tante. Kapanpun Tante ingin bicara, hubungi saja aku atau kita adakan jadwal untuk bertemu."
"Terima kasih, Sayang. Kamu malaikat bagi tante. Sekarang, tante harus berpura-pura. Kamu diam saja dan ikuti perkataan tante, ya."
"Iya, Tante."
"Tante harus mengikat tanganmu dan menutup wajahmu. Kamu tenang saja, tante akan membebaskanmu dari sini. Bukankah kamu harus membuatkan sarapan untuk anak dan suami tante di rumah?"
Aku terkekeh. "Tapi kalau Anggie tahu, bagaimana? Dia pasti akan mengatakan hal ini kepada mamanya dan pasti tante Stella akan melakukan sesuatu untuk membalasnya."
"Kamu tenang saja, tante sudah memikirkan hal itu sejak tadi. Sekarang ayo ikut, tante harus mengikat tangan, mulut dan menutup kepalamu, kalau tidak Anggie akan menyakitimu."
#Sudut pandang Billy.
Sambil mondar-mandir di dalam ruang tamu aku terus menghubungi kontak Zuri yang sejak tadi tidak aktif. "Sebenarnya kamu ini di mana, hah? Mengantar orang ke rumah sakit saja kenapa harus selama ini?"
Pagi ini aku terlambat bangun. Kantuk dan lelah membuatku terlelap hingga melewatkan olahraga pagi yang sering aku lakukan. Tidak biasanya aku seperti ini. Tapi karena Zuri aku tertidur lelap dan bangun sedikit terlambat.
__ADS_1
Aku tidak menyalahkan Zuri, karena aku juga menginginkannya. Pagi ini begitu sadar aku segera ke apartemen Zuri untuk membantunya membuat sarapan. Tiba di sana ternyata gadis yang membuat hatiku selalu berbunga-bunga itu tidak ada.
Kuhubungi Zuri ternyata gadis itu sedang olahraga. Zuri suka olahraga, itu sebabnya bodinya sangat bagus membuatku sangat tergila-gila padanya. Bukan karena fisik, aku mencintai Zuri karena memang Zuri adalah wanita pertama yang membuat hatiku bergetar.
Tak sabar ingin menunggu Zuri kembali aku akhirnya menunggu. Membayangkan adegan semalam di mana Zuri duduk dengan kaki terbuka lebar membuatu bergairah. Keperkasaanku mengeras mengingat Zuri berteriak enak saat sapuan lidahku bergerak nakal di bagiannya yang mulus. Oh, Zuri. Kamu di mana, aku tak tahan lagi ingin membuka lebar kakimu kemudian melahap bagian kenyal, mulus dan harum itu.
Aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Sejak Zuri menerimaku sebagai pacarnya aku mencaru edukasi itu dari sebuah situs internet yang terkenal. Alhasil edukasi itu membuat Zuri dan aku ketagihan. Aku tak sabar menunggu kedatangan Zuri. Membuatnya telanjang dan membuatnya basah hingga berteriak. Aku akan membuat Zuri semakin tergila-gila padaku. Aku akan membuatnya basah dan ******* berkali-kali.
"Billy, kamu kenapa?"
Suara papa membuatku terkejut. Kulihat papa sudah rapi dengan jas gelap yang sangat rapi. Aku belum mandi, bahkan masih memakai celana pendek. Saat ini aku berada di ruang tengah apartemen hunian aku dan papa. Sudah dua jam Zuri tidak muncul aku memutuskan untuk meninggalkan apartemennya. "Zuri, Pa. Sudah dua jam sejak dia menghubungiku sampai sekarang dia belum kembali."
"Memangnya ke mana Zuri?"
Aku mengatakan kepada papa seperti apa yang dikatakan Zuri padaku melalui telepon. "Ini sudah pukul delapan tapi Zuri belum datang. Zuri belum membuat sarapan, Pa."
"Soal sarapan tidak masalah. Pagi ini papa ada janji dengan klien untuk sarapan bersama. Masalahnya siapa orang yang Zuri tolong itu dan dengan siapa dia pergi ke rumah sakit?"
Kulihat ekspresi berubah. Papa menjadi gelisah sepertiku. Papa sudah menganggap Zuri seperti putrinya sendiri. Aku senang, itu artinya papa akan selalu membuat aku dan Zuri terus bersama selamanya.
"Kamu sudah menghubunginya?" papaku duduk sambil mengotak-atik ponsel.
"Sudah, Pa. Tapi sampai sekarang nomornya tidak bisa dihubungi. Apa sebaiknya kita susul saja Zuri ke rumah sakit?"
"Apa Zuri beritahu rumah sakit mana dia pergi?"
"Tidak."
"Kalau begitu kita tunggu berapa menit lagi. Kalau dalam waktu setengah jam Zuri tidak pulang, kita akan menyusulnya. Papa takut terjadi sesuatu padanya."
__ADS_1
Kegelisahan papa sangat jelas. Ini pertama kali aku melihat papa sekhawatir ini. "Ada apa, Pa? Kenapa Papa sangat gelisah?"
"Tidak apa-apa. Papa hanya takut terjadi sesuatu kepadanya. Di saat masalah mamamu dan Anggie sekarang ini, papa takut mereka akan melampiaskannya kepada Zuri."
"Aku juga berpikir hal yang sama, tapi aku yakin Zuri bisa jaga diri. Zuri wanita bijak, Pa."
"Papa tahu, tapi___"
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel milikku membuat papa menghentikan perkataannya. Dengan ekspresi penasaran papa bertanya, "Siapa, Billy?"
Kulihat kontak mama sebagai pemanggil. "Mama."
Papa tidak menjawab lagi. Papa mengalihkan pandangan lalu mengotak-atik kembali ponselnya. Aku menatap layar yang masih saja terpampang nama mama. Penasaran apa yang ingin dikatakan mama, aku segera menekan tombol hijau untuk menyambungkan.
Semarah apapun aku terhadap sikapnya mama adalah wanita yang melahirkanku. "Halo, Ma?"
"Selamat pagi, Sayang. Kamu di mana, Nak?"
"Di apartemen. Ada apa, Ma?" jawabku malas. Walaupun sebenarnya malas sebagai anak aku harus bicara dengan mama.
"Mama ingin bicara soal Zuri."
"Zuri?" ulangku dengan ekspresi terkejut. Papa yang juga sibuk dengan ponsel kini berpaling menatapku, "Apa Zuri bersama Mama?"
"Sebelumnya iya, tapi sekarang kekasihmu itu dalam perjalanan pulang. Supir mama yang mengantarkannya."
Lega dan bingung menjadi satu. "Supir Mama mengantarkan Zuri pulang? Kenapa bisa Zuri bersama Mama?"
__ADS_1
Dengan cepat papa berdiri kemudian merampas ponsel dariku. "Kau apakan anak itu, hah? Jangan berani-berani kau menyentuhnya, Debora. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika kau berani menyakiti Zuri."
Bersambung____