
"Bisa-bisa saja. Tapi____"
"Ma," kataku memotong pembicaraan mama, "Jangan buat aku kecewa."
Mama memelukku. "Baiklah, mama akan bertemu dengannya."
Aku senang mendengarnya. Tak kusangka om Jacky ternyata mau bekerja sama. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama jika tahu om Jacky adalah teman kampusnya. Aku tak bisa menahan tawa membuat mama menatapku curiga.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa. Ayo, kakek pasti sudah menunggu," ajakku memasuki rumah.
Mama protes. "Bohong. Apa yang kamu pikirkan, hah?
"Tidak ada, Ma. Aku___"
"Halo, Sayang-sayangku."
Suara kakek membuatku dan mama terdiam.
"Paman, aku merindukanmu," mama menyapa kemudian memeluk kakek.
Pelayan datang mengambil koper mama kemudian membawanya ke lantai atas.
Kakek balas memeluk mama. Pelukan mereka sangat erat seperti papa dan anak yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Saat ini aku, mama dan kakek berada di ruang tengah.
Aaron muncul dengan ciri khasnya yang dingin. Melihat Aaron aku tersenyum samar kemudian mengalihkan pandangan. Aku tidak mau Aaron curiga karena perubahan sikapku kepadanya. Tapi jujur, sampai sekarang aku masih tak percaya kalau ajudan kakekku ini adalah anak sambung dari lelaki yang kusayangi.
Seandainya aku dan Billy menikah. Om Jacky dan tante Debora tidak bercerai. Itu artinya aku dan Aaron adalah kakak-beradik. Ya, ampun. Aku tak bisa bayangkan betapa marahnya om Jacky nanti jika beliau tahu istrinya sudah punya anak terlebih dahulu sebelum menikah. Om Jacky pasti akan murka, apalagi jika om Jacky tahu bahwa di balik rahasia itu ada kakek buyut.
Soal status tante Debora dan Aaron mungkin om Jacky bisa memaafkan seandainya masalah itu terbongkar. Namun, apakah om Jacky bisa memaafkan mereka jika tahu bahwa Billy bukan anak kandung om Jacky? Hubungan keluarga Daniel pasti akan hancur jika rahasia itu terbongkar.
Kakek dan mama duduk bersebelahan. Aku duduk di depan mereka.
"Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?" tanya kakek Robbie sambil mengusap rambut panjang mama. Mereka berdua terlihat mesra seperti papa dan anak. Jelas hal itu membuatku iri. Aku tidak pernah seperti itu.
Tidak. Aku tidak boleh iri, sebentar lagi aku akan punya om Jacky sebagai papaku. Beliau akan memperlakukanku seperti itu setiap hari.
__ADS_1
"Maafkan aku, Paman. Aku sengaja tidak memberitahu, aku ingin memberi kejutan kepada Paman."
"Untung paman belum ke rumah sakit."
Kulihat mama dan kakek saling berpelukan. Ya ampun, betapa mesranya mereka.
"Kamu ingin makan apa malam ini, paman akan menyuruh pelayan membuatnya."
Mama menatapku seraya mengodekan mata. "Terima kasih, Paman. Tapi malam ini aku ada janji dengan teman kampusku. Aku akan makan di luar."
Aku tertawa dalam hati. Kebohongan mama tepat. Mama pasti akan terkejut jika tahu atasanku adalah teman kampusnya. Hahaha.
#Sudut pandang om Jacky.
Sambil mondar-mandir di balik dinding kaca perusahan aku memikirkan alasan agar bisa bertemu Abigail. Aku harus bertemu dengan Abigail dan meminta penjelasan. Untung saja Zuri mau bekerja sama menyembunyikan identitasku, kalau tidak Abigail pasti tidak akan mau bertemu denganku.
"Abigail pasti akan marah jika dia tahu atasan Zuri adalah aku. Abigail pasti tidak akan mengijinkan Zuri bekerja denganku lagi."
Aku gelisah memikirkan itu. Aku terlanjur menyayangi Zuri. Bukan karena gadis itu disukai putraku, sejak melihat Zuri hari itu aku sangat tertarik padanya. Aku merasa seperti punya ikatan batin dengan Zuri. Aku sampai bertanya-tanya kenapa itu bisa terjadi.
Sekarang setelah tahu Zuri adalah anak Abigail, aku pun tahu kenapa sampai perasaan itu timbul. Aku tak menyangka juru masakku adalah anak dari wanita yang kucintai. Wanita yang sampai saat ini membuat jantungku berdetak setiap kali mengingatnya.
Tak mau melewatkan kesempatan aku mengirim pesan singkat kepada Zuri. Aku ingin mengajak Abigail makan malam dan semoga saja Abigail tidak menolaknya. Aku sangat merindukan wanita itu. Pokoknya malam ini aku harus bertemu Abigail. Apapun yang terjadi, aku harus bertemu dengannya dan meminta penjelasan.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel mengejutkanku. Dengan cepat kuambil benda tersebut lalu menatap layar. Debora? Ada apa lagi wanita gila ini menghubungiku? Aku tak mengangkat dan mengabaikan panggilannya. Mengingat Abigail telah kembali, aku berharap perceraianku dengan Debora segera selesai. Tak peduli Zuri menjalin hubungan dengan Billy, pokoknya aku harus mendekati Abigail. Soal jodoh biarlah Tuhan yang mengaturnya. Kelak aku ditolak oleh Abigail, aku akan masih bisa bertemu dengannya karena hubungan antara anak kami.
Ya Tuhan, aku percaya semua masalah dalam keluargaku ini pasti adalah rencanamu. Aku yakin di balik kejadian ini pasti ada sesuatu yang indah yang Engkau rencanakan.
Drtt... Drtt...
Ponselku kembali bergetar. Kulihat masih nama Debora sebagai pemanggil. Dengan terpaksa aku menyambungkan panggilannya. "Ada apa?"
"Kau yakin ingin bercerai denganku?"
Mendengar pertanyaan Debora membuatku tertawa. "Apa alasanku tidak yakin, hah?"
__ADS_1
"Jacky ... Aku tahu aku salah, tapi___"
"Kau tidak perlu bicara padaku lagi, Debora. Ini adalah yang terbaik buat kita berdua."
"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya, Jacky. Aku memang salah dan aku ingin kita bicara berdua saja. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya padamu, Jacky. Aku___"
"Tidak perlu, Debora. Sikapmu selama ini sudah cukup bukti bagiku."
"Aku tahu, tapi___"
"Aku sudah memaafkanmu, Debora. Maaf, aku sibuk."
Tanpa menunggu balasan dari Debora aku segera menutup panggilan. Aku tidak ingin bicara dengan wanita itu, dalam pikiranku sekarang hanyalah Abigail, Abigail dan Abigail.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuatku terkejut.
"Masuk."
Kududuk di kursi dan menunggu sosok itu muncul.
"Tuan, semuanya sudah beres. Saya sudah memesan restoran seperti yang Anda sebutkan. Tapi, apa Anda yakin nyonya Abigail akan menemui Anda di sana? Bukankah Anda tahu nyonya Abigail tidak suka restoran mahal?"
"Kamu benar, Mike. Aku sengaja melakukan itu agar Abigail tidak curiga. Abigail belum tahu kalau bosnya Zuri adalah aku."
Mike tersenyum. "Pasti nyonya akan terkejut begitu tahu, bahwa Anda adalah bos nona Zuri."
"Aku tidak akan membongkar identitasku, Mike. Aku sudah bicara dengan Zuri. Zuri juga sudah setuju untuk merahasiakan identitasku dari ibunya. Aku tak menyangka anak itu lebih membelaku daripada mamanya. Kamu tahu, Mike. Zuri ingin aku menjadi papa sambungnya. Zuri ingin menjodohkanku dengan Abigai."
"Anda sendiri, bagaimana?"
Aku menatap kosong. "Entalah, Mike. Billy sangat mencintai Zuri. Aku sangat mencintai Abigail. Aku meburutmu, apa masalah yang menimpa rumah tanggaku saat ini ada sangkutpuatnya dengan ini?"
"Bisa jadi, Tuan. Tapi, saya tida bisa berpendapat lebih. Yang jelas nona Zuri memang sangat cocok menjadi putri Anda, Tuan."
Aku tersenyum. "Aku juga tidak bisa memaksa, Mike. Setidanya aku ingin memperjuangkan cintaku yang dulu hilang entah ke mana. Statusku sebentar lagi akan menduda. Abigail statusnya sudah menjanda. Tidak ada salahnya bukan kalau aku mendekatinya demi kebahagiaan kami? Zuri ingin aku menjadi papanya. Sementara aku ingin menjadi bagian dari Zuri dan Abigail. Entah menjadi papa sambung atau papa mertua, aku akan tetap mendekati Abigail Mike."
__ADS_1
Bersambung___