
Om Jacky menatapku. "Bisa-bisa saja, Kakek. Hanya saja kalau Zuri menjadi sekertaris di kantor, tidak ada lagi yang akan menyiapkan bubur ayam terenak setiap pagi untuk aku dan Billy."
Semua orang tertawa.
"Tapi semua tergantung Zuri," om Jacky berkata lagi, "Kalau memang dia mau menjadi sekertaris di kantor tidak masalah."
"Bagaimana, Zuri? Apa kamu mau?"
Aku merasa dilema. Antara suka menjawab iya atau tidak. Di satu sisi aku ingin mencari pengalaman sebagai sekertaris. Di satu sisi juga aku sudah nyaman dengan profesiku saat ini. Walaupun status itu rendah di banding dengan sekertaris, tapi gajiku bahkan jauh lebih besar dari karyawa kantoran.
Tanten Ellena berkata, "Apa kamu memang hobi memasak?"
"Iya. Sejak masih sekolah dulu aku suka sekali memasak."
"Memang jika kita bekerja sesuai dengan hobi kita, pekerjaan itu pasti akan terasa muda walaupun sebenarnya sangat sulit."
"Seandainya disuruh memilih, aku akan lebih suka Zuri menjadi juru masak," kata om Jacky, "Setelah memasak Zuri punya waktu luang untuk istirahat dibanding menjadi sekertaris."
"Tidak apa-apa, Pa. Jika Papa memang membutuhkan sekertaris aku mau menjadi sekertaris Papa. Setiap pagi juga sebelum ke kantor aku akan menyiapkan sarapan untuk kita. Begitu juga makan malam di saat kita pulang kantor."
Nyonya Lisa keberatan. "Tidak, Zuri. Nenek tidak setuju. Pekerjaan itu akan menguras tenagamu. Kamu akan kelelahan."
"Benar," balas om Jacky, "Kamu bisa memikirkan lagi soal pilihan ini. Kamu ingin menjadi sekertaris silahkan, menjadi juru masak juga silahkan. Papa tidak akan melarangmu."
Ya Tuhan, apa sebaik dan sepengertian inikah keluarga Daniel? Apa selembut inikah mereka kepada semua orang? Seumur-umur aku bergaul dengan orang kaya lainnya, mereka tidak pernah memperlakukan bawahan mereka seperti ini. Tidak usah jauh-jauh, mamaku saja tidak akan mau menyamakan derajat dengan bawahannya kecuali sahabatnya sendiri. Tante Tanisa adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan mama. Mama memperlakukan tante Tanisa sudah seperti saudara. Sedangkan aku dengan keluarga Daniel ... aku hanya orang asing yang tidak pernah merasakan keluarga lengkap yang berprofesi sebagai juru masak. Keluarga Daniel memperlakukanku seperti keluarga yang pernah hilang dan kembali lagi. Aku tersentuh dan sangat bahagia karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan keluarga sebaik ini.
"Biar Zuri yang akan memutuskannya. Sekarang ayo, nikmati makan malam ini. Sudah lama sekali aku merindukan suasana seperti ini," kata nyonya Lisa, "Seandainya tidak ada Zuri, mungkin aku sudah tidak akan pernah lagi merasakan suasana seperti ini. Suasana di mana anak-anak dan cucu-cucuku berkumpul bersama."
__ADS_1
Kutatap semua ekspresi di wajah mereka. Kakek buyut terlihat tidak senang. Kakek Theo juga demikian. Apa itu artinya nyonya Lisa sedang menyinggung soal tante Debora?
"Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal itu. Selama ini aku terlalu percaya padanya."
Perkataan kakek buyut membuat nyonya Lisa menjawab, "Kita tidak usah membahas soal itu, Pa. Setidaknya Papa sudah tahu sekarang, bahwa orang yang Papa bela selama ini ternyata seorang pencuri."
"Aku sangat menyesal karena tidak mempercayai kalian sejak dulu. Aku lebih mempercayai orang asing dibanding keluargaku sendiri. Ini semua salahku, terlalu memanjakan dia. Akhirnya dia melakukan apa saja seenaknya dan sesuka hatinya."
Billy sudah menceritakan padaku soal penggelapan dana yang dilakukan Anggie dengan tante Debora. Apa karena masalah itu sehingga tante Debora tidak ikut makan malam bersama kami? Di satu sisi aku senang akhirnya kakek buyut sadar. Menurut Billy mamanya orang yang jahat. Namun ada sedikit rasa kasihan terhadap tante Debora karena waktu bertemu dengan beliau tempo hari, beliau sangat sedih dan terlihat rapuh.
"Theo, besok kamu urus semuanya dengan tuntas. Aku ingin semua aset yang diberikan kepada Debora ditarik. Jika wanita itu menolak tuntut saja dia. Kalau dia macam-macam laporkan saja dia kepolisi."
Semua orang terdiam kecuali kakek Theo. "Papa tenang saja. Semoga masalah ini cepat selesai agar Debora segera sadar."
"Sadar?" ulang kakek buyut dengan nada tinggi, "Aku tidak butuh kesadarannya, yang aku butuh kamu harus berhasil merebut kembali semua aset keluarga Daniel."
Makan malam akhirnya berakhir. Karena membahas soal tante Debora membuat mood kakek buyut tidak enak. Walau begitu beliau sempat meluangkan waktu untuk berbicara padaku. Saat ini kamu semua sedang berkumpul di ruang tengah. Para laki-laki duduk di hadapan kami para pempuan. Kecuali kakek buyut yang duduk di bagian kepala sofa sambil memangku Emelly.
"Zuri, besok-besok kamu harus ke sini lagi. Kakek akan menyuruh Billy untuk menjemputmu setiap hari."
"Itu pasti, Kakek. Terima kasih."
"Kalau kamu tidak keberatan, kapan-kapan kami semua ingin merasakan enaknya masakanmu. Aku jadi penasaran, masakan enak apa yang telah membuat kedua cucuku ini jatuh hati kepadamu."
Semua orang tertawa.
"Tapi walaupun belum pernah merasakan masakan Zuri, aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Iya kan, Sayang?" kata nyonya Lisa seraya memeluk lenganku, "Rasanya bahagia sekali, memiliki dua cucu perempuan dan satu cucu laki-laki."
__ADS_1
Semua orang kembali tertawa. Karena malam semakin larut aku, om Jacky dan Billy akhirnya berpamitan. Nyonya Lisa dan tante Ellena terlihat sedih. Kakek buyut dan kakek Theo juga demikian.
"Kebahagiaan ini sepertinya cepat berakhir," kakek buyut berkata lemah.
Kakek Theo menepuk bahu om Jacky. "Papa harap setelah masalah ini selesai kamu, Billy dan Zuri akan pindah ke rumah ini. Papa ingin kita semua berkumpul di sini seperti dulu lagi."
"Benar," tambah kakek buyut, "Begitu masalah selesai kamu juga harus mempercepat perceraian kalian agar kau dan Billy bisa kembali ke sini."
Zet!
Aku terkejut mendengar itu. Om Jacky dan tante Debora akan bercerai? Apa tante Debora tahu soal ini? Kutatap wajah Billy yang masih saja terlihat biasa. Apa pria ini tidak sedih kedua orangtuanya akan berpisah?
Rasa penasaran itu akhirnya terungkap saat Billy mengendarai mobilnya menuju apartemen. "Kamu tidak sedih mama dan papamu akan berpisah?"
Billy melirikku sambil tersenyum. "Akubjustru senang. Selama ini aku dan papa dibuat menderita oleh mama. Itu sudah risiko yang harus diterimanya."
"Apa karena itu mamamu tidak ikut makan malam bersama kita?"
Billy mengangguk. "Begitu Anggie membongkar semuanya papa segera memberitahukan hal itu kepada kakek Theo. Karena selama ini tidak ada bukti jelas untuk mengungkapkan kejahatan mama kepada kakek buyut, kakek Theo akhirnya melaporkan masalah ini kepada beliau. Mama akhirnya dipanggil kemudian diusir dari rumah itu."
"Berarti mamamu sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?"
"Iya. Mama juga belum tahu soal perceraian itu. Rencana setelah semua aset yang diberikan kakek buyut kepada mama kembali, baru papa akan mengurus perceraian mereka."
"Bagaimana perasaanmu dengan kejadian ini? Dia mamamu, Billy."
"Sebagai anak sebenarnya aku tidak ingin ini terjadi. Sikap mamaku juga sudah kelewatan batas, Zuri. Jadi di antara mereka aku akan lebih membela papaku dibanding mamaku."
__ADS_1
Bersambung____