
Mendengarku terbatuk membuat Billy refleks untuk mengambilkan air minum. "Kamu tidak apa-apa, Nona Zuri? Nenek, lain kali jangan begitu. Tuh lihat ... Kalau terjadi apa-apa dengan wanita ini, bagaimana?"
"Maafkan aku, Nak. Kamu tidak apa-apa, kan?"
Aku menggeleng sambil membersihkan mulut. "Aku tidak apa-apa, Nyonya."
Si nenek duduk di samping Billy. "Maaf, ya. Habisnya ini pertama kali aku melihat cucuku membawa seorang wanita. Jadi, aku langsung berasumsi bahwa kamu adalah pacarnya Billy."
Billy menghentikan makannya lalu berkata, "Kenalkan, Nek. Ini Zuri, asisten pribadi papa."
"Asisten pribadi ... Maksudmu papa Jacky mencari asisten pribadi untuk dirinya sendiri?"
"Lebih tepatnya untuk aku dan papa," jawab Billy sambil mengodekan mata kepadaku. Aku pun paham dan tersenyum kepada sang nenek.
"Benar, Nyonya. Saya baru saja di wawancarai oleh pak Jacky pagi tadi."
"Aku tidak keberatan. Justru aku senang, karena itulah yang memang dibutuhkan Jacky untuk saat ini."
Kulihat ekspresi sang nenek tampak muram. Dilihat dari eskpresi sepertinya ada sesuatu yang ingin dibahas, tapi enggan karena keberadaanku. Tak ingin mengganggu privasi mereka, aku segera menyudahi makananku kemudian pamit ke toilet. Dari kejauhan aku melihat nenek dan cucu itu sedang berinteraksi. Ekspresi dari keduanya bahkan terlihat marah. Walaupun tidak tahu apa yang mereka bahas, aku yakin itu pasti sesuatu yang menyangkut dengan mamanya Billy.
Sekitar sepuluh menit aku berada di dalam toilet akhirnya kuputuskan untuk kembali menemui Billy. Benar saja, di sana masih ada si nenek yang sedang berbincang-bincang dengan Billy. Aku tak enak hati mengganggu mereka. Tapi tidak enak juga meninggalkan mereka terlalu lama.
"Nyonya, menunya sangat enak. Benar-benar luar biasa," kataku basa-basi. Walaupun pujian itu tulus dan benar, tapi itu hanya alasanku saja agar bisa menghampiri mereka berdua.
"Benarkah? Terima kasih, Nak. Jika kamu mau, Billy akan mengantarkanmu setiap hari untuk makan di sini sepuasnya."
Kami bertiga tertawa.
"Oh iya, namaku Lisa. Neneknya Billy, ibunya om Jacky. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan nenek jika di luar operasional seperti ini."
__ADS_1
"Terima kasih, Nek."
Nenek tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Nak."
" Saya juga, Nyonya."
Setelah berbincang cukup lama akhirnya nenek Lisa pamit undur diri untuk mengontrol para pekerja. Billy juga menghampiri meja kasir, kemudian melalukan transaksi. Sementara aku menunggu di belakangnya sambil melihat keseliling. Entah kenapa walau baru berapa jam bersama keluarga Daniel membuatku nyaman dan akrab. Mungkin karena perlakukan mereka terhadapku. Ya, itu pasti. Walaupun baru menyandang orang baru, tapi perlakuan om Jacky dan Billy terhadapku jauh di luar perkiraan. Mamaku saja belum tentu memperlakukan bawahannya seperti apa yang dilakukan om Jacky terhadapku. Apakah ini adalah kunci sukses? Selalu rendah hati. Oke, fine. Ketika menggantikan posisi mama sebagai pimpinan aku akan menerabkan hal yang sama kepada bawahanku.
Setelah urusan kami selesai, aku pamit kepada yang lebih cocok menjadi adikku itu untuk menemui kakek. Karena sekarang sudah memiliki kendaran pribadi, mau tidak mau aku menggunakan maps ke tempat tujuanku. Maklum, aku warga baru dan belum bisa beradaptasi dalam lingkungan baru.
"Besok aku akan pindah ke apartemen baru, Kek. Aku sudah di terima sebagai asisten pribadi. Jadi mau tidak mau aku harus meninggalkan Kakek demi tugas dan tanggung jawabku."
"Kau akan menempati apartemen yang mana? Kapan-kapan kakek berkunjung ke sana boleh, kan?"
Saat ini aku berada di ruangan kakek di salah satu rumah sakit terkenal di pusat kota. Selain menciptakan obat dari keahlian kakek sebagai apoteker, kakek juga membangun rumah sakit lengkap dengan dokter-dokter prosefional sebagai tenaga kerja di rumah sakit ini. Sebagai kepala rumah sakit kakek harus standbye setiap hari. Jam kerjanya juga terbatas karena usia kakek sudah tidak memungkinkan.
"Tentu saja bisa. Kalau suka, Kakek bisa datang ke GA Daniel kapanpun Kakek mau."
"Iya, Kek. GA Daniel. Ada apa? Kenapa Kakek sangat terkejut seperti itu?"
"Itu kan apartemen paling mewah di kota ini. Apa tidak ada alternatif lagi selain Gedung Apartemen milik keluarga Daniel?"
Kulihat ekspresi kakek berubah seperti tidak senang. Dengan suara pelan dan penuh pengertian aku membalas, "Bukan aku yang memilihnya, Kek. Bos aku yang menyuruhku untuk menempati apartemen itu. Karena posisiku sebagai asisten pribadi, aku diberikan fasilitas apartemen dan mobil untuk mempermudah tugasku."
"Bos kamu? Siapa?"
"Tuan Jacky Daniel, Kek. Beliau adalah pemilik Daniel Group sekota ini."
Kulihat kakek terdiam sangat lama. Wajahnya yang keribut tanpa ekspresi, serta mata cokelatnya menatapku tanpa mengeluarkan suara. Aku menjadi penasaran.
__ADS_1
"Ada apa, Kakek? Apa Kakek mengenal tuan Jacky Daniel?"
"Tuan," kata Aaron tiba-tiba. Kakekku tidak menjawab pertanyaanku, malah menggubris pertanyaan orang kepercayaannya.
"Ada apa, Aaron?"
"Sudah waktunya Anda pulang. Anda harus minum obat dan istirahat."
Mendengar itu tentu saja membuatku jengkel. "Aaron, kau tidak tahu kakek sedang bicara denganku? Memangnya kenapa kalau suda waktunya kakek minuman obat? Kau pikir aku tidak tahu meminumkan obat kepada kakek, hah?"
Melihat emosiku kakek segera bengambil alih pembicaraan. Di satu sisi aku juga menilai Aaron sama sekali tidak menyesal dengan interupsi yang pria itu ciptakan.
"Maaf, Sayang. Kakek memang harus pulang, minum obat dan istirahat. Kakek sendiri yang memintanya untuk mengingatkan ketika waktunya sudah tiba, walaupun itu ada tamu sekaligus."
"Tapi aku cucu Kakek. Apa maksud Aaron menginterupsi seperti tadi, sedangkan aku ini adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini."
"Sayang, kita bisa bicara lagi lain waktu, ya. Nanti malam kan kita akan bertemu di ruang makan. Kita akan bicara panjang lebar sebelum kamu pindah ke apartemenmu."
Aku pun tak menjawab apa-apa selain diam dan mengangguk. Walaupun ada rasa penasaran besar saat melihat ekspresi kakek saat membahas soal keluarga Daniel. Bahkan kakek belum sempat menjawab, tapi Aaron segera memotong pembicaraan kami. Apakah ada sesuatu yang kakek tahu dari keluarga Daniel? Apa mungkin keluarga Daniel adalah keluarga jahat? Aku harus mencaritahu hal ini dari Aaron. Tidak, pria dingin itu pasti tidak akan memberitahukannya.
Sudut pandang kakek Robbie.
Entah kenapa hatiku rasanya gelisah saat membayangkan Zuri akan mencari pekerjaan di kota ini. Perasaan yang awalnya bahagia sebelum gadis itu datang, kini berganti kekhawatiran dan kecemasan luar biasa besar. Saking gelisahnya aku menghungi Aaroh. Dan benar saja, saat Aaron mengatakan di mana dia mengantarkan Zuri membuatku semakin panik. Seandainya aku tidak melakukan perawatan medis, mungkin detik itu juga aku langsung terkena serangan jantung hingga meninggal.
"Kamu yakin itu gedung Daniel Corporation?"
"Benar, Tuan."
Seketika keringat membanjiri tubuhku. "Ya, Tuhan. Apakah ini bertanda buruk?"
__ADS_1
Bersambung___