My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Kekhawatiran.


__ADS_3

"Pa, kita jadi pulang atau tidak?"


Pertanyaan Billy membuatku terkejut. Untung saja anakku itu tidak mendengar ucapanku tadi. Dengan senyum simpul aku menyetujui, membereskan pekerjaan, mematikan laptop kemudian keluar ruangan menuju parkiran mobil.


Karena Billy menyetir sendiri, aku di mobil yang lain bersama supirku. Dalam perjalanan menuju rumah tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat nama mama sebagai pemanggil. Tanpa menunggu lama aku segera menekan radial lalu menyapa, "Iya, Ma?"


"Jack, kapan kamu ada waktu? Mama ingin bicara."


Sebelum lanjut aku sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh mama. "Kalau soal Debora aku tidak punya waktu."


"Ini bukan soal Debora. Ini soal gadis cantik yang datang ke resto bersama Billy kemarin. Mereka makan siang bersama di sini, dan sempat bicara dua patah kata dengan mama."


"Gadis cantik?" tanyaku pelan. Apa mungkin itu adalah Zuri, "Memangnya kenapa dengan gadis itu, Ma?"


"Mama rasa dia cocok dengan Billy. Kata Billy gadis itu asisten kamu, benar?"


"Zuri maksud Mama?"


"Iya, namanya Zuri. Mama suka padanya Jack. Mama ingin Billy menikah dengan Zuri."


Aku tersenyum mendengarnya. Sejak dulu keluarga Daniel memang tidak pernah menilai orang lain berdasarkan derajat. Hal itu yang membuatku bangga kepada petinggi-petinggi di keluargaku.


"Besok pagi aku akan menemui Mama. Tenang saja."


"Apa itu artinya kamu juga setuju?"


"Iya."


"Syukurlah. Kalau begitu sampai jumpa besok pagi. Usahakan jangan sampai hal ini diketahui oleh Billy."


Aku terkekeh tapi tidak mengatakan apa-apa. Mamaku memang tidak tahu, bahwa sebenarnya Billy juga menyukai Zuri. Seandainya mama tahu cucunya menyukai gadis itu pasti mama akan langsung mengadakan pertunangan. Namun berbeda denganku, aku ingin ada rasa ketertarikan dari kedua belah pihak. Aku ingin tidak hanya Billy yang menyukai Zuri, tapi Zuri juga harus menyukai Billy. Aku ingin kedua anak itu menjalin hubungan berdasarkan cinta, sama seperti aku dan Abigail. Jika tidak, maka pernikahan itu akan terjadi seperti aku dan Debora.


Tak terasa Mike membelokkan mobil ke area parkiran apartemen. Kulihat Billy turun dari mobil dengan ekspresi bahagia. Anak itu ternyata sama sepertiku waktu masih muda dulu. Sejak Abigail hadir dalam diriku setiap saat ingin rasanya aku tersenyum. Bahkan terkena angin saja aku langsung tersenyum. Rasanya aku bahagia sekali. Namun, kebahagiaan itu seketika hilang bersama hilangnya Abigail puluhan tahun lalu.


"Kita ajak Zuri makan bersama kan, Pa?" tanya Billy padaku begitu memasuki gedung apartemen.


"Tentu saja. Sekalipun Zuri bukan wanita yang kamu suka, papa akan mengajaknya makan bersama."


Kulihat Billy menatapku.


"Kenapa?"


"Papa tidak ada maksud lain kepada Zuri, kan?"

__ADS_1


"Kau pikir papa ini lelaki cabul, hah?"


"Bukan begitu maksudku, Pa. Habisnya kata-kata Papa tadi menunjukkan bahwa Papa menyukai Zuri bukan hanya sekedar calon menantu."


"Sok tahu kamu. Papa menyukai Zuri karena papa sudah menganggap dia seperti anak sendiri. Karena papa sendirian, tidak ada salahnya bukan jika papa mengajaknya makan bersama."


"Tapi kan Papa tidak sendirian, ada aku."


Perdebatan kami terputus begitu bunyi dan pintu lift terbuka. Aku tak menjawab perkataan Billy, langsung mendekati pent house, membuka pintu lalu masuk.


"Selamat siang, Tuan."


"Siang, Bi. Di mana Zuri?" tanyaku seraya melonggarkan dasi.


Billy juga melontarkan pertanyaan. "Apa Zuri sudah memasak, Bi?"


"Nona Zuri sudah memasak, Tuan. Makanan juga sudah dihidangkan di ruang makan. Kalau nona Zuri sudah kembali ke apartemen untuk membersihkan diri."


Penasaran dengan menu makan siangnya, aku segera meninggalkan Billy dan bibi kemudian menuju ruang makan.


Zet!


Tubuhku terpaku saat melihat hidangan berwarna orange di atas meja. "Apa itu puding mangga? Zuri membuat puding mangga?"


"Tuan, bibi pulang dulu."


"Iya, Bi. Terima kasih, ya."


"Sama-sama, Tuan."


"Pa, masak apa dia hari ini?" tanya Billy kemudian mendekatiku.


Namun belum sempat mengintip menunya, aku langsung menyuruh Billy untuk memanggil Zuri. "Pergi dan ajak dia makan bersama kita."


Seperti yang sudah kuduga, Billy dengan antusiasnya pergi menjauhi meja makan untuk memanggil Zuri. Sebenarnya itu hanya alasan agar aku bisa mencicipi puding mangga itu tanpa dilihat oleh Billy. Selama ini baik Billy maupun keluargaku yang lain tahu bahwa aku tidak suka puding mangga lagi sejak kejadian puluhan tahun lalu.


Namun, entah kenapa sekarang melihat puding di atas meja ini membuat rasa inginku kembali. Aku mendekati meja, mengambil sepotong, meletakkan di atas piring kecil yang sudah disediakan kemudian menambahkan fla rasa vanila. Seketika hatiku bahagia saat lidahku menimbulkan rasa manis dan segar yang sama persis dengan puding yang kurindukan selama ini.


Begitu tahu aku menyukai puding mangga, Abigail selalu membuatkan untukku setiap kali aku ke rumahnya. Namun jika dibandingkan dengan puding buatan mama, puding buata Abigail lebih enak dan segarnya lebih terasa. Padahal resep mereka sama. Seumur hidup belum pernah aku merasakan puding yang sama seperti buatan Abigail. Dan sekarang ... hasil buatan asisten sekaligus calon menantuku ini ternyata sama persis dengan buatan Abigail.


"Papa?"


"Om Jack?"

__ADS_1


Kemunculan Billy dan Zuri membuatku terkejut. Kulihat ekspresi Billy benar-benar tekejut melihatku memakan puding itu. Pasti ada rasa penasaran dalam dirinya, karena ini pertama kalinya aku menyentuh puding mangga setelah hampir 22 tahun berlalu.


Karena pekerjaanku masih banyak aku dan Billy selesai makan siang langsung kembali ke kantor. Billy adalah komisarais sekaligus kepala keuangan di Daniel Group. Jadi semua yang menyangkut pendapatan dan pengeluaran perusahan, Billy-lah yang harus bertanggung jawab.


Saat ini sudah pukul tiga sore. Pekerjaanku juga baru saja selesai. "Sepertinya aku merindukan puding mangga buatan Zuri. Aku jadi penasaran apa saja yang dia masukan, sehingga rasanya sama persis dengan puding buatan Abigail."


Ingin tahu resep rahasia Zuri aku pun segera meraih ponsel yang baru saja bergetar dan bertuliskan nama si gadis di depan layar.


"Sepertinya kamu memang berjodoh dengan keluarga Daniel, Nak."


Entah karena apa Zuri menghubungiku, tanpa menunggu lama lagi aku segera menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilannya.


"Halo?" sapaku pelan.


"Om, maaf mengganggu. Aku___"


Brak!


Kudengar sesuatu berbunyi keras dari balik telepon. "Zuri! Zuri!"


"Aduh, sakit," teriak Zuri dari balik telepon.


Aku penasaran. "Halo, Zuri! Zuri kamu kenapa?"


Tak mendengar jawaban tiba-tiba kudengar suara tangis dari Zuri. Seketika aku langsung memutuskan panggilan kemudian keluar ruangan.


"Mike, kita ke apartemen sekarang."


"Baik, Tuan."


"Anggie! Beritahu Billy aku menunggunya di apartemen sekarang. Katakan padanya terjadi sesuatu kepada Zuri."


"Baik, Pak."


Dengan langkah panjang dan hati tak tenang aku segera memasuki lift bersama Mike. Mike yang melihat ekspresi gelisahku pun langsung melontarkan pertanyaan.


"Apa yang terjadi, Tuan? Kenapa Anda terlihat sangat gelisah?"


"Asistenku, Mike. Barusan dia menghubungiku. Belum selesai bicara tapi sepertinya sesuatu terjadi. Dia mungkin terjatuh, kalau tidak mana mungkin dia menangis. Ya, Tuhan, semoga saja Zuriku tidak apa-apa. Semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan calon menantuku, Mike."


Entah apa yang menyebabkan perasaan ini muncul, yang jelas saat ini aku sangat khawatir. Aku sangat khawatir sekali kepada Zuri. Ya Tuhan, lindungi anakku hingga aku tiba.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2