My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Sudut Pandang Debora.


__ADS_3

"Tapi beliau yang telah melahirkanmu, Billy."


"Aku tahu, Zuri. Tapi selama ini mama tidak pernah memikirkan kebahagiaanku. Sejak kecil aku selalu diabaikan oleh mama. Mama selalu sibuk dengan urusannya tanpa memperdulikan aku. Tanggung jawabnya mengurus anak malah dialihkan kepada pengasuh. Padahal waktu itu ada orang yang dipilih khusus oleh kakek buyut untuk mengurus perusahan. Mama hanya memantau dan menikmati hasilnya saja. Dan aku pikir sikap mama seperti itu hanya akan berlaku padaku saja, ternyata tidak. Kepada papa juga mama seperti itu. Bahkan sampai sekarang cara itu masih berlaku. Sudah hampir dua bulan kamu berkami kami, apa kamu pernah melihat mama menjengukku atau papa? Apa kamu pernah melihat aku atau papa bicara di telepon bersama mama? Mama selalu mengabaikan aku dan papa. Sikap itu sudah dilakukannya sejak dulu, Zuri. Jadi jika kamu bertanya apa yang aku rasakan soal perpisahan di antara mereka, aku akan menjawab setuju dan sangat bahagia."


Aku tak bisa menjawab. Perkataan dan ekspresi Billy sudah jelas mewakilkan apa yang dia rasakan. Billy sangat marah. Saking marahnya wajah tampan Billy memerah. Entah kenapa ada dorongan dalam hatiku untuk menghibur Billy.


Kupegang tangan Billy kemudian berkata, "Kamu harus sabar. Mungkin di balik semua ini ada hikmahnya."


#Sudut pandang Debora.


Di dalam rumah besar yang mewah aku sedang berdiri di balik dinding keca sambil mondar-mandir. Perasaan yang tidak nyaman membuatku gelisah.


"Dasar gadis bodoh. Kenapa juga dia sambil ceroboh seperti itu."


"Nyonya?" Suara pelayan laki-laki membuatku terkejut.


"Ada apa?"


"Nona Anggie sudah tiba."


"Bawah gadis bodoh itu ke sini."


Dengan kesal aku mendudukan diri di sofa panjang berwarna cokelat. Aku sangat kesal kepada Anggie. Karena kecerobohannya aku sampai di usir dari rumah. Untung aku punya pikiran untuk membeli rumah di sini. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah tinggal di jalanan.


"Selamat malam, Tante."


Aku tidak membalas sapaan Anggie, biar dia tahu aku sangat marah.


"Maafkan aku, Tante. Aku tidak___"


"Aku tidak butuh alasanmu, Anggie," kataku sambil menatapnya. Tatapanku sengit, sama seperti aku menatap kotoran kucing yang ada di halaman belakang rumahku, "Jika bukan karena kau aku tidak akan diusir, Bodoh."


"Maafkan aku, Tante. Tapi aku bersumpah, bukan aku yang membongkar semuanya kepada mereka."

__ADS_1


"Kalau bukan kau lalu siapa? Tuyul?"


"Billy mendatangi customer tersebut tanpa sepengetahuanku."


Aku menatap jijik. "Untuk apa Billy ke sana? Bukankah itu pekerjaanmu?"


"Memang. Tapi om Jacky yang memerintahkan Billy untuk menagih tagihannya. Di situlah terbongkar. Aku terpaksa mengatakan sebenarnya, karena om Jacky mengancam akan memenjarakanku."


Aku menatap tajam. "Seharusnya kamu mencegah Billy. Itu kan tugasmu, kenapa kamu membiarkannya pergi begitu saja."


"Aku tidak tahu kapan Billy pergi, Tante. Yang jelad begitu dia kembali aku langsung disidang oleh om Jacky."


Aku tak peduli alasan Anggie. Aku berdiri kemudian membelakanginya. "Kalau sampai semua hartaku hilang, kau yang harus bertanggung jawab. Gara-gara kamu semuanya terbongkar," aku berbalik menatapnya, "Apakah imbalan yang kuberikan padamu tidak cukup, hah? Kenapa kau harus membongkar soal pengalihan dana itu kepada mereka? Kalau kau mengaku bahwa kau yang menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi, kau pasti hanya akan dipecat atau menggantinya. Aku akan membantumu untuk menggantinya. Tapi sekarang apa yang terjadi? Alasanmu membuatku rugi, Anggie. Aku tidak akan mendapatkan uang lagi dan itu gara-gara kau."


Aku kembali membelakanginya. Anggie pun hanya diam seakan merenungkan kesalahan yang dibuatnya. Aku tidak peduli apa yang dia rasakan. Karena yang lebih sakit di posisi ini adalah aku, bukan Anggie.


"Selama ini yang kutahu Jacky tidak pernah menyuruh orang lain untuk mendatangi customer," aku berbalik menghadap Anggie yang kini sedang menunduk, "Atau jangan-jangan kau sengaja mengalihkan tugasmu agar kejahatanku terbongkar?"


Anggie terkejut. "Kenapa Tante berpikiran seperti itu? Apa selama ini tugas yang diberikan Tante padaku pernah gagal?"


"Sumpah, Tante. Aku tidak seperti itu," Anggie mantap garang, "Aku rasa aku tahu alasannya kenapa om Jacky melakukan ini semua."


Aku berdecak. "Jangan sok tahu. Kau tidak tahu apa-apa tentang suamiku. Selama ini walaupun aku selingkuh dia tidak pernah tahu. Suamiku itu tidak pernah ikut campur dengan masalahku," aku melipat kedua tangan di depan tubuh, "Kau tidak dendam padaku karena janjiku untuk menjodohkanmu dengan Billy tidak tercapai, kan? Apa karena itu kau membongkar semuanya pada suamiku. Lalu mengatur strategi, menyuruh Billy yang menemui customer itu, agar aku tidak menuduhmu dalam hal ini?"


"Sumpah, Tante. Aku tidak membenci atau dendam pada Tante. Sumpah."


"Lalu apa yang kau tahu sampai suamiku berani melakukan ini?"


"Apa Tante tahu kalau ada seorang wanita muda yang tinggal bersama om Jacky?"


Zet!


Aku terkejut. "Suamiku tinggal dengan wanita muda?"

__ADS_1


"Iya. Om Jacky membeli pent house di sampingnya untuk gadis itu. Kalau tidak salah gadis itu sekarang yang sering merawat om Jacky dan Billy."


"Kamu jangan mengarang cerita untuk membela diri, Anggie! Suamiku tidak pernah menduakan aku. Jika memang dia ingin melakukannya, sudah lama itu akan terjadi."


"Kalau Tante tidak percaya coba telepon dan tanya Billy. Sebulan yang lalu wanita itu melamar di Daniel Corporation. Namun besoknya aku melihat wanita itu tinggal di GA Daniel. Apakah itu masuk akal, seorang gadis yang awalnya melamar pekerjaan di perusahan tiba-tiba tinggal bersama dengan pemilik perusahan."


"Jangan bohong, Anggie."


"Aku tidak bohong, Tante. Kalau memang gadis itu diterima, kenapa selama ini dia tidak bekerja di kantor? Kata Billy gadis itu adalah asisten papanya. Kalau asisten kenapa bukan bekerja di rumah? Asisten kan seharusnya di kantor, bukan di apartemen."


Dengan emosi aku meraih ponselku yang ada di atas meja. "Kalau sampai perkataanmu ini tidak benar, aku akan mencobloskan aku di penjara."


"Coba saja Tante telepon dan tanya pada Billy. Aku yakin, gadis itu pasti adalah pacarnya om Jacky."


Sebelum emosiku meledak aku segera membelakangi Anggie. Sambil menunggu panggilanku direspon aku mondar-mandir memikirkan siapa gadis itu. Apa benar suamiku menduakanku? Apa jangan-jangan dia tahu soal perselingkuhanku lalu berniat balas dendam.


"Halo?"


Suara Billy mengejutkanku. "Sayang, apa kabar? Kamu di mana sekarang?"


"Aku sudah mati."


Aku tekekeh. "Billy sayang, tidak baik berkata begitu."


"Untuk apa Mama menghubungiku? Kalau tujuan Mama meneleponku untuk meminta pembelaan lebih baik tidak usah. Aku tidak akan membela Mama sekalipun Mama tidak salah."


Hatiku sakit mendengar ucapan anakku sendiri. Seorang anak seharusnya tidak pantas melontarkan kata-kata itu kepada wanita yang melahirkannya. Namun, mengingat apa yang telah kulakukan padanya selama ini membuatku sadar diri.


"Maafkan mama, Billy. Mama___"


"Tidak usah basa-basi, Ma. Katakan, apa tujuan Mama menghubungiku."


Aku berbalik menatap Anggie. "Mama ingin tanya, apa benar papamu punya pacar baru?"

__ADS_1


"Iya. Kalau tidak salah mereka akan menikah. Jadi, sebaiknya Mama siapkan diri karena sebentar lagi papa akan menceraikan Mama."


Bersambung____


__ADS_2