My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Perbincangan Antara Jacky dan Abigail.


__ADS_3

Tak sabar ingin menghubungi Abigail aku segera pamit kepada Billy dan Zuri. Jujur sampai saat ini emosiku masih bersarang mengingat perkataan paman Robbie padaku tempo hari.


Sambil menatap ponsel aku duduk di ruang nonton. Lampu kupadamkan kemudian menyalahkan televisi. Volumenya aku kecilkan sembari melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Ada sedikit keraguan dalam diriku saat menatap kontak Abigail. Aku khawatir panggilanku akan mengganggu istirahatnya. Sejak mengenal Abigail aku tahu wanita itu sangat disiplin waktu. Di ponselnya sudah terpasang banyak alarm sebagai pengingat aktivitasnya. Jam segini Abigail pasti sudah bermimpi.


Namun rasa rindu, marah, penasaran bercampur menjadi satu. Tak peduli Abigail sudah bermimpi di alam surga, aku segera menekan radial untuk menghubunginya. "Semoga saja dia mengangkat panggilanku."


Panggilan pertamaku sama sekali tidak direspon. Panggian keduapun sama. "Besok saja. Dia pasti sudah tidur," aku memutuskan panggilan kemudian menatap angka-angka yang berjejer, "Tak kusangka kamu memakai angka kelahiranku di akhir kontakmu."


Seketika airmataku menetes. Marah dan penasaran pun lenyap berganti rindu.


"Ke mana saja kamu selama ini, hah? Kenapa kamu meninggalkanku? Apa salahku? Kenapa kamu lari dariku, Abigail?"


Tanpa sadar sebuah panggilan masuk ke ponselku. Melihat panggilan itu ternyata Abigail, aku segera menghapus air mata kemudian menyambungan panggilannya.


"Halo, selamat malam. Maaf, ini dengan siapa?"


Suara lembut yang selama ini kunantikan membuat rinduku semakin bergolak. Seandainya ada di depanku, aku akan langsung memeluk Abigail walaupun statusku masih suami orang. Aku merindukannya, merindukan Abigail, bahkan sangat merindukannya.


"Maaf sudah mengganggumu tidurmu."


Sosok di balik telepon diam sejenak.


"Kalau kamu keberatan, tidak masalah jika kamu memutuskan panggilanku."


"Tidak apa-apa, Jack. Kebetulan aku belum tidur. Tadi waktu kamu memanggil aku ada di toilet."


Aku tersenyum sayang. "Bagaimana kabarmu?"


"Kabarku baik. Kamu sendiri? Tapi, bisa aku tahu kamu mendapatkan kontakku dari siapa?"


"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang aku bisa kembali mendengar suaramu. Aku merindukanmu, Abigail. Aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


Abigail terkekeh. "Aku juga merindukanmu, Jack."


"Apa aku tidak bermimpi? Benarkah kamu merindukanku, Abigail?"


"Tentu saja, Jack. Tapi maaf ... aku merindukanmu bukan sebagai mantan kekasih, aku merindukanmu sebagai teman lama."


Hatiku rasanya sakit sekali mendengar itu. "Apa karena itu kamu meninggalkanku? Apa karena itu kamu mengasingkan diri di luar kota agar aku tidak menemukanmu?"


"Jack, kamu sudah beristri. Tidak sepantasnya kamu berkata begitu."


Aku pun langsung terdiam dan berpikir. Pasti karena tahu aku akan menikah dengan Debora sampai Abigail meninggalkanku dan menikah dengan lelaki lain. Ini semua salahku. Seandainya aku tidak menerima Debora, pasti Abigail akan kembali dan mau menjadi istriku.


"Bisa aku tahu alasan kamu menghubungiku malam-malam begini, Jack? Apa kamu tidak takut istrimu marah jika tahu suaminya menghubungi wanita lain?"


Aku memindahkan ponsel ke sebelah kiri. "Dia tidak akan marah, dia tidak tahu," tidak mungkin aku membicarakan apa yang menimpa rumah tanggaku kepada Abigail melalui telepon saat ini. Aku tidak ingin Abigail berpikir itu hanya alasan agar aku bisa menghubunginya, "Aku meneleponmu karena ingin tahu sesuatu."


"Soal apa?"


"Kenapa kamu meninggalkanku?"


Abigail benar. Masa lalu adalah masa lalu. Hubungan aku dan dia hanyalah masa lalu yang sudah tidak pantas lagi untuk dibahas. Tapi mengingat masalah rumah tangga yang kualami dan status Abigail yang tidak bersuami, aku rasa tidak ada salah jika aku ingin mendekatinya. Bukankah sebentar lagi aku akan bercerai dengan Debora.


"Kalau hanya masalah itu kamu menghubungiku malam-malam begini. Sebaiknya kamu putuskan saja panggilanmu karena aku ingin istirahat."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Abigail. Ke mana kamu selama ini? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku kurang apa? Apa aku tidak tampan dan tidak bertanggung jawab seperti laki-laki yang meninggalkanmu, hah?"


"Tutup mulutmu, Jack!"


"Kenapa marah? Bukankah itu benar? Laki-laki itu meninggalkanmu dan anak perempuanmu, kan?"


"Itu bukan urusanmu, Jack. Aku mau menikah dengan siapapun itu urusanku. Kamu sendiri juga begitu, kan? Kamu dijodohkan dengan wanita pilihan keluargamu apa kamu pernah mengatakannya padaku? Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Sudahlah, Jack. Kita tidak perlu mengulang masa lalu yang tidak akan pernah terulang. Aku ingin istirahat. Selamat malam."


Tut! Tut!

__ADS_1


Dengan hati sakit aku hanya diam tanpa kata. Ternyata karena perjodohan itu kamu meninggalkanku? Apakah kau tahu sebelum perjodohan itu terjadi aku telah mencarimu ke mana-mana? Oh Abigail, tidakkah kau tahu bahwa selama ini di hatiku hanya ada kamu? Tidakkah kau tahu cintaku lebih besar padamu daripada istriku? Sampai matipun tidak akan ada yang bisa menggantikanmu dalam hatiku, Abigail.


#Sudut pandang Abigail.


"Ada apa? Kenapa kau meneleponku malam-malam begini?"


Suara Tanisa mengejutkanku. Sahabatku ini baru saja tiba karena tadi aku melakukan panggilan mendadak. Kulihat matanya membengkak. "Maaf kalau aku mengganggu tidurmu."


"Seandainya kau bukan sahabat sekaligus atasanku, aku tidak akan datang dan memarahimu."


Saat ini aku dan Tanisa berada di ruang tamu. Tanisa duduk menghadapku, sedangkan aku mondar-mandir di depan televisi akibat menerima panggilan dari sosok yang sudah lama kulupakan.


"Aku bingung harus memulai dari mana, Tan."


"Coba kamu duduk dulu. Tarik napas, lalu buang pelan-pelan."


Aku menurut kemudian melakukan seperti yang dikatakan Tanisa.


"Bagaimana?"


Merasa lebih tenang aku akhirnya memulai. Saat ini aku duduk di sebelah Tanisa. "Jack baru saja meneleponku."


"Apa?!" pekik Tanisa, "Untuk apa lelaki gila itu meneleponmu malam-malam begini? Lalu dari mana dia bisa tahu kontak teleponmu. Perasaan selama ini yang tahu kontakmu hanya aku, Zuri, paman Robbie dan beberapa klien. Dari mana dia mendapatkan kontakmu, ya?


"Entalah, Tan. Yang jelas tadi begitu aku kembali dari toilet, aku melihat beberapa panggilan tak terjawab dari nomor baru. Aku pikir itu kamu atau paman karena jam segini Zuri tidak mungkin menghubungiku. Begitu panggilannya tersambung tanpa menjawab pun aku sudah bisa menebak siapa si pemilik suara."


"Apa kamu salah menebak?"


Aku menggeleng keras. "Aku tidak salah, Tanisa. Aku sangat mengenal suaranya dan itu memang dia."


"Lalu apa katanya?"


Aku menyandarkan tubuh ke sofa. Sambil memijat kepala aku menjawab, "Dia ingin tahu kenapa aku meninggalkannya. Dia menuntut penjelasan dan menyalahkanku, Tanisa."

__ADS_1


"Apa dia itu sudah gila, hah? Bukankah dia yang meninggalkanmu demi wanita lain? Harusnya kamu yang bertanya seperti itu. Seharusnya kamu yang menuntut penjelasan padanya. Harusnya Jacky yang memberimu alasan sampai kenapa dia meninggalmu dan Zuri demi wanita lain?"


Bersambung___


__ADS_2