
"Seandainya Zuri juga tahu soal ini, menurut Mama apa yang akan dia katakan? Apa dia mau menerimaku sebagai suaminya, anak dari calon ayah sambungnya?"
Perkataan Billy membuatku semakin terpuruk. Aku menarik napas. "Apa kamu sudah membicarakan masalah ini pada Zuri?"
"Belum, dia belum tahu. Tapi kata papa Zuri tahu soal ini."
Aku menarik napas dalam-dalam. Billy menatapku, mengamatiku dengan teliti. Semoga saja dia tidak akan tahu kalau aku sedang gugup. Gugup karena sesuatu yang kuketahui menyangkut masalah ini.
"Apa menurut Mama aku harus membicarakan hal ini dengan Zuri?"
"Tentu saja, itu lebih baik."
"Kalau dia memilih papa daripada aku, bagaimana?"
Alisku berkerut. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau dia membatalkan pernikahan kami dan menerima papa sebagai papa sambungnya? Dia pasti tidak akan mau menikah dengan pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi saudaranya."
"Itu tidak mungkin, Sayang."
"Tidak mungkin, bagaimana? Mama yakin dia akan menerimaku sebagai suaminya, sedangkan papaku sudah meniduri mamanya."
Entah apa lagi yang harus kujawab. Kucari alasan tepat untuk mengalihkan pembicaraan ini. Aku tidak boleh terus menerima pertanyaan maupun pernyataan Billy soal hubungan Jacky dan Abigail, yang ada aku akan membongkar semua sebelum waktunya. Itu tidak boleh terjadi.
"Ma?"
Suara Billy mengejutkanku. "Ini sudah larut, Sayang. Sebaiknya kamu istirahat, besok kamu dan Zuri harus bertemu designer."
Billy diam sambil menunduk. Kulihat ekspresi di wajahnya sangatlah murung. Dia pasti dilema. Dia pasti memikirkan hubungannya dengan Zuri.
Ya Tuhan, aku tidak mau anakku ini bersedih. Cukup sudah Aaron yang merasakan kepedihan selama ini. Andai bisa diputar kembali, aku tidak ingin kedua putraku ini mengalami kepahitan hidup seperti yang kualami.
Aku tak punya pilihan, cara terbaik keluar dari topik ini adalah menyuruh Billy tidur. Untung saja ini benar-benar sudah larut, jika tidak dia pasti akan curiga padaku.
"Mama istirahat dulu. Besok temui Zuri, bicaralah dan dengar apa keputusannya. Mama yakin dia pasti akan memilihmu sebagai pendamping hidupmu. Percayalah."
Senyum di wajah Billy membuatku tenang. Artinya aku berhasil membujuk Billy. Anakku ini akhirnya mau melupakan masalah yang baru saja membuatku benar-benar gugup.
"Aku istirahat dulu. Apa Mama belum ingin tidur?"
"Mama belum mengantuk, Sayang. Istirahatlah, besok pagi semuanya akan baik-baik saja."
Billy pun akhirnya pergi dan keluar meninggalkanku. Aku pun tenang dan beristirahat. Besok pagi aku harus bicara dengan Jack dan Abigail, mereka benar-benar membuatku sport jantung.
__ADS_1
***
Seperti yang sudah kurencanakan semalam, hari ini aku harus bicara dengan Jack dan Abigail. Aku harus menghubungi mereka lewat telepon. Masalah yang ditimbulkan mereka berdua membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Karena waktu masih sangat pagi, aku ke ruang kerjaku untuk menunggu Billy bangun. Aku masih tak percaya kalau putraku Billy akan segera menikah.
Aku tidak terlalu khawatir soal Zuri, selain dia sudah mengetahui yang sebenarnya, gadis cantik itu akan tetap memilih Billy sebagai calon suaminya.
Oh, sebentar lagi aku akan punya menantu. Mengingat posisi Aaron dan Billy adalah darah dagingku, membayangkan Zuri menjadi menantu perempuan sangatlah membuatku bahagia.
Aaron ... Aku jadi sedih mengingat Aaron. Bagaimana nasib anak itu seandainya keluarga Zuri tidak menemukannya?
Aaron, maafkan mama. Mama tidak bisa menjadi ibu yang baik bagimu, Nak. Mama berharap suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagian seperti yang dirasakan Billy saat ini.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuatku terbangun dari lamunan. Aku berseru, membuat sosok dari balik pintu muncul.
"Selamat pagi, Nyonya."
Aku lega melihat pelayan wanitaku membawa baki berisi secangkir teh melati kesukaanku. Pagi ini aku memang membutuhkan teh untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku.
"Pagi. Apa Billy sudah bangun?"
Tepat di saat itu sosok yang baru saja kusebutkan muncul.
Aku terkesima melihat putraku begitu tampan dengan balutan kemeja hitam yang kancing bagian atasnya terbuka. Wajahnya sudah segar. Tubuhnya meruapkan aroma sabun dipadu parfum yang selalu membuat Anggie tergila-gila padanya.
"Pagi, Sayang. Kamu terlihat segar, Nak."
Billy duduk di depanku. Aku pun segera memerintahkan pelayan untuk membuatkan minuman kesukaan Billy.
"Bagaimana tidurmu, Nak?"
"Sangat nyenyak."
Itu bisa dibenarkan dari ekspresinya pagi ini. Itu artinya putraku sudah melupakan masalah semalam.
"Semalam sebelum tidur aku menghubungi Zuri. Dia marah-marah karena ponselku tidak aktif."
Senyumku sama lebarnya dengan Billy. "Mama setuju dengan dia. Dia itu gadis yang baik dan sangat istimewa."
Ya ampun, aku masih tak percaya kalau gadis yang akan menjadi menantuku adalah putri kandung mantan suamiku.
__ADS_1
"Aku menceritakan soal kejadian semalam padanya dan dia ...."
Kulihat ekspresi bahagia di wajah tampan putraku hilang. "Dia apa, Billy?"
"Dia ... dia akan memilihku sebagai pendamping hidupnya. Zuri tetap akan menikah denganku meskipun orang tua punya hubungan spesial."
Kulihat kebahagiaan kembalu terpancar di wajah Billy. "Harusnya mama mengajakmu taruhan semalam."
Billy terbahak. "Aku bahagia sekali, Ma. Apa yang dikatakan papa benar, Zuri sudah mengetahui semuanya. Awalnya juga aku sedikit marah karena dia telah menyembunyikan hal ini dariku. Alasannya-lah yang membuatku tenang."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia merahasiakan hal itu demi hubungan kami, dia tidak ingin aku meninggalkannya hanya karena hubungan orang tua kami yang belum tentu bisa bersama."
Anak yakin Zuri akan menjawab demikian. Oh, Billy ... seandainya kamu tahu calon istrimu adalah putri kandung papamu, mungkin kamu-lah yang tidak akan mau menikahinya.
"Zuri benar, hubungan mamanya dan papa belum tentu bisa sampai dipernikahan. Sementara hubungan kami sebentar lagi akan memasuki pernikahan. Sesuatu yang sudah dibangun begitu indah tidak mungkin akan dibongkar lagi."
"Mama senang mendengarnya, Nak. Apa itu alasanmu bangun sepagi ini?"
Kulihat wajah Billy memerah. Putraku tak berkata apa-apa saking malunya.
Aku juga tak ingin Billy lama-lama di sini. Aku harus segera menghubungi Jacky, agar kejadian semalam tidak akan terjadi lagi.
"Sebaiknya kamu cepat menemuinya, hari ini kalian pasti akan sangat sibuk."
"Mama benar. Aku harus pergi, aku harus menjemputnya. Gaun yang dia minta kuambilkan semalam masih tertinggal di apartemennya."
Aku tertawa. Begitu melihat pelayan membawakan minuman untuk Billy aku berkata, "Habiskan dulu minuman dan sarapanmu, kau butuh tenaga ekstra untuk hari ini, Billy."
Kulihat wajah Billy semakin memerah sambil menyeruput hot cokelat dari cangkirnya.
"Aku harus pergi sekarang, Ma. Perjalananku lumayan jauh."
"Tentu saja. Bawa sarapanku dan makanlah di dalam mobil."
Setelah berpamitan Billy akhirnya meninggalkan ruanganku. Ini pertama kalinya aku merasa benar-benar dekat dengan putraku. Rasanya aku ingin kejadian ini terus berulang selamanya. Zuri benar-benar membawa keburuntungan di keluarga ini.
Mengingat Zuri membuatku segera meraih ponsel dari atas meja. Dengan cepat aku mencari kontak mantan suamiku lalu menghubunginya. Sambil menunggu panggilan terhubung aku berdiri menatap jendela.
#Sudut pandang Billy.
Hari ini benar-benar membahagiakan. Awalnya aku takut Zuri akan membatalkan pernikahan kami. Rasanya aku ingin mati saja jika Zuri meninggalkanku dan tidak jadi menikahiku.
__ADS_1
Mengingat wajah cantik Zuri membuatku ingin menghubunginya. Kuraih ponselku di saku celana tapi ternyata tidak ada. Aku mengingat kembali di mana kuletakan benda itu. Begitu aku teringat mama, aku segera turun dari mobil dan kembali ke dalam. Ponselku ternyata tertinggal di dalam ruangan mama.
Bersambung____