My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Asumsi.


__ADS_3

"Kenapa?"


"Debora tidak hanya mengkhianatiku, dia mengkhianati semua keluargaku."


"Debora? Istrimu?"


Aku mengangguk. "Debora berselingkuh. Tidak hanya itu, Debora juga menggelapkan uang perusahanku demi kepentingan pribadi."


Abigail terdiam. Ekspresinya terlihat sangat terkejut.


Tepat di saat itu mobilku berhenti di lampu merah. Aku menatap Abigail. "Sejak awal aku tidak pernah mencintainya. Jika bukan wanita pilihan kakek aku tidak akan pernah mau menikah dengannya."


"Apa keluargamu tahu soal ini?"


Lampu merah berganti hijau. Aku menggerakan mobil lalu menjawab, "Soal perselingkuhannya mama, papa dan putraku sudah lama mengetahuinya. Mereka semua diam karena kakek sangat menyayangi Debora. Sekarang justru kakek lah yang mendesakku agar cepat menceraikan Debora. Akibat penggelapan dana itu akhirnya semua kebusukkannya diketahui kakek."


"Mungkin ada alasannya dia melakukan itu. Atau jangan-jangan kamu tidak menafkahinya?"


Aku terkekeh. "Seminggu setelah menikah kakek memberikan Daniel Enterprise kepadanya. Cukup memantau saja Debora mendapatkan hasil bersih setiap bulan dari perusahan tersebut."


"Daniel Enterprise? Bukankah perusahan tersebut dihandle oleh papamu?"


"Ya, dan karena peralihan itu ada perdebatan antara kakek dan papa. Tapi kamu tahu kakekku, kan? Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Jadi, mau tidak mau papa mengalah saja dan menangani perusahan yang lain."


"Pasti kakekmu kecewa sekali."


Kulihat ekspresi Abigail menjadi sedih. Aku tersenyum sayang. "Konspirasi yang dilakukannya yang membuat kakek sangat marah. Seandainya uang itu untuk kepentingan pribadi kakek pasti tidak akan semarah ini. Karena uang itu diberikan kepada Gilbert membuat kakekku murka. Rasa sayang yang dulu begitu besar kepada Debora kini hilang. Pokoknya sekarang bukan hanya aku yang membencinya, tapi kakek juga sangat membenci Debora."


Abigail diam tak menjawab. Pandangannya terus ke arahku dengan mimik wajah bingung, kaget dan sedih bercampur menjadi satu.


Tanpa terasa akhirnya aku dan Abigail tiba di kediaman Robbie Oliver. "Kita sampai," kataku setelah menghentikan mobil di depan gerbang.


Abigail menatapku. Pandangannya lembut. "Terima kasih ya kamu sudah menemani dan mengantarkanku."


Ingin sekali aku meraih tangan Abigail dan menggenggamnya. Bukan karena takut, aku tidak ingin Abigail mengira bahwa aku tidak menghormatinya. Status Abigail yang sekarang bukan berarti aku harus merendahkannya.


"Sama-sama, tapi sayangnya itu tidak gratis. Besok aku ingin kamu menemaniku dan mendengarkan curahanku."


Abigail tersenyum. "Tentu saja, Jack. Besok aku akan mengabarimu secepatnya. Kamu tenang saja."


"Masuklah dan istirahat. Besok aku akan menjemputmu di sini."

__ADS_1


"Baiklah. Kamu juga hati-hati."


Aku hanya mengangguk sambil melihat tubuh indah Abigail menghilang di balik pintu. "Oh, Abigail. Seandainya kamu tahu aku masih mencintaimu seperti dulu, apakah kamu masih mau menerimaku dengan status yang sebentar lagi akan menduda?"


#Sudut pandang Abigail.


Malam ini aku tak pernah menyangka akan bertemu lelaki asing yang sama sekali tidak kukenali. Selama hidup aku hanya dekat dengan lelaki. Lekaki itu adalah Jacky. Sejak masih sekolah banyak yang mendekatiku, tapi tidak ada satupun dari antara mereka yang berhasil meluluhkan aku. Hanya Jacky Daniel satu-satunya laki-laki yang berhasil menaklukan aku.


Sekarang ... demi kebahagiaan putri semata wayang aku rela bertemu dan memberikan harapan kepada orang yang sama sekali tidak kuketahui wujud wajahya. Tidak hanya itu, demi menyembunyikan identitas Zuri dari Jacky aku harus segera mendapatkan pasangan hidup. Aku harus menikah agar Jacky tahu Zuri adalah anak lelaki itu.


Saat ini aku dan Zuri sudah dalam perjalanan menuju tempat di mana lelaki itu janjikan. Kulihat tempat yang ternyata adalah Restoran Bebbi.


"Tempatnya di sini?" tanyaku ketika Zuri membelokan mobilnya ke area parkir. Aku sangat membenci tempat ini.


"Iya, Ma."


"Kalau mama tahu tempatnya di sini. Mama lebih baik tidak datang. Mama paling tidak suka makan di restoran ini, Zuri."


"Kenapa? Bukankah restoran ini bagus dan mewah?"


Aku turun dari mobil. "Lain kali bilang pada bosmu, kalau mau makan malam jangan di restoran ini, mama tidak suka."


"Maafkan aku, Ma. Aku juga tidak tahu. Oh iya, Mama akan masuk ke dalam sendiri atau aku akan menemani Mama?"


Zuri melihat ponsel. "Mama masuk saja kalau begitu. Bos sudah memesan meja atas nama Mama."


"Atas nama mama?"


"Iya. Jadi Mama ke dalam saja dan tunggu di dalam. Siapa tahu bosku sudah menunggu di sana."


"Baiklah. Nanti mama akan menghubungimu, ya? Mama ingin kamu yang menjemput mama."


"Siap. Aku pergi dulu. Semoga berhasil dan jangan kecewakan aku, Ma."


Tanpa menjawab aku segera masuk. Seorang pelayan menyapaku dan mengarahkanku ke meja sesuai yang kusebutkan. Aku duduk kebingungan. Duduk sendirian seperti ini membuatku bosan. Sudah hampir lima belas menit sosok yang ditunggu belum juga datang sampai akhirnya suara yang sangat kukenali terdengar di telingaku.


Aku terkejut melihat Jacky. Ya Tuhan, lama tak melihatnya ternyata lelaki ini semakin tampan. Aku menyapanya dengan ramah. Jack juga membalas sapaanku dengan ramah. Karakternya sejak dulu tidak pernah berubah. Beruntung sekali wanita yang telah menjadi istrinya.


Bicara soal pernikahan aku tidak pernah marah kepada Jacky. Aku tidak membenci Jacky karena tidak jadi menikahiku. Aku sama sekali tidak ada dendam pada Jacky walaupun lelaki ini tidak bertanggung jawab atas kelahiran Zuri.


Aku bersikap biasa. Selain agar Jacky tidak curiga dan mengetahui soal Zuri, aku bersikap biasa karena memang aku tidak membenci Jacky. Aku menganggap Jacky seperti sahabatku sendiri. Namun ada hal yang membuatku sangat-sangat terkejut. Istri Jacky selingkuh. Jacky akan bercerai.

__ADS_1


Masalah Jacky sama persis dengan masalah yang dialami bosnya Zuri. "Bos ... Zuri ...."


Begitu mobil Jacky pergi aku segera berlari masuk ke dalam rumah. "Di mana Zuri, Aaron?" tanyaku saat pria itu muncul.


"Di kamar, Nyonya."


Aku memang menyuruh Zuri untuk tinggal sampai aku pulang. "Paman sudah tidur?"


"Sudah, Nyonya."


"Terima kasih, Aaron."


"Sama-sama, Nyonya."


Tak mau menunggu aku langsung menaiki tangga menuju kamar Zuri.


Tok! Tok!


"Zuri, apa kamu sudah tidur?"


Tok! Tok!


Zuri muncul. "Mama. Mama sudah pulang? Kenapa tidak menghubungiku?"


"Mama di antar oleh teman mama. Boleh mama masuk? Ada hal yang ingin mama bicarakan denganmu."


Zuri mempersilahkan. Aku dan Zuri duduk di atas ranjang. "Aku minta maaf mewakilkan atasanku, Ma. Aku___"


"Kamu tidak perlu minta maaf, Sayang. Kamu tidak salah."


"Tapi malam ini bosku sudah mengecewakan Mama. Aku takut Mama tidak akan mau lagi bertemu dengan atasanku karena kesalahannya malam ini"


Kuraih sebelah tangan Zuri kemudian menggenggamnya. "Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula itu tidak disengaja, bukan? Jadi, kamu tidak perlu minta maaf."


"Kalau begitu hal penting apa yang ingin Mama bicarakan?"


Aku menatap Zuri sangat lama.


"Ma, hal apa yang ingin Mama bahas denganku?"


Aku tersenyum paksa. "Karena bosmu sudah mengecewakan mama, bisakah kamu beritahu siapa nama bosmu dan nama perusahannya?"

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2