My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Dibuat Melayang.


__ADS_3

"Tidak Tanisa, aku tidak akan pernah menuntut apa-apa darinya."


"Kalau begitu jangan salahkan dirimu. Bukan kamu yang salah, tapi dia."


Aku mengalihkan pandangan menatap Tanisa. "Jacky tidak salah, Tanisa. Jacky hanya menuruti kemauan keluarganya. Seandainya tidak menyangkut keluarganya, aku pasti sudah mengatakan hal itu kepadanya tadi. Aku tidak ingin ada salah paham antara mereka. Aku tidak mau Jacky menganggap keluarganya lah yang menyebabkan aku meninggalkannya."


"Itu benar, kan? Harusnya Jacky sadar soal itu. Dia seharusnya menyalahkan keluarganya bukan dirimu."


"Jangan begitu, Tan. Sekalipun marah aku tidak mau menyalahkan keluarganya. Positif thinking saja. Itu berarti aku dan Jacky tidak berjodoh."


"Kau selalu saja begitu. Membela orang yang jelas-jelas sudah menyakitimu."


Tanisa benar. Jacky dan keluarganya sudah sangat menyakitiku. "Seandainya pernikahan Jacky hanya terpaksa karena wanita itu, sudah lama aku membawa Zuri kepada mereka untuk meminta pertanggungjawaban. Aku tak peduli meskipun Jacky sudah beristri. Tapi keluarga Jacky tidak menginginkanku menjadi menantu mereka, Tan. Menunjukkan Zuri atau meminta pertanggungjawaban Jacky hanya akan mempermalukan diriku sendiri di depan mereka."


Tanisa memelukku. "Aku minta maaf kalau sikapku tadi keterlaluan. Aku tidak senang saja Jacky menyalahkanmu seperti itu."


Aku membalas pelukan Tanisa. "Tidak apa-apa. Jika aku di posisimu juga pasti demikian. Sebagai sahabat aku sangat berterima kasih padamu, Tanisa."


"Kamu yang sabar, ya? Mungkin ada sesuatu yang akan terjadi di balik ini."


Aku melepaskan tubuh Tanisa lalu menatapnya. "Aku heran, Tan."


"Heran kenapa?"


"Jack dapat nomorku dari siapa, ya?"


"Kamu tahu kan berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarga Daniel. Mencari informasi tentangmu pasti hal yang mudah bagi Jacky. Mungkin saja dia menyuruh salah seorang dari mereka untuk berpura-pura menjadi klienmu."


"Iya, tapi kenapa nanti sekarang?"


"Kan dia punya istri, Abigail. Bisa saja Jack sudah tahu keberadaanmu sejak lama, tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk menghubungimu."


Aku berpikir sejenak. "Kamu benar. Tapi ada hal lain yang membuatku penasaran selain nomorku yang diketahui olehnya."


"Apa itu?"


"Jack tahu statusku sekarang tidak bersuami."


"Apa dia tahu suamimu siapa?"


Aku menggeleng. "Dia bilang padaku tadi. Apa hanya karena sakit hati mendengar dia menikah sampai aku mencari laki-laki yang hanya mempermainkanku saja. Dia marah karena aku memilih suami yang salah."

__ADS_1


"Itu artinya informan yang dia utus untuk mencaritahu tentangmu tidak jenius. Selain itu apalagi yang dia katakan?"


"Hanya itu saja. Dia meminta alasan, menyalahkanku dan marah karena aku salah mendapatkan suami."


Tanisa mengangguk-anggukkan kepala. "Tidak salah lagi. Aku sangat yakin sekali kalau orang suruhannya memberikan informasi secara spekulasi kepadanya. Dia pasti mengira Zuri adalah anak dari suami yang telah meninggalkanmu."


"Aku rasa juga begitu. Dan hal yang membuatku khawatir sekarang adalah Zuri. Aku takut dia akan menemukan Zuri dan menceritakan masa lalu kami kepadanya."


Tanisa menepuk bahuku. "Soal itu kau tidak perlu khawatir. Biarkan saja dia mencari Zuri dan bertemu dengannya. Kalau kau melarangnya justru akan menimbulkan kecurigaan bagi Zuri maupun Jacky. Bukankah Jack marah padamu karena salah memilih suami?"


"Iya."


"Itu artinya dia tidak tahu kalau Zuri adalah putrinya."


Aku hanya diam sambil menatap Tanisa.


"Tidak usah takut. Kalaupun dia menemukan Zuri itu karena ikatan di masa lalu kalian. Sebagai mantan kekasihmu Jacky pasti akan menyayangi Zuri seperti dia pernah menyayangimu."


"Aku sedikit lega mendengar ucapanmu. Sungguh, tadi itu aku sangat takut Tanisa. Aku takut Jacky akan mencari Zuri dan merebutnya dariku."


"Sekalipun dia bertemu Zuri dan mencaritahu siapa suamimu, Jacky tetap tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya dialah ayah kandungnya Zuri."


"Kita tidak perlu melakukan apa-apa, Abigail. Percayalah padaku, selama kau atau paman Robbie tidak bicara pada Jacky siapa ayah kandung Zuri yang sebenarnya, sampai matipun dia tidak akan tahu kalau Zuri adalah anaknya."


#Sudut pandang Zuri.


Hari ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Sudah berapa hari aku tidak berolahraga. Pagi ini aku putuskan untuk jogging di seputaran apartemen.


Saat ini waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh pagi. Jadi masih cukup banyak waktu aku mengeluarkan keringat sebelum berpacu di dalam dapur. Aku juga sengaja tidak mengajak Billy. Semalam karena asik berciuman kami sama-sama bergairah. Segala macam cara aku dan Billy lakukan tapi tetap saja kami saling menginginkan.


Tak tahu harus melakukan apa kami akhirnya memutuskan untuk saling membantu satu sama lain. Aku membantu Billy ejakulasi dengan tangan, sedangkan Billy membantuku dengan sapuan lidahnya yang nakal. Membayangkan adegan semalam membuat bagian bawah tubuhku berdenyut-denyut lagi.


Billy sangat pandai. Walaupun tidak pernah melakukan sebelumnya, tapi permainan lidahnya yang liar mampu membuatku ******* hingga berkali-kali. Ya ampun, aku menginginkannya lagi. Aku ingin Billy membuka kakiku lebar-lebar seperti semalam kemudian menyerang kewanitaanku dengan lidahnya hingga tubuhku bergetar hebat. Aku jadi tak sabar untuk mencobanya lagi nanti malam. Billy benar-benar membuatku melayang.


Membayangkan hal itu membua tubuh bagian bawahku berdenyut-denyut. "Awas kamu, Billy. Gara-gara kamu celanaku sampai basah."


Memalukan!


Dengan cepat aku berjalan mencari super market terdekat untuk membeli minuman. Hanya dengan cara itu aku bisa mengalihkan pikiran untuk melakukan adegan semalam. Billy benar-benar membuatku gila. Dan untuk menghindari masalah, ada baiknya aku segera kembali ke apartemen sebelum dia mencariku. Jika Billy tahu aku jogging tidak mengajaknya pria itu pasti akan marah.


"Nona?"

__ADS_1


Suara pria berpakaian kotor membuatku terkejut. Saat ini aku baru saja keluar dari super market dengan kedua tangan yang sibuk memegang minuman dan roti.


"Iya, ada apa?"


"Bisa aku minta rotimu? Sejak semalam aku belum makan."


Seketika aku terkejut mendengarnya. "Tentu saja," secara spontan aku langsung memberikan roti yang kebetulan belum kumakan, "Apa ini cukup? Atau kau mau aku masuk ke dalam untuk membelinya lagi?"


"Tidak perlu Nona, ini sudah cukup. Terima kasih banyak."


Kulihat pria itu memakan roti pemberianku dengan rakus. Ya ampun, ternyata di kota ini masih ada orang kelaparan seperti yang ada di hadapanku sekarang. Selama berapa bulan di kota ini aku tidak pernah melihat orang seperti pria ini di sepanjang jalan. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan pria seperti dia.


"Bisa aku tahu namamu siapa?"


Usia pria ini sepertinya masih remaja. Sambil terus mengunyah dia melirik kemudian menjawab pertanyaanku, "Namaku Dave, Nona."


"Dave, apa kamu ingin minum sesuatu? Aku tidak akan keberatan masuk ke super market itu untuk membelikanmu minuman."


Dave berhenti mengunyah lalu menatapku cukup lama.


"Ada apa, Dave? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Pria itu menunduk sedih lalu berkata, "Aku tidak ingin minuman, Nona. Aku ingin ... ingin ...."


"Ingin apa, hah? Katakan saja, Dave. Kau ingin apa?"


"Aku ingin Nona ikut denganku di seberang sana."


Kulihat arah telunjuk pria itu yang menuju ke sebuah lorong kecil di depan jalan. "Ada apa memangnya di sana?"


"Di sana ada adikku. Usianya delapan tahun dan belum makan sejak kemarin. Aku takut terjadi apa-apa padanya, suhu tubuhnya sangat panas."


"Ya ampun, kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita ke sana. Kalau misalkan aku ingin membawanya ke rumah sakit untuk di periksa, bagaimana? Kamu tidak keberatan, kan?"


"Tentu saja bisa."


Dengan antusias aku mengikuti langkah pemuda itu. Dan saat memasuki lorong tersebut, ada sosok menakutkan yang tak ingin kulihat sedang bermain dengan anak perempuan yang mungkin berusia delapan tahun.


"Anggie? Sedang apa kau di sini?"


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2