My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Menghasut.


__ADS_3

Aku yakin Billy pasti bercanda. "Kamu tidak sedang meledek mama kan, Sayang?"


"Apa untungnya aku berbohong. Sekarang aku yang akan bertanya, dari mana Mama tahu kalau papa punya pacar?"


Aku duduk di depan Anggie. Sambil menatap wanita itu yang juga sedang menatapku dengan penuh penasaran aku berkata, "Intuisi mama saja."


"Jangan bohong, Ma. Pasti ada seseorang yang sudah memberitahu Mama, bukan?"


Seandainya tidak ingin mencari kebenaran pasti sudah banyak alasan yang kukatakan. "Baiklah, mama akan jujur. Sebenarnya mama telah mengirim orang untuk memata-matai papamu, Nak. Mama khawatir papamu akan mencari wanita lain karena mama sering mengabaikannya. Feeling mama berkata demikian. Itulah sebabnya kenapa mama mengetahui hal ini. Orang suruhan mama memberitahu ada seorang gadis yang tingga bersama papamu di apartemen. Apa itu benar, Billy?"


"Bukankah Mama sudah tidak peduli lagi kepada papa?"


"Billy, mama serius. Apa benar papamu sudah punya wanita lain?"


"Bukankah Mama juga sudah punya lelaki lain?"


Aku terdiam. Billy mengetahui perselingkuhanku? Tidak, itu tidak mungkin. Selama ini aku memang bersikap terang-terangan di depan mereka, tapi kan itu aku lakukan agar mereka tahu bahwa aku dan Gilbert adalah rekan bisnis.


Aku menatap sinis ke arah Anggie. Selama ini yang tahu banyak tentangku hanyalah Anggie. Secara dia adalah anak dari sahabatku. Jelas dia lah yang tahu baik-buruknya tentang diriku.


"Billy, kamu jangan bicara sembarangan ya, Sayang. Kata siapa mama punya lekaki lain? Selama ini mama sangat setia pada papamu, Nak."


"Setia? Setiap tikungan ada maksud, Mama? Ma, tidak usah bohong lagi. Aku dan papa sudah tahu semuanya."


"Itu tidak benar, Billy. Selama ini mama sibuk dengan pekerjaan mama, Sayang."

__ADS_1


"Ma, aku bukan anak kecil yang dulu yang sering dibohongi Mama agar aku tidak memberitahukan apa yang Mama lakulan selama ini kepada papa. Aku sudah dewasa, Ma. Aku sudah tahu segalanya, tanpa harus dibohongi lagi seperti dulu. Mama pikir aku tidak tahu om Gilbert itu siapa."


Aku menelan ludah dengan gugup. "Sayang, mungkin kamu salah paham. Mama dengan om Gilbert hanya rekan kerja. Mama dengan beliau juga sudah bersahat sejak lama."


"Rekan kerja atau rekan se ranjang? Ma, Mama tidak perlu menyembunyikan semuanya. Aku dan papa sudah tahu segalanya. Selama ini kami diam karena Mama juga diam, bukan? Mama pikir sikap diam itu karena kami tidak tahu? Mama salah. Bahkan mobil baru yang Mama belikan untuk om Gilbert aku dan papa mengetahuinya. Jadi lebih baik Mama tidak usah beralasan atau berbohong lagi, karena itu hanya akan menambah dosa. Lebih baik Mama bertobat sebelum semua terlambat."


Tanpa menunggu jawabanku Billy segera memutuskan panggilannya. Aku kesal, membanting ponsel kemudian menatap Anggie. "Ini semua pasti karenamu! Kamu pasti yang mengadukan semua ini kepada suami dan anakku, bukan?"


"Kenapa Tante menyalahkanku? Bukankah Tante sendiri yang membuat mereka mengetahuinya?"


"Aku?" sesaat aku terdiam mendengar ucapan Anggie. Perkataan wanita itu ada benarnya. Saking cintanya kepada Gilbert aku bahkan tidak mengontrol tindakanku di depan umum.


"Tante terlalu terbuka soal hubungan asmara Tante dengan om Gilbert. Om Jacky dan Billy itu bukan orang biasa, Tante. Dengan uang mereka bisa melakukan segalanya tanpa harus turun tangan. Bisa saja kan om Jacky atau Billy menyewa orang untuk memata-matai Tante."


Emosiku terhadap Anggie mulai meredah. Aku meretapi apa saja yang pernah kulakukan kepada suami dan anakku. "Kau benar, Anggie. Selama ini aku terlalu cuek pada suami dan putraku. Aku terlalu sibuk dengan uang dan asmaraku bersama Gilbert."


Sejenak tanduku langsung keluar. "Jangan pernah kau menghina Gilbert, ya! Kau hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Lebih baik kau keluar dari sini sebelum aku menghabisimu!"


Secepat kilat Anggie langsung berdiri. "Baiklah. Tapi ingat, jika Tante menuduhku atas kejadian ini, aku tidak akan segan-segan membongkar semuanya kepada om Jacky dan Billy. Aku akan mewujudkan apa yang Tante tuduhkan kepadaku."


Gawat, kalau Anggie sampai buka mulut mereka pasti akan mempercayainya. "Kau mengancamku? Lakukan saja jika kau mau. Kau pikir mereka akan percaya jika tanpa bukti."


"Bukankah Tante menuduhku yang melakukannya? Tante pikir juga aku tidak punya bukti? Baiklah, besok aku akan ke Daniel Corporation dan membongkar semuanya. Dan kita lihat, apakah om Jacky dan Billy akan lebih percaya padaku atau Tante."


Tanpa berkata apa-apa Anggie langsung berbalik meninggalkanku. Tidak, Anggie tidak boleh melakukan itu. Sudah jelas mereka akan lebih percaya pada Anggie dibanding aku. Aku tidak mau jatuh miskin. Kalau Anggie membongkar semuanya, mereka pasti akan menarik semua aset yang sudah diberikan kakek padaku. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus mencegah Anggie. Aku harus membujuk wanita itu agar dia mau menutup mulut.

__ADS_1


Kutatap tubuh Anggie yang sudah mendekati pintu. "Tunggu!"


Anggie berhenti tapi tidak menatapku.


"Baiklah, tante tidak akan menuduhmu lagi. Tante minta maaf karena sudah berkata begitu. Karena kamu sudah dipecat karena tante, tante janji akan menjamin kehidupanmu di masa mendatang."


Anggie berbalik menatapku. Senyumannya sangat licik. Dasar wanita ular. Sungguh sangat menyesal aku pernah bekerjasama dengan wanita gila ini. Tapi demi segudang harta aku harus mengalah. Aku lebih baik terikat dengan wanita ular ini daripada menjadi miskin.


"Katakan, apa yang kamu inginkan? Tante janji akan mengabulkannya, Anggie."


Dengan senyum yang penuh kelicikan Anggie kembali mendekatiku. "Tante serius ingin mengabulkannya?"


"Tante serius, Anggie. Sejak kapan kau lihat tante tidak pernah menepati janji kepadamu?"


Anggie berdecak. "Aku tahu. Tapi aku tidak yakin saja kalau setelah kejadian ini Tante masih mau menjadikanku menantu."


Bisa dibilang sekarang saja aku sudah muak menatapmu. Apalagi harus menjadikanmu menantu seumur hidup. Namun, demi kehidupan aku harus ikhlas menerimanya. Yang menjalani hubungan dengan wanita ular ini kan Billy bukan aku.


Aku tersenyum pura-pura. "Soal itu tante setuju jika kamu menikah dengan Billy. Tapi kamu tahu kan selama ini tante sudah berusaha, namun Billy sendirilah yang menolakmu. Tante ingin memaksanya, tapi papa dan neneknya lah yang mendukung Billy untuk membatalkan perjodohan kalian. Jadi, tante tidak tahu lagi harus melakukan apa agar Billy mau menerimamu. Maafkan tante, Anggie."


Anggie duduk di depanku. Sambil menumpangkan kaki ke kaki yang lain wanita ini menghadapku dengan penuh senyuman. "Aku tahu caranya agar Billy mau menerimaku. Di sini Tante hanya perlu mendukungku dan memberinya pelajaran."


"Maksudmu?"


"Aku ingin Tante menyuruh orang untuk menculik gadis itu dan memberinya pelajaran. Mungkin kalau Tante yang menghajarnya dia pasti akan menurut."

__ADS_1


"Gadis ... gadis siapa, Anggie?"


Bersambung___


__ADS_2