
Ekspresi ceria di wajahku lenyap berganti sedih. Bahagia yang kurasakan ketika mendengar Zuri mengijinkanku menikah lagi kini hilang. Mendengar nama Jacky membuatku teringat kepada masalaluku yang sangat indah. Masa-masa di mana aku menjalin cinta dengan pria tampan, kaya, baik dan sangat menggairahkan. Pria itu bernama Jacky Daniel. Sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat mencintaiku. Namun karena sesuatu dan lain hal membuat Jacky mau tidak mau harus meninggalkanku.
"Jujur sampai saat ini aku tidak bisa melupakannya, Tanisa. Jacky laki-laki terbaik yang pernah kukenal."
"Itu karena Jacky adalah laki-laki pertama dan terkahir dalam hidupmu. Jadi, wajar jika kamu tidak akan pernah bisa melupakannya."
Aku menunduk sedih. "Itu pasti pilihan yang sangat sulit baginya, Tanisa. Tidak salah aku mencintainya. Jacky orang yang baik dan sangat bijaksana. Jika berada di posisinya aku juga pasti akan melakukan hal yang sama."
"Apa kamu tidak memberitahu Zuri kalau Jacky adalah papa kandungnya?"
Kutatap Tanisa dengan pandangan terkejut. "Tidak, Tan. Sampai matipun aku tidak ingin Jacky tahu soal Zuri."
"Kenapa?"
"Dia pasti akan meninggalkan istrinya jika tahu aku memiliki anak bersamanya. Kamu tahu Jacky, kan? Seandainya pernikahan itu bukan keinginan keluarganya, aku pasti akan meminta pertanggungjawaban kepada mereka soal Zuri. Tapi aku tidak melakukan itu karena tidak ingin keluarga Daniel mengasingkan Jacky hanya karena menikahi wanita sepertiku."
"Tapi apa bedanya kamu dengan istrinya? Bukankah kalian sama-sama dari keluarga terpandang? Aku rasa kalau keluarga Daniel tahu kamu adalah keponakan dari pemilik rumah sakit dan apotik Oliver mereka pasti akan merestui hubunganmu dengan Jacky."
Aku menggeleng kepala. "Itu tidak mungkin, Tan. Kata kakek justru karena mereka tahu itu aku sampai keluarga Jacky merencanakan kejahatan untuk memisahkan aku dan Jacky. Mereka ingin Jacky menikah dengan wanita pilihan mereka, bukan aku."
"Lalu sampai kapan kamu akan menyembunyikan identitas Jacky dari Zuri? Biar bagaimanapun mereka ayah dan anak, Abigail. Suatu saat jika Zuri akan menikah, Jacky harus menjadi pendampingnya."
Aku menatap sedih. "Aku merasa bersalah telah memberitahukan hal itu kepada Zuri, tapi aku tidak punya pilihan lain. Jadi aku mengatakan hal yang sebenarnya kepada Zuri, bahwa papanya meninggalkan kami demi wanita lain."
__ADS_1
"Lalu apa responnya?"
"Zuri sangat membenci Jacky. Sampai kapanpun dia tidak ingin bertemu papanya. Aku merasa berdosa, Tan. Aku telah membuat Zuri membenci papa kandungnya sendiri. Di mata Zuri Jacky sangat jahat karena telah meninggalkan kami, padahal Jacky-ku tidak seperti itu. Jacky tidak sejahat yang dikatakan Zuri."
Tanisa berpindah posisi di sampingku. Sambil mengusap punggungku Tanisa berkata dengan pelan kepadaku, "Itu karena Zuri tidak pernah mengenal papanya. Seandainya Zuri pernah bertemu dan hidup bersama papanya, dia pasti akan sangat bangga dan bahagia mendapatkan papa seperti Jacky. Aku yakin."
"Aku tahu. Tapi itu tidak mungkin kulakukan, Tanisa. Aku tidak mungkin memberitahu Jacky bahwa aku memiliki anak bersamanya. Alasan aku menetap di kota ini karena itu, Tanisa. Aku tidak ingin Jacky tahu soal keberadanku, apalagi soal Zuri. Aku tidak ingin dia tahu kalau Zuri adalah anak kandungnya."
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya, hah? Kalau suatu saat Jacky menemukanmu kemudian menanyakan soal Zuri, bagaimana? Bisa jadikan selama ini dia mengutus seseorang untuk mencaritahu tentang dirimu. Nah, kalau dia tahu kamu memiliki anak padahal tidak pernah menikah, bagaimana?"
"Aku sudah memikirkan hal itu, Tan. Suatu saat dan cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengannya. Aku sudah memikirkan jawaban apa yang akan kuberikan jika Jacky menanyakan soal Zuri. Pokoknya Jacky tidak boleh tahu kalau Zuri adalah anak kandungnya."
Tanisa menarik napas. "Aku rasa ide Zuri ada benarnya. Ini demi menutupi status Zuri dari Jacky."
"Zuri benar, kamu harus menikah lagi. Dan itu bisa kamu jadikan alasan kepada Jacky jika tanpa sengaja kalian bertemu lagi suatu saat nanti. Jadi jika Jacky menanyakan soal Zuri, kamu bisa bilang kepadanya bahwa Zuri adalah anakmu bersama suami barumu itu. Apalagi Zuri sangat membenci Jacky, bukan? Akan lebih mantap lagi jika kamu menghasut Zuri untuk mengakui kepada semua orang termasuk Jacky, bahwa papa sambungnya itu adalah papa kandungnya. Dengan begitu aku yakin Jacky pasti tidak akan mencurigainya."
"Kalau Jacky tahu aku baru menikah di usia sekarang, bagaimana? Bukankah itu akan membuatnya semakin curiga jika dia tahu aku membohonginya?"
Tanisa membuang napas panjang. "Iya juga, sih. Tapi aku masih penasaran dengan apa yang kamu katakan tadi. Katamu Zuri menyuruhmu menikah lagi. Dengan siapa?"
"Dengan bosnya," jawabku lalu tertawa.
Tanisa ikut tertawa. "Kamu tahu kan selama ini Zuri selalu menutup diri. Sikap Jacky kepada kalian membuatnya menutup hati baik dalam mencari pasangan untuk dirinya sendiri, maupun mencari calon pengganti Jacky untuk dirimu. Jadi jika Zuri sudah berkata begitu, itu artinya dia sudah membuka hati dan sudah pasti pilihannya itu bukanlah orang sembarangan. Ini kesempatanmu untuk menerima tawarannya, Abigail. Bukankah selama ini kamu ingin menikah lagi, agar Zuri bisa merasakan kasih sayang dari sosok papa?"
__ADS_1
"Itu dia kenapa Zuri menginginkan aku menikah dengan lelaki pilihannya. Kata Zuri atasannya itu sudah memperlakukan dia seperti anaknya sendiri. Percaya atau tidak, tapi aku tidak melihatnya secara langsung. Bisa jadikan dia bersikap seperti itu agar Zuri tidak meninggalkannya dan menetap menjadi juru masak untuk dirinya dan anaknya."
"Tapi bukannya katamu dia memberikan imbalan gaji yang besar kepada Zuri?"
"Benar. Bahkan katanya dia membelikan mobil dan apartemen yang mewah untuk Zuri."
Alis Tanisa berkerut. "Kenapa perasaanku tidak enak, ya?"
"Tidak enak bagaimana maksudmu?"
"Dari semua yang kamu cerita soal kontribusi yang lelaki itu berikan kepada Zuri, apa mungkin dia punya maksud lain terhadap putrimu? Zaman sekarang kan banyak lelaki-lelaki matang yang menginginkan gadis muda untuk menjadi simpanannya."
Aku terdiam. "Kamu benar, Tan. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku, ya. Apalagi kata Zuri istrinya selingkuh. Bisa jadi sih dia hanya memanfaatkan profesi Zuri dengan memberikan kontribusi dan membuat Zuri nyaman dengan perlakuannya, lalu setelah itu dia akan menjadikan Zuri sebagai simpanannya. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus menghubungi Zuri dan menyuruhnya pulang!"
Tanisa mencegah saat tanganku meraih ponsel di atas meja. "Ini hanya intuisiku saja. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja tanpa ada penilaian secara langsung. Siapa tahu juga mungkin kita salah dan apa yang dikatakan Zuri itu benar, bahwa bosnya itu sudah menganggap Zuri seperti anak sendiri."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin putriku menjadi korban lelaki hidung belang, Tanisa. Sebelum terlambat sebaiknya kita harus mencegahnya."
"Zuri bukan gadis gampangan, Abigail. Anak itu tidak mungkin akan menyerahkan dirinya kepada lelaki yang dia tahu sudah berkeluarga. Begini saja, bagaimana kalau kita atur jadwal lalu pergi ke sana? Kita ambil cuti dua hari lalu kita temui Zuri dan caritahu asal-asul atasannya. Jika benar lelaki itu memperlakukan Zuri seperti anak sendiri, itu artinya kamu harus menyutujui permintaan Zuri untuk menikah dengan lelaki itu."
"Apa?! Kamu gila, ya. Lelaki itu punya istri, Tanisa."
"Iya, tapi kan istrinya berselingkuh. Jadi, kamu ada peluang untuk menggantikan posisi istrinya. Aku yakin, melihatmu pasti atasannya Zuri akan jatuh cinta."
__ADS_1
Bersambung___