
"Sakit ... memangnya tuan sakit apa, Bi?" tanyaku penasaran.
Kulihat si bibi menghabiskan suapan terkahirnya. Karena buburnya masih ada, aku menawarkannya lagi tapi beliau sudah tidak mau.
"Sejak kecil tuan Jack punya masalah dengan lambung. Kesibukan kedua orang tua membuat tuan Jacky terabaikan. Saat itu beliau berumur 8 tahun. Maklum, anak kecil kalau sudah bermain pasti suka lupa makan. Tak mau anak mereka masuk keluar rumah sakit tuan dan nyonya Daniel akhirnya mencari pengasuh. Kebetulan pamannya bibi adalah supir pribadi tuan besar. Jadi begitu mengatakan hal itu kepada paman, beliau meminta bibi untuk menjadi pengasuh tuan Jacky. Bibi tidak keberatan karena waktu itu bibi putus sekolah dan membutugkan pekerjaan untuk bantu orang tua."
"Berarti bibi sudah lama ya bekerja dengan tuan Jacky?"
"Iya, Non. Sejak tuan Jacky berumur 8 tahun dan sekarang usia tuan sudah 45 tahun."
"Wah. Si bibi berarti asisten legend, ya."
Si bibi dan aku tertawa sebelum akhirnya si bibi melanjutkan ceritanya. "Bibi menjadi asistennya tuan Jacky sampai beliau menikah. Saat itu tuan ingin melamar seorang wanita yang sangat cantik. Bibi lupa nama wanita itu, yang jelas wanita itu sopan dan sangat murah senyum."
"Tuan Jacky ingin melamar seorang wanita?" tanyaku dengan ekspresi terkejut. Oh iya, aku ingat. Kata Billy papanya terpaksa menikah dengan mamanya karena perjodohan si buyut.
"Iya, Non. Tuan Daniel sangat mencintai wanita itu. Jadi sebelum menikah, tuan sudah tinggal di apartemen ini sejak masuk sekolah menengah. Saat kuliah tuan bertemu wanita cantik itu. Bisa dibilang wanita itu adalah orang pertama yang berhasil merebut hati tuan Jacky. Selama sekolah beliau sudah menjadi rebutan. Bahkan ada yang rela membuka kaki demi mendapatkan hati tuan Jacky."
"Membuka kaki? Maksud, Bibi?"
__ADS_1
"Waktu itu ulang tahun tuan Jacky. Acaranya diadakan di apartemen ini. Wanita itu teman sekolah tuan. Dia pura-pura mabuk lalu masuk ke kamar beliau. Bukannya melayani, wanita itu malah di usir. Karena bibi ada di sana, tuan Jacky meminta bibi untuk membawa wanita itu keluar. Wanita itu bibi temukan di dalam kamar tanpa busana. Menurut tuan, wanita itulah yang membuka pakaiannya sendiri agar tuan Jacky tergoda."
"Ya ampun, sampai segitunya."
"Iya. Teman-teman beliau malah menertawakannya. Dibilang tuan penyuka sesama jenis karena menolak wanita cantik yang sudah telanjang di depannya. Namun, hal itu tidak digubris oleh tuan sampai akhirnya di pertengahan kuliah beliau membawa wanita untuk pertama kalinya ke apartemen ini. Wanita itulah orang pertama yang di ajak dan orang pertama di hati tuan Jacky. Setiap kali menceritakan wanita itu kepada bibi tuan sengat bahagia. Mereka berdua saling mencintai dan sangat cocok, tapi sayangnya mereka memang tidak berjodoh."
Kulihat ekspresi bibi sangat sedih. Jika seorang asisten saja seperti bibi bisa merasakan kesedihan saat kehilangan, apalagi om Jacky. Lelaki itu pasti lebih sakit lagi ketika harus melepaskan wanita yang dicintai demi wanita lain.
"Lalu di mana wanita itu sekarang?" tanyaku penasaran.
"Saat itu tuan baru saja menyelenggarakan acara kelulusan si wanita itu. Sebagai hadiah, tuan ingin melamar wanita itu diam-diam. Malam itu tuan pergi ke rumahnya kemudian berencana mengajaknya bertemu orang tua tuan Jacky. Namun, masih dalam perjalanan terjadi sesuatu kepada mereka. Paginya bibi di kabarkan bahwa tuan Jacky kecelakaan."
"Kecelakaan ... Apa wanita itu kecelakaan lalu meninggal?"
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa mereka menculik wanita itu?"
"Hal itulah yang sampai sekarang belum terpecahkan. Karena kejadian itu, tuan Jacky jujur kepada kedua orangtuanya bahwa beliau punya wanita yang ingin dinikahinya. Nyonya Lisa dan tuan Theo juga tidak keberatan, mereka menyuruh tuan Jacky agar segera membawa wanita itu menghadap mereka. Namun, ternyata sejak kejadian malam itu wanita itu tidak pernah kembali. Ayah wanita itu malah menuntut tuan Jacky karena telah menghilangkan anaknya."
"Ya ampun, berarti wanita itu hilang? Apa jangan-jangan mereka menculik dan membunuhnya?"
__ADS_1
"Itu dia yang kami pikirkan. Seandainya masih hidup, pasti wanita itu akan datang dan menemui tuan Jacky. Tapi sampai sekarang pun wanita itu tidak pernah datang, bahkan tidak ada kabar lagi. Tuan Jacky sudah mencarinya ke mana-mana selama berapa bulan, tapi hasilnya tetap sama. Sampai akhirnya kakek tuan Jacky muncul membawa nyonya Debora dan menjodohkan mereka. Tuan Jacky tidak punya pilihan selain menyetujui perjodohan itu."
Aku diam tak berkata. Aku juga tidak mau mengeluarkan komentar lebih walaupun tahu apa yang sudah terjadi.
"Pertama muncul di keluarga Daniel nyonya Debora adalah wanita kampung yang polos dan baik. Seiring berjalannya waktu ternyata sikap itu hanyalah topeng belaka. Di depan kakek Daniel wanita itu berlagak sok polos, nyatanya di belakang kami dia sering pergi bersama lelaki lain dan menghambur-hamburkan uang."
"Maksud Bibi, istri tuan Jacky selingkuh?" tanyaku pura-pura.
"Iya, Non. Sudah jelek, tua lagi selingkuhannya itu. Heran bibi, apa sih istimewa lelaki itu sampai rela meninggalkan tuan Jacky. Jika dibandingkan, tuan Jacky jauh lebih muda dan tampan dari lelaki itu."
Mungkin itu mantanya, kataku dalam hati. Ingin sekali aku melontarkan pendapat itu tapi lebih baik jangan. Meskipun belum pernah berpacaran, apa yang terjadi di lingkungan sekitar sudah cukup dijadikan pelajaran hidup. Apalagi pernikahan om Jacky dan istrinya terjadi bukan karena suka sama suka. Bisa jadikan nyonya Debora berstatus pacaran ketika kakek om Jacky menjodohkan mereka. Aku yakin, lelaki itu pasti dari keluarga sederhana seperti nyonya Debora. Jadi untuk membuatnya bahagia, nyonya Debora memberikan apa yang dia inginkan termasuk mobil mewah keluaran terbaru. Aku jadi penasaran rupawan lelaki itu hingga nyonya Debora memilih dia dibanding om Jacky yang tampan. Aku jadi ingin mempertemukan mama dengan om Jacky. Apa sebaiknya aku suruh mama datang ke sini saja ya biar bisa bertemu om Jacky? Siapa tahu dengan bertemu mama luka hati om Jacky bisa teratasi. Iya, benar. Aku harus mempertemukan mereka. Meskipun tidak akan bersama, tapi setidaknya om Jacky punya teman untuk berbagi masalah.
Begitu ide itu muncul aku segera menatap bibi dan berkata, "Apa selama ini tuan Jacky memiliki teman wanita?"
"Setahu bibi tidak ada, Non. Memangnya kenapa, Non?"
"Mungkin kalau tuan Jacky punya teman berbagi keluh-kesa pasti beban dalam dirinya akan terasa ringan. Apalagi teman itu adalah seorang wanita."
"Nona benar, bibi juga pernah bilang begitu kepada tuan muda Billy. Tapi kata tuan Billy selama ini dia tidak melihat papanya berbicara dengan atau bertemu dengan wanita. Kecuali klien, itupun hanya sebatas bisnis saja. Selebihnya tidak ada interaksi lagi yang terjadi di antara mereka."
__ADS_1
"Masa sih, Bi? Tuan Jacky kan tampan, masa tidak ada satu wanita yang mau menjadi temannya?"
Bersambung____