
Aku mengerti apa yang di rasakan Zuri. Debora adalah mamanya Billy, pria yang sangat dia cintai. Seandainya aku di posisi itu, Zuri pasti akan melakukan hal yang sama demi membelaku.
"Mama akan berusaha, Sayang. Mama akan bicara dengan kakek. Siapa tahu kakek bisa membantu mama."
"Aku sangat berharap kepada Mama. Tante Debora mungkin akan di penjara, tapi kita tidak akan tahu apa yang dilakukan om Gilbert dan tante Stella setelah itu. Mereka berdua sangat jahat, Ma."
Aku memeluk Zuri. "Tenangkan dirimu, ya. Mama akan berusaha semampu mama."
"Terima kasih, Mama."
Entah bisa atau tidak aku tetap akan membantu Debora. Seperti janjiku kepada Zuri, saat ini aku menemui paman di rumah sakitnya. Aku minta saran kepada paman. Sekaligus ingin menanyakan soal keterlibatan Aaron dengan Jacky. Saat ini aku sudah berada di dalam ruangan bersama paman Robbie.
"Sepertinya ada hal penting," kata paman sambil meletakkan secangkir teh di depanku. Paman juga menuangkan satu cangkir teh lagi untuk dirinya sendiri.
"Ini sangat penting, Paman. Aku ingin Paman membantuku. Ini demi Zuri, Paman."
Paman duduk di depanku. "Zuri, kenapa dengan cucuku?"
"Sebelumnya aku ingin tanya, apa Paman tahu ibunya Aaron ada di mana?"
"Tidak, kenapa?"
Aku menarik napas. "Paman tahu, ibunya Aaron ternyata istrinya Jacky."
Ekspresi paman terkejut. Untung saja saat ini Aaron tidak ada. Paman sedang menugaskan pria itu ke luar untuk membeli sesuatu.
"Kamu tahu dari siapa soal ini, Abigail? Jangan asal bicara. Jika berita ini sampai tersebar, kamu bisa dituntut."
Aku menceritakan seperti apa yang diceritakan Zuri kepadaku. "Memangnya Aaron tidak pernah bilang pada Paman, bahwa ibunya ada di kota ini dan masih hidup?"
"Tidak pernah. Hanya saja tempo hari paman pernah mendapati seorang wanita mendekati Aaron. Waktu itu Aaron dan paman sedang berbelanja. Wanita itu menyapa Aaron, tapi Aaron segera menjauh dan mengajak paman pulang. Paman sempat bertanya, tapi Aaron tak menjawab."
"Sepertinya Aaron memang tidak ingin semua orang tahu, kalau ibunya adalah menantu di keluarga Daniel."
__ADS_1
Mimik wajah pamanku masih terlihat kaget. "Sumpah, paman tidak pernah tahu kalau ternyata mamanya Aaron adalah istrinya Jacky. Paman benar-benar tidak tahu, Abigail."
"Aku juga sampai sekarang masih tidak percaya, kalau istrinya Jacky adalah mamanya Aaron."
Ekspresi paman berubah garang. "Tuan Daniel benar-benar keterlaluan. Demi kepentingan pribadi dia melibatkan orang lain. Sekarang yang akan disalahkan pasti Debora. Debora pasti akan diserang oleh Jacky dan orangtuanya."
Aku pun langsung menceritakan kepada paman alasan Debora melakukan itu.
"Debora memang salah, tapi Debora mamanya Aaron. Sebagai orang tua ke dua Aaron, paman akan membela Debora. Paman akan mendatangi kelurgaa Daniel dan membongkar kebusukan tuan Daniel."
"Jangan, Paman. Jangan lakukan itu."
"Tuan Daniel sudah kelewatan, Abigail. Si tua keparat itu sudah banyak menyakiti orang."
"Kumohon jangan, Paman. Aku punya cara sendiri untuk memberitahu Jacky."
Ekspresi paman berubah. Dalam diam paman terus menatapku.
"Mungkin dengan menikahi Jacky masalah ini tidak akan terbongkar. Jika aku dan Jacky menikah, keluarga Daniel tidak akan mendesak Zuri untuk menjadi menantu mereka. Dengan begitu identitas asli Billy tidak akan terbongkar. Zuri dan Billy akan menjadi kakak-beradik."
Aku diam tak menjawab. Apa yang dikatakan paman benar.
"Paman rasa kamu harus bilang kepada Jacky, bahwa Zuri adalah putrinya. Hanya itu satu-satunya cara agar identitas Billy tidak terbongkar. Soal Gilbert dan Stella, biar paman yang mengurusnya. Paman akan menyuruh Aaron untuk menangani dua parasit itu."
"Kalau kabar itu sampai ke semua keluarga Daniel, bagaimana? Bukan soal siapa ayah Billy sebenarnya. Tapi mereka pasti akan mengasingkan Billy jika melihat masalah yang di timbulkan Debora saat ini."
"Kamu harus menyuruh Jacky tutup mulut dari keluarganya. Bukankah selama ini Zuri juga tidak tahu kalau Jacky adalah papa kandungnya? Seandainya Zuri tahu Jacky adalah orang yang menelantarkan kalian, kamu yakin Zuri masih mau Jacky menikahimu?"
"Itu kan karena Paman. Paman yang membuat Jacky meninggalkan kami."
"Paman tahu, tapi tidak mungkin Zuri harus tahu masalah itu. Tidak mungkin Zuri harus tahu kejahatan apa yang dilakukan kakek buyutnya kepada paman. Memang buyutnya salah, tapi di posisi ini paman juga salah."
Aku merasa bersalah. Aku berdiri kemudian memeluk paman. "Maafkan aku Paman, aku tidak bermaksud menyalahkan Paman."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Paman memang salah dan paman harus menebus kesalahan paman. Paman sudah pasrah jika suatu saat Zuri akan tahu semuanya. Paman sudah pasrah jika Zuri akan membenci paman karena telah memisahkan dia dari papa kandungnya."
"Tidak Paman, itu tidak akan terjadi. Zuri tidak akan tahu dan Zuri tidak akan membenci Paman. Percayalah padaku, semuanya pasti akan baik-baik saja. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah menyingkirkan Gilbert dan Stella. Karena mereka berdua adalah kunci dari masalah ini."
"Kamu benar, Sayang. Kalau begitu paman harus bergerak sekarang juga, sebelum ke dua virus itu menyebar."
***
Setelah melewati hari yang sangat menyita pikiran kemarin, hari ini aku bangun lebih pagi untuk berolahraga. Sudah lama aku tidak jalan pagi sejak lagi mengelilingi kompleks sejak meninggalkan kota 23 tahun lalu. Sekarang aku sendirian melangkah dengan pakaian olahraga super ketat dan handsfree di telinga kananku.
Kurang lebih satu jam aku berjalan akhirnya aku memutuskan beristirahat. Aku mengambil posisi duduk di taman dekat super market. Udara sejuk pagi hari membuatku lebih segar. Semalam setelah berbicara dengan Tanisa lewat telepon akhirnya aku sudah mendapatkan pencerahan. Pendapatnya sama dengan pamanku. Jadi, kemungkin hari ini aku harus bertemu Jacky dan bilang, bahwa aku ingin menikah dengannya.
Agar Jacky bisa meluangkan waktu, aku segera meraih ponsel dan mengirim pesan. Aku berharap siang ini Jacky ada kesempatan agar aku bisa mengutarakan yang kuinginkan. Ya Tuhan, semoga saja keputusanku sudah benar dan tidak menyakiti orang lain.
"Selamat pagi."
Aku terkejut ketika suara perempuan menyapaku dari depan. Aku menoleh dan menatapnya. "Pagi,"
"Maaf, apa Anda mamanya Zuri?"
Kulihat wanita cantik dengan pakaian olahraga berwarna merah. Dilihat dari wajah wanita ini sepertinya lebih tua dariku. "Benar. Maaf ... Anda siapa, ya?"
Wanita itu mengulurkan tangan. "Aku Debora, istrinya Jacky. Aku ibunya Billy."
Debora? Apa benar wanita di depan ini Debora? Apa jangan-jangan dia ke sini ingin melabrakku. Dilihat dari raut wajah sepertinya pikiranku salah. Aku pun segera membalas uluran tangan kemudian mempersilahkan Debora duduk di sampingku. "Dari mana Anda mengenal saya?"
"Maaf sebelumnya. Aku tidak bermaksud menguntitmu. Apa kamu pernah makan malam bersama Jacky di Bebbi Restoran?"
"Kamu memata-mataiku, ya?"
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," kata Debora dengan penuh penyesalan, "Sebenarnya yang memberitahu soal itu padaku adalah temanku. Mereka bilang Jacky telah berkencan dengan Anda, sedangkan putusan cerai kami belum keluar."
"Apa kamu keberatan?"
__ADS_1
"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku senang dan itulah tujuanku menemui Anda."
Bersambung____