My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Keputusan Jacky.


__ADS_3

Setelah menghabiskan berapa ronde aku dan Abigail terbaring di atas ranjang. Tubuh kami berkeringat. Saat ini posisi kami saling berpelukan dengan tubuh yang bertutupkan selimut.


"Aku tak menyangka dindingmu sangat sulit di tembus."


"Bukankah sudah kubilang sebelumnya."


Aku mencium dahi Abigail. "Terima kasih kamu mau menjaganya demi aku."


"Aku sudah berjanji pada diriku, bahwa aku tidak akan pernah melakukannya dengan lelaki lain apapun yang terjadi."


"Seandainya aku sudah meninggal, apa kamu tidak akan melakukannya juga?"


Abigail menggeleng.


"Kenapa?"


"Di hatiku hanya ada kamu, Jack. Dari dulu dan sekarang di hatiku hanya ada Jacky Daniel dan Jacky Daniel. Tak peduli siapapun yang mendekatiku, aku hanya ingin dengan lelaki yang bernama Jacky Daniel."


"Seandainya ada lelaki lain yang memiliki nama sama denganku, bagaimana?"


"Tidak. Aku hanya ingin dengan Jacky Daniel yang nama orangtuanya adalah Theo dan Lisa."


Aku tak menyangka cinta Abigail ternyata begitu tulus kepadaku. Gemas dengan jawabannya, aku segera bangkit dan melanjutkan ronde lima.


***


Dengan tubuh yang terbalut jas rapi aku menatap diri di depan cermin. Pagi ini suasana hatiku sangat bahagia. Rasa bahagia dalam diriku tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Abigail ... Abigail telah membangunkan dewa kebahagiaan dalam diriku.


Sepanjang malam aku menghabiskan waktu dengan Abigail. Pagi ini Abigail juga membuatkan aku sarapan yang enak. Sambil menyuapi bubur aku meraih ponsel dan menghubunginya. Aku rindu suaranya. Sedetik saja tidak melihat Abigail rasanya aku ingin mati.


"Halo, Jack."


Suara lembut wanita yang kucintai membuatku tersenyum. "Halo, Sayang. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak, kok. Apa kamu masih di apartemen?"


"Iya. Aku sedang sarapan. Buburmu sangat enak, tapi akan lebih enak lagi jika ada kamu di sini."


Tawa Abigail terdengar. "Maafkan aku, Jack. Aku tidak bisa berlama-lama di sana, aku takut Billy datang dan melihat kita berdua."


"Harusnya kita mengirim mereka ke luar negeri saja beberapa hari, biar kita berdua bisa punya waktu lama untuk bersama."


"Kamu ini ada-ada saja."


"Aku merindukanmu, Abigail."


"Jack, ada satu hal yang ingin kukatakan."


"Soal apa?" sambil menunggu jawaban Abigail aku menelan habis jus orange buatan Abigail.


"Lusa aku akan kembali. Tanisa kewalahan dan dia butuh bantuanku."


Aku terkejut. "Kamu akan meninggalkanku lagi, Abigail?"


"Tanisa membutuhkanku, Jack."


Aku melepaskan gelas, membersihkan mulut lalu berdiri menuju mobil. "Aku harus mempercepat pernikahan kita, biar kamu terus bersamaku di manapun dan kapanpun aku inginkan."


"Aku janji akan kembali. Anggap saja sembari menunggu putusannya keluar aku akan menjalankan tanggungjawabku."


"Kalau sudah menikah aku tidak akan mengijinkanmu bekerja. Kamu cukup diam di rumah menjadi nyonya Daniel."


"Lalu apa rencanamu hari ini?"


Mike membuka pintu mobil untukku. "Ada beberapa meeting dengan klien hari ini. Kemungkinan sore baru aku bisa menjemputmu."

__ADS_1


"Tidak masalah. Ya sudah, kalau sudah tiba di kantor kabari aku, ya?"


"Aku sudah menuju kantor sekarang. Apa kamu sudah sarapan? Kalau kamu ingin belanja aku akan menyuruh Mike mengantarkanmu."


"Tidak, terima kasih. Aku sudah sarapan, Jack. Tubuhku lelah, aku ingin istirahat seharian."


Membayangkan pertempuran semalam membuat bagian di balik celana kembali mengencang. "Nanti malam kita akan melakukannya. Aku akan membuatmu kewalahan seperti semalam."


"Kamu luar biasa, Jack. Aku sempat berpikir kamu itu lemah."


"Kamu mengejekku?"


"Aku hanya bercanda, Jack."


"Apa yang aku lakukan semalam itu belum seberapa. Malam ini akan kubuktikan padamu yang sebenarnya."


Abigail tertawa. "Kalau begitu aku harus istirahat biar nanti malam bisa melawanmu."


"Kamu yakin akan sanggup?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu istirahatlah. Pulang kantor aku akan langsung menghubungimu."


"Kabari aku kalau sudah tiba di kantor."


"Iya."


"Bye."


"Bye."


Begitu panggilan terputus aku segera menatap Mike. "Antar aku ke rumah, Mike."


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuatku menoleh. Nama Billy terpampang sebagai pemanggil.


"Halo?"


"Pa, Papa di mana? Aku sudah tiba di apartemen, tapi Papa tidak ada."


"Papa dalam perjalanan. Oh iya, kamu cepat ke kantor. Meeting hari ini papa serahkan padamu saja."


"Memangnya Papa mau ke mana?"


"Papa ada urusan. Selesainya mungkin nanti siang."


"Baiklah. Aku siap-siap dulu kalau begitu."


"Billy?"


"Iya, Pa?"


"Apa kamu tidak ada keinginan mengajak Zuri liburan ke Vila?"


"Ada, tapi pekerjaan belum selesai. Memangnya kenapa, Pa?"


"Kalau kamu mau, dua hari ini papa akan memberikanku libur."


"Papa serius?"


"Papa serius. Tapi ingat, hanya dua hari saja."


"Dua hari saja sudah berarti, Pa. Tapi kenapa tidak hari ini saja, Pa?"

__ADS_1


"Hari ini papa ada urusan. Jadi, kamu tolong wakilkan papa memimpin rapat."


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi Zuri dulu. Semoga saja mamanya mau mengijinkan Zuri pergi bersamaku."


"Soal itu kamu tidak usah khawatir, papa sendiri yang akan meminta ijin langsung kepada mamanya."


"Terima kasih banyak, Pa."


"Hmmm."


Aku memutuskan panggilan lalu menatap jendela. Maafkan papa Billy, papa terpaksa memberikan harapan palsu agar kamu senang. Kali ini papa minta maaf tidak bisa menuruti kemauanmu untuk menikahi Zuri.


Terlarut dalam pikiran tak terasa mobilku sudah tiba di rumah besar milik keluargaku. Aku masuk, membalas salam setiap pelayan yang menyapaku.


"Jack," Ellena menyapaku. Wanita itu duduk di ruang tamu sambil membaca koran, "Tumben pagi-pagi kau ke sini."


Aku melemparkan senyum kepada Ellena lalu duduk. "Di mana semua orang?"


"Mama dan papa sebentar lagi turun. Kakek di ruang kerjanya. Ada apa, sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan?"


"Itu benar. Panggil mereka semua, katakan aku datang dan ingin bicara."


Alis Ellena berkerut. "Ini bukan kabar buruk kan, Jack?"


"Pasti kamu akan tahu. Pergilah, dan buatkan aku teh terbaik yang kau bisa."


Denga tawa kecil Ellena berlalu meninggalkanku. Sejak kecil aku dan Ellena selalu akrab. Ellena tidak pernah keberatan jika aku memerintahkannya. Justru aku yang kadang tidak enak hati jika Ellena yang menawarkan diri. Meski tidak lahir di rahim yang sama, tapi aku sudah menganggap Ellena seperti saudaraku sendiri.


"Jacky?"


Suara mama membuatku berdiri. "Mama. Apa kabar, Ma?"


"Baik, Sayang. Sejak kapan kamu di sini dan kenapa kamu muncul sepagi ini?"


Pertanyaan itu membuatku tertawa. Aku memang jarang pulang. Kalaupun ingin pulang itupun atas permintaan mereka. Jadi tidak heran jika mereka terkejut melihatku muncul secara tiba-tiba.


"Papa di mana, Ma?"


"Papamu___"


"Jack?"


Kehadiran papa membuat mama menghentikan suaranya.


"Halo, Pa. Apa kabar?"


"Baik, Jack. Apa kamu sudah sarapan?"


"Sudah, Pa. Aku sudah sarapan bubur yang enak pagi ini."


"Pasti bubur buatannya Zuri," ledek mamaku.


"Salah. Sudah berapa hari ini Zuri ijin dari pekerjaannya."


Mama dan papa duduk di depanku.


"Kenapa?" tanya mama panik, "Apa Zuri sakit, Jack?"


"Tidak, Ma. Mamanya Zuri ada di sini. Jadi, untuk sementara Zuri libur dan mamanya yang menggantikan posisinya."


"Mamanya Zuri ada? Kenapa kamu tidak bilang kepada kami? Lalu di mana mamanya sekarang? Mama ingin bertemu dengan mamanya Zuri. Mama ingin bicara soal hubungan Billy dengan Zuri."


Aku menatap mama dan papaku secara bergantian. "Alasan aku ke sini untuk itu. Aku ingin membicarakan masalah Zuri dan Billy kepada kalian semua."


Bersambung______

__ADS_1


__ADS_2