My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Sudut Pandang Billy.


__ADS_3

"Oh, pantasan saja wanita itu terlihat tidak suka padaku. Mungkin dia pikir aku sedang mendekati tuan Billy."


Si bibi berpindah posisi untuk memijat tangan kananku. "Nona Anggie sudah bertemu Non Zuri?"


"Sudah, Bi. Pertama waktu aku diundang wawancara oleh tuan Jacky. Hari itu juga tuan Billy menyuruh tuan Billy untuk menemaniku melihat apartemen. Kedua aku dan dia bertemu di super market. Sepertinya dia memang sengaja mengikutiku hari itu untuk mencaritahu apa yang perlu diketahuinya."


"Non jangan dekat-dekat dengan dia. Nona Anggie itu sedikit nekad. Karena nyonya Debora sangat mendukung hubungannya dengan tuan Billy, dia merasa besar kepala dan seenaknya menindas wanita-wanita yang ingin mendekati tuan Billy. Untung saja selama ini tidak ada yang berani mendekati tuan Billy. Kalau tidak, mungkin mereka sudah ditindas atau dieksekusi oleh nona Anggie."


Alisku mengerut. "Nyonya Debora mendukung hubungan mereka, lalu kenapa tidak dijodohkan saja tuan Billy dengan nona Anggie?"


"Tuan Jacky dan nyonya Lisa tidak setuju. Bibi rasa tuan Jacky tidak ingin tuan Billy mengalami kehidupan rumah tangga seperti tuan Jacky. Jadi, tuan Jacky menolak keras perjodohan itu di bawah dukungan nyonya Lisa. Untung saja kakek dan kakek buyut juga tidak ikut campur soal itu. Kalau tidak, mungkin saat ini tuan Billy sudah menikah dengan nona Anggie."


Aku menjadi kasihan mendengar hal itu. Seandainya sekarang status Billy sudah menjadi suami Anggie, pasti hidupnya sangat hancur. Menghadapi masalah rumah tangga keduaorangtua yang entah sampai kapan akan berakhir, serta menjalani pernikahan dengan wanita yang tidak dia cintai. Ya Tuhan, berikan aku jodoh yang baik. Tak perlu tampan, tapi jangan juga jelek-jelek sekali Tuhan. Cinta tak cinta, setidaknya dia laki-laki yang bertanggung jawab.


#Sudut pandang Billy.


Tidak seperti biasanya aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Apa itu karena semangat dan adanya wanita yang kusukai?

__ADS_1


Aku Billy, pria tampan, mapan yang berusia 21 tahun. Banyak yang bilang wajahku bagaikan pinang belah dua dengan papaku. Sebagai laki-laki tentu saja aku bangga dibilang seperti itu. Secara papaku adalah laki-laki sukses, kaya dan sangat tampan.


Dari papa aku juga diwarisi sikap bertanggung jawab dan tidak suka mengoleksi wanita. Pria-pria kaya lainnya pasti akan mengencani wanita manapun selama mereka menginginkannya. Berbeda denganku, aku justru jijik jika ada wanita yang tidak kusukai mendekatiku. Contohnya Anggie, sekertaris papaku. Wanita itu mungkin tidak sadar kalau dirinya sudah tua dan mau mendekati pria muda sepertiku.


Yang paling kusesali mamaku lah yang ada di balik semua itu. Karena tahu aku tidak pernah berpacaran, mama menyetujui perasaan Anggie kepadaku. Kebetulan Anggie adalah anak teman mamaku. Apa saja yang dikatakan Anggie mamaku pasti akan menurutinya. Untung saja papa dan nenek membelaku. Jadi sekarang aku tak perlu repot-repot lagi menghindari Anggie karena papa sudah mengancamnya.


Apalagi sekarang aku sudah bertemu gadis cantik yang usianya lebih tua setahun dariku. Tidak masalah, setahun dua tahun itu bukan penghalang asalkan cinta. Nama gadis itu adalah Zuri, asisten sekaligus juru masaknya papa.


Sejak pertama kali bertemu dengannya ada rasa percaya dan rasa suka muncul dalam hatiku. Sebab itu aku sama sekali tidak keberatan untuk berbagi masalah dengan Zuri. Dia juga orang yang baik dan sopan. Aku suka pokoknya kepada Zuri. Mungkin ini terlalu mendadak, tapi aku ingin memilikinya. Aku ingin suatu saat bisa menikah dan memperistri Zuri. Dan aku bersyukur papa merestui perasaanku ini. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja aku akan mencari waktu, mengajaknya kencan dan menyatakan cinta kepadanya. Aku tidak ingin buru-buru. Bukan karena menyia-nyiakan waktu, tapi aku takut ditolak.


Karena tadi pagi dan siang aku dibuatkan makanan yang enak darinya, sore ini aku sudah ingin pulang lagi untuk menemui dan meminta gadis itu membuatkanku makanan. Sepertinya nafsu makanku akan meningkat berkat Zuri.


Hanya memakan waktu setengah jam aku akhirnya tiba di gedung apartemen. Tanpa menjawab sapaan beberapa staf aku langsung masuk ke lift agar cepat sampai. Begitu melihat Zuri sedang duduk hatiku lega. Itu artinya tidak terjadi sesuatu yang parah terhadapnya. Namun, ada sedikit khawatir saat papa bilang Zuri jatuh di kamar mandi. Saking khawatirnya nadaku sedikit meninggi saat berbicara kepada Zuri. Tapi syukurlah dia tidak marah dan mau menerima perhatianku.


Kudengar ada sebutan lain ketika papa berbicara dengan Zuri. Apa itu artinya papa ingin merebut hati Zuri dengan menyuruh gadis itu memanggilnya dengan sebutan papa? Tidak kusangka papa akan berbuat secepat ini. Mungkin itu cara yang baik agar Zuri mulai membiasakan diri memanggil papaku dengan sebutan papa, biar nanti setelah aku dan dia menikah Zuri tidak akan kaku lagi. Hahaha. Zuri pasti beranggapan kalau papa sudah menganggap dirinya seperti anak, padahal Zuri tidak tahu bahwa sebentar lagi dia akan menjadi menantunya.


Karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, aku dan papa memutuskan untuk kembali ke kantor. Aku juga meminta papa agar bibi datang untuk menemani Zuri. Dan syukurlah, sebelum aku mengungkapkan keinginan itu papa sudah lebih dulu menghubungi bibi untuk datang. Aku senang, ternyata papa sepemikiran denganku. Apa mungkin itu karena papa ingin secepatnya punya menantu dan cucu?

__ADS_1


"Dia ada di dalam. Jaga dia ya, Bi. Jangan sampai dia melakukan hal ceroboh lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon istriku," kataku kepada bibi. Karena papa datang bersama supirnya. Jadi aku keluar belakangan dan bertemu bibi di lantai bawah. Kulihat ekspresi bibi sangat terkejut mendengar itu. Aku terkekeh kemudian berkata lagi, "Menurut Bibi, apa aku cocok menjadi suami Zuri?"


"Tuan Billy serius menyukai nona Zuri?"


Aku tertawa. "Sejak kapan aku bercanda, Bi? Papa juga setuju. Nanti malam nenek akan bertemu papa untuk membahas soal itu. Nenek juga menyukai Zuri dan beliau ingin menjodohkan aku dengannya."


"Bibi senang mendegar itu. Tuan dan nona Zuri sangat cocok. Tapi, Tuan ... apa nona Zuri sudah tahu soal ini?"


"Belum. Bibi juga tolong jangan beberkan rahasia ini kepadanya. Untuk saat ini aku dan papa akan merahasiakan hal itu dari Zuri. Nanti begitu harinya sudah tiba, papa akan mengundang mamanya Zuri untuk datang dan bicara. Papa akan melamar Zuri diam-diam lewat mamanya."


"Ya ampun, ini pasti akan mengejutkan. Nona Zuri pasti akan senang mendapatkan calon suami tampan dan mapan seperti tuan Billy."


"Amin. Doakan saja agar semuanya lancar."


"Itu pasti, Tuan."


"Baiklah, aku ke kantor dulu. Bibi tolong pijat dia karena tadi dia jatuh di kamar mandi."

__ADS_1


"Siap. Tuan tenang saja, mulai hari ini bibi akan memanjakan nona Zuri seperti tuan putri."


Bersambung____


__ADS_2