
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut Jacky akan marah. Aku takut dia marah karena menyembunyikan Zuri selama ini."
"Kan Jacky yang meninggalkanmu demi wanita lain. Jangan salahkan dirimu soal itu, Abigail."
Aku menarik napas. "Tetap saja aku yang salah. Putra Jacky lebih muda setahun dari Zuri. Itu artinya aku hamil sebelum Jacky menikah. Jacky pasti akan marah aku menyembunyikan kehamilan itu darinya."
"Memang. Tapi belum tentu juga Jacky akan menikahimu waktu itu. Kata pamanmu Jacky sudah dijodohkan dengan wanita pilihan mereka waktu itu. Sekalipun kamu mengatakan tentang kehamilanmu, belum tentu keluarganya akan membatalkan perjodohan itu."
"Entalah, Tan. Aku juga bingung, menurut Zuri keluarga Jacky sangat sayang kepadanya. Pengaruh sedarah atau apa aku tidak tahu. Tapi semalam Jacky bilang semua keluarganya sudah tahu kejahatan yang dilakukan istrinya. Itu sebabnya mereka ingin Jacky segera bercerai."
"Apa karena itu mereka menyukai Zuri?"
"Korelasinya apa? Aku rasa tidak. Mungkin karena Zuri anak perempuan. Mereka hanya memiliki cucu laki-laki."
"Aku rasa mungkin ada ikatan batin di antara mereka. Coba deh kamu pikir. Tidak mungkin semha keluarga Jacky akan menyukai Zuri haya karena dia anak perempuan. Di Daniel Group banyak juga gadis-gadis seusia Zuri yang bisa dijadikan cucu buat mereka."
"Entalah, Tan. Mungkin yang dikatakanmu benar, bahwa ada ikatan batin di antara mereka," aku membuang napas pasrah, "Seandainya mereka tahu Zuri cucu dari keluarga Daniel, apakah mereka akan mengambilnya dariku?"
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi ke depannya. Besok kamu harus bicara dengan pamanmu. Dengarkan pendapatnya. Dan sekarang sebaiknya kamu istirahat saja. Besok pasti semuanya akan baik-baik saja."
Aku bangkit dan berdiri di dekat jendela. "Besok Jacky akan mengajakku makan siang. Katanya dia akan menjelaskan semuanya padaku."
"Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan. Kalau memang Jacky tahu Zuri anaknya, pasti dia sudah mengatakannya padamu sejak tadi."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya kamu sudah mau mendengarkanku."
"Kamu ini ada-ada saja. Kamu itu sudah kuanggap kakakku sendiri."
"Terima kasih, Tanisa."
***
Pagi hari aku bangun lebih awal. Kejadian kemarin membuatku frustasi. Pikiran yang terus melayang membuatku segera menemui paman Robbie di kamarnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nyonya."
Aku menatap Aaron yang berdiri di dekat pintu kamar paman. "Pagi, Aaron. Pamanku ada di dalam?"
"Ada, Nyonya. Tuan baru saja masuk."
Yang kutahu setiap pagi Aaron selalu mengajak paman jalan-jalan di taman untuk mencari keringat. Hal itu membuatku senang dan bangga karena Aaron menjalankan tugas itu tanpa perintah. Demi kesehatan paman Aaron sangat rutin mengajak jalan pagi kepada paman.
"Terima kasih, Aaron."
Kutekuk pintu kamar paman kemudian masuk setelah mendapat sahutan dari dalam. Kulihat pamanku sudah segar sehabis mandi.
"Selamat pagi, Paman."
Pamanku tersenyum manis. "Pagi, Sayang. Paman baru saja mau keluar untuk sarapan. Apa kamu sudah sarapan?"
"Belum aku ingin sarapan bersama Paman. Tapi ada satu hal yang ingin kubicarakan dan aku tak ingin Zuri mendengarnya."
Kulihat ekspresi paman berubah. Paman mengajakku duduk di sofa yang ada di pojok kamar. Kamar paman sangat luas. Hampir semua fasilitas sudah tersedia di sana untuk mempermudah paman jika memerlukan sesuatu di tengah malam. Biar paman tidak perlu keluar kamar lagi jika Aaron sedang beristirahat.
Aku diam sesaat sambil menatap pamanku yang wajahnya sangat keriput. Rambut dan kumisnya sudah di penuhi uban. "Ini soal Jacky ... Atasan Zuri ternyata adalah Jacky."
Pamanku diam.
"Alasan aku tidak ingin Zuri tahu, karena aku juga tidak ingin Zuri tahu kalau Jacky adalah papanya."
"Dari mana kamu tahu soal itu?"
"Selama ini Zuri selalu menyembunyikan identitas atasannya dariku. Sejak awal Zuri bertemu Jacky anak itu sudah menceritakan masalah rumah tangga yang dialami Jacky kepadaku. Awalnya aku berpikir, betapa hebatnya lelaki itu sudah membuat hati putriku terbuka. Tapi setelah tahu orang itu adalah Jacky aku berfirasat tidak baik, Paman. Aku rasa Jacky sengaja melakukan itu agar dia bisa bertemu denganku. Apa itu artinya Jacky sudah lama tahu soal Zuri? Apa karena itu Jacky menerima dan menjadikan Zuri karyawan spesial di perusahannya?"
Paman menatapku diam dan sangat lama. Hal itu membuatku curiga.
"Apa Paman sudah tahu hal ini sejak lama?"
"Abigail?"
__ADS_1
"Jawab aku, Paman," kataku dengan nada sedikit tinggi, "apa Paman sudah tahu Jacky adalah bosnya Zuri?"
Paman Robbie mengangguk lemah.
"Kenapa Paman tidak bilang padaku? Kenapa Paman menyembunyikannya padaku?" Aku mulai menangis. Paman pun langsung memeluk dan mengusap punggungku.
"Maafkan paman, Sayang. Paman bukan bermaksud menyembunyikan hal ini darimu. Paman hanya tidak ingin kamu khawatir. Paman tahu betapa besar rasa takutmu jika Jacky tahu Zuri anaknya. Paman tidak bisa berbuat apa-apa. Paman tidak ingin menyalahkan atau membela siapa dalam posisi ini. Mungkin ini semua sudah rencana Tuhan untuk mempertemukan kalian kembali."
Aku melepaskan pelukan. Kutatap paman Robbie yang ekspresinya terlihat sedih. Paman segera meraih ke dua tanganku dan menggenggamnya.
"Maafkan paman, Abigail."
"Paman tidak perlu minta maaf, Paman tidak salah. Aku yang salah, tidak mendesak Zuri untuk mengatakan siapa atasannya sejak awal. Seandainya aku tahu Zuri bekerja di perusahan Jacky, aku pasti sudah menyuruhnya berhenti."
Paman mengusap pipi kananku. "Jangan salahkan dirimu. Jangan juga kamu salahkan Zuri atau pun Jacky. Ini semua salah paman. Tuhan memang adil kepada paman berapa tahun lalu. Dan sekarang paman sadar kenapa ketidakadilan itu terjadi. Maafkan paman, Abigail. Maafkan paman."
"Aku tidak mengerti apa yang Paman katakan, dan untuk apa Paman minta maaf?"
"Karena paman telah memisahkan kamu dan Jacky."
Aku terharu. Aku membalas genggaman tangan yang dingin dan keriput. "Paman tidak perlu minta maaf. Paman tidak pernah memisahkan aku dan Jacky. Bukan Paman yang memisahkan aku dan Jacky. Orang tua Jacky-lah yang memisahkan aku dan Jacky. Sebagai orang tua Paman pasti akan melakukan hal yang sama jika Paman di posisi itu."
"Tidak Abigail, itu tidak benar. Paman-lah yang memisahkan kamu dan Jacky, bukan keluarga Daniel."
Aku terkejut. "Apa maksud, Paman?"
Paman melepaskan tangaku, menunduk sesaat lalu kembali menatapku. "Kamu masih ingat kejadian malam itu? Kejadian di mana orang-orang memukul Jacky dan membawamu pergi?"
"Aku tidak akan pernah lupa kejadian itu, Paman. Walaupun sakit ketika mengingatnya, tapi cara mereka melakukan itu sudah tepat. Keluarga Daniel memisahkan anak mereka dariku tanpa menyakitiku."
Paman menarik napas panjang lalu menunduk. "Sebenarnya itu bukan dilakukan oleh keluarga Daniel ... Paman-lah yang menyuruh orang untuk melakukan itu."
Aku terkejut. Mataku sedikit melotot menatap pamanku.
Paman menatapku lagi. "Paman-lah yang telah menyuruh orang untuk menghadang mobil yang di kendarai Jacky dalam perjalan malam itu. Paman melakukan itu karena paman tidak ingin kamu bertemu keluarga Daniel. Paman tidak ingin kamu menjadi menantu di keluarga Daniel."
__ADS_1
Bersambung____