My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Ketakutanku.


__ADS_3

Apa?! Dia mengataiku wanita nakal. "Hei, Wanita gila! Kamu jangan sembarangan bicara, ya? Aku bukan wanita nakal maupun wanita gila sepertimu."


Bukannya menjawab Anggie malah menginjak-injak semua bahan makanan yang sudah berserahkan di atas paving area parkiran.


"Hentikan!" teriakku membuat orang-orang di sekeliling langsung menghadap ke arah kami, "Kamu pikir semua ini milikku, hah? Ini semua milik tuan Jacky dan tuan Billy."


"Kau pikir aku peduli? Gara-gara kau aku dipecat dari pekerjaan. Gara-gara kau juga Billy semakin membenciku. Jadi ini balasannya biar kau juga dibenci dan dipecat dari pekerjaanmu."


Dipecat? Anggie yang setahuku adalah anak teman dari nyonya Debora dipecat? "Mungkin kau membuat salah sampai dipecat. Kenapa kau menyalahkanku karena dirimu dipecat?"


Anggie mendekati kemudian meremas lenganku dengan kuat. "Kau masih mau menyangkal, hah?"


Lenganku sakit. "Lepaskan aku, Anggie. Tanganku sakit."


"Kau pikir rasa sakitmu ini sebanding dengan rasa sakitku, hah? Kau mengadu kepada Billy kan soal ancamanku waktu itu? Gara-gara aduanmu itu Billy membenciku dan menyuruh papanya memecatku. Dasar wanita nakal! Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku. Kau telah membuat hidupku hancur!"


Anggie menggoyang-goyangkan tubuhku dengan kedua tangannya. "Hentikan, Anggie. Hentikan!"


Ingin sekali aku melawan, tapi besar tubuh Anggie yang lebih tinggi dariku membuatku kesulitan membalasnya. Anggie seperti kerasukan setan, hingga dia menghentak-hentakkan tubuhku seperti dengan kuat.


"Kumohon hentikan, Anggie."


Aku mulai menangis. Rasa takut akan terjadi sesuatu membuatku lemah dan bergetar. Aku ingin sekali melawan, tapi tubuhku terlalu kecil. Orang-orang yang melihat kami pun hanya bisa menjadi penonton.


"Kau tidak pantas dengan Billy! Kau itu hanya tukang masak yang tidak tahu diri! Wanita nakal! Wanita ******! Kau____"


"Lepaskan dia!"


Suara bariton yang begitu kuat membuatku terkejut. Anggie yang juga begitu emosi langsung terdiam begitu sosok tinggi berdiri di sampingnya.


"Lepaskan dia atau kau kulaporkan ke polisi."


Tanpa berkata apa-apa lagi Anggie langsung melepaskan tubuhku kemudian pergi begitu saja. Akupun dengan sedihnya langsung memeluk Aaron dan menangis.

__ADS_1


"Nona tidak apa-apa?"


"Aku takut, Aaron. Aku takut."


Aaron membalas memelukku. Dia mengusap punggungkku untuk memberikan ketenangan. Untung saja Aaron datang menyelematkanku. Jika tidak, Anggie pasti sudah membunuhku karena mati ketakutan.


"Ayo, kita duduk di sana saja."


Ajak Aaron sambil menunjuk bangku yang tersedia di pinggir jalan. Aku sudah tidak peduli dengan belanjaan yang sudah hancur berantakan. Sikap Anggie tadi benar-benar membuatku takut.


"Apa yang terjadi, kenapa wanita tadi itu menyakiti Anda?" tanya Aaron begitu kami berdua duduk tak jauh dari mobilku.


Sambil menangis aku menceritakan yang sebenarnya. "Dia mengira aku menjalin hubungan Billy, padahal tidak. Dia juga menyalahkanku karena dirinya dipecat dari kantor. Dia bilang Billy membencinya karena aku."


"Nona harus menjauhi orang seperti itu. Bukankah tuan Daniel sangat peduli kepada Nona. Aku rasa mulai sekarang Nona harus mengajukan ajudan kepada tuan Daniel."


"Tidak, Aaron. Itu tidak perlu."


"Itu perlu Nona, biar wanita itu tidak mengganggu Anda lagi."


"Mulai sekarang Anda harus berhati-hati. Kalau Anda tidak mengajukan seorang ajudan untuk menjaga Anda aku akan melaporkan kejadian ini kepada tuan Robbie, biar beliau yang berhadapan langsung dengan tuan Daniel."


"Kumohon jangan, Aaron. Kakek pasti akan marah dan menceritakan hal ini kepada mama," aku menunduk lemah. Perkataan Aaron ada benarnya, "Baiklah, aku akan memikirkan saranmu tadi. Tapi kumohon jangan beritahu masalah ini kepada kakek."


Aaron mengangguk kemudian menatap belanjaanku yang hancur berantakan. "Sepertinya Nona harus belanja lagi. Ayo, aku akan menemani Nona belanja."


Aku menurut saja dengan apa yang dikatakan Aaron. Kondisi belanjaanku memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Sayuran yang begitu segar, buah-buahan dan daging sapi segar sudah tidak layar untuk dikonsumsi. Itu semua karena Anggie si wanita gila itu.


Jika mengingat kejadian apalagi tuduhannya yang terlontar dari bibirnya membuatku kembali terbayang. Anggie dipecat karena aku? Aku memang mengadukan soal ancaman itu, tapi kan kejadian sudah lama. Kenapa Billy baru menyalahkan Anggie sekarang, ya?


Sibuk memikirkan hal itu membuatku tak sadar kalau Aaron sudah tidak ada. Saat ini aku sudah berada di dalam toko yang tadi kumasuki. Beberapa pegawai bahkan melihatku dengan ekspresi penasaran. Mungkin mereka tadi melihat pertikaian antara aku dan Anggie. Benar-benar memalukan. Mereka semua pasti beranggapan aku merebut pacarnya Anggie.


"Nona, ini troly-nya."

__ADS_1


Suara berat Aaron mengejutkanku. Ternyata ajudan tampan ini menghilang karena mengambilkanku troly. "Terima kasih, Aaron."


Tanpa mengijinkanku mendorongnya Aaron segera membawa troly itu menuju tempat sayuran. Dalam hati aku sangat senang karena keberadaan pria itu. Melihat sikap Aaron membuatku merasa bersalah karena sudah pernah menganggap semua laki-laki itu sama. Menilai sikap baik Aaron, Billy dan om Jacky membuatku langsung mengutuk papaku sendiri dalam hati. Kenapa aku harus lahir dari benih yang begitu jahat. Kenapa lelaki itu tidak bisa menjadi orang baik seperti Aaron, Billy dan om Jacky. Kenapa dia tega meninggalkan mama di saat aku hadir dalam kandungannya? Benar-benar papa yang jahat. Aku bersyukur tidak pernah bertemu lelaki laknat seperti papaku. Aku bersyukur tidak pernah melihat wajahnya. Jika tidak, mungkin aku orang satu-satunya yang menyesali keberadaanku di dunia ini karena dilahirkan dari benih jahat seperti papaku itu.


Setelah hampir setenga jam berbelanja akhirnya semuanya selesai. "Apa sudah tidak ada lagi yang tertinggal?" tanya Aaron setelah aku membayar semuanya.


"Sudah. Oh iya, apa kakek tidak akan mencarimu?"


"Tidak, Non. Kebetulan tadi tuan menyuruku untuk mengambil sesuatu di rumah sakit."


"Oh."


Aaron kemudian membawa semua barang bawaanku ke mobil yang dibelikan om Jacky. "Non, kalau Anda tidak ingin ada ajudan, setidaknya Anda harus punya supir untuk menemani Anda. Tidak baik gadis seperti Anda berbelanja sendirian. Barang-barang seperti ini sangat berat dan Anda butuh orang untuk membantu Anda."


"Kamu benar, Aaron. Nanti besok atau kapan aku akan bicara dengan om Jacky soal itu. Kamu tenang saja."


Sambil berdiri melihat Aaron memasukkan barang ke garasi mobil tiba-tiba sosok wanita yang tak asing muncul dari belakangku.


"Aaron?"


Aku terkejut kemudian menoleh. Kulihat wanita itu membuka kaca mata kemudian mendekati Aaron lagi. Tunggu, sepertinya aku pernah melihat wanita ini. Di mana, ya?


Aaron dengan cepat menoleh ke arah wanita itu.


"Aaron, kamu ...."


Wanita itu menghentikan perkataannya kemudian menangis.


Aku terkejut, tapi Aaron tidak. Bukannya menjawab perkataan wanita itu Aaron malah pamit padaku kemudian pergi.


"Jika Anda butuh sesuatu telepon saja aku."


Aku ingin menahan dan bertanya tapi Aaron sudah menjauh. Kulihat wanita itu begitu sedih sambil menatap Aaron.

__ADS_1


"Aaron! Tunggu, Aaron! Aaron!"


Bersambung____


__ADS_2