
Billy tersenyum padaku. "Bukankah aku harus mandi? Kami juga ingin mandi, kan? Kalau kita berciuman terus lalu kapan kita mandinya?"
Aku memukul lengan Billy. Pria itu memelukku sesaat kemudian pamit.
"Masuklah. Dua puluh menit lagi aku akan kembali," katanya lembut.
"Biar tidak menunggu, kamu masuk saja."
Aku mengatakan password pintu masuk. Billy kemudian mencium dahiku lalu masuk ke apartemennya. Aku memastikan pria itu benar-benar masuk agar dia tidak mengerjaiku lagi. Setelah Billy benar-benar tidak terlihat lagi aku segera masuk ke dalam untuk membersihkan badanku yang sudah sangat lengket.
Memakan waktu tiga puluh menit aku akhirnya selesai. Tubuhku segar dan meruapka aroma lemon fresh dari sabun yang kupakai. Rambutku juga bersih dan wangi buah. Tidak ada lagi aroma asap, bawang, keringat yang menempel di tubuhku.
Tahu Billy akan berkunjung lagi aku mengenakan terusan hitam panjang yang lumayan tertutup. Aku sengaja mengenakannya biar kejantanan Billy tidak mengeras seperti kemarin. Dilihar dari luar sepertinya Billy mempunyai ukuran yang besar. Namun entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik untuk merasakannya.
Wanita lain pasti ingin sekali menyusupkan tangan mereka di sana. Sementara aku, melihatnya pun sudah membuatku takut. Yang ke dua, aku tidak tahu apakah kami akan berjodoh atau tidak. Biar nothing to lose ada baiknya aku tidak pernah mengganggu benda itu. Karena sekali diganggu sudah pasti akan membuat emosinya meluap.
Aku tidak ingin itu terjadi, walaupun sebenarnya itu adalah cara ampuh untuk mengikat diri dengan keluarga Daniel. Aku tidak ingin menggunakan cara itu. Aku ingin yang alami yang diberikan langsung oleh Tuhan. Aku yakin rencana Tuhan pasti baik. Mempertemukan aku dengan keluarga Daniel sudah cukup bagiku untuk percaya, bahwa di balik ini semua pasti ada sesuatu yang baik untukku.
Memakan waktu lima menit merapikan rambut dan pakaian aku akhirnya keluar kamar. Mungkin Billy sudah menungguku di luar. Tak mau pria itu menunggu lama aku segera keluar dan mencarinya.
Feelingku ternyata salah. Billy tidak ada dan membuatku kecewa. "Kenapa dia belum muncul? Apa aku saja mandinya sudah lama. Apa pria itu mandinya juga lama?"
Ting! Tong!
Senyumku langsung melebar ketika bel pintu menyapa telingaku. "Itu pasti Billy," kataku kemudian beranjak ke dekat pintu, "Tapi kenapa dia memencet bel pintu? Bukankah aku sudah memberitahukan passwordnya."
Otakku langsung travelling membayangkan keisengan Billy tadi.
"Aku tahu, dia pasti sengaja ingin aku yang membuka pintu agar bisa menciumku. Awas kamu, ya."
Tak mau hal itu terjadi lagi aku berbalik badan lalu duduk di sofa. Bel terus berbunyi, tapi aku mengabaikannya karena aku tahu Billy pasti akan mengerjaiku seperti tadi.
Ting! Tong!
Aku terkikik geli membayangkan Billy di luar sana. Biarkan saja pria itu berdiri lama di sana, kalau jenuh kan pasti dia akan masuk sendiri.
Sekitar lima menit menunggu Billy tak kunjung masuk. Bel juga sudah tidak berbunyi lagi. Aku jadi penasaran dan ingin melihatnya. Namun rasa khawatir ketika membayangkan aku membuka pintu lalu Billy muncul dan mencengkeram membuatku terdiam. Aku geli sendiri dan masih duduk di sofa sambil tertawa.
__ADS_1
"Kamu ingin mengerjaiku. Baik, kita akan sama-sama saling mengerjai."
Ting! Tong!
Bel kembali berbunyi. Tapi kali ini pikiran dan hatiku berkata lain. Apa jangan-jangan itu om Jacky? Kalau Billy dia pasti tidak akan memencet bel lagi. Dia pasti akan masuk dan mencariku di dalam. Gawat, aku sudah melakukan kesalahan. Om Jacky pasti akan marah padaku.
Dengan otak yang sibuk memikirkan alasan apa yang harus aku katakan ketika om Jacky muncul dan langkah secepat aku berlari ke arah pintu kemudian membukanya.
Clek!
Kulihat tembok apartemen berwarna abu-abu dan tidak ada siapa-siapa di sana. Seketika aku terbayang pada Billy. Dengan sedikit keras aku berkata, "Oh, jadi kamu ingin mengerjaiku, ya?" dengan posisi sama aku tetap berdiri dan menunggu pria itu keluar dari persembunyiannya, "Masih ingin bersembunyi? Aku hitung satu sampai tiga, ya. Kalau kamu tidak keluar, jangan harap aku akan membukakanmu pintu ini."
Aku menghitung satu sampai tiga, tapi Billy tetap tidak keluar dari persembunyiannya. Kesal karena dikerjai, aku akhirnya masuk dan mengunci pintunya.
"Lihat saja, sampai putus jarimu memencet bel itu aku tidak akan membukanya."
Sambil mengomel aku berjalan menuju dapur. Kekesalanku terhadap Billy membuatku ingin menikmati hot cokelat.
"Berani-beraninya Billy mengerjaiku, hah? Dia itu belum tahu apa kemarahan Zuri Oliver seperti apa? Lihat saja, jika kamu ke sini aku akan memakanmu hidup-hidup."
Kedua tangan besar tiba-tiba melingkar di perutku.
"Siapa yang ingin kau makan hidup-hidup, hah?"
Aku terkejut dan berkata dengan emosi. "Kamu!"
Billy hanya tersenyum kemudian mencium pipiku. "Kenapa? Terlalu lama menunggu, ya? Maaf, tadi papa mengajakku bicara. Sebentar lagi papa akan ke sini untuk bicara denganmu."
Tanganku yang sibuk meracik bubur cokelat kesukaanku tiba-tiba terhenti. Aku berbalik kemudian menatap Billy. "Kamu tidak bohong, kan?"
"Bohong, untung apa aku bohong?"
Aku menjadi kesal kemudian berbalik lagi. "Aku tidak suka pria pembohong, Billy. Jujur saja, kamu tadi mengerjai aku dengan bel pintu, kan?"
Billy melepaskan pelukan dari tubuhku. "Bermain bel? Tidak. Begitu selesai bicara dengan papa aku langsung ke sini. Bukankah kamu sudah bilang berapa passwordnya? Jadi untuk apa aku harus mengerjaimu dengan bermain bel. Justru aku ingin mengerjaimu dengan mengagetkanmu. Tapi melihatmu sedang melakukan ini membuat niatku hilang."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin calon istriku marah."
Kekesalanku seketika hilang. Setelah meletakkan hot cokelatku ke atas kompor aku menatap Billy dengan pandangan rasa bersalah. "Maafkan aku. Tadi bel pintu terus berbunyi. Aku membukanya, tapi tidak ada siapa-siapa di luar. Aku pikir itu kamu yang sengaja ingin mengerjaiku."
Billy menarik dan memelukku hingga wajah kami saling berhadapan. "Untuk apa aku mengerjaimu, hah? Aku sudah tak tahan ingin melihatmu, masa aku harus berlama-lama dengan aktivitas tidak penting itu."
Aroma segar dari mulut dan tubuh Billy membuatku melayang. "Kalau bukan kamu lalu siapa?"
Ting! Tong!
Bunyi bel membuat aku dan Billy terkejut.
Ting! Tong!
"Aku takut, Billy."
"Itu pasti papa. Kamu tunggu di sini, biar aku yang membukanya."
Perasaanku tiba-tiba menjadi takut. "Kalau bukan Billy yang memainkan bel tadi lalu siapa?"
Bunyi luapan cokelat dari atas kompor membuatku terkejut. Rasa takut bercampur panik menjadi satu. Dengan pikiran dan hati gelisah aku menuangkan hot cokelat itu ke dalam gelas.
"Sayang, papa menunggumu di ruang tamu."
Suara Billy mengagetkanku. "Baik, aku akan buatkan minuman dulu untuk papa."
"Mau kubantu?"
"Tidak usah, kamu temani papa saja di sana."
Billy tersenyum kemudian menciumku. "Jangan lama-lama."
Ada sedikit ketenangan dalam hatiku setelah Billy melepaskan bibirnya dari bibirku. Tapi begitu pria itu menghilang dari pandangaku, kekhawatiran dan ketakutan kembali menghampiriku. Rasa penasaran soal bel pintu itu membuatku terus memikirkannya.
"Kalau bukan Billy lalu siapa? Apa jangan-jangan apartemen ini ada penghuninya, ya?"
Bersambung___
__ADS_1