My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Suasana Makan Malam.


__ADS_3

Alasan yang masuk akal. Abigail bukan tipe wanita sembarangan. Jika alasan Abigail bertemu denganku hanya untuk berterima kasih itu wajar.


Aku tersenyum. "Apa kamu yakin anakmu tidak mengatakan sesuatu kepada bosnya? Katamu dia tidak membenci laki-laki lagi karena atasannya. Tidakkah kamu sadar kalau anakmu ingin menjodohkan kalian?"


"Aku juga berpikir begitu, Jack. Apalagi kata anakku bosnya itu sedang bermasalah dengan istrinya. Aku tidak ingin merusak hubungan orang sekalipun mereka ada masalah, Jack. Aku melakukan ini hanya agar anakku tidak kecewa. Hanya aku harapannya dan aku tidak ingin dia kecewa."


Aku bisa melihat beban hidup dalam diri Abigail dari nada dan ekspresinya. "Bagaimana kalau kamu ke tempatku saja? Kita bicara di sana. Kamu bisa meluapkan semua beban dalam dirimu padaku."


Abigail terkejut.


"Anggap saja aku sahabatmu. Oke?"


"Lalu bagaimana makannya? Bukankah mereka sudah menyiapkannya."


"Kita makan dulu setelah itu kita ke apartemenku. Bukankah kamu belum makan?"


"Iya, aku sudah lapar. Sejak sore aku belum makan. Padahal paman sudah menyuruh pelayan masak makanan kesukaanku."


Inilah salah satu yang kusuka dari Abigail. Sikap terbukanya selalu membuatku gemas. "Ngomong-ngomong soal pamanmu, bagaimana kabar beliau?"


Aku senang Abigail membahas soal pamannya. Ini kesempatanku untuk bertanya panjang lebar. Jujur sampai sekarang aku masih penasaran kenapa pamannya Abigail menyembunyikan wanita ini dariku. Bahkan lelaki itu selalu menghindar setiap kali aku menanyakan soal Abigail.


"Kabarnya baik. Usia beliau sudah tua. Jadi harus banyak istirahat dan tidak boleh kelelahan."


"Aku ingin bertanya sesuatu soal pamanmu. Ini menyangkut malam itu, Abigail."


Ekspresi Abigail sedikit terkejut. "Maksud kamu?"


"Kamu masih ingat malam kejadian itu?"


"Iya, aku masih ingat. Tapi kuminta padamu tidak usah membahas masa lalu, Jack. Aku tidak mau mengingatnya lagi."


Aku tak bicara lagi walaupun apa yang ingin kutanyakan belum terlampiaskan. Aku masih penasaran tentang kejadian itu. Tapi aku tidak ingin Abigail marah kemudian meninggalkanku saat ini. Aku sangat mengenalnya. Jika sudah berkata begitu berarti aku harus menurut.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengungkitnya. Aku tahu kamu pasti kecewa padaku karena mendengarku menikah. Tapi percayalah, Abigail. Setelah kejadian itu aku mencarimu. Aku menemui pamanmu, tapi beliau bilang kamu sudah meninggal."


Ekspresi Abigail hanya menunduk. Sikap diamnya cukup bukti bagiku untuk tidak meneruskan topik tersebut.


Tepat di saat itu pelayan muncul membawa semua menu makan malam kami. Aku memesan anggur untuk penghangat. Abigail suka anggur. Dan aku sengaja tidak menyuruh Mike agar memasukkannya ke dalam menu agar Abigail tidak curiga.


"Kamu ingin minum?" tanya Abigal. Ekspresinya sudah kembali normal.


Perasaan wanita ini suka berubah-ubah. Sikap itulah yang membuatku semakin penasaran karena Abigail cepat sekali bersikap baik. Seandainya masalah pernikahanku yang membuatnya terluka, Abigail pasti tidak akan mau duduk denganku seperti sekarang ini.


"Kamu tahu kan aku paling suka Anggur. Sama denganmu."


Abigail hanya tersenyum. Setelah semua menu datang aku dan mulai menikmati makan malam ini. Sikap Abigail terlihat santai. "Jumlah anakmu berapa sekarang?"


Pertanyaan Abigail membuatku menoleh. Aku menuangkan anggur ke dalam gelasnya kemudian ke dalam gelasku.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Jumlah anakku satu, laki-laki. Aku ingin menambah satu anak lagi perempuan, tapi denganmu."


Uhuk! Uhuk!


Abigail terbatuk-batuk. Spontan aku mengambil air mineral kemudian memberikannya. "Minumlah."


"Terima kasih."


"Maaf kalau kata-kataku tadi membuatmu tak nyaman. Aku hanya bercanda."


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja."


Suasana kembali cerah.


"Berapa usia anakmu?"


"Dua puluh satu tahun."


Abigail terkejut. "Anak kita hanya selisih satu tahun."


"Benarkah?" tanyaku pura-pura, "Apa putrimu lebih muda dari putraku?"


"Tidak, Jack. Putriku lebih tua setahun dari putramu."


Abigail tertawa. "Kamu ini ada-ada saja. Sebagai orang tua kita tidak bisa memaksakan kemauan mereka. Kita cukup memberikan saran, tapi selebihnya itu urusan mereka."


"Kamu benar. Mumpung anakmu ada di sini, bagaimana kalau kita atur jadwal?"


"Tidak, Jack. Eh, maksudku jangan dulu sekarang. Waktuku tidak banyak."


"Kan besok atau lusa bisa?"


Abigail menggeleng kepala. "Maafkan aku."


"Baiklah, aku mengerti," aku menelan habis isi gelas kemudian menambahnya lagi, "Tapi sebelum kembali, kamu mau kan bertemu denganku lagi?"


Abigail menelan isi gelasnya sampai habis. Sambil menyondorkan gelas kosong kepadaku untuk di isi Abigail berkata, "Tentu saja."


"Kalau begitu besok sore aku akan menjemputmu. Kamu ingin kujemput di mana, rumah paman atau?"


"Aku akan mengabarimu. Bukankah kontakmu sudah ada padaku?"


"Baiklah. Akan kutunggu kabar darimu. Jika tidak, aku akan mendatangi kediaman Robbie Oliver dan mencarimu."


Suasana makan malam semakin nyaman dan hangat. Aku merasa Abigail yang hilang kini kembali lagi. Sikap Abigail padaku saat ini sama persis dengan sikapnya yang dulu. Hanya saja yang membedakan malam ini dengan malam-malam kami sebelumnya adalah keromantisan.


Aku dan Abigail selalu berpegangan tangan di manapun berada. Jika sedang makan malam seperti ini, sesekali tangan kami saling bertaut seperti takut kehilangan. Seandainya masih berpacaran, mungkin orang-orang akan iri melihat kedekatan kami berdua. Bahkan Zuri dan Billy pasti akan iri melihat kami. Hahaha

__ADS_1


Makan malam akhirnya selesai. Awalnya aku takut Abigail akan pergi karena melihatku. Terlebih sosok yang ditunggu tak kunjung datang. Tapi syukurlah Abigail tidak keberatan dan mau makan malam bersamaku.


"Aku harus menghubungi putriku. Dia akan menjemputku di sini."


"Aku yang akan mengantarkanmu."


"Tidak perlu, Jack. Terima kasih."


"Jangan, Abigail. Ini sudah larut. Kamu tega menyuruh anakmu berkendara di tenga malam seperti ini? Kalau terjadi sesuatu padanya, bagaimana?"


Saat ini sudah pukul sebelas malam. Aku sengaja memesan banyak menu makanan agar waktuku bersama Abigail semakin panjang.


"Baiklah. Aku akan memberitahu putriku, biar dia tidak menjemputku."


Aku dan Abigail akhirnya keluar dari restoran. Sambil menuju parkiran aku berkata, "Sepertinya aku harus berterima kasih pada atasan anakmu itu."


"Untuk apa?"


"Bukankah kamu paling tidak suka makan di restoran ini?"


Abigail tertawa. Sedangkan aku tersenyum kemudian membukakan pintu depan untuknya.


"Terima kasih."


Aku berlari kemudian masuk ke balik kemudi. Sebelum menyalakan mesin mobil aku menatap Abigail lalu berkata, "Terima kasih sudah menemaniku makan malam."


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu."


Aku tersenyum kemudian memasangkan sabuk pengaman milik Abigail. "Tidak usah, aku bisa sendiri."


Tanpa menjawab aku terus melakukannya sampai selesai. Kulihat wajah Abigail memerah. Apa pengaruh anggur atau malu, tapi aku senang melihatnya.


"Terima kasih."


"Sudah seribu kali kamu mengucapkan terima kasih padaku, Abigail," jawabku sambil menggerakkan mobil keluar dari parkiran.


Terdengar Abigail terkekeh. "Tidak salahnya, bukan."


"Iya, tapi dulu kamu tidak seperti ini."


"Beda, Jack. Status kita sekarang tidak sama."


"Sebentar lagi aku akan menduda. Itu artinya status kita akan sama."


Abigail menatapku terkejut. "Kamu akan bercerai?"


"Iya."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2