
Ke dua alisku berkerut. "Tujuan ... tujuan apa?"
Debora menarik napas lalu berkata, "Mungkin Jacky sudah menceritakan masalah rumah tangga kami kepadamu. Jacky juga pasti menceritakan kejahatan apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak keberatan, itu memang kesalahanku. Tujuanku sekarang adalah ingin menjauhi keluarga Daniel agar mereka bisa bahagia. Melihat Anda dan Jacky kemarin siang membuatku yakin kalau Jacky sangat menyukai Anda."
Aku semakin bingung.
"Aku ingin kamu menggantikan posisiku. Aku ingin kamu menikah dengan Jacky."
"Aku ... Kenapa aku?"
Tangan Debora bergerak ke arah tanganku, tapi tidak jadi. Mungkin Debora ingin memohon, tapi takut ke dua temannya melihat.
Benar. Debora menatap sekeliling. Aku pun langsung penasaran dan bertanya, "Ada apa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya takut jika Jacky melihat kita berdua dan salah paham."
"Anda belum menjawabku, kenapa Anda ingin aku menikah dengan Billy?"
"Karena Jacky menyukaimu."
"Itu bukan alasan. Dari mana Anda tahu Jacky menyukaiku."
Debora menunduk sedih. "Sebenarnya ada hal yang menyebabkan aku ingin Jacky menikahi Anda. Aku ingin cerita, tapi saat ini waktunya tidak tepat. Jika Anda tidak keberatan, aku akan meluangkan waktu dan menceritakan semuanya kepada Anda."
Aku tahu apa yang ingin diceritakan Debora. Aku terseyum saat Debora menatapku. "Kamu tidak perlu bersikap formal. Aku juga sudah tahu apa yang ingin kamu bicarakan. Zuri sudah menceritakannya padaku."
"Benarkah?" ekspresi Debora sangat terkejut.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku, paman dan Zuri ada di pihakmu. Kami akan membantumu demi Aaron."
Debora menangis. "Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Hidupku benar-benar sudah di ujung tanduk. Aku sudah tak bisa menghindar lagi. Aku tidak akan lari dan aku akan menghadapi risikonya."
"Setelah kamu dan Jacky resmi bercerai, sebaiknya kamu jujur pada Jacky tentang semuanya. Aku rasa Jacky bisa memahami jika kamu menjelaskan yang sebenarnya. Apalagi dalam masalah ini ada keterkaitannya dengan tuan Daniel. Kamu harus jujur, bahwa kamu melakukan ini bukan semena-mena keinginanmu saja."
"Yang aku takutkan bukan itu, yang aku takutkan identitas Billy. Aku sudah siap menerima risikonya. Aku juga sudah siap menjalani hukumanku. Yang aku takut Stella dan Gilbert akan menghasut Billy, membuat dia membenciku. Aku takut mereka akan melakukan hal seperti yang mereka lakukan kepada Aaron. Aku sudah kehilangan Aaron dan aku tidak ingin kehilangan Billy lagi."
"Kamu tidak akan kehilangan Billy, Debora. Kamu juga tidak kehilangan Aaron. Separah apapun kesalahanmu Aaron pasti akan memaafkanmu. Saat ini Aaron hanya belum tahu yang sebenarnya. Aaron belum tahu alasanmu menyutujui pernikahan itu. Tapi aku yakin suatu saat pasti Aaron akan tahu yang sebenarnya. Anggap saja saat ini kita semua berada dalam satu skenario yang dibuat oleh Tuhan dan sebagai pemeran kita hanya bisa menjalankan karakter kita masing-masing. Tuhan pasti punya hal baik di balik masalah ini. Percayalah."
Apa yang kukatakan benar adanya. Di balik masalah Debora ada hal baik yang disiapkan Tuhan untukku dan Zuri. Seandainya Debora tidak melahirkan Billy, Billy tidak akan menyukai Zuri. Jacky tidak akan melamar Zuri sebagai menantunya dan Jacky juga tidak akan pernah tahu kalau Zuri adalah putrinya.
Aku harus melakukan cara agar Jacky mau menikahiku. Aku harus menggoda Jacky, agar lelaki itu mau menyentuhku dan meminta pertanggungjawabannya. Kesannya sedikit murahan, tapi hanya dengan cara itu lamaran Billy akan tertunda. Lagi pula Jack adalah papanya Zuri. Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau aku menjalin asmara lagi dengan ayah dari anakku sendiri.
***
Sambil berdiri aku sangat gelisah menatap Abigail. Hasratku yang telah lama mati kini hidup lagi dengan adanya Abigail di sini. Wanita yang dulu, bahkan sampai sekarang yang masih sangat kucintai ini berdiri dengan pakaian ketat di hadapanku. Ya ampun, betapa menggiurkannya keindahan di depan mataku.
Ingin sekali aku mendekati Abigail, memeluk, menciumnya dengan panas dan membawanya ke sofa panjang. Namun permintaan Billy terus terngiang dalam benakku ketika dirinya mengatakan untuk segera menikahkan dirinya dengan Zuri.
"Maaf aku menyita waktumu. Aku mengajakmu ke sini karena ada hal penting yang ingin kusampaikan."
Saat ini aku dan Abigail berada di apartemenku. Waktu sudah hampir malam dan aku menyuruh Billy untuk mengajak jalan-jalan calon istrinya. Di samping memberikan waktu berdua untuk Zuri dan Billy, aku ingin berduaan dengan Abigail. Sebelum menjadi besan, aku ingin kembali mengingat masa-masa indah yang pernah kulewati bersama Abigail.
"Tidak masalah. Aku memang ingin menemuimu tanpa kamu memintanya."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya," balas Abigail kemudian mendekatiku. Tubuh kami sangat dekat. Aroma parfum Abigail menyapa hidungku, membuat bagian di balik celanaku langsung menonjol, "Aku sangat merindukanmu, Jack. Aku ingin kita mengenang kembali masa-masa muda dulu."
Aku terkejut saat kedua tangan Abigail mengalung di leherku. Aku senang sekaligus sedih. Aku bahagia karena wanita yang kurindukan ternyata merasakan hal yang sama. Tapi aku juga sedih karena wanita yang sangat kuinginkan saat ini sebentar lagi akan menjadi besanku. Aku ingin sekali mencium Abigail, tapi itu tidak mungkin.
Abigail mungkin menyadari penolakan ini saat tanganku tidak membalas pelukannya. Ke dua tangan Abigail perlahan terlepas dari leherku. Abigail menjauhiku kemudian berdiri membelakangiku. Aku merasa bersalah melihat kekecewaan itu.
Aku mendekati Abigail dan memeluknya dari belakang. Kulingkarkan ke dua tanganku di perut rata Abigail kemudian menyusupkan wajah ke lehernya yang putih. Hmmm, benar-benar aroma yang memabukkan.
"Maafkan aku, Sayang."
"Bukankah sebentar lagi kamu akan bercerai?"
Intonasi pertanyaan Abigail mewakilkan perasaannya. Dengan cepat aku membalikan tubuh Abigail menghadapku. Kutatap ke dua mata Abigail. Kuraup ke dua pipi Abigail dengan tangan besarku.
"Itu benar."
"Lalu apa yang salah? Aku bukan milik siapa-siapa dan sebentar lagi kamu juga bukan milik siapa-siapa."
"Aku tahu, Sayang. Tapi____"
"Tapi kau tidak menginginkanku. Itu kan yang ingin kau jawab?"
Dengan segenap hati aku langsung membawa Abigail ke dalam pelukanku. "Aku sangat menginginkanmu, Abigail. Sejak dulu sampai sekarang aku selalu menginginkanmu."
"Kamu bohong, Jack. Kamu pasti sudah tidak menginginkanku lagi. Responmu berbeda dengan resopon saat pertama kita bertemu beberapa hari lalu. Sekarang kamu semakin dingin dan terkesan mengabaikanku."
Aku menjauhkan tubuhku dari tubuh Abigail. Aku memegang ke dua lengan Abigail, menatapnya kemudian berkata, "Aku sama sekali tidak mengabaikanmu. Aku juga sangat menginginkanmu. Kamu lihat bagian depan celanaku," tatapan Abigail mengarah ke bagian itu, "Ini bukti bahwa aku sangat-sangat menginginkanmu. Tapi apakah pantas aku melakukan itu kepada wanita yang sebentar lagi akan menjadi besanku? Apakah pantas aku meniduri wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertua dari putraku sendiri?"
__ADS_1
Bersambung___