My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Cara Terbaik.


__ADS_3

Abigail ikut berdiri. "Zuri tidak membencimu, Jack. Kalau Zuri membencimu, Zuri tidak akan mau kamu menikahiku. Buktinya dia ingin kita menikah, kan?"


"Itu karena Zuri tidak tahu aku siapa. Kalau Zuri tahu aku ayah kandungnya dia pasti tidak akan mau kita menikah. Dia bahkan tidak akan mau melihatku, Abigail," aku terduduk di sofa panjang, "Aku masih ingat jelas bagaimana ekspresi Zuri saat menceritakan soal aku. Dia sangat marah padaku, Abigail. Zuri sangat membenciku. Bahkan Zuri bersumpah, sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau melihatku."


Abigail mengusap punggungku. "Aku minta maaf Jack, semua ini salahku. Aku telah menanamkan kebencian kepadanya. Aku telah menghasut otak Zuri agar dia membencimu. Aku takut kehilangannya, Jack. Aku takut jika Zuri tahu kamu papanya lalu mencarimu. Aku takut kamu mengambilnya dariku. Aku sengaja memprovokasi Zuri agar dia tidak ingin tahu siapa papa kandungnya."


"Kamu melakukan itu pasti karena pamanmu, kan? Dan pamanmu melakukan itu karena dendamnya terhadap kakekku. Aku harus menemui kakek. Kakek harus bertanggung jawab."


"Kumohon jangan salahkan mereka. Lagi pula Zuri tidak pernah tahu kalau kamu papanya. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua dan paman saja."


"Itu tidak mungkin, Abigail. Cepat atau lambat Zuri pasti akan tahu siapa aku sebenarnya."


Abigail menyandarkan kepala di bahuku. "Itulah kenapa aku ingin kita menikah. Kamu bisa bertanggung jawab dengan menikahiku tanpa harus mengungkapkan identitasmu sebenarnya kepada Zuri. Biarlah Zuri menganggapmu sebagai papa sambungnya."


"Kamu gila, Abigail. Mana mungkin seorang ayah mau dianggap seperti itu."


"Hanya itu satu-satunya cara, Jack. Kita harus merahasiakan identitasmu dari Zuri. Dan jika kamu bersikeras ingin memberitahu siapa dirimu yang sebenarnya ... tidak hanya denganmu saja, tapi Zuri akan memutuskan hubungannya dengan Billy. Apa kamu mau Zuri pergi dari kehidupan kalian dan tidak akan pernah bertemu lagi?"


Aku frustasi mendengar itu. "Jangan berkata begitu, Abigail. Zuri pasti akan mengerti jika kita menjelaskannya dengan jujur."


"Apa kamu akan mengungkapkan kesalahan pamanku dan kakekmu di depan Zuri? Apa kamu akan memebuat Zuri marah kepada mereka?"


"Bukan begitu, Sayang. Tapi cepat atau lambat hal itu pasti akan terbongkar. Zuri pasti akan mengetahuinya dan sebelum Zuri mendengar kabar ini dari orang lain, sebaiknya kita katakan yang sebenarnya kepada Zuri. Aku yakin Zuri pasti akan mengerti, jika dia tahu yang sebenarnya."


Abigail menggeleng. "Untuk sekarang jangan dulu. Lagi pula yang tahu ini hanya aku, kamu, pamanku dan Tanisa. Kalau Zuri sampai tahu, terkecuali dia mendengarnya dari antara kita berempat. Kita masih bisa merahasiakan hal ini darinya, Jack."


"Untuk apa? Cepat atau lambat Zuri akan tahu, Abigail."


"Iya, tapi belum sekarang. Aku ingin kita menikah dulu. Setelah itu aku akan memikirkan cara untuk menyampaikan hal yang sebenarnya kepada Zuri."


Aku semakin frustasi. Aku duduk di sofa kemudian meremas kepalaku dengan kedua tanganku. Aku meremasnya kuat-kuat hingga rasa pusing di kepalaku terasa hilang.


"Aku tahu ini sangat berat bagimu, Jack. Hanya ini cara satu-satunya agar Zuri tidak marah."

__ADS_1


"Kata siapa Zuri tidak akan marah. Zuri akan semakin membenciku, Abigail."


"Aku tahu, tapi jika status kita sudah menikah Zuri tidak ada pilihan lain selain menerimamu."


Abigail benar. Mungkin dengan begini aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Zuri. Namun, ada satu hal yang membenaniku saat ini. Aku menatap Abigail dan bertanya, "Bagaimana dengan Billy? Bagaimana jika Billy menuntut pernikahannya dengan Zuri? Bagaimana dengan keluargaku? Mama, papa, kakek dan Ellena pasti akan menanyakan, kapan Billy akan menikahi Zuri? Mereka sangat ingin Zuri menjadi menantu."


"Setelah tahu status Zuri dan Billy sekarang, apakah kamu masih ingin menjadikan Zuri menantu? Kamu harus jujur kepada mereka, Jack. Kamu harus bicara kepada mereka. Mungkin mereka akan kaget, tapi biar bagaimanapun mereka harus tahu soal ini."


"Kalau salah satu dari mereka membokar hal ini kepada Billy, bagaimana? Bagaimana jika Billy akan menceritakannya kepada Zuri? Bagaimana jika Zuri mengetahuinya sebelum kita menikah?"


Abigail meletakkan tangannya di bahuku. "Untuk sementara rahasia ini kita simpan rapat-rapat sampai kamu dan Debora resmi bercerai. Setelah itu kamu ajak orangtuamu dan Ellena. Minta mereka untuk merahasiakan hal ini dari Billy dan Zuri sampai kita berdua menikah. Kita berdua bisa melangsungkan pernikahan tanpa Billy dan Zuri. Kita suruh mereka ke luar negeri agar mereka tidak tahu soal pernikahan itu."


Aku menatap Abigail dari mata hingga ke bibir. Membahas pernikahan membuatku teringat pada hari di mana aku akan mengajaknya ke rumah bertemu orangtuaku.


"Kenapa kamu menyembunyikan hal ini padaku, hah? Kenapa kamu menjauhkan diri dariku? Kenapa kamu menjauhkan aku dari anakku, Abigail?"


"Aku minta maaf, Jack. Aku melakukan itu demi kebaikan kita semua."


"Kebaikan apa? Kalau kamu jujur padaku soal kehamilanmu, mungkin Billy tidak akan lahir di dunia ini. Aku pasti tidak akan menikahi Debora jika kamu datang dan meminta pertanggungjawabanku."


Ya ampun, betapa jahatnya diriku ini.


"Maafkan aku, Jack. Aku tidak punya pilihan lain waktu itu selain mengatakan hal sebenarnya kepada Zuri. Aku takut kehilangannya, Jack. Aku sudah kehilanganmu waktu itu, dan aku tidak ingin kehilangan buah cinta kita."


Aku mendekatkan wajahku ke wajah Abigail. "Kamu sudah membuat putriku membenciku, Abigail."


"Aku tahu dan aku minta maaf."


Seketika otakku berubah nakal. Tanpa menjauhkan wajahku dari wajah Abigail, aku meraup ke dua pipinya lalu mengelusnya dengan lembut. "Kamu harus di hukum, Abigail."


"Silahkan. Aku siap menerima hukumanmu, Jack."


"Benarkah?"

__ADS_1


Abigail mengangguk.


Tanpa berpikir lagi aku segera ******* bibir Abigail. Bibir merah ranum yang selalu membuatku candu. Abigail sedikit terkejut. Namun lama kelamaan bibirnya mulai bergerak dan membalas ciumanku.


"Ahh, Jack," desah Abigail saat tanganku meremas bagian susunya. Bibirku terus menyerang bibirnya. Sementara tanganku terus bergerak ke bagian depan untuk melepaskan kancing kemejanya.


Begitu kancing pertama terlepas aku menjauhkan bibirku dari bibirnya. Kutatap bibir Abigail yang merah dan sedikit bengkak akibat lumatanku. Dari mimik wajah Abigail mulai bergairah. "Kamu menginginkanku?"


"Ya, aku menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu, Jack."


Dengan cepat aku menarik tubuh Abigail ke atas pangkuanku. "Aku juga sangat menginginkanmu, Abigail. Aku sangat menginginkanmu. Dua puluh satu tahun aku menahan hasratku dan menunggumu."


"Kamu bohong. Kamu pasti sering melakukannya dengan Debora."


Aku melingkarkan kedua tanganku ke pinggannya. Kudekatkan wajahku hingga bibir kami nyaris bersentuhan. "Aku tidak pernah menyentuh Debora begitu tahu dia hamil."


"Tapi kami sering melakukannya di luar sana, kan? Kamu pasti punya mainan di luar sana untuk melampiaskan nafsumu."


"Tidak, Sayang. Percaya atau tidak, aku hanya menunggumu dan akan melakukannya denganmu."


"Bohong."


"Sumpah."


Abigail menggerakan pinggulnya perlahan, membuat keperkasaan di balik celanaku bangun.


"Aku juga. Percaya atau tidak aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki lain. Mungkin itu akan membuatmu sulit memasukinya."


"Benarkah?"


"Iya."


"Kalau begitu ayo buktikan."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2