My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Menjebakku.


__ADS_3

"Benar," tambah Anggie tanpa melihatku, "Aku juga baru tahu kalau di sini ada rumah semewah ini."


Aku menatap Dave. "Tantemu orang kaya, ya?"


Bukan Dave yang menjawab tapi Anggie, "Tadi waktu bersama Deva, aku bicara banyak soal mereka. Aku bertanya kenapa mereka sampai mau jadi pengemis. Di mana orang tua mereka dan di mana asal mereka."


Aku mengalihkan pandangan dan menyimak.


"Kata Deva sejak kecil mereka hidup dengan tante mereka. Sesuatu terjadi sampai akhirnya mereka berdua kabur dari rumah beberapa hari lalu."


Aku kembali menatap Dave. "Kenapa, Dave?" tanyaku penasaran. Sejak awal bertemu mimik wajah Dave terlihat sangat sedih, "Memangnya ada masalah apa? Sekarang kita sudah tiba di rumah tantemu, aku yakin tantemu pasti tidak akan marah lagi. Dan terpenting sekarang kalian bisa aman dan tidak akan kelaparan lagi."


Tepat di saat itu Anggie menghentikan mobilnya di halaman rumah besar itu. "Ayo, turun. Kita telah sampai."


Kami semua akhirnya turun. Aku menggendong Deva yang masih memeluk tubuhku dengan erat, sedangkan Dave berdiri di sampingku dengan ekspresi penuh penyesalan.


"Aku minta maaf, Nona."


"Minta maaf untuk apa, Sayang?" tanyaku bingung.


Beberapa pria berjas tiba-tiba muncul dari rumah itu. Dua dari mereka mendekatiku lalu mengambil Deva dan Dave.


"Nona, nyonya sudah menunggu Anda."


Perkataan pria berpakaian hitam itu kepada Anggie membuatku terkejut. "Kau mengenal tante mereka, Anggie?"


Anggie terbahak. "Zuri, Zuri. Ternyata kau wanita paling bodoh yang pernah kukenal."


"Bodoh, apa maksudmu?"


Ekpresi Anggie berubah. "Pengawal, bawa dia ke dalam. Aku tidak sabar lagi ingin merusak wajahnya."


Seketika lututku menjadi lemas. Anggie ... apa Anggie menjebakku?


"Ayo, cepat!"


Jantungku berdetak cepat ketika dua pria itu menarik tanganku dengan kuat. Ketakutan pun langsung menyelimutiku. Apakah Anggie akan membunuhku? Apakah ancaman yang dia katakan waktu itu benar? Ya ampun, kenapa aku begitu bodoh. Kenapa aku harus mempercayainya.


"Kumohon lepaskan aku. Anggie, lepaskan aku, Anggie. Lepaskan aku."


"Kau pikir segampang itu, hah?" Anggie terbahak lagi, "Sebelum membunuhmu, aku ingin kau bertemu seseorang terlebih dahulu. Seseorang yang sangat ingin melihatmu. Di mana nyonya? Bilang aku sudah tiba."

__ADS_1


Saat ini kami berada di ruang tengah. Ruangan itu terawat dan sangat mewah. Aku menjadi penasaran tentang siapa pemilik rumah ini. Apakah rumah ini milik Anggie? Tidak mungkin. Bukankah tadi pria itu bilang nyonya besar sudah menunggu Anggie di dalam. Apa nyonya itu si pemilik rumah ini? Siapa wanita itu dan kenapa dia menyuruh Anggie membawaku ke sini?


"Nona Anggie, nyonya menunggu Anda di ruang bawah."


"Oh, baiklah. Ayo, bawa wanita nakal ini ke sana. Nyonya ingin bertemu dengannya."


Rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Nyonya ... nyonya siapa dan apa yang dia inginkan dariku? Kenapa nyonya itu ingin bertemu denganku?


Kami akhirnya tiba di ruangan bawah. Ruangan itu terbuat dari papan kayu yang diberi warna cokelat. Suasana di ruangan itu sangat sejuk dan nyaman. Jendela di ruangan itu terbuka lebar membuat udara alami dari pepohonan bisa masuk-keluar dengan bebasnya.


Kulihat siluet perempuan yang berdiri membelakangi kami. Bentuk tubuh dan warna rambutnya sangat tidak asing. Aku seperti mengenal perempuan itu. Apa wanita ini yang dimaksud Anggie? Siapa dia dan apa tujuannya?


"Tante, seperti yang sudah Anda perintahkan, aku telah berhasil membawa wanita ****** itu. Nyonya ingin melihatnya, bukan?"


Dengan cepat wanita itu berbalik menatapku.


Zet!


Aku terkejut. Tante Debora! Tante Debora menyuruh Anggie membawaku ke sini, untuk apa? Tidak heran kali kalau di balik ini semua adalah campur tangan tante Debora. Konspirasi yang mereka lakukan sebelumnya sudah menjadi bukti, bahwa sampai kapanpun mereka akan selalu bekerja sama. Tapi apa hubungannya denganku? Aku salah apa sampai mamanya Billy tega melakukan ini?


Ekspresi tante Debora mendadak berubah. "Anggie, kau yakin ini wanita yang kau maksud?"


Menggoda? Kata-kata Anggie membuatku syok. "Hei, kamu jangan asal bicara!"


"Diam, kau!" bentak Anggie.


"Sudah, diam," sergah tante Debora. Wanita itu menatapku lalu berkata, "Apa yang dikatakan Anggir itu benar?"


"Tidak, Tante. Aku___"


"Dia bohong, Tante! Kalau Tante tidak percaya coba Tante suruh orang dan mencaritahu semuanya. Di depan Tante dia pasti akan berbohong."


Ingin rasanya aku menarik Anggie dan memukulnya. Rasa takut yang menyelimutiku kini berganti amarah. Aku bukan pembohong dan aku bukan penggoda. Berani-beraninya wanita gila ini menyebutku menggoda suami tante Debora.


Tante Debora menyandarkan bokongnya di meja. Jika dilihat dari penataan dan tempat, ruangan ini sepertinya ruang kerja. Perabot yang digunakan juga sama persis dengan perabot-perabot yang digunakan orang bisnis pada umumnya.


"Anggie?"


"Iya, Tante?"


"Bisa kau keluar dulu?"

__ADS_1


"Untuk apa, Tante? Aku akan tetap di sini, Tante. Aku takut wanita ****** ini akan memberikan pertanyaan palsu demi membela diri."


Tante Debora menatap Anggie. "Aku percaya padamu. Tapi ada beberapa hal yang ingin kutanyakan dan itu sangat pribadi."


"Baiklah."


Aku sangat lega melihat wanita gila itu pergi. Meski sebenarnya aku sangat takut karena berduaan dengan tante Debora. Anggie pasti sudah mencuci otaknya sampai wanita yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mama mertuaku ini sangat marah kepadaku.


Setelah Anggie menghilang tante Debora menyuruh salah satu pengawalnya. "Kunci pintunya, Denis. Dan pastikan Anggie tidak berada di balik pintu itu untuk mendengar pembicaraan kami."


"Siap, Nyonya."


Aku semakin penasaran, tapi juga semakin takut. Tatapan tante Debora saat ini mengarah padaku. Tatapannya tidak menakutkan, tapi tidak juga menyenangkan.


"Lepaskan tangannya."


Ke dua pengawal itu melepaskan tanganku.


"Silahkan duduk, Nona. Pelayan, ambilkan minuman untuknya."


Perkataan tante Debora membuatku terkejut. Tante Debora menyuruh pelayan membuatkanku minuman? Apa aku tidak salah dengar? Apa ini alasan tante Debora mengusir Anggie dari ruangan ini? Entalah, yang jelas saat ini aku sedikit takut walaupun tante Debora bersikap baik kepadaku.


"Kamu Zuri, kan?"


"Iya, Tante."


"Silahkan duduk, Sayang."


Lagi-lagi aku terkejut. Tante Debora memanggilku sayang? Tidak salah lagi, pasti di balik sikap baiknya ini ada sesuatu yang sadis yang akan dilakukannya. Aku menurut saja. Kududuk di sofa panjang dan berhadapan dengan tante Debora.


"Tempo hari tante ingin menghubungimu, tapi sesuatu dan lain hal terjadi sampai tante lupa untuk meneleponmu."


Tante Debora ingin menghubungiku, kenapa? Seketika aku langsung teringat tentang pertemuan kami di parkiran tempo hari. Aaron! Iya, waktu itu tante Debora mengejar Aaron saat pria itu bersamaku.


"Boleh tante bertanya padamu, Sayang?"


Saat itulah aku membuka suara. "Tentu saja. Tante ingin bertanya apa?"


"Tante ingin tahu, apa hubunganmu dengan Billy, Jacky suamiku dan Aaron?"


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2