My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Ketakutan Abigail.


__ADS_3

Zuri terdiam sesaat lalu berkata, "Mama yakin tidak ingin berkenalan langsung? Atau Mama sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi?"


"Sayang," kataku lalu menggenggam tangan Zuri, "Mama kecewa bukan berarti marah, kan? Mama akan bertemu dengannya, tapi coba kamu pikir. Masuk akal tidak jika mama ingin bertemu dengannya, tapi namanya saja mama tidak tahu. Jangankan nama, kontaknya saja mama tidak punya. Seandainya mama tidak menghubungimu semalam atau kontakmu tidak aktif, bagaimana?"


Wajah Zuri terlihat sedih. "Maafkan aku. Aku hanya menjalankan perintah bosku, Ma. Beliau sendiri yang tidak menyuruhku untuk memberitahukan identitasnya."


"Oh, jadi kamu lebih percaya bosmu daripada mama, begitu?"


"Bukan begitu, Ma. Aku___"


"Sudah," sergahku cepat, "Sekarang cepat katakan, siapa nama bosmu itu?"


Zuri terdiam.


"Zuri?"


Anak itu menatapku.


"Kenapa? Apa bosmu mengancammu jika memberitahu identitasnya kepada mama?"


Zuri menggeleng.


"Kalau begitu apa alasannya kamu tidak ingin memberitahu mama siapa dia sebenarnya?"


Zuri lagi-lagi terdiam.


"Jadi kamu tidak ingin memberitahu siapa namanya?"


Zuri menarik napas. "Namanya Jacky Daniel, Ma."


Sudah kuduga. "Jangan bilang kalau kamu tahu teman mama itu adalah om Jacky?"


Zuri menunduk sambil mengangguk.


Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Hal yang paling kuhindari saat ini akhirnya terjadi. Jacky telah bertemu Zuri dan Zuri sangat terobsesi kepada Jacky. Tanpa berkata apa-apa aku segera bangkit dan hendak keluar.


"Ma, Mama mau ke mana?"


Aku berbalik menatap Zuri. "Mama ingin buat perhitungan dengan bosmu itu. Dia sudah mengerjai mama, Zuri."


"Maafkan aku, Ma."


Aku mendekati Zuri lalu memeluknya. "Ini bukan salahmu, Sayang. Om Jacky memang orang yang suka sekali mengerjai mama."


"Itu berarti om Jacky tidak mengecewakan Mama, kan?"


Om Jacky sudah mengecewakan mama sejak dua puluh dua tahun lalu Zuri. Om Jacky sudah meninggalkan kita berdua dan menikahi wanita lain.


Ingin sekali kuucapkan kata-kata itu kepada Zuri. Namun ada baiknya aku tidak mengatakannya. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Semakin lama Zuri bersama Jacky akan semakin bahaya.

__ADS_1


"Mama ke kamar dulu, mama harus bicara dengan om Jacky. Oke?"


"Jangan marah pada om Jacky, Ma. Aku yang meminta om Jacky untuk mendekati Mama."


Ingin sekali kujambak rambutku sendiri. Ya ampun, Jakcy benar-benar membuatku gila. "Ini sudah larut. Sebaiknya kamu istirahat saja."


"Tapi aku harus kembali ke apartemen, Ma. Besok aku harus menyiapkan sarapan untuk om Jacky dan putranya."


Aku tersenyum paksa. "Malam ini ataupun besok kamu tidak boleh ke mana-mana. Ini hukuman karena kamu sudah bersekongkol dengan om Jacky."


"Tapi, Ma .... "


"Tidak ada tapi-tapian, Zuri."


Tanpa menunggu jawaban Zuri aku segera keluar. Aku tak sabar lagi ingin berteriak dan memaki Jacky lewat telepon.


Begitu masuk ke kamar ponselku bergetar. Kulihat nama Jacky sebagai pemanggil. Beruntung sekali kau menghubungiku. Aku memang sedang menunggumu. Dengan cepat aku segera menekan radial dan tersambung.


"Teganya kamu padaku, Jack."


Walaupun ada kekesalan dalam diriku, namun entah kenapa tidak ada rasa benci maupun marah terhadap Jacky.


"Tega kenapa? Ngomong-ngomong maaf mengganggumu. Aku tidak bisa tidur ... aku terus memikirkanmu, Abigail."


"Aku tahu statusmu sebentar lagi akan bercerai. Tapi bukan berarti seenaknya kamu menggodaku, Jack. Aku sudah tahu semuanya. Kamu pasti sengaja kan menyuruh Zuri menyembunyikan identitasmu, agar aku tidak tahu dan bisa kamu dekati? Pasti sudah lama kamu tahu Zuri putriku dan sengaja mengakaknya bekerja di perusahanmu agar kamu bisa mendekatiku."


Aku menarik napas panjang. Dalam diriku saat ini adalah ketakutan. Ketakutan yang sejak dulu sudah kuduga akan terjadi.


"Jangan pura-pura, Jack. Sejak awal aku memang sudah curiga waktu Zuri bilang bosnya memberikan apartemen, mobil dan gaji yang banyak. Kalau Zuri bukan putriku, kamu pasti tidak akan memberikan fasilitas semewah itu padanya. Tidak ada seorang juru masak yang kehidupannya hampir setara dengan bosnya. Kamu dan Zuri sudah membohongiku, Jack."


"Kumohon jangan salahkan putrimu, Abigail. Zuri tidak salah, akulah yang meminta Zuri untuk merahasiakan semua ini darimu. Tapi aku bersumpah atas nama keluargaku. Sejak awal sampai sebelum aku menghubungimu malam itu, aku tidak pernah tahu kalau Zuri putrimu. Malam di mana aku meneleponku, baru saat itu juga aku tahu kalau Zuri adalah anakmu."


Aku terduduk di ranjang. Ya Tuhan, apa semua ini rencanaMu? Pertemuan Zuri dan Jacky apakah akhir dari kisahku? Apa sudah waktunya Jacky tahu Zuri adalah putrinya?


"Abigail? Halo, Abigail?"


Suara Jacky mengejutkanku. "Iya?"


"Kamu baik-baik saja?"


Aku terdiam.


"Aku minta maaf, aku salah. Kumohon jangan salahkan Zuri. Zuri tidak bersalah, akulah yang bersalah. Hukumlah aku, bukan Zuri."


Seandainya kamu tahu alasan yang sebenarnya kenapa aku marah seperti ini. Kamu pasti akan lebih marah dariku jika tahu Zuri anakmu.


"Boleh aku tanya satu hal padamu, Jack?"


"Tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?"

__ADS_1


Aku diam sesaat sambil memijat dahi. "Seandainya aku tidak mengijinkan Zuri bekerja denganmu lagi, bagaimana?"


"Apa karena aku bosnya sampai kamu melakukan itu?"


"Jawab pertanyaanku, Jack."


"Begini saja. Besok aku akan menjemputmu untuk makan siang. Kita bicara berdua dan aku akan menjelaskannya, bagaimana?"


Aku tidak bisa menolak ataupun marah sebelum aku mendengar penjelasan Jacky. Jacky pasti akan sangat curiga jika aku menolak ataupun langsung melarang Zuri bekerja lagi padanya. Aku sangat mengenal Jacky. Hal sekecil apapun bisa membuat seantero kota hancur jika masalah itu menyakitinya. Jadi jalan satu-satunya hanyalah diam. Aku menyetujui undangan makan siang Jacky dan berharap Jacky tidak akan pernah tahu bahwa Zuri adalah anak kandungnya.


"Baiklah. Sampai ketemu besok."


Aku segera mengakhiri panggilan. Kucari kontak Tanisa lalu menghubunginya. Aku tak bisa diam. Pikiranku kacau karena hal ini.


"Halo?" Suara Tanisa terdengar serak.


"Maaf, apa kamu sudah tidur?"


Pertanyaan bodoh. Sudah tahu sekarang tengah malam aku masih bertanya. Saking takutnya aku bahkan tidak tahu sekarang ini sudah jam istirahatnya semua orang.


"Tadinya iya. Ada apa?"


"Maafkan aku. Kalau bukan karena Zuri dan Jacky aku tidak akan menghubungiku malam begini, Tanisa."


"Ada apa dengan mereka?"


Aku segera merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar. "Zuri dan Jacky sudah bertemu."


"Apa?! Kenapa bisa?"


"Bosnya Zuri adalah Jacky. Lelaki yang ingin diceritakan Zuri padaku adalah Jacky. Lelaki yang ingin dijodohkan dan dijadikan papanya adalah Jacky."


Tawa Tanisa terdenger. "Kamu dan Jacky ternyata memang berjodoh. Anggap saja jodohmu kemarin dipinjam orang."


"Kamu ini ada-ada saja. Aku takut sekali, Tanisa."


"Apa yang kamu takutkan? Aku memang marah pada Jacky karena lelaki itu melantarkanmu dan Zuri lalu menikahi wanita lain. Tapi mendengar ceritamu soal rumah tangga bosnya Zuri yang tak lain adalah mantan kekasihmu itu marahku padanya hilang. Itu artinya Tuhan memang selalu menyatuhkan kalian."


"Masalahnya Zuri tidak pernah tahu kalau Jacky adalah papanya. Kalau dia tahu Jacky adalah papanya, sudah jelas Zuri akan marah dan benci padanya."


"Aku rasa tidak. Kamu ingat? Zuri pernah bilang bukan, kalau bosnya menikah karena terpaksa. Itu artinya Zuri tidak akan menyalahkan Jacky ataupun dirimu jika rahasia ini terbongkar."


"Lalu bagaimana dengan Jacky? Jacky pasti marah aku merahasiakan kehamilanku darinya. Apalagi Zuri dan putranya hanya selisih setahun. Jacky pasti akan marah jika dia tahu aku mengandung Zuri sebelum dia menikah."


"Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan bicara dengan paman Robbie besok. Semoga saja paman bisa memberiku solusi yang baik. Jujur Tan, aku takut sekali saat ini. Aku takut sekali."


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2