
Billy menatapku dengan senyum yang lebar. "Sepertinya ada orang yang bilang ke mama, bahwa kamu adalah pacarnya papa."
"Apa?!" pekikku tak percaya, "Lalu apa kata mamamu? Apa beliau marah?"
Billy menarik sebelah tanganku lalu menggenggamnya. "Jangan marah dulu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Keterkejutanku perlahan hilang ketika jemari Billy menyusup ke lima jemariku. Tangannya yang besar dan halus seakan membuatku terhipnotis. Aku pun diam sambil menatapnya.
"Ini pertama kalinya mama menghubungi setelah sekian bulan. Mama akan menghubungiku jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Tadi mama bertanya soal gadis yang bersama papa. Aku curiga, mungkin orang suruhan mama atau siapa melihatmu dan memberikan informasi kepada mama, bahwa kamu adalah pacarnya papa."
Aku diam dan terus menyimak.
"Karena mama bertanya apa papa sudah punya pacar, jadi aku menjawab iya saking jengkelnya aku terhadap mama. Aku juga mengutarakan semua yang kutahu selama ini tentang mama dan om Gilbert. Mendengar itu sepertinya membuat mama terkejut. Mama sampai beralasan agar aku tidak menuduhnya yang tidak-tidak."
Billy terus menatapku. Tatapan yang membuatku semakin merasa nyaman. Aku senang Billy mempercayaiku untuk berbagi apa yang terjadi dalam keluarganya. Aku merasa percaya diri dan sangat dihargai.
"Aku padanya, bahwa aku bukan anak kecil lagi yang sering dibohongi seperti dulu. Aku sudah dewasa dan aku tahu semuanya."
Aku melapisi tangan Billy yang masih menggenggam tanganku. "Kamu yang sabar, ya? Siapa tahu dengan kejadian ini mamamu akan sadar."
Billy balas melapisi tanganku. "Kamu sudah dengarkan apa yang dikatakan kakek buyut tadi? Beliau sangat mudah mempercayai orang. Tapi begitu dikecewakan, apapun keputusannya harus dilakukan."
"Mamamu pasti akan syok mendengar itu."
"Aku rasa itulah hal yang diinginkan mama, agar dia bisa menikah dengan om Gilbert."
Aku diam sesaat lalu berkata, "Apa kamu sudah memberitahukan pada mamamu soal perceraian itu?"
"Sudah. Aku mengatakannya tadi."
"Lalu apa katanya?"
"Aku tidak tahu, karena aku langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu balasannya."
__ADS_1
"Mamamu pasti sedang pusing sekarang. Walaupun beliau memiliki lelaki lain, pasti dalam hati kecilnya dia tidak ingin meninggalkan anak dan suaminya."
Billy berdecak. "Mamaku tidak punya hati, Zuri. Sudahlah, daripada kita membahas hal yang tidak penting, lebih baik kita bahas yang lain saja."
Tatapan Billy semakin lembut kepadaku.
"Apa kamu akan meninggalkan profesi juru masakmu dan beralih menjadi sekertarisnya papa?"
"Kenapa kamu bertanya begitu?" jawabku sambil tersenyum.
"Aku pasti tidak akan fokus jika kita sama-sama dalam satu gedung."
"Kenapa? Buktinya sekarang kamu fokus walaupun kita sedang bersama."
Billy mengelus tanganku. "Aku mencintaimu, Zuri. Maaf jika ini terlalu lancang. Tapi inilah yang aku rasakan jika bersamamu. Jantungku selalu berdebar berada di dekatmu. Namun, aku juga akan gelisah jika jarak menjauhkanku dari pandanganmu."
Ingin terkejut tapi tidak bisa. Aku heran, kenapa mendengar pengakuan Billy justru membuatku bahagia. "Mencintaiku? Bukankah kamu mencintai pegawaimu sendiri?"
Aku tertawa. "Kamu pasti bercanda."
Billy juga ikut tertawa. "Tidak Sayang, aku tidak bercanda. Wanita yang kumaksud waktu itu adalah kamu."
Seketika aku diam dengan tatapan yang tak lepas dari wajah tampan Billy. Mata, bibir, rahang tegas yang mulai ditumbuhi rambut membuatnya enak di pandang.
"Sebenarnya aku tidak berani menguratakan perasaanku saat ini. Aku takut kamu akan marah dan membenciku. Dalam perjalanan tadi mencul keyakinan bahwa aku harus mengutarakannya malam ini juga."
"Apa yang membuatmu yakin, hah?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan. Aku sendiri tak menyangka suasana malam ini benar-benar membuatku nyaman. Aroma lilin yang kupasang membuat suasana menjadi lebih hangat. Apalagi penerangannya hanya berasal dari lampu sudut berwarna kuning serta cahaya TV yang redup. Aku merasa suasana malam benar-benar menyenangkan.
"Aku yakin ketika kamu membiarkanku memegang tanganmu. Wanita lain pasti tidak akan mengijinkan tangannya digenggam oleh pria yang bukan kekasihnya."
Aku hanya tersenyum tanpa melepaskan tatapanku.
"Zuri, maukah kau menjadi pacarku? Rasanya aku tidak akan sanggup berjauhan denganmu. Di kantor aku selalu gelisah memikirkanmu. Namun, aku tidak mau terlalu tampak agar kamu tidak akan tahu dab membenciku."
__ADS_1
Aku tidak tahu harus menjawab. Di satu sisi aku menginginkan Billy. Di satu sisi aku ingin menjodohkan om Jacky dengan mamaku. Ya Tuhan, apa yang harus kujawab? Apakah aku harus menerima cinta Billy dan menepiskan keinginanku untuk memiliki papa seperti om Jacky?
Seandainya aku menerima Billy dan menjalin hubungan dengannya, sudah pasti om Jacky akan menjadi papa mertuaku. Itu pun kalau beliau mau restui hubungan kami. Dilihat dari respon keluarga Daniel kepadaku mereka semua pasti akan setuju dengan hubungan ini.
"Kamu yakin ingin menjadi pacarku?"
"Tentu saja aku yakin. Apa menurutmu ada alasan yang membuatku tidak yakin?"
Aku tersenyum lagi. "Aku baru saja diterima oleh keluargamu sebagai anggota keluarga. Aku takut dengan hubungan ini kasih sayang mereka terhadapku akan memudar. Aku tidak ingin dianggap mengambil keuntungan dalam huhungan kita, Billy."
Billy melepaskan kedua tangannya lalu meraup kedua pipiku. "Buang jauh-jauh pikiranmu itu, ya? Keluargaku ataupun aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu dan sudah pasti keluargaku akan menerimamu. Percaya padaku."
Seketika jantungku berdetak saat wajah garang Anggie terbenak dalam pikiranku. "Kalau aku menerimamu ... Anggie, bagaimana?"
Billy langsung meraih tubuhku dan mendekapnya sangat erat. "Aku hanya mencintaimu, Zuri. Hanya kamu, kamu dan kamu. Aku tidak pernah menyukai Anggie sampai kapanpun dan selamanya. Sekalipun wanita itu telanjang di hadapanku, hatiku tidak akan pernah berpaling darimu."
Mendengar itu membuat kedua tanganku refleks memeluk pinggang Billy. Kusandarkan kepalaku di dada bidangnya kemudian memejamkan mata. Ya Tuhan, apakah ini nyata? Apakah semua ini hanya mimpi? Pelukan hangat dan nyaman ini terasa seperti mimpi, Tuhan.
"Aku mencintaimu, Zuri. Aku mencintaimu dan hanya mencintaimu."
Aku pun tersenyum kemudian mengeratkan pelukan sebagai jawabannya. Aku juga merasakan kenyamanan yang luar biasa saat merasakan bibir Billy menempel di pucuk kepalaku. Setelah beberapa menit kami terlarut dalam suasana itu, Billy akhirnya melepaskan pelukan lalu menatapku. Matanya sayu. Bibirnya yang merah membuatku ingin merasakannya. Kutatap bibir itu lama sekali sampai akhirnya kata-kata Billy mengalihkan pandanganku.
"Zuri, maukah kau menjadi pacarku?"
Tak perlu menunggu lama lagi aku segera mengangguk kepala. "Aku mau."
Billy tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dari saku jasnya. Aku terkejut melihatnya, karena yang aku tahu kotak itu adalah kotak cincin. Tunggu, Billy ingin memberikan cincin kepadaku? Apa itu artinya dia sudah mempersiapkan semuanya?
Billy membuka kotak itu, mengambil cincinnya kemudian memasangkan ke jari tengah milikku. "Ini adalah bukti, bahwa kamu sekarang hanyalah milikku."
Ingin rasanya aku menarik kepala Billy kemudian menciumnya. Rasa bahagia yang kurasakan malam ini adalah bukti nyata, bahwa selama ini ternyata aku menyukai Billy. Ingin membuktikan bahwa ini bukan mimpi, aku membiarkan saat bibir tipis dan merah Billy perlahan mulai mendekati bibirku kemudian menciumnya.
Bersambung____
__ADS_1