My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Pengganggu.


__ADS_3

Walaupun sudah tahu asupan apa saja yang tidak disukai oleh beliau, aku meminta Billy untuk memberitahukan makanan apa saja yang disukai papanya. Tidak hanya om Jacky, aku juga menanyakan menu kesukaan Billy. Aku ingin setiap momen mereka akan mendapatkan kesan di setiap masakanku. Duh, aku merasa seperti mengurus dua anak laki-laki yang sudah besar. Hahaha


Begitu semua selesai aku turun ke lantai bawah untuk menemui kakek. Barang-barangku sudah di bawa pelayan untuk di letakkan ke dalam mobil. "Aaron, apa kakek sudah bangun?"


"Sudah, Nona."


"Boleh aku menemui kakek? Aku ingin berpamitan."


"Tentu saja, Nona."


Tumben supir tampan itu tidak banyak ngomong. Meskipun sering jengkel karena Aaron seperti menjadi pembatas antara aku dan kakek, aku senang kakek memilih sosok seperti dia untuk menjadi orang kepercayaan.


"Selamat pagi, Kakek," sapaku begitu masuk ke kamar. Kulihat kakek sedang duduk di atas ranjang dengan tubuh terbalut jubah tidur, "Apa Kakek sudah sehat?"


"Pagi, Sayang. Kakek sudah sehat. Kemarin aktivitas terlalu banyak, makanya kakek kelelahan."


Aku tersenyum. "Kek, hari ini aku harus pamit. Pagi ini hari pertama aku bekerja. Aku harus menyiapkan sarapan untuk bosku dan anaknya."


"Tidak apa-apa, Sayang. Kakek minta maaf ya semalam tidak bisa menemanimu makan malam."


"Tidak masalah, Kakek. Kesehatan Kakek lebih penting."


Kakek Robbie meraih tanganku kemudian menggenggamnya. "Kakek juga minta maaf karena sudah melarang keinginanmu. Pekerjaan ini pasti sangat kamu inginkan. Kakek hanya terlalu khawatir, jadi kakek takut terjadi sesuatu padamu."


"Aku mengerti, Kakek. Kakek tenang saja, aku janji akan menjaga diri dengan baik. Aku tidak akan menjadi seperti protagonis di dunia fiksi. Percaya padaku, Kek. Tujuanku ke sini hanya untuk mencari pengalaman, bukan berpacaran. Sikap papa yang jahat sudah melekat dalam diriku. Kebencianku terhadapnya sudah mendarah daging, dan itu akan menjadi pelajaran terbesarku agar tidak semudah itu memilih pasangan."


"Kamu tidak boleh begitu, Sayang. Kamu cantik, pintar ... Kamu harus menikah dan punya keluarga seperti wanita pada umumnya. Kehidupan kakek dan mamamu jangan dijadikan patokan. Jika kakek dan mamamu gagal dalam kehidupan asmara, kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak akan seperti kami."

__ADS_1


"Tidak, Kek. Untuk apa menjalani hidup seperti itu pada akhirnya tidak bahagia. Lebih baik aku hidup sendiri tanpa beban pikiran dan tidak ada yang membuatku sakit hati, daripada hidup bersama tapi selalu makan hati."


"Apa kamu sudah bicara dengan mamamu soal pekerjaan ini?"


"Sudah, Kek. Aku sudah mengatakan semuanya termasuk mobil dan apartemen yang diberikan atasanku. Awalnya mama seperti Kakek, khawatir. Tapi setelah kujelaskan semua mama akhirnya mengerti dan mengijinkanku tinggal di sana. Kakek tenang saja, pokonya aku akan membuktikan kepada kalian semua bahwa aku bisa menjaga diri."


"Kakek percaya padamu, Sayang. Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi kakek."


"Itu pasti, Kek."


Setelah perpisahan sesaat yang cukup mengharukan, aku akhirnya mengemudikan mobil menuju apartemen. Karena waktu masih sangat pagi untuk ke kantor, aku menyempatkan diri merapikan barang kemudian membeli bahan untuk sarapan dan makan siang om Jacky dan Billy di super market yang tak jauh dari apartemen. Hanya butuh waktu lima menit untuk jalan kaki aku sudah tiba di sana. Tak ingin membangunkan om Jacky atau Billy, aku menggunakan uangku untuk berbelanja. Toh nanti akan dibuat nota pengeluaran biar om Jacky percaya berapa pengeluaran hari ini.


"Halo, Zuri."


Suara perempuan itu membuatku menoleh dan sedikit terkejut. "Kak Anggie," wanita itu adalah sekertaris pimpinan di Daniel Corporation. Karena kata Betty Anggie orang yang angkuh dan sok berkuasa, sebisa mungkin aku hanya menyapa sekedarnya saja, "Belanja juga, Kak?"


"Kakak! Sejak kapan aku menikahi kakakku sampai kau memanggilku kakak?"


"Tidak perlu. Panggil aku Anggie saja."


"Baiklah."


Karena malas meladeni orang seperti Anggie, akupun segera berpindah tempat untuk mengambil bahan sayuran. Namun, bukannya menjauh Anggie malah mendekati dan bertanya perihal posisiku di Daniel Corporation.


"Oh iya, kemarin bukannya kau ada wawancara dengan pimpinan?"


Dari pertanyaannya membuatku sadar bahwa sejak tadi Anggie tidak mengambil sesuatu di area itu. Di tangannya bahkan tidak ada benda apapun selain botol minuman dingin. Apa Anggie sengaja mengikutiku hanya untuk menayakan hal itu? Tapi kenapa Anggie bisa tahu aku ada di sini?

__ADS_1


Tak ingin wanita itu berlama-lama di dekatku, aku pun segera membalas pertanyaannya agar pembicaraan kami cepat sepesai. "Iya, benar. Ada apa?"


"Apa kau diterima? Dan kenapa kemarin kau keluar bersama tuan Billy?"


Pertanyaan yang bagus wanita sombong. Dengan senyum lebar aku menatap Anggie lalu berkata, "Aku diterima sebagai asisten pribadi tuan Daniel. Dan perihal kenapa aku keluar bersama tuan Billy, itu karena tuan Billy menemaniku mencari apartemen dan mobil."


"Asisten pribadi? Apartemen dan mobil?"


"Iya, aku dipilih menjadi asisten pribadi tuan Daniel. Soal apartemen dan mobil, itu fasilitas yang diberikan pimpinan untukku."


Melihat ekspresi tak senang di wajah Anggie membuatku beralasan untuk segera pergi. Meski kesannya tidak sopan, setidaknya aku sudah mengobati rasa penasarannya. Dan ternyata benar, Anggie bahkan tidak mengikutiku lagi sampai di meja kasir.


"Ada-ada saja. Hanya karena penasaran dengan posisiku wanita itu rela mengikutiku sampai ke sini."


Setelah menyelesaikan transaksi aku kembali ke apartemen. Begitu tiba di parkiran ternyata Billy sudah menungguku. Sepertinya pria itu baru habis olahraga. Bagian depan bajunya berkeringat serta wajah dan ujung rambutnya basah.


"Dari mana kamu pagi-pagi begini? Aku cari di apartemen, tapi kamu tidak ada."


Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Aku baru saja dari super market, beli bahan makanan untuk sarapan dan menu makan siang kamu dan om Jacky."


"Lalu kamu belanja pakai uang siapa?"


"Aku," jawabku sambil tersenyum, "Bisa bantu aku tidak, bawakan ini ke atas?"


Tanpa menjawab Billy segera mengambil semua belanjaan. Karena tubuhnya sangat tinggi dan kuat membuat Billy terlihat biasa saja membawa beberapa kantong plastik itu padahal bebannya lumayan berat. Seandainya Anggie melihat hal ini, pasti hatinya akan gelisah karena rasa penasaran yang kembali menyelimutinya.


"Tadi aku tidak enak membangunkan kalian. Jadi aku memutuskan untuk memakai uangku, biar nanti kalian menggantinya. Ada notanya jika kamu ingin bukti pengeluaran," kataku begitu kami tiba di dalam lift.

__ADS_1


Billy tesenyum samar. "Nanti notanya berikan padaku saat makan siang. Soal uangmu, ini ...," Billy mengeluarkan kartu hitam dari saku celana tranning kemudian memberikannya padaku, "Pakai ini untuk belanja. Uang yang kamu pakai tadi ambil juga di sini sebagai gantinya. Dan soal biaya makanmu sehari-hari kamu juga bisa pakai kartu ini."


Bersambung____


__ADS_2