
Abigail menatapku lekat-lekat. "Jadi kamu akan memilih kebahagian anak-anak daripada kebahagiaan kita, begitu?"
Aku melepaskan Abigail. Aku berjalan ke dekat jendela, menatap indahnya keramaian kota. "Aku sangat menyayangi Billy, Abigail. Aku juga sangat menyayangimu dan Zuri. Kalau aku menikah denganmu, aku takut Billy akan meninggalkanku karena tidak menuruti keinginannya. Tapi jika aku menuruti keinginannya, kita semua akan tetap bersama. Kamu, aku, Zuri dan Billy. Kita berempat akan selalu bersama selamanya."
"Kalau aku tidak setuju, bagaimana?"
"Jadi kamu tidak setuju putraku menikah dengan putrimu?"
Abigail menggeleng.
"Kenapa?"
Respon Abigail benar-benar membuatku frustasi. Aku memang sangat menginginkan Abigail menjadi pasangan hidup. Namun, aku juga tidak mau kehilangan Billy hanya karena keegoisanku. Apa kata Billy nanti jika pernikahannya gagal hanya karena aku menikahi mama dari wanita yang dia cintai.
Abigail terus diam. Tatapannya tak lepas dari mataku. Kudekati Abigail dan berkata, "Kumohon mengertilah, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku juga sangat mencintai Billy. Aku ingin kita semua bersama, selamanya."
Abigail berbalik membelakangiku. "Aku tetap tidak setuju, Jack. Billy tidak boleh menikah dengan Zuri."
Aku semakin frustasi. "Hanya Billy satu-satunya orang yang kumiliki saat ini, Abigail. Hanya Billy yang selalu menemaniku selama ini."
"Kan sekarang ada aku dan Zuri yang menemanimu selamanya."
Aku tak menyangka Abigail akan melontarkan pernyataan seperti itu. Aku mengusap wajah, membelakangi Abigail kemudian membuang napas kasar. "Apa kamu ingin Billy pergi meninggalkanku, Abigail? Apa kamu sengaja ingin aku berpisah dengan putraku sendiri?"
"Tidak Jack, aku tidak sejahat itu."
Dengan cepat aku berbalik dan berteriak, "Tidak jahat?! Kalau kamu tidak jahat lalu kenapa kamu tidak merestui hubungan Zuri dengan Billy? Kenapa kamu lebih menginginkan pernikahan kita daripada pernikahan anak kita, hah?"
Abigail diam menunduk.
Aku merasa bersalah. Seumur-umur baru kali ini aku membentak Abigail. Tak ingin Abigail marah, aku segera mendekat lalu memeluknya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu seperti tadi."
Abigail balas memelukku. "Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Jack. Sangatlah berat bagimu mendapatkan di posisi seperti ini. Tapi aku minta maaf, keputusanku tetap sama. Posisimu itu tidak akan mengubah keputusanku," Abigail melepas pelukan kemudian menatapku, "Zuri dan Billy tidak boleh menikah, Jack."
"Alasannya kenapa?"
"Alasannya karena Zuri dan Billy kakak beradik."
"Zuri dan Billy kakak-beradik ... Maksudmu setelah aku dan kamu menikah mereka akan menjadi kakek beradik, begitu?"
__ADS_1
Abigail menjauh dan membelakangiku. "Zuri anak kandungmu, Jack. Zuri darah dagingmu. Itulah kenapa aku tidak ingin Billy menikahi Zuri."
Zuri anak kandungku? Apa aku tidak salah dengar?
Abigail berbalik menatapku. "Aku dinyatakan hamil setelah kecelakaan itu terjadi, Jack. Zuri sudah hadir dalam perutku jauh sebelum kita terpisah."
Kata-kata itu bagaikan petir dalam benakku. Abigail hamil? Zuri anak kandungku?
"Sebenarnya aku sudah berjanji tidak akan pernah mengatakan hal ini padamu, Jack. Aku tidak ingin kau tahu kalau Zuri adalah putrimu."
"Kamu tidak bercanda, kan?"
"Aku tidak bercanda, Jack. Dua minggu setelah kecelakaan itu terjadi, aku dikirim paman keluar kota untuk mengurus perusahan. Beberapa hari di sana tingkahku menjadi aneh. Aku sering mual dan pusing. Nafsu makanku meningkat dan emosiku kadang susah di atur. Aku pikir hanya kelelahan dan banyak pikiran. Setelah di periksa oleh dokter utusan paman, beliau menyatakan bahwa keanehan itu disebabkan oleh kehamilanku."
Entah harus senang atau sedih, yang jelas aku masih belum percaya apa yang dinyatakan Abigail barusan. "Kalau benar kamu hamil anakku, kenapa kamu tidak mencariku?"
Abigail duduk di sofa. "Paman tidak ingin kita bersama, Jack. Paman Robbie tidak ingin aku menjadi menantu di keluarga Daniel."
"Paman Robbie ... Bukankah paman setuju kita menjalin hubungan? Aku bahkan masih ingat betapa antusiasnya paman begitu tahu aku akan mengajakmu bertemu mama dan papa."
"Itu semua hanya sandiwara, Jack. Di depan kita paman menyetujui hubungan itu, di belakang paman justru melakukan sesuatu untuk memisahkan kita berdua. Intinya paman tidak merestui hubungan kita, Jack."
"Bisa aku tahu alasannya kenapa?"
Lagi-lagi aku terkejut. Pamannya Abigail adalah mantan kekasihnya tante Elis? Orang yang selama ini disembunyikan oleh kakek adalah paman Robbie. Sekarang aku tahu alasan kenapa kakek tidak pernah memberitahu siapa kekasih tante Elis. Oh, jadi paman Robbie orangnya. Aku harus bertemu dan mencaritahu semuanya. Aku harus mencaritahu penyebab kematian bibi.
Tanpa memperdulikan Abigail aku segera beranjak dari sana. "Kamu tunggu di sini."
"Kamu mau ke mana, Jack?"
"Aku harus menemui pamanmu. Pamanmu harus menjelaskan sesuatu padaku."
"Itu tidak perlu."
Alisku berkerut menyiratkan minat.
"Paman sudah menceritakannya padaku. Jadi, kamu tidak perlu menemui paman untuk meminta penjelasan. Aku bisa menjelaskannya padamu."
Aku berdiri dalam diam.
__ADS_1
"Aku akan menjelaskan padamu, tapi sebelum itu aku ingin kamu berjanji padaku."
"Apa?"
"Setelah mendengar ini kamu tidak menemui kakekmu. Kamu tidak akan memberitahu hal ini kepada orangtuamu."
Aku mengangguk setuju.
Abigail mengajakku duduk. Begitu aku dan Abigail duduk bersebelahan, aku langsung mendesak wanita ini untuk menjelaskan semuanya.
"Pamanku dan bibimu saling mencintai. Mereka berencana menikah, tapi kakekmu tidak merestuinya. Kakekmu punya pria lain yang lebih mapan dari pamanku. Karena tidak ingin menikahi pria pilihan kakekmu, kakekmu mengirim orang untuk membunuh pamanku."
Meski terkejut tapi aku diam dan terus menyimak.
"Bibimu mengetahui rencana itu. Bibimu menyuruh pamanku pergi agar para penjahat itu tidak menemukannya," Abigail menunduk sesaat, "Di tengah jalan para penjahat itu menghadang mobil paman. Mereka menodong paman dengan pistol dan menyuruhnya keluar dari mobil. Tak punya pilihan paman terpaksa keluar dari mobil."
"Apa pamanmu tahu siapa yang menembak bibiku?"
Abigail meraih ke dua tanganku dan menggenggamnya. "Saat pamanku keluar dari mobil salah satu penjahat mengarahkan pistol ke arah paman. Begitu penjahat itu menarik pelatuk tiba-tiba bibimu datang dan menghalanginya."
Aku terkejut. "Apa mereka menembak bibi?"
"Bibimu datang ketika penjahat itu menembakkan peluru ke arah pamanku. Peluru itu tidak mengenai pamanku, tapi mengenai dahi bibimu karena bibimu berdiri tepat di depan penjahat itu."
"Berarti selama ini kakek membohongi kami. Kata kakek bibi meninggal karena kecelakaan."
"Kamu tahu dari mana masalah itu? Bukannya kamu belum lahir?"
Aku membalas genggaman Abigail. "Papaku yang menceritakannya. Waktu kematian bibi papa merasa ada sesuatu yang janggal. Kakek melarang mereka membuka peti untuk melihat kondisi bibi. Alasan kakek tubuh bibi sudah hancur akibat hantaman mobil. Penasaran karena ingin melihat papa tetap membuka peti itu dan menemuman tubuh bibi baik-baik saja. Tidak ada memar ataupun luka lecet di tubuh bibi. Melainkan ada bekas tembak yang mengenai dahi bibi."
Abigail diam sambil mengusap tanganku.
"Sekarang aku tahu kenapa kakek tidak pernah mau jujur siapa pacarnya bibi. Ternyata kakek tidak ingin kami tahu kalau bibi meninggal karena ulah anak buahnya. Aku tak menyangka seorang ayah tega melakukan itu kepada anaknya sendiri."
Abigail mendekat dan memelukku. "Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Masalah ini cukup menjadi rahasia kita saja."
"Tidak Abigail, aku harus memberitahu rahasia ini kepada papa. Papa harus tahu soal ini."
"Kalau papamu menuntut kakekmu, bagaimana? Kakekmu sudah tua. Apa kamu tidak kasihan dengan kondisinya saat ini jika kalian menyerangnya?"
__ADS_1
Aku berdiri. "Aku tidak peduli, Abigail. Kakek harus bertanggung jawab akan perbuatannya. Gara-gara kakek aku dipisahkan oleh calon istri dan anakku. Gara-gara kakek Zuri membenciku. Seandainya kakek tidak melakukan itu aku pasti sudah menikahimu dan hidup bersama. Zuri akan punya papa dan dia tidak akan pernah membenciku!"
Bersambung____