
#Sudut pandang Zuri.
Sambil duduk lantai aku terus menangis. Di satu sisi aku ingin tertawa karena lucu dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, rasa sakit yang menghantam bokong membuatku tak bisa tertawa. Seandainya ada orang lain aku pasti sudah ditertawakan.
Perlahan aku mulai bangkit. Tangan sebelahku berpegangan di bak mandi kemudian berdiri. "Zuri, Zuri," kataku pada diri sendiri, "Untung mamamu tidak ada, kalau tidak dia pasti akan memarahimu."
Inu bukan yang pertama kali aku terjatuh seperti ini. Di rumah sendiri aku juga sering terjatuh seperti sekarang karena kecerobohanku. Setiap kali masuk ke kamar mandi aku tidak melepaskan sandal. Alhasil begitu sandal ketemu air maka terjadilah penolakan.
Ting! Tong!
Bunyi bel langsung menyapa telingaku. Dengan langkah sangat pelan aku berusaha untuk keluar. Ruangan yang panjang dan luas membuatku memakan waktu sedikit lama.
"Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku minta ruangan yang kecil saja."
Sebenarnya bukan ruangannya yang salah. Kaki dan tubuh aku lah yang sakit, sehingga membuatku berjalan lambat dan terasa lama.
Ting! Tong!
"Tunggu sebentar. Tidak lihat apa, aku seperti wanita jompo. Wanita jompo saja tidak seperti aku."
Sambil mengomel aku terus melangkah kemudian membuka pintu.
Clek!
"Zuri?! Kamu tidak apa-apa, Nak?!"
Aku terkejut melihat om Jacky yang masuk tiba-tiba dan langsung memelukku.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu menangis?"
Tidak kusangka om Jacky akan datang ke sini hanya karena mendengar teriakanku tadi lewat telepon. Aku menjadi tidak enak hati, harus merepotkan atasanku ini hanya karena kecerobohanku tadi.
"Zuri, jawab aku? Apa yang terjadi padamu, Nak?"
Aku tersenyum haru melihat kekhawatiran om Jacky. "Maaf sudah membuat Anda panik. Tadi aku terjatuh di kamar mandi. Aku menangis karena bokongku ke bentur lantai."
"Kenapa kamu bisa sampai jatuh, hah?"
"Aku memakai sandal ke kamar mandi, Om."
__ADS_1
"Ya ampun. Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu hampir membuat papa jantungan."
Papa? Kataku dalam hati. Om Jacky menyebut dirinya papa di hadapanku? Apa itu artinya om Jacky menganggap aku seperti anaknya sendiri?
"Biar aman, bagaimana kalau papa panggil dokter? Papa tidak akan tenang, jika kamu tidak baik-baik saja."
"Tidak usah, Om. Aku tidak apa-apa. Butuh istirahat saja pasti sudah cukup."
"Tidak, Zuri. Oh iya, mulai sekarang kamu panggil aku papa. Kamu dan Billy sama. Jadi tidak ada lagi ucapan formal di antara kita semua. Oke?"
"Tapi, Om___"
"Tidak ada tapi-tapi. Pokoknya itu perintahku dan kamu harus melaksanakannya."
Aku pun hanya diam tanpa membalas ucapan om Jacky. Walaupun tidak enak hati, tapi aku sangat bahagia. Masih ada ternyata orang baik seperti om Jacky yang mau mengijinkan diri disebut papa. Ya Tuhan, seandainya om Jacky bisa menjadi papaku, aku pasti sangat bahagia.
"Zuri!"
Suara Billy mengejutkanku.
"Apa yang terjadi? Kata Anggie papa ke sini karena terjadi sesuatu padamu. Apa itu benar?"
Kulihat ekspresi khawatir di wajah Billy. Apakah ayah dan anak ini begitu menyayangiku, sehingga takut terjadi sesuatu kepadaku? Jika itu benar, rasanya aku seperti memiliki papa dan saudara saat ini.
Billy duduk di sampingku dengan wajah yang masih penasaran. "Apa yang terjadi?"
Aku pun menceritakan kronologinya kepada Billy.
"Hanya kamu bilang? Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, bagaimana? Itu bukan hal kecil, Zuri."
"Aku sudah sering seperti ini waktu di rumahku. Jadi, kalian tidak usah khawatir."
Om Jacky yang duduk di depan kami berkomentar, "Papa tidak mau itu terjadi lagi, Zuri. Mungkin saat ini kamu baik-baik saja. Kalau nanti kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi karena kecerobohanmu itu."
"Benar!" tambah Billy, "Lagi pula untuk apa kamu memakai sandal di kamar mandi? Kalau kamu jatuh lalu kepalamu terbentu, bagaimana?"
Rasanya aku ingin tertawa melihat kelucuan di wajah papa dan anak itu. Namun, di satu sisi aku bahagia karena mereka sangat peduli kepadaku. Rasanya baru kali ini aku mendapatkan perhatian dari orang tua dan saudara laki-laki. Seandainya hidupku lengkap, apa begini kah kasih sayang seorang papa dan saudara laki-laki ketika terjadi sesuatu kepada anak perempuan mereka? Ya Tuhan, ingin rasanya aku mengajak mama bergabung bersama kami di sini. Aku ingin mama merasakan kehangatan keluarga seperti yang kurasakan saat ini bersama om Jacky dan Billy. Aku yakin, jika bertemu Billy dan om Jacky mama pasti akan senang.
Drtt... Drtt...
__ADS_1
Dering ponselku mengejutkan kami semua. Kulihat nama mama sebagai pemanggil. Mampus! Mama pasti menelepon untuk menanyakan gajiku. Bagaimana ini? Dalam keadaan sekarang mana mungkin aku menanyakan soal gaji di depan Billy dan om Jacky?
Drtt... Drtt...
Billy menatapku. "Kenapa tidak diangkat? Bukannya itu panggilan dari mamamu?"
Aku menatap Billy dan om Jacky secara bergantian.
"Ada apa?" tanya om Jacky, "Apa kamu takut mamamu tahu saol insiden ini? Kalau kamu tidak berani bicara, biar papa yang bicara pada mamamu."
Mati aku! Tidak, mama tidak boleh bicara dengan om Jacky. Kalau om Jacky bicara, mama pasti akan menanyakan gajiku. Itu kan memalukan. Tidak, mama dan om Jacky tidak boleh bicara. Biar aku sendiri saja yang menanyakan masalah gaji itu kepada Billy.
"Tidak, bukan soal itu. Tadi mama mengirim pesan padaku, katanya ada sesuatu yang ingin mama bahas bersamaku jika aku tidak sibuk. Karena aku bilang boleh, akhirnya mama menghubungiku. Tapi tidak masalah, nanti aku akan menghubungi mama setelah dokter selesai memeriksaku."
"Ya, sudah kalau begitu. Kita tunggu saja, dokter keluarga sudah dalam perjalanan menuju ke sini."
"Iya, Om."
"Om?" ulang Billy, "Bukankah kamu disuruh panggil dengan sebutan papa?"
Dasar Billy. Om Jacky saja tidak keberatan, kenapa pria ini yang sewot, sih. "Iya maaf, aku lupa."
"Oh, iya. Tadi kamu telepon papa kenapa?" tanya om Jacky.
Mungkin saatnya aku jujur sekarang. "Sebenarnya aku menghubungi Papa karena ada satu hal yang ingin kutanyakan."
"Kamu ingin tanya apa?"
"Dari aku pribadi sebenarnya tidak mempermasalahkan. Apa yang Papa berikan padaku itu sudah cukup. Tapi mama ingin tahu berapa gaji yang kudapat dari pekerjaan ini. Jadi, itu sebabnya kenapa tadi mama menelepon, karena sebelum insiden di kamar mandi terjadi aku sedang membahas soal ini dengan mama."
"Itu bukan salahmu, Nak. Itu salah papa. Sejak awal kita memang tidak membahas soal gaji."
Aku lega melihat ekspresi om Jacky yang tidak keberatan. Kalau di posisi sekarang, mendapat gaji sedikit pun aku tidak akan keberatan. Aku sudah mendapatkan tempat tinggal gratis. Mendapatkan fasilitas gratis dan sekarang mendapatkan papa dan saudara gratis.
"Setiap bulan Billy akan mengirim ke rekeningmu $100.000. Apa itu cukup?"
Mataku membulat. "$100.000? Apa itu tidak kebanyakan, Pa?"
"Kan sekarang kamu anakku. Uang jajan Billy setiap bulan $50.000. Karena kamu anak perempuan, sudah pasti pengeluaranmu akan lebih banyak dibanding anak laki-laki. Kalau kurang papa akan menambahkan lagi."
__ADS_1
"Tidak usah, Pa. Sumpah, itu sudah banyak sekali. Terima kasih banyak, kalian adalah keluarga pertama yang kaya dan baik yang pernah kutemui. Sekali lagi terima kasih."
Bersambung____