My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Calon Menantu.


__ADS_3

"Itu tidak perlu, Ma. Aku yang salah karena tidak menanyakannya. Setelah ini aku akan menghubungi beliau dan menanyakan langsung. Mama tenang saja, ya."


"Ya, sudah. Cepat tanya dan kabari mama. Kalau gajimu di bawah jajan sebulan yang sering mama berikan, lebih baik kamu tinggalkan bos itu lalu pulang sekarang juga."


"Mama tenang dulu, ya. Mama jangan marah-marah begitu, ya. Nanti Mama cepat tua."


"Memang mama sudah tua."


"Tapi cantik," ledekku lalu terkikik.


"Jangan memuji. Cepat hubungi atasanmu itu terus tanya kamu digaji berapa. Mama tunggu sekarang!"


Tut! Tut!


Aku terkejut mama memutuskan panggilan begitu saja. "Mama kok tega?"


Tak mau berlama-lama aku pun mencari kontak om Jacky yang kebetulan memang sudah diprogram ke dalam ponselku kemarin. Sambil menunggu panggilan di respon aku berjalan menuju kamar mandi.


"Halo?" sapa om Jacky dari balik telepon.


Aku tersenyum memasuki kamar mandi. "Om, maaf mengganggu. Aku___"


Brak!


"Zuri! Zuri!"


"Aduh, sakit."


"Halo, Zuri?" kudengar suara om Jacky terus memanggil, "Zuri kamu kenapa?"


Tak tahan betapa sakitnya bokongku akibat kepleset, aku mengabaikan ponsel lalu menangis sekuatnya.


#Sudut pandang om Jacky.


Mendengar bunyi alarm yang sering kusetting setiap hari di ponsel membuatku terbangun. Setiap hari aku bangun pukul 05.00 untuk berolahraga di ruangan gym. Karena di apartemen aku tinggal bersama putraku Billy, dia juga bangun di waktu yang sama untuk melakukan olahraga bersama.


"Pa, sepertinya Papa bahagia sekali," kata Billy sambil menatapku. Saat ini kami berdua sedang bersepeda, "Sejak kemarin aku lihat tersenyum terus."

__ADS_1


"Oh, iya? Mungkin hanya perasaanmu saja."


"Tidak mungkin, tidak biasanya Papa seperti ini. Aku setiap hari bersama Papa, jadi aku pasti tahu jika ada satu saja perbedaan yang terjadi dalam kehidupan Papa."


Aku tersenyum. Karena sudah 15 menit bersepeda, sekarang aku turun dan menuju gerakan selanjutnya. "Menurutmu Zuri itu luar biasa, tidak?" sambil mengangkat beban 10kg ke atas kepala aku melihat ekspresi Billy yang tampak bingung.


"Zuri ... Papa tidak menyukainya, bukan?"


Aku terbahak setelah melepaskan beban-beban yang terbuat dari besi itu. "Memangnya kenapa kalau papa menyukainya?"


Billy turun dari sepeda kemudian menghampiriku. Melihat ekspresinya membuatku menahan tawa. Tak ingin dia curiga aku memasang wajah datar dan terus mengangkat beban itu kembali hingga 15 kali.


"Jangan bilang kalau Zuri telah mencuri hati Papa?"


"Memangnya kalau iya, kenapa?"


Kulihat ekspresi Billy semakin kecut. "Pa, Zuri itu usianya hanya selisih satu tahun dariku. Tidakkah Papa merasa dia seperti anak Papa sendiri?"


Rasa lucu melihat ekspresi Billy membuatku tak mampu mengangkat beban itu lagi. Kulepaskan semuanya ke lantai, duduk lalu menatap Billy. "Lalu masalahnya apa? Dia belum menikah, bukan? Lagi pula dia juga suka dengan papa. Jadi, apa salahnya kalau papa mencoba untuk mendekatinya."


"Jangan ke-GRan, Papa! Zuri itu hanya menghormati Papa sebagai atasan. Mana mungkin gadis muda seperti dia mau lelaki tua seperti Papa."


Billy hanya diam. Rasa malu akibat perasaan yang bisa ditebak dan sulit terkontrol membuat wajahnya semakin merah.


"Papa memang menyukainya, tapi sebagai menantu bukan kekasih."


Billy terkejut. "Maksud, Papa?"


"Jangan berpura-pura bodoh, Billy."


Pria itu tertawa. "Iya,jujur. Aku menyukai Zuri sejak pertama kali melihatnya. Ini hal baru dalam hidupku, Pa. Baru kali ini aku jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Bagus kalau begitu, biar papa tidak susah-sudah lagi untuk menjodohkan kalian."


Wajah Billy berubah sedih. "Kalau Zuri tidak mau, bagaimana?"


"Kita akan buat Zuri menyukaimu."

__ADS_1


"Caranya?"


"Ikuti saja cara papa. Sekarang papa mau lanjut olahraga mandi lalu sarapan. Sebaiknya kamu susul dia ke apartemen dan berikan kartu hitam yang papa berikan kemarin. Suruh Zuri belanja segala keperluan menggunakan kartu itu. Bahkan uang makan dan keperluannya setiap bulan suruh dia ambil di kartu itu."


"Papa serius?"


"Sejak kapan kamu lihat papa bercanda?"


Billy tampak bahagia. "Baiklah, kalau begitu aku akan menemuinya. Semoga saja gadis incaranku itu sudah bangun."


"Ya sudah, semoga berhasil. Ingat, jangan terlalu menampakkan diri jika kamu benar-benar menyukainya. Jaga jarak dulu. Hari ini masih terlalu cepat untuk menyatakan cinta," ledekku sambil tertawa.


"Aku janji, Pa. Doakan aku ya, Pa."


Begitu Billy menghilang dari ruangan aku menggeleng kepala. "Anak muda jaman sekarang."


***


Dengan tubuh wangi maskulin sehabis mandi membuatku terasa segar. Keringat yang keluar akibat berolahraga tadi selama 2 jam membuatku lapar. "Kira-kira Zuri siapkan sarapan pagi apa ya hari ini? Pokoknya kalau masakkannya enak, aku akan mencari waktu, mengundang orangtuanya untuk bicara. Aku harus melamar Zuri untuk Billy."


Begitu masuk ke ruang makan rasa laparku semakin meningkat saat aroma bumbu yang khas rumahan mengenai hidungku. Tidak salah lagi, sarapan pagi ini pasti sangat istimewa. Dan benar saja, aku sampai berkali-kali tambah saking enaknya bubur ayam buatan Zuri. Ini pertama kalinya aku merasakan bubur seenak ini. Bumbunya sangat berasa dan pas di lidahku. Pokoknya aku sangat ketagihan dengan masakan Zuri. Tidak salah lagi, Zuri adalah gadis yang tepat untuk menjadi menantu di keluarga Daniel. Zuri adalah calon menantu idaman.


Karena hanya mengkonsumsi bubur saat sarapan, rasa lapar kembali menyerangku ketika sedang sibuk di kantor. Perutku keroncongan. Pikiranku melayang membayangkan menu masakan siang yang entah apa lagi yang akan disiapkan Zuri. Untung saja aku bukan tipe orang suka memilih makanan. Walaupun asupanku banyak mengandung lemak dan minyak, tapi aku membayarnya dengan olahraga setiap pagi agar tubuhku tetap atletis.


"Pa, ini sudah pukul satu. Apa kita tidak akan pulang untuk makan siang? Zuri pasti sudah selesai memasak."


Aku terkejut saat Billy masuk dan mengatakan itu. "Kamu mengkhawatirkan Zuri atau masakannya?"


"Aku serius, Pa," jawab Billy sambil tertawa, "Aku sudah lapar. Sarapan bubur tadi membuatku kelaparan sekarang." Saat ini Billy duduk lemas di sofa panjang dalam ruanganku.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak beli makan di luar saja?" kataku dengan nada meledek.


"Aku tidak mau, Pa. Mulai sekarang aku tidak akan pernah lagi makan di luar. Pokoknya aku hanya akan memakan masakan Zuriku sayang."


Aku tersenyum melihat Billy. Putraku sekarang akhirnya berubah. Dulunya dia adalah pria yang dingin cuek kepada wanita. Setiap kali menanyakan soal pacar Billy pasti akan marah dan kesal. Sekarang, tanpa ditanyakan lagi anakku ini sudah mengungkapkan siapa wanita yang dia suka. Namun seandainya tidak ada pembahasan di ruang olahraga tadi pagi, pasti aku tidak tahu kalah ternyata putraku menyukai asistenku sendiri.


Hahaha.

__ADS_1


Dasar anak muda. Membayangkan Billy dan Zuri membuatku teringat saja kepada mantan pacar yang entah sekarang ada di mana. "Abigail, aku sangat merindukanmu."


Bersambung___


__ADS_2