
Tanpa terasa Billy membelokan mobil sportnya ke dalam gerbang yang sudah dibuka oleh penjaga keamanan. Tanpa terasa juga sebelah tanganku sejak tadi digenggam oleh Billy. Jika belum tiba mungkin sampai sekarang tangan kananku terus di pegangnya. Kulihat wajah Billy biasa saja saat aku melepaskan genggamannya. Apa maksud semua ini? Apa hanya aku yang merasakan hal ini? Apa hanya aku yang berdebar-debar di genggam oleh Billy, sedangkan pria ini terlihat biasa saja? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku membiarkan Billy menggenggan tanganku sejak tadi?
"Ayo, turun. Papa dan semua anggota keluarga sudah menunggu kita di dalam."
Aku pun mengingat kejadian tadi siang, di mana tante Debora bertemu denganku di parkiran pusat perbelanjaan. Maafkan aku Billy, kali ini aku tidak bisa menceritakan hal itu sebelum aku mengetahui apa hubungan mamamu dengan Aaron.
"Apa mamamu juga ikut makan bersama malam ini?" tanyaku begitu keluar dari mobil. Billy menawarkan lengannya, tapi aku menolak, "Ini bukan acara resmi, bukan? Untuk apa kamu mengandengku, hah?" aku tertawa agar Billy tidak tersinggung.
Billy juga ikut tertawa. "Siapa tahu kamu takut terjatuh dan butuh bantuanku."
Kami berdua akhirnya masuk bersama. Langkah kami sejajar tapi tidak menggandeng tanganku seperti dia menggenggem tanganku di mobil tadi.
"Selamat datang," sara wanita yang tak lain adalah nyonya Lisa menyambutku dan Billy, "Oh Zuri, aku pikir kamu tidak akan datang. Ayo, Sayang, silahkan masuk."
"Tante!"
Suara Emelly memenuhi ruangan. Gadis kecil itu langsung mendekati dan memelukku. Aku menunduk kemudian membalas pelukannya, "Halo, Emelly. Malam ini kamu sangat cantik."
"Tante juga sangat cantik. Om Billy juga tampan."
Sepertinya semua keluarga Daniel penyuka warna hitam. Emelly dengan gaun kecilnya terlihat lucu. Nyonya Lisa juga terlihat anggun. Kemudian sosok wanita cantik yang usianya lebih tua dari om Jacky muncul dengan balutan gaun panjang yang sangat mewah. Wanita itu tersenyum padaku.
"Halo, Zuri. Selamat datang."
Aku terkejut wanita itu mengenalku. Karena tahu dia adalah anggota keluarga Daniel, aku segera membalas sapaan dan pelukannya.
"Aku Ellena, mamanya Emelly."
Oh iya, aku baru ingat. Oh, jadi ini Ellena yang anaknya bibi. Wah, cantik sekali.
"Mama, om Billy dan tante Zuri sangat cocok, ya?"
__ADS_1
Perkataan Emelly membuat semua orang tertawa. Om Jacky yang baru saja muncul dengan dua lelaki paruh baya juga menyapaku.
"Selamat datang, Zuri."
"Selamat datang, Nona cantik," kata lelaki tua yang aku tidak tahu siapa namanya. Dilihat dari wajah lelaki ini sangat mirip dengan om Jacky, "Aku Theo, kakeknya Billy."
Dengan santun aku segera mendekat dan mencium tangan kakek Theo. "Terima kasih sudah menyambutku, Pak."
"Pak?" tanya sosok paruh baya yang duduk di kursi roda, "Jangan panggil pak, panggil kakek. Dan kamu bisa memanggilku kakek buyut."
"Benar," tambah nyonya Lisa, "Kamu harus memanggilku dengan sebutan nenek juga."
"Dan panggil aku mama Ellena."
Ingin rasanya aku menangis melihat ekspresi lembut di wajah mereka. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan mereka bersikap seperti itu. Yang jelas saat ini aku sangat bahagia.
"Terima kasih kalian sudah menyambutku. Aku benar-benar bahagia bertemu keluarga ini."
"Benar, Nak." Jika selama ini kamu tidak pernah merasakan bagaimana mendapatkan kasih sayang dari kakek, nenek, paman dan bibi, kamu bisa menganggap kami semua di sini sebagai keluargamu sendiri."
Perkataan kakek Theo membuat mataku berkaca-kaca.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kami semua bersikap seperti ini padamu, kan?" tambah tante Ellena seraya mengambil sebelah tanganku lalu menggegamnya, "Kau kau tahu kenapa? Itu karena kamu sudah membuat dua gunung es di rumah ini mencair. Selama ini Jacky dan Billy selalu bersikap dingin di rumah ini. Bahkan tiap kali ada perayaan makan malam seperti ini mereka tidak akan datang. Mereka selalu sibuk dan pekerjaan menjadi alasannya. Namun sejak kamu hadir di tengah-tengah mereka, mereka menjadi hangat dan kembali seperti dulu. Inilah suasana yang kami inginkan sejak dulu dan berkat dirimu semuanya kembali."
"Jadi, sekarang kamu bisa menganggap kami sebagai keluarga," kata om Jacky akhirnya buka suara, "Kamu bisa menganggap mama sebagai nenekmu. Papa sebagai kakekmu. Kakek sebagai kakek buyutmu. Ellena sebagai bibimu dan aku sebagai papamu."
Tanpa berkata lagi aku segera memeluk om Jacky. Aku menangis dalam pelukannya karena bahagia menyelimuti tubuhku. Sambutan keluarga Daniel malam ini benar-benar menyentuh hatiku. Aku merasa seperti menemukan keluargaku. Keluarga yang kurasa pernah hilang dan kini kembali lagi.
"Kalau aku dan om Billy sebagai apa?"
Pertanyaan Emelly membuat semua orang terkejut. Aku melepaskan pelukan kemudian menatap gadis kecil itu.
__ADS_1
"Aku juga dianggap, Tante."
"Tentu saja, Sayang. Kamu sekarang adalah adiknya tante. Jadi kamu bisa memanggil tante dengan sebutan kakak Zuri."
"Hore! Kalau begitu aku akan memanggil tante dengan sebutan kakak, sedangkan om Billy dengan sebutan kakak juga. Hore, aku akhirnya aku punya dua kakak. Hore!"
Kebahagian Emelly membuat semua orang tertawa. Kutatap wajah Billy sedang menatapku dengan senyum yang sangat manis. Aku balas tersenyum dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu apa artinya.
"Ayo, kita makan dulu. Nenek sudah siapkan makanan enak untuk kalian."
Suara nyonya Lisa membuat kami semua antusias. Tapi tunggu, kenapa aku tidak melihat tante Debora? Aku ingin bertanya, tapi takut suasana bahagia di ruangan makan saat ini akan berubah karena pertanyaanku.
"Zuri, kakek dengar kamu jago masak, ya?" tanya kakek Theo, membuatku tersenyum malu.
Aku tersenyum malu. Posisiku saat ini duduk berdampingan dengan tante Ellena. Di sisi kanan tante Ellena ada nenek Lisa. Di depan nenek Lisa ada kakek Theo. Di depan tante Ellena ada om Jacky. Di kepala meja ada kakek buyut. Di depan kakek buyut ada Emelly yang sedang duduk manis, sedangkan di depanku ada Billy yang tampak senang dan tenang saja sejak pertama kali masuk ke rumah ini.
"Kakek terlalu memuji. Masakanku biasa saja, Kakek."
"Dia bohong, Pa," balas om Jacky, "Masakannya sangat enak. Ma, kapan-kapan Mama harus mengajaknya ke restoran untuk demo masak. Aku yakin, restoran Mama akan semakin laris jika juru masaknya adalah Zuri."
"Oh iya. Mamamu ada di mana, Zuri?" tanya kakek buyut, "Kata Jacky, mamamu adalah pimpinan perusahan juga, ya?"
"Benar, Kakek. Mama bersama sahabatnya mengelola perusahan milik keluarga kami."
Saat ini semua orang sudah mulai mencicipi makanan masing-masing. Emelly sibuk dengan menu kesukaannya, ayam goreng. Sedangkan yang lain sambil menyuapi makanan juga sambil mengobrol.
"Kakek ingin tahu, kenapa kamu lebih memilih menjadi juru masak dibanding membantu mamamu di perusahan, hah?"
"Aku hanya ingin mencari pengalaman saja, Kakek."
"Kalau kamu ingin mencari pengalaman, bagaimana kalau kamu bergabung di perusahan bersama Jacky dan Billy. Kebetulan, posisi sekertaris sekarang lagi kosong. Jacky, apa kamu tidak keberatan jika Zuri menjadi sekertarismu?"
__ADS_1
Bersambung___