
"Apa Gilbert dan Stella telah mengurasmu?"
"Iya, Jacky. Gilbert dan Stella mengancamku. Jika aku tidak memberikan apa yang mereka minta, mereka berdua akan membongkar semuanya kepada kalian. Aku takut kalian akan mencobloskanku di penjara waktu itu. Tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk jujur kepada kalian. Aku ingin mengatakan kepada kalian yang sebenarnya. Aku juga sudah siap menerima segala konsekuensi sesuai dengan apa yang aku perbuat. Mungkin kalian berpikir Gilbert adalah selingkuhanku. Itu memang benar, karena posisiku adalah istrinya Jacky. Namun, di balik hubungan itu sebenarnya ada tanggung jawab yang memang seharusnya aku tuntut darinya. Dia adalah papa kandungnya Billy. Jadi sudah sepantasnya aku terus bersamanya sampai masalah ini terbongkar."
"Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Tapi aku ingin tahu, kenapa kau membohongiku dengan berpura-pura bahwa Billy adalah putraku?"
Debora menarik cairan hidungnya. "Waktu itu aku memang sempat mengandung anakmu, Jack. Namun, aku mengalami keguguran. Aku takut mengatakannya padamu. Terlebih aku tahu kamu tidak sedikitpun mencintaiku. Aku juga demikian, sebab itu aku meminta bantuan Gilbert untuk memberikanku keturunan. Hidupku sudah hancur waktu itu, Jack. Suami dan anakku sudah pergi karena kakekmu. Sebagai penggantinya, aku harus melakukan itu demi masa depanku. Sekarang mungkin sudah waktunya aku menerima hukuman. Aku sudah siap jika kalian ingin menghukumku."
Suasana hening sesaat sampai akhirnya suara mamaku terdengar. "Semua sudah terjadi, Debora. Sekalipun kami menghukummu, itu tidak akan bisa mengubah keadaan. Kamu menerima perjanjian itu demi keluargamu. Kamu juga melakukan itu karena desakan kakeknya Jacky. Jadi, kamu tidak sepenuhnya salah, Debora."
Debora bangkit dan memeluk mamaku. Mama juga memeluk Debora. "Aku sudah siap, Mama. Aku siap menjalani hukuman. Aku harus dihukum. Aku siap menerima hukuman itu."
Mama menangis. "Kalau kamu di penjara lalu Billy, bagaimana? Apa kamu yakin Gilbert akan mengurus Billy dengan baik."
"Selama ini aku juga tidak mengurus Billy dengan baik, Ma. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Billy tahu dia bukan anaknya Jacky. Tapi biar bagaimana pun Billy harus tahu. Billy harus terima, bahwa keluarga Daniel bukanlah keluarganya."
Semua orang terdiam sampai akhirnya sosok cantik muncul, membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Kita berdua yang akan memberitahukan hal itu kepada mereka, Debora."
"Abigail?" seru Ellena, "Abigail, apa itu kamu?"
Abigail tersenyum. "Maaf sudah tidak sopan. Aku sudah mengintimidasi perbincangan kalian."
Debora bangkit dan menghampiri Abigail. Debora memeluk Abigail sambil menangis. "Aku minta maaf, Abigail. Aku minta maaf."
"Ini semua bukan salahmu, Debora."
Mama, papa dan Ellena menatapku. Tatapan mereka membuat wajahku memerah.
"Aku salah, Abigail," Debora melepaskan pelukannya, "Karena aku kamu dan Jacky batal menikah. Karena aku Zuri membenci papanya. Aku sudah tahu kalau Zuri anak kandungnya Jacky?"
"Kamu mengetahuinya?"
Abigail menatapku. "Aku tidak memberitahukannya."
__ADS_1
"Jangan salahkan Jacky. Jacky benar, dia tidak memberitahukannya. Aku lah yang mendengar sendiri waktu mereka berbincang-bincang."
Aku terkejut. "Berarti kau telah mendengar semua yang kukatakan sebelum ini?"
"Iya, Jacky. Aku ke sini memang berniat ingin mengungkapkan kebenaran itu. Namun langkahku terhenti saat mendengar kakek marah. Aku minta maaf sudah menguping, tapi aku tidak ingin menginterupsi dan mengganggu perdebatan kalian."
"Tapi dengan begitu akhirnya semua kebenaran terbongkar."
Papa mendekati Abigail. "Aku mewakili papaku. Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada pamanmu."
"Anda tidak perlu minta maaf, Tuan."
"Papa juga minta maaf padamu, Debora. Karena kakek kamu ditinggalkan oleh suami dan anakmu."
Mama berdeham. "Oh iya, apa kamu tahu di mana anakmu sekarang berada? Jika kamu butuh bantuan, kami siap menjemput anakmu agar dia bisa tinggal bersamamu."
"Terima kasih, Ma," balas Debora kemudian menatap mama, "Anakku sekarang sudah bahagia dengan keluarga barunya. Bukannya tidak ingin dia kembali. Melihat dia bersama mereka sudah membuatku bahagia. Dia sangat bahagia bersama mereka, Mama."
"Itu artinya kamu sudah bertemu dengannya?"
"Memangnya di mana anakmu?" tanyaku penasaran.
"Anakku ada di kota ini. Dia tinggap bersama keluarga kaya yang memberinya kasih sayang yang tidak pernah kuberikan."
"Siapa keluarga itu?" tanya mamaku, "Apa kami mengenalnya?"
Debora meraih tangan Abigail lalu menggenggamnya. "Anakku tinggal bersama pamannya Abigail, Ma. Aaron menabrak mobil dokter Robbie saat dia melarikan diri waktu Stella memprovokasinya. Sejak saat itu dokter Robbie mengadopsi Aaron dan memberikan semua yang dibutuhkan Aaron. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi soal Aaron. Aaron putraku sudah bahagia bersama keluarga Oliver. Bersama mereka dia jauh lebih bahagia daripada bersamaku."
"Jangan berkata begitu, biar bagaimanapun kamu adalah ibunya."
"Abigail, aku boleh minta tolong?"
"Tentu saja."
"Kalau aku di penjara, tolong jelaskan kepada Aaron apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin menjelaskan padanya, tapi Aaron sering menghidar setiap kali melihatku."
__ADS_1
Abigail tak menjawab. Abigail hanya tersenyum kemudian memeluk Debora.
Mama mendekat mereka dan memeluk mereka. "Aku senang bertemu wanita kuat seperti kalian."
"Benar, kalian wanita-wanita hebat," kata papaku yang kini ikut bergabung bersama mama. Papa juga memeluk Debora dan Abigail, "Berkat kesabaran kalian akhirnya semuanya terbongkar. Jika bukan melalui kalian pasti kejahatan papaku tidak akan terbongkar."
Aku terharu melihat pemandangan di depan mata. "Jadi bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki semua ini?"
Papa mengambil posisi di dekatku. Mama menarik tangan Abigail dan Debora agar duduk di sampingnya. Ellena tesenyum lebar.
"Aku akan membuat teh untuk kalian. Abigail, aku senang melihatmu lagi."
"Aku juga, Elle."
Setelah Ellena pergi mama menatap Abigail. "Jadi kamu adalah mamanya Zuri?"
"Iya, Nyonya."
"Kalau begitu jangan panggil aku nyonya, panggil aku mama."
Debora melakukan hal yang sama. "Begitu aku dan Jacky resmi bercerai, aku ingin kamu menikah dengan Jacky."
Abigail duduk di samping kiri mamaku. Wajah Abigail merah padam. Aku tersenyum dan gemas melihatnya.
"Debora," panggil mama. Debora yang duduk di sebelah kanan langsung menatap mamaku, "Meskipun Billy bukan anaknya Jacky, tapi kami sudah menganggap Billy seperti cucu sendiri. Ijinkan kami terus bersama Billy."
"Aku tidak akan melarangnya, Ma. Biar bagaimanapun kalian sudah membesarkan Billy. Hanya saja aku tidak yakin Billy akan menetap di sini begitu dia tahu soal ini. Aku bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang akan Billy katakan jika dia tahu dia bukan anaknya Jacky. Mama sudah lihat sendiri kan bagaimana kedekatannya dengan Jacky. Rasanya aku ingin bersembunyi di lubang yang dalam agar Billy tidak membenciku. Aku sudah kehilangan Aaron. Aku tidak ingin kehilangan Billy lagi."
Abigail menjawab, "Aku dan Zuri sudah memikirkan itu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi."
"Kamu dan Zuri? Apa Zuri sudah menceritakannya padamu?"
"Sebelum kamu mengatakannya padaku, Zuri telah menceritakannya padaku jauh sebelum itu. Itulah kenapa Zuri ingin aku menikah dengan Jacky, agar begitu rahasia ini terbongkar Zuri bisa menikah dengan Billy tanpa menjauhkannya dari Jacky."
Bersambung___
__ADS_1