My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Rencana Jahat Anggie dan Tante Debora.


__ADS_3

"Gadis yang kuceritakan pada Tante tadi."


Aku semakin bingung. "Bukankah kau bilang gadis itu pacarnya om Jacky? Lalu apa hubungannya dengan Billy?"


Anggie membuang napas panjang kemudian menyandarkan punggung ke sofa dengan santai. "Tante tidak tahu ya kalau gadis itu masih sangat muda? Sepertinya dia seumuran dengan Billy. Bisa jadi kan Billy juga menyukai gadis itu, apalagi hampir setiap hari aku lihat Billy selalu menemaninya."


"Itu tidak mungkin, Anggie. Billy tidak mungkin merebut milik papanya."


"Kita tidak tahu interaksi mereka setiap hari, Tante. Siapa tahu Billy sengaja mendekati gadis itu untuk merebut hatinya tanpa peduli dengan om Jacky."


Aku menggeleng lagi. "Billy sendiri yang bilang tadi, kalau sebentar lagi om Jacky akan menceraikan tante kemudian menikahi gadis itu."


"Aku tidak percaya, Tante. Mungkin itu hanya karangan Billy agar Tante sakit hati. Begini saja, biar semuanya jelas, bagaimana kalau kita culik gadis itu kemudian beri dia pelajaran? Aku curiga gadis itu sengaja mendekati om Jacky dan Billy hanya karena harta. Karena setahu aku gadis itu baru sebulan lebih bersama mereka, tapi sudah memiliki apartemen dan mobil mewah. Apalagi jika sudah lama bersama mereka. Bisa-bisa salah satu perusahan keluarga Daniel akan jatuh ke tangannya."


Aku berkeringat mendengar itu.


"Apalagi dengan masalah yang terjadi sekarang. Tante tidak tahu kan apa rencana mereka. Bisa saja aset yang ada pada Tante ditarik kemudian diberikan kepada gadis itu. Apakah Tante akan membiarkan gadis itu merebut semuanya dari Tante?"


Aku segera berdiri dan histeris. "Tidak! Gadis itu tidak boleh mengambil semuanya. Itu tidak boleh terjadi, Anggie. Aku tidak akan membiarkan seorangpun merebut semuanya dariku. Titik!"


Anggie tertawa. "Kalau begitu kapan kita akan mengeksekusi gadis itu? Secepatnya lebih baik, sebelum Billy dan om Jacky semakin jatuh hati kepadanya."


"Denis!" pekikku dengan nada sangat keras. Membayangkan asetku akan ditarik saja sudah membuatku gila, apalagi memberikannya kepada orang lain.


Pria yang merupakan tangan kananku datang. "Iya, Nyonya?"

__ADS_1


"Aku ingin kau mengumpulkan semua anak buahmu yang hebat-hebat itu. Sekarang!"


"Baik, Nyonya. Tapi, bisa saya tahu untuk apa Nyonya?"


Anggie menatapku. "Tante tenang dulu. Jangan terlalu gegabah. Kita harus melakukan semua ini dengan halus agar Billy dan om Jacky tidak mengetahuinya. Apalagi di luar sana mungkin banyak anak buah om Jacky yang sedang memantau Tante. Kalau mereka tahu soal rencana ini kemudian mengadukannya kepada om Jacky, bagaimana? Tante tidak ingin semua ini gagal, kan?"


Anggie benar. Kekesalan dalam diri sudah menguasaiku dan hampir saja menghancurkanku. Bagaimana tidak, selama ini aku telah bersusah payah bersikap baik di hadapan keluarga Daniel agar mendapatkan harta mereka, sekarang ada orang asing datang untuk merebutnya dariku. Sudah pasti itu membuatku murka.


Aku sampai meninggalkan keluargaku demi hidup yang enak, kemudian muncul orang lain yang entah dari planet mana dan ingin menghancurkanku. Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan gadis itu merebut harta yang sudah kudapatkan. Tidak akan pernah!


Dengan emosi yang masih tersisa aku duduk di hadapan Anggie. "Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Tante tidak ingin gadis itu merebut semuanya, Anggie. Kamu tahu kan, selama ini tante sudah bersusah paya untuk mendapatkan semua ini."


Anggie adalah anak sahabatku. Sahabat yang tahu segala sesuatu tentangku. Bisa dibilang Anggie dan ibunya adalah kunci kehidupanku. Jadi jika Anggie atau ibunya memberitahukan apa tujuanku sebenarnya menikahi Jacky, kakek buyutlah orang pertama yang akan menembak mati diriku. Aku tidak ingin kerja keras yang selama ini kudapatkan hilang begitu saja. Walaupun sebagaian dari kerja keras itu sudah ada hasilnya. Namun, akan lebih baik jika apa yang sudah kumiliki akan selamanya kumiliki.


"Karena yang tahu gadis itu hanya aku. Bagaimana kalau aku saja dulu yang memantau keberadaannya? Aku tahu tempat-tempat mana yang sering gadis itu kunjungi. Setidaknya orang suruhan Tante sudah standbye di saat aku menghubungi Tante. Aku tidak ingin rencana ini diketahui Billy, karena dia pasti akan lebih membenciku. Lagi pula ini sudah malam, tidak mungkin kita akan menyerbu apartemen itu untuk menculiknya. Kita tunggu waktu yang pas di saat Billy dan om Jacky sedang sibuk di kantor."


Anggie tersenyum.


"Denis, kau sudah dengar kan apa yang harus kau dan anak buahmu lakukan?"


"Siap, Nyonya!"


"Kalau begitu ini kesempatanmu untuk mengatur strategi. Begitu Anggie menghubungiku besok atau kapan, kau dan anak buahmu sudah siap."


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


"Pergilah dan atur strategi sebaik mungkin. Aku tidak ingin Jacky ataupun Billy mengetahui semua ini."


"Siap, Nyonya."


Begitu Denis pergi aku kembali menatap Anggie. Tidak kusangka, ternyata gadis yang mungkin akan menjadi menantuku ini lebih jahat daripadaku. Mungkin sekarang dia rela melakukan apa saja demi Billy. Tapi bisa juga kemudian hari wanita ini akan menghancurkanku jika keinginannya sudah terpenuhi. Itu tidak boleh terjadi. Aku harus waspada dengan wanita gila ini.


"Apa rencanamu nanti begitu Denis dan orangnya berhasil?"


"Aku ingin menyiksanya, Tante. Aku ingin Tante mengurung gadis itu di suatu tempat agar aku bisa leluasa menyakitinya. Dia sok cantik dan sok baik. Aku tidak suka dengan gadis itu sejak pertama kali melihatnya. Aku merasa dia memang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Buktinya, setelah pertemuan di kantor waktu itu dia sudah mendapatkan apartemen dan mobil mewah."


"Mendengar ucapanmu tante jadi penasaran. Seperti apa sih gadis itu sampai dua gunung es milik tante meleleh menjadi cair."


Anggie tertawa. "Sebelum aku merusak wajahnya, aku ingin Tante memberikan dia pelajaran."


"Kau tenang saja, tanpa kau suruh pun tante akan melakukannya."


#Sudut pandang Zuri.


Karena belum mengantuk Billy masuk ke apartemenku untuk berbincang-bincang. Saat ini aku dan Billy duduk di ruang tamu sambil nonton film kesukaan kami. Namun, panggilan dari tante Debora membuat aku harus menghentikan tontonan tersebut agar tidak kelewatan oleh Billy. Tak ingin mendengar pembicaraan pribadi ibu dan anak itu aku pun pamit sebentar untuk mengganti gaun tadi dengan gaun tidur.


Setelah selesai aku kembali menemui Billy yang ternyata sudah selesai bicara lewat telepon. Kulihat pria ini tertawa setelah memutuskan panggilannya. "Kenapa?"


Billy sedikit terkejut melihat penampilanku. Entah kenapa saat ingin mengenakan gaun tipis ini aku sama sekali tidak takut walaupun harus berhadapan dengan Billy. Aku merasa Billy pria yang baik dan tidak akan berani macam-macam.


"Mama, dia menanyakan soal kamu?"

__ADS_1


Aku terkejut kemudian duduk di samping Billy. Tante Debora menanyakanku? Apa tante Debora sudah tahu kalau aku yang tempo hari bersama Aaron?


Bersambung___


__ADS_2