
"Aku tidak menyakitinya, Jacky. Aku justru melindunginya."
"Pembohong! Cepat katakan, di mana kau menyembunyikan Zuri?"
Papaku sangat marah. Ini pertama kalinya aku melihat papa se geram ini kepada mama. Selama hubungan mereka renggang, papa memilih diam daripada banyak bicara. Mungkin sekarang ini papa sudah tidak tahan lagi.
"Dengar dulu, Jacky. Aku tidak menyembunyikan gadis itu. Aku justru menghubungi Billy agar kalian bisa melindunginya."
Alis papa berkerut. Aku jadi penasaran apa yang dikatakan mama sampai ekspresi papa berubah.
"Anggie ingin mencelekai Zuri. Kecemburuannya terhadap Zuri membuat Anggie ingin menghabisinya. Jadi, mulai sekarang aku sarankan kalian harus menjaga Zuri. Kalau bisa kalian jangan isinkan anak itu bepergian sendirian."
"Dari mana kau tahu itu? Jangan mengarang cerita, Debora. Aku tidak akan memaafkanmu meski kau membela Zuri."
"Aku tahu kau marah padaku, Jacky. Kumohon percayalah, aku tidak akan pernah menyakiti Zuri. Aku bersumpah."
Kulihat papa menjauhkan ponselku dari telinga.
"Halo? Halo, Debora!"
"Kenapa, Pa?" tanyaku penasaran.
"Kata mamamu kita harus melindungi Zuri, Anggie akan mencelakainya."
"Sudah kuduga. Tidak mungkin pagi-pagi ada orang yang sekarat di jalan. Zuri juga bilang dia akan pergi dengan seseorang. Aku curiga orang itu adalah Anggie. Zuri pasti sengaja tidak ingin aku ikut karena takut aku tahu orang itu adalah Anggie."
Papaku duduk. "Kita tunggu Zuri dan dengar semuanya. Kalau benar penjelasan Zuri sama seperti yang dikatakan mamamu, berarti mulai hari ini kita harus menyediakan pengawal untuk Zuri."
"Memangnya apa lagi yang dikatakan mama, Pa?"
"Mamamu hanya minta agar kita menjaga Zuri dari Anggie."
Sambil duduk aku berkata, "Aku jadi penasaran, Pa."
"Penasaran kenapa?"
"Penasaran apa yang terjadi sampai Zuri bisa bertemu mama pagi ini dan kenapa mama membela Zuri bukan Anggie?"
Tepat di saat itu bunyi bel terdengar.
"Zuri! Itu pasti Zuri."
__ADS_1
Dengan cepat aku segera berlari membuka pintu.
Clek!
"Selamat pagi, Tuan."
Aku lemas. "Pagi, Bi. Ayo, masuk."
Ekspresi bibi bingung. "Ada apa, Tuan? Kenapa ekspresi Tuan seperti itu?"
"Tidak apa-apa, Bi. Aku pikir tadi Zuri yang datang."
Aku dan bibi berjalan memasuki ruangan. Bibi yang mungkin penasaran akhirnya melontarkan pertanyaan kepadaku.
"Apa yang terjadi dengan non Zuri, Tuan? Apa Tuan dan nona Zuri bertengkar?"
"Tidak, Bi. Hubungan aku dan Zuri baik-baik saja. Aku dan papa sedang menungguku Zuri untuk meminta penjelasan. Sejak pagi Zuri tidak muncul dan sekarang dia dalam perjalanan ke sini dengan supirnya mama."
Ekspresi bibi sangat terkejut. "Supirnya nyonya Debora, kenapa?"
"Itu dia yang sedang kami tunggu. Mungkin sebentar lagi Zuri akan tiba."
#Sudut pandang Zuri.
Mengingat sikap baik tante Debora padaku membuatku sangat yakin kalau wanita itu sangat bijaksana. Walaupun kali ini kesalahannya sangat fatal karena sudah menyembunyikan identitas Billy yang sebenarnya, pasti tante Debora punya alasan tersendiri di balik ini. Buktinya tante Debora rela mengorbankan diri untuk membebaskanku dari Anggie. Aku bisa membayangkan betapa histerisnya Anggie, jika dia tahu tante Debora membebaskanku.
"Nona, kita sudah sampai."
Perkataan pak supir mengejutkanku. Saking banyak hal yang di pikirkan sampai tak terasa mobil mewah milik tante Debora sudah tiba di area parkiran GA. Daniel. "Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama, Nyonya."
Aku keluar dari mobil, masuk ke dalam gedung sambil membayangkan apa yang harus kujelaskan kepada Billy. Dia pasti akan menanyakan seribu pertanyaan yang membuatku tak bisa menjawab sehubungan dengan ponselku tidak aktif dan kenapa aku lama. Aku sangat pusing karena tidak punya alasan untuk mengatakannya. Tidak mungkin kan aku berkata yang sebenarnya.
Lift di lantai atas akhirnya terbuka. Karena masih mengenakan sepatu olahraga aku masuk ke apartemenku untuk membersihkan diri. Sekarang sudah pukul sembilan lebih. Om Jacky dan Billy pasti sudah berangkat ke kantor.
Setelah membersihkan diri dan menggenakan terusan bermotif bunga-bunga berwarna kuning, aku segera keluar apartemen untuk menemui bibi. Wanita itu pasti ada di sana karenq tugasnya sehari-hari membersihkan apartemen yang dihuni Billy dan om Jacky sampai pukul sepuluh pagi. Jam sebelah bibi akan membersihkan hunianku. Jadi sebelum bibi ke tempatku, aku akan mengecek siapa tahu ada yang bisa kubantu.
Ting! Tong!
Aku memencet bel dua kali.
__ADS_1
Ting! Tong!
Clek!
Sosok tinggi, tampan berdiri di hadapanku. Mataku membulat melihat Billy yang sedang menatapku penuh tanya, "Kenapa baru pulang, hah?"
"Aku___"
"Billy?"
Suara om Jacky menghetikan perkataanku. Gawat, berarti papa dan anak ini belum berangkat ke kantor. Atau mungkin mereka sudah pulang? Tidak mungkin. Ini baru hari kamis. Mana mungkin merekq akan cepat pulang, sedangkan hari ini pasti mereka sibuk. Om Jacky dan Billy akan cepat pulang kecuali di hari sabtu.
Tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku Billy berseru, "Iya, Pa?"
"Jangan marahi, Zuri. Bawa dia masuk."
Aku sedikit lega mendengar ucapan om Jacky. Walaupun aku sedikit gugup karena tidak tahu akan memberikan alasan apa. Tidak mungkin aku akan buka suara soal tante Debora dan Anggie. Kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya, sudah jelas om Jacky akan menuntutnya sampai ke akar-akar.
"Kamu masih punya hutang padaku, Zuri," bisik Billy tepat di telingku.
Aku terkekeh geli. "Iya, aku pasti akan melunasinya."
Tanpa emosi pagi Billy menggandeng tanganku masuk ke ruangan. Di sana sudah ada om Jakcy yang sedang duduk dengan pakaian eksekutifnya. Aku sedikit terkejut, karena Billy masih dengan celana pendek dan kaos.
Aku sudah tahu alasan kenapa mereka masih ada di apartemen di jam seperti ini. Namun, tak mau mereka membahas hal yang nantinya tak bisa kujawan, aku melontarkan pertanyaan kepada om Jacky tanpa menatap Billy, "Papa tidak ke kantor?"
"Tidak. Ayo, duduk sini."
Aku menurut dan duduk di samping om Jacky. Billy duduk di hadapan kami.
"Maafkan aku, Pa. Aku tidak membuatkan sarapan tadi pagi. Aku____"
"Tidak perlu di jelaskan, Sayang," sergah om Jacky, "papa sudah tahu. Tadi mamanya Billy telepon dan biara dengan papa."
Aku terkejut. Tante Debora bicara dengan om Jacky? Apa tante Debora sudah menceritakan semuanya?
Billy mengetahui ekspresiku yang terkejut. "Sekarang jelaskan, kenapa sampai kamu bertemu mama."
Mungkin mama sudah mengatakan soal Anggie. "Tadi aku memang sudah dekat apartemen saat anak itu menghampiriku."
"Anak, siapa?" tanya om Jacky.
__ADS_1
"Namanya Dave, Pa," aku menceritakan kronologi sampai akhirnya aku bertemu Anggie, "Awalnya aku pikir Dave itu pengemis. Ternyata Dave dan Deva hanyalah umpan yang dibuat Anggie."
Bersambung___