
Karena larut dalam pikiran Jacky mengagetkanku dengan sentuhan tangan. "Apa yang kamu pikirkan?"
Aku tersenyum dan membiarkan tangan Jacky menggenggan tanganku. Genggaman terhangat yang tak pernah kulupakan seumur hidup. "Tidak ada. Aku hanya heran saja kenapa mereka bisa seakrab itu."
"Mungkin karena sebentar lagi kita akan jadi keluarga."
Aku tak tahu harus menjawab apa. Tak ingin Jacky membahas itu, aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan soal janjinya. "Lalu hal apa yang ingin kamu jelaskan padaku?"
Tepat di saat itu Jacky membelokan mobilnya di restoran mewah yang terkenal di tengah kota setelah restoran milik mamanya Jacky. Restoran itu bernama BK Resto. Restoran itu adalah tempat favoritku bersama Jacky. Waktu berpacaran Jacky selalu membawaku ke sini. Melihat tempat itu yang sama sekali tidak berubah membuat kenanganku kembali teringat.
Jacky memarkirkan mobil, mematikan mesin kemudian menatapku. "Akan kujelaskan semuanya di dalam. Ayo, kita masuk."
Aku hanya bisa tersenyum melihat Jacky keluar lalu membukakan pintu untukku. Aku merasa seperti waktu berpacaran. Siang ini terasa mengadakan kencan dengan mantan kekasihku. "Terima kasih."
"Siap?"
Jacky tersenyum kemudian menggandeng tanganku. Aku terkejut dan langsung menariknya. "Kamu gila, ya? Kalau istrimu melihat kita, bagaimana?"
"Aku akan bercerai, Abigail."
"Iya, belum sekarang. Sekarang kamu masih berstatus suami orang. Aku tidak ingin ada yang melihat kita berdua dan menyebarkan komentar spekulatif. Mereka pasti akan menyalahkanku atas perceraianmu."
"Jangan pedulikan mereka, Abigail. Itu tidak ada sangkutpautnya denganmu."
"Menurutmu, tapi bagi mereka bukan. Sudah, daripada kita berdebat sebaiknya kita masuk sekarang."
Jacky menurut lalu masuk. Aku dan Jacky berjalan berdampingan.
"Selamat datang, Tuan Jack," sapa seorang lelaki tua yang wajahnya sangat kukenali. Lelaki berkepala plontos itu adalah Manager restoran, "Nyonya Gail ... Wah, ini adalah kejutan yang menyenangkan. Sudah lama sekali saya tidak melihat Tuan Jack dan Nyonya Gail makan di sini setelah dua puluh dua tahun lalu. Apa kabar Tuan dan Nyonya? Saya harap Anda berdua baik-baik saja."
Aku tersenyum menyapanya. "Seperti yang Anda lihat, kami berdua sangat sehat."
"Syukurlah, Nyonya. Saya senang mendengarnya."
"Ternyata Anda masih sehat bugar, Mr. Jimmy," balas Jacky seraya menepuk bahu Mr. Jimmy, "Anda benar, sudah puluhan tahun akhirnya kita bertemu lagi."
"Saya senang Anda bisa ke sini lagi Tuan, Nyonya. Mari, ikut saya."
Jacky dan aku mengekor di belakang lelaki itu. Seperti kebiasaan yang selalu dilakukan Jacky, sebelum mengunjungi tempat ini Jacky sudah terlebih dahulu melakukan reservasi. Restoran ini sangat ramai. Sudah sewajarnya sebagai pelanggan kami harus memesan tempat terlebih dahulu.
__ADS_1
Seperti sekarang ini susana sangat ramai. Hampir semua kursi dan meja dipenuhi oleh pengunjung baik dari kalangan atas maupun menengah.
"Silahkan duduk Tuan, Nyonya. Mohon tunggu sebentar, makan siang Tuan dan Nyonya sedang dalam proses."
"Terima kasih, Mr. Jimmy."
Meja aku dan Jacky berada tak jauh dari jendela dan duduk berhadapan. Jacky pling tahu aku suka di posisi itu. Jadi setiap kali berkencan Jacky akan memesankan tempat di dekat jendela. Selain suka melihat pemandangan luar, aku tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kamu jelaskan."
Jacky tersenyum. "Sepertinya kamu tidak sabar mendengarnya. Apa kamu ingin agar kita segera menikah?"
"Jack!"
Aku dan Jacky tertawa. Sejak dulu sikap bercanda lelaki itu tidak pernah hilang. Jacky selalu meledek agar aku tertawa. Entah kenapa sekalipun dibuat emosi aku tidak akan pernah bisa marah kepada Jacky. Mungkin karena aku terlalu cinta kepada Jacky.
"Ayo, jangan banyak alasan. Sekarang cepat katakan apa yang ingin jelaskan dan aku ingin kamu jujur padaku semuanya, Jack."
Jacky tersenyum samar menatapku. "Aku janji akan berkata jujur padamu, Abigail. Soal Zuri yang ternyata adalah putrimu itu memang baru kuketahui belum lama. Pada malam aku meneleponmu, malam itu juga aku baru tahu kalau Zuri ternyata putrimu."
"Kamu bohong," ledekku sambil tersenyum. Aku percaya Jacky tidak pernah berbohong.
Aku kembali mengingat dan tertawa. "Kata Zuri dia menabrakmu saat membawa ice cream. Kamu bahkan tidak memarahinya waktu ice cream itu mengotori pakaianmu."
"Benar. Waktu itu aku membeli ice cream untuk Emelly dan tiba-tiba Zuri datang lalu menabrakku. Membayangkan kejadian itu membuatku tak berhenti tertawa."
Alisku berkerut. "Emelly, siapa itu?"
"Anaknya Ellena."
"Ellena kakakmu?"
"Iya."
"Ya, ampun. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya, Jack. Aku ingin sekali bertemu dengannya."
"Jika mau setelah ini aku akan mengajakmu bertemu dengannya, sekaligus memperkenalkanmu dengan keluargaku."
Aku tersipu malu. "Kamu ini ada-ada saja."
__ADS_1
"Aku serius. Jika kamu mau, setelah makan ini aku akan mengajakmu."
"Jangan banyak bicara. Cepat lanjutkan penjelasanmu."
Jacky dan aku tersenyum lagi. "Karena bertemu Zuri Emelly sudah menyukainya, aku mengajak Zuri makan siang bersama. Kebetulan kami akan makan di tempat yang sama. Menu pesanan kami bahkan sama. Banyak kesamaan membuatku semakin menyukai putrimu, Abigail."
Seandainya kamu tahu Zuri adalah darah dagingmu, kamu pasti tidak akan heran kenapa Zuri punya banyak kesamaan denganmu.
Aku tak menjawab. Aku hanya tersenyum dan terus menyimak.
"Karena Zuri ke kota ini ingin bekerja, aku menawarkan pekerjaan yang bagus kepada Zuri. Sebenarnya aku tidak akan menjadikan putrimu juru masak, walaupun itu adalah hobinya. Zuri tidak pantas bekerja di posisi itu sekalipun itu keinginannya. Aku tak punya pilihan lain, Abigail. Aku melakukan itu karena permintaan Billy."
"Billy?" aku sedikit terkejut.
"Zuri akan kujadikan asisten pribadi di kantor. Namun, di kantor ada Anggie sebagai sekertaris. Debora telah menjodohkan Billy dengan Anggie, tapi putraku tidak mau. Jadi tidak ingin Anggie mengganggu Zuri dan mencelakainya karena cemburu, Billy memintaku untuk menjadikan Zuri sebagai juru masak. Aku pikir itu masuk akal dan untunglah Zuri setuju."
"Tunggu, Jack ... Cemburu, apa maksudmu cemburu?"
Jacky menatapku serius. "Billy menyukai Zuri, Abigail. Putraku itu sangat mencintai putrimu. Itulah alasan kenapa aku memberikan fasilitas mewah kenapa putrimu karena putraku sangat mencintai putrimu.
Tidak, itu tidak mungkin. Aku menggeleng kepala. "Itu tidak benar kan, Jack?"
Jacky menunduk sesaat lalu berkata, "Sebelum tahu Zuri adalah putrimu aku sudah berencana untuk bertemu orang tua Zuri. Aku ingin bertemu ibunya Zuri dan ingin melamarnya."
"Melamar putriku? Kamu gila, Jack."
"Gila kenapa? Tidak ada salahnya kan aku melamar putrimu demi putraku?"
Ingin rasanya aku berdiri dan keluar dari tempat itu. Hal yang kuhindari akhirnya terjadi. "Kamu ini bicara apa, Jack? Putramu memang menyukai putriku, tapi belum tentu putriku menyukai putramu."
"Bukankah aku sudah bilang padamu kalau mereka sangat dekat? Mereka dekat bukan hanya sekedar teman saja, Abigail. Billy dan Zuri dekat karena mereka saling mencintai."
Zet!
Putriku dan putranya Billy saling mencintai? "Kamu sedang berbohong kan, Jack?"
"Aku tidak bohong, Sayang. Sejak kapan aku membohongimu. Alasan aku ingin bertemu denganmu karena itu ... aku ingin melamar Zuri untuk Billy. Aku ingin Zuri menjadi menantuku, Abigail."
Bersambung___
__ADS_1