
"Aku memang pernah menceritakan kebenaran ini kepada Zuri. Karena penasaran melihat Aaron bersamanya, aku menyuruh Anggie untuk membawa Zuri kepadaku. Begitu tahu Aaron ditinggal bersama pamanmu, aku pun langsung berkata jujur soal Billy dan Aaron."
"Awalnya aku menolak ingin dijodohkan dengan Jacky, meskipun Jacky adalah papa kandungnya. Aku juga menolak hubungannya dengan Billy karena belum tahu identitas Billy yang sebenarnta. Namun setelah mendengar semua kebenaran itu dari Zuri, aku rasa keputusan Zuri sudah benar. Menikah dengan Jacky adalah hal terbaik agar tidak mempengaruhi hubungannya dengan Jacky. Awalnya Billy pasti akan marah dan menjauh. Tapi aku yakin cintanya kepada Zuri mampu menyatukan Billy dan Jacky lagi."
"Apa Zuri sudah tahu Jacky papa kandungnya?"
"Zuri tidak tahu dan dia tidak akan pernah tahu."
"Kenapa?" tanya papa dan mamaku secara bersamaan. Ekspresi di wajah kerutan mereka terlihat penasaran.
"Itu yang terbaik, Ma, Pa. Menikah dengan Jacky adalah keinginan Zuri. Itu artinya aku telah menuruti kemauan Zuri. Meskipun status sebagai papa sambung, Jacky bisa memberikan kasih sayang yang seharusnya dia berikan. Jadi, ketika identitas Billy terbongkar, masalah itu tidak akan menyebabkan jarak di antara Zuri dan Billy. Zuri akan menarik Billy dalam hubungan pernikahan agar Billy tidak berjauhan dengan Jacky. Zuri sangat mencintai Billy. Zuri juga tahu Billy sangat mencintai Jacky. Jadi, hanya itu cara satu-satunya untuk menyatuhkan mereka. Karena jika kita memberitahukan hal itu kepada Zuri, aku yakin itu akan memberikan jarak bagi Billy dan Jacky. Billy akan kehilangan wanita yang dia cintai. Sedangkan Jacky akan kehilangan anak gadisnya."
"Tidak hanya Billy dan Jacky, hal itu pasti akan berat bagi aku dan suamiku. Iya kan, Pa?"
"Benar."
"Tapi kalau kita menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, mereka berdua pasti akan mengerti."
"Debora benar," kataku pelan.
"Itu benar, Billy dan Zuri berhak tahu kebenaran ini. Tapi apa kalian mau Zuri dan Billy membenci kakek mereka dan menyalahkan mereka? Tuan Daniel dan pamanku memang salah, tapi butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa menerima ini. Zuri memang harus tahu, tapi sekarang belum waktunya. Kita lupakan saja soal keterikatan tuan Daniel dan pamanku. Kita mulai dari awal saja. Turuti kemauan Zuri dan kita jelaskan kepada Billy dengan baik-baik. Aku yakin, dengan adanya Zuri di dekat Billy pasti akan sedikit meringankan pikirannya. Tapi kalau kita memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada Zuri, aku tidak yakin Billy mampu membujuk Zuri. Zuri sama seperti Jacky, keras kepala. Butuh waktu lama untuk membujuknya."
"Bagaimana kalau suatu saat Zuri akan mengetahuinya?" kata Ellena tiba-tiba. Ellena datang membawa nampan berisi dua minunan hangat.
"Tidak masalah, Elle. Aku justru senang jika Zuri mengetahuinya, asalkan aku dan Jacky sudah menikah. Zuri tidak akan mungkin menyuruh Jacky menceraikanku, bukan. Tapi jika dia tahu sebelum kami menikah, aku tidak yakin Zuri masih mau menikah dengan Billy."
"Aku setuju. Abigail benar. Jika Zuri benar-benar mencintai Billy, dia tidak akan memintaku menjadi papa sambungnya," jawabku kemudian menatap Abigail, "Kalau begitu, kapan orangtuaku bisa mengunjungi paman Robbie untuk melamarmu?"
Abigail terdiam dengan wajah merah merona. "Kalian lupa, sekarang ini Jacky masih suaminya Debora."
__ADS_1
Aku, mama, papa, Ellena dan Debora tertawa.
"Begitu aku dan Jacky resmi bercerai, Mama dan Papa sebaiknya pergi ke rumah Oliver untuk melamarnya."
"Benar," kata mamaku, "Mama dan papa juga harus ke sana untuk minta maaf. Perbuatan kakek kepada dokter Oliver benar-benar kelewatan."
"Tidak usah membahas soal itu, Ma," balas Abigail, "Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana kita akan menyembunyikan pernikahan ini dari Billy. Billy tidak boleh tahu soal pernikahan ini. Sebab kalau dia tahu, dia pasti tidak akan marah pada Jacky."
"Benar, Ma. Aku dan Abigail sudah memutuskan. Begitu pernikahan kami selesai, kami akan menjelaskannya kepada Billy."
"Bagaimana kalau kalian merahasiakan saja pernikahan itu selamanya?" seru Ellena, "Jadi, kamu dan Abigail berpura-pura seolah menjadi besan saja."
Aku protes. "Aku tidak setuju, Ellena."
Enak saja aku harus merahasiakan pernikahanku dengan Abigail. Aku kan ingin bermesraan dengan Abigail di mana pun dan kapan pun. Aku ingin berbagi kepada dunia, bahwa Abigail adalah wanita nomor satu dalam hidupku. Abigail adalah jiwaku, ragaku dan napasku.
Sesuatu tiba-tiba terlintas dalam benakku. "Aku rasa mengadakan pesta pernikahan Billy dan Zuri terlebih dahulu tidak masalah?"
"Identitas Billy kan sekarang sudah kuketahui. Jadi sekalipun aku dan Abigail yang melangsungkan pernikahan terlebih dahulu atau Billy dan Zuri itu sama saja. Intinya kita harus memberitahukan masalah ini kepada Billy terlebih dahulu."
"Kamu benar, Jack," kata papa padaku, "Zuri memintamu menikahi mamanya kan karena dia belum tahu kalau kamu sudah mengetahui semuanya. Sekarang kamu sudah tahu, jadi tidak ada masalah lagi yang harus kamu takuti selain mengungkapkannya kepada Billy."
"Kalau begitu hubungi Billy sekarang dan suruh dia ke sini. Kita harus memberitahukan dia masalah ini agar pernikahannya dengan Zuri cepat terlaksana."
# Sudut pandang Zuri.
Di atas balkon sebuah vila mewah milik keluarga Daniel aku berdiri memandang halaman luas yang ditanami rumput gaja mini seluas halaman. Pepohonan rindang tumbuh di balik pagar tinggi yang mengelilingi vila. Tempat ini sangat sejuk, bersih dan indah. Setiap helaan napas aku menarik rasa percaya diri dan menghembuskan ketakutan saat membayangkan sesuatu yang tidak kuinginkan.
Aku berbalik menatap ranjang. Di sana ada Billy yang kini terlelap begitu Damai. Perjalanan panjang membuat pria yang sangat kucintai itu tertidur. Ya Tuhan, aku takut sekali. Aku takut kehilangan Billy. Bagaimana kalau Billy meninggalkanku karena lamarannya di tolak?
__ADS_1
Maafkan aku, Billy sayang. Hanya ini satu-satunya cara agar kau bisa bersamaku. Maafkan diriku yang begitu egois. Karena menginginkan om Jacky sebagai papa, aku harus menyakitimu sedikit untuk mendapatkannya. Maafkan aku, Sayang.
Tak bisa menahan air mata yang sudah menetes aku berbalik membelakangi Billy. Rasa sedih, bahagia dan ketakutan bercampur menjadi satu. Aku sedih karena rasa bersalah. Aku bahagia karena pernikahan. Dan aku takut karena ditinggalkan.
"Sayang."
Suara berat serta tangan besar yang melingkar di perut membuatku terkejut. "Billy sayang, kamu sudah bangun?" Aku segera menghapus air mata kemudian berbalik menatap Billy.
"Kamu kenapa? Kenapa matamu merah?"
"Oh, iya? Aku tidak merasakan apa-apa."
Billy ******* bibiku sesaat kemudian melepaskannya. "Kamu menangis, ya?"
"Tidak, aku tidak menangis."
"Jangan bohong, Sayang."
Perkataan Billy langsung membuatku lemah. Aku menatap sedih. Sambil mengusap rahang berbulunya aku melontarkan pertanyaan yang mungkin akan sedikit menyakiti Billy. "Seandainya kita tidak direstui, bagaimana? Seandainya mamaku menolak pernikahan kita, bagaimana?"
"Itu tidak mungkin, Sayang. Papaku akan bicara pada mamamu. Papa akan melakukan segala cara untuk membuat mamamu setuju."
"Kalau mama tetap tidak mau, bagaimana?"
Ekspresi Billy langsung berubah. "Apa mamamu tidak menyukaiku?"
"Mama sangat menyukaimu. Buktinya mama mengijinkanmu membawaku ke manapun kamu mau."
"Lalu kenapa kamu bertanya begitu?"
__ADS_1
Aku terdiam menatap Billy. Ya Tuhan, haruskah aku mengatakan pada Billy kalau mama dan om Jacky akan menikah? Haruskah aku mengatakan kepada Billy kalau pernikahan kita gagal? Haruskah aku mengatakan kepadanya bahwa dia bukan anaknya om Jacky? Rasa takut itu kembali lagi. Aku takut Billy akan murka dan meninggalkanku jika tahu dia bukan anaknya om Jacky. Aku harus bagaimana, Tuhan? Aku takut kehilangan Billy. Aku juga takut kehilangan om Jacky. Seandainya om Jacky tahu Billy bukan anak kandungnya, pernikahanku dan Billy pasti akan cepat terlaksana.
Bersambung___