My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Mengelak.


__ADS_3

Saat itulah kakek menatap aku dengan marah. "Kamu tidak perlu menjelasnnya, kakek bisa menjelasnannya kepada papamu."


Papa, mama, Ellena diam menunggu ucapan kakek selanjutnya. Sementara aku menunduk karena tidak mau melihat wajah kakek.


Kakek berdeham. "Aku dan Robbie Oliver tidak ada keterkaitan apa-apa. Aku mengenal Robbie karena dia mantan kekasihnya Elis."


Mama, papa dan Ellena terkejut.


"Mantan kekasih?"


"Kakeknya Zuri pernah menjalin kasih dengan neneknya Billy? Ini sulit dipercaya."


"Apa dokter Robbie adalah mantan kekasih Elis yang selama ini Papa sembunyikan dari kami?"


Pertanyaan papaku membuat kakek gugup. "Oh, bukan. Papa tidak tahu Robbie pacar Elis yang ke berapa. Yang hanya papa tahu kalau Elis pernah menjalin hubungan dengan pria bernama Robbie Oliver."


Tidak tahu? Kakek tidak tahu paman Robbie pacar bibi yang ke berapa? Aku tertawa dalam hati. Kakekku sungguh keterlaluan. Bahkan di saat seperti ini kakek malah tidak mau jujur kepada kami. Apa singgunganku tadi belum jelas soal hubungan asmara paman Robbie dan tante Elis? Sepertinya kakek memang ingin aku membongkar semuanya di depan papa.


"Jack?"


Aku terkejut ketika suara berat papa memanggilku. Kutatap wajah papa yang kini melihatku dengan ke dua alis berkerut.


"Apa maksudmu menyalahkan kakek?"


Sekali lagi aku menatap kakek. "Kakek yakin tidak akan jujur kepada papa tentang masalah ini?"


"Apa yang harus jujur, Jack? Kakek tidak melakukan kesalahan."


"Benarkah?"


Kakek terdiam.


"Sebenarnya ada apa ini?" kata mama, "Jack, cepat katakan, kenapa kamu menyalahkan kakek? Kenapa kamu mendesak kakek untuk jujur? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Benar," tambah papaku, "Sejak tadi kamu mendesak kakek untuk menjelaskan semuanya. Memangnya ada hal yang tidak kami ketahui?"


Lagi-lagi aku memberikan kesempatan kepada kakek. Namun kakek tetap diam seakan tak mengerti. Entah itu benar atau hanya berpura-pura, aku harus membongkar masalah ini kepada mama dan papa. Sudah lama papa ingin tahu siapa pelaku pembunuhan bibi.

__ADS_1


"Baiklah. Jika kakek tidak ingin jujur, biar aku saja yang akan menjelaskannya."


Ekspresi semua orang menegang kecuali kakek. Kakek terlihat pucat dan gelisah. Aku tak peduli walalupun kakek akan marah padaku. Pokoknya aku harus membongkar rahasia yang seharusnya diketahui semua orang.


"Paman Robbie adalah pacarnya bibi Elis," aku memulai sambil menatap ekspresi semua orang. Mama, papa dan Ellena terlihar serius. Sementara kakek semakin pucat, "Paman Robbie adalah pria yang sangat dicintai bibi Elis. Namun, kakek tidak merestui hubungan mereka."


Kulihat ekspresi semua orang terkejut. Kakek yang tadi menatapku penuh ketakutan kini berubah marah.


"Apa maksudmu berkata begitu? Waktu itu kamu belum lahir. Jadi tahu apa kamu tentang itu."


"Dulu aku memang belum lahir, tapi sekarang aku sudah tahu semuanya. Tempo hari Kakek telah menyuruh orang kan untuk membunuh paman Robbie? Kakek melakukan itu agar Kakek bisa menikahkan bibi Elis dengan pria lain. Begitu kan, Kakek?"


Papa terkejut. "Apa itu benar, Pa?"


Kakek hanya diam. Duduknya bahkan semakin tak karuan.


"Kata paman Robbie waktu itu orang suruhan Kakek ingin menembaknya. Sayangnya peluru itu meleset dan mengenai dahi bibi Elis."


Zet!


Semua orang tercengang. Mama, papa dan Ellena menatap kakek dengan wajah tak percaya. Eskpresi mereka terlihat kesal. Mereka pasti jengkel kakek masih tidak mau mengakui hal itu, padahal secara nyata mereka sudah tahu kalau kakek telah merahasiakan sesuatu kepada mereka.


"Jangan asal bicara, Jack. Kamu tidak tahu apa yang sedang kau ucapkan sekarang."


"Kata siapa aku tidak tahu? Aku bahkan tahu kakek sudah berbohong kepada kami semua. Aku juga tahu alasan Kakek tidak menyuruh mama dan papa membuka peti mati bibi Elis karena apa."


Aku diam sesaat menatap kakek yang sekarang terlihat gemetar.


"Jangan asal bicara, Jack," suara kakek terdengar parau.


"Aku tidak asal bicara, Kakek. Memang benar kan apa yang kukatakan, Kakek melarang papa membuka peti mati bibi Elis agar kebohongan Kakek tidak terbongkar? Kakek takut kan papa akan tahu bibi Elis meninggal karena di bunuh?"


Kakek tersentak. "Cukup, Jack! Kau benar-benar keterlaluan," kakek menatap papa, "Theo, itu tidak benar. Putramu ini sudah gila!"


"Dia tidak gila, Pa. Jacky benar, Papa melarangku membuka peti Elis karena takut kehobongan Papa terbongkar. Papa juga sengaja menyembunyikan identitas pacarnya Elis agar aku tidak menemuinya. Aku sudah tahu Elis meninggal bukan karena kecelakaan."


"Jadi kamu lebih percaya kepada putramu? Anak kurang ajar!"

__ADS_1


"Tanpa Jack mengungkapkan hal itu aku tahu sudah tahu sejak lama. Sebelum di kubur aku membuka peti mati Elis. Aku melihat bekas tembak di dahi Elis, bukan wajah rusak seperti yang Papa katakan."


Kakek berdiri. "Berani-beraninya kau melanggar perintahku! Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak membuka peti mati itu?"


Papa juga berdiri. "Kenapa, apa salah aku ingin melihat wajah adikku untuk terakhir kali?"


Kakek terdiam.


"Karena Kakek Robbie Oliver membalaskan dendamnya kepada aku dan Abigail. Wanita yang sudah mengandung anakku terpaksa harus menghilang karena dendamnya kepada Kakek. Aku tak menyangka Kakek akan melakukan itu kepada bibi Elis."


"Elis itu anakku! Aku berhak menentukan siapa pria yang layak untuk menikahinya!"


Tanpa berlama-lama kakek langsung pergi tanpa bersuara. Aku, mama, papa dan Ellena hanya bisa menatap tubuhnya yang bungkuk berlalu di balik tembok.


Papa terkulai di sofa. "Ya Tuhan, kenapa masalahnya seperti ini. Aku tak menyangka papa bisa setega itu kepada anaknya."


Mama gelisah. "Lalu bagaimana dengan Zuri, Jack? Di mana dia sekarang, Jack? Apa dia sudah tahu kamu adalah papa kandungnya? Oh, ya ampun. Mama bahkan masih ingat saat kamu bilang Zuri sangat membenci papanya. Dan sekarang, siapa yang menyangka kalau papa kandungnya Zuri adalah kamu."


"Kita harus merahasiakan kabar ini dari Zuri, Ma."


Ellena terkejut. "Kenapa?"


"Itu cara terbaik, Ellena. Abigail benar. Kita memang harus merahasiakan hal ini dari Zuri agar dia mau bersama kita. Aku akan menikahi Abigail. Dengan begitu aku bisa menebus kesalahanku dan menjadi papa bagi Zuri. Aku tak peduli meskipun Zuri menganggapku sebagai papa sambung. Yang terpenting aku bisa menikahi Abigail secara sah, menjadi papa baginya dan memberikan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan. Setelah resmi bercerai aku akan menikahi Abigail."


Semua orang terkejut kecuali Ellena. "Aku rasa kamu dan dia memang berjodoh, Jack. Buktinya sekarang kamu dan Abigail bertemu dengan cara seperti ini."


"Kamu benar, Ellena. Tapi tetap saja ada rasa bersalah dalam diriku. Aku tidak bersamanya di saat dia membutuhkanku. Abigail mengandung, melahirkan dan mengurus Zuri tanpa aku. Dia pasti kesulitan membesarkan anak kami sendirian."


"Apa kamu sudah bicarakan hal ini dengan Abigail? Apa dia mau menikah denganmu?"


Pertanyaan papa membuatku tersenyum. "Sudah, Pa. Abigail mau menikah denganku. Dia mau menjadi istriku."


"Lalu bagaimana dengan Billy? Bagaimana kalau dia menuntut untuk menikahi Zuri?"


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menolak permintaannya. Bagaimanapun caranya Billy tetap tidak bisa menikahi Zuri."


"Siapa bilang Billy dan Zuri tidak bisa menikah?!"

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2