My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Tugas Baru.


__ADS_3

"Biaya makanku?" aku terkejut.


"Iya. Kata papa semua biaya dan kebutuhanmu setiap hari ambil di sini saja. Jadi kartu ini bukan sekedar membeli bahan makanan untuk aku dan papa, tapi untukmu dan kebutuhanmu sehari-hari."


"Ya, ampun, seharusnya itu tidak perlu. Apartemen dan mobil sudah cukup buatku, Tuan Billy."


Pria itu tertawa. "Aku merasa tau jika kamu memanggilku seperti itu."


"Maaf, tapi itu tidak perlu. Aku bisa membiayai kebutuhan bulananku sendiri."


"Itu sudah keputusan papa, dan keputusannya tidak bisa dibantah. Ini, ambil kartunya."


Dengan terpaksa aku mengambil kartu itu lalu menyimpannya. Ya Tuhan, betapa baiknya om Jacky kepadaku. Betapa beruntungnya Billy mendapatkan papa seperti om Jacky. Seandainya papaku tidak jahat, aku pasti tidak akan ke kota ini dan bertemu keluarga sebaik Billy dan om Jacky.


***


Pukul delapan pagi aku akhirnya selesai membuat sarapan untuk om Jacky dan Billy. Sehabis memasak aku juga sudah mandi biar aroma bawang dan asap yang menempel di tubuhku hilang.


Menu sarapan hari ini adalah bubur ayam. Kata Billy papanya hobi sekali kalau pagi itu sarapan bubur. Jadi aku membuat bubur ayam kaya bumbu dengan ayam goreng kering sebagai toping pelengkap.


"Hmm, wangi sekali."


Suara om Jacky terdengar saat beliau memasuki ruang makan. Karena aku memasaknya di pent house milikku, jadi begitu selesai aku membawanya ke tempat mereka. Sambil meletakaan semua ke atas meja aku melihat om Jacky yang sudah rapi dengan setelan jas gelap sedang tersenyum kepadaku.


"Wangi sekali, Zuri. Menu apa yang kamu masak pagi ini?"


"Ini bubur ayam, Pak. Kata tuan Billy setiap pagi Anda sering sarapan bubur. Jadi pagi ini saya memutuskan untuk membuat bubur ayam bersama ayam goreng kering."


"Aku jadi lapar mendengarnya!" Teriakan Billy membuat aku dan om Jacky tertawa, "Kalau wanginya seperti ini, sudah pasti rasanya sangat enak."


Tak menunggu lama lagi Billy dan om Jacky segera menyerbu meja makan. "Zuri, ayo sarapan bersama kami," ajak om Jacky.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Saya___"


"Saya apa? Ayo, sarapan bersama kami."


Kulihat Billy menahan tawa. Mau tidak mau aku pun bergabung dengan mereka. Posisi om Jacky di kepala meja. Billy di posisi kanan om Jacky, sedangkan aku di posisi kiri om Jacky, berhadapan dengan Billy.


"Oh, iya," kata om Jacky sambil meletakkan porsi bubur ke mangkuknya, "Mulai hari ini aku dan Billy akan pulang makan siang di sini. Jadi, kamu tidak perlu ke kantor lagi untuk menyiapkan makan siang untuk kami."


"Benar. Aku dan papa sudah sepakat, setiap makan siang kami akan datang ke sini, biar kamu tidak repot lagi ke kantor untuk membawa makanan."


"Sebenarnya itu tidak masalah," jawabku sambil melihat om Jacky dan Billy mulai menyuapi bubur, "Itu memang sudah tugasku untuk menyiapkannya untuk Pak Jacky dan Tuan Billy."


"Hmmm, ini enak sekali," kata Billy seakan menginterupsi.


"Iya, papa belum pernah menikmati bubur ayam seenak ini. Bumbunya sangat berasa."


Aku tahu mereka sengaja tak mengalihkan pembicaraan agar aku tidak menolak permintaan mereka.


"Aku belajar dari mama, Pak. Di samping itu saya punya hobi makan. Jadi jika ingin memakan sesuatu saya pasti akan memasaknya sendiri."


"Wah, hebat. Sumpah, ini enak sekali. Boleh aku tambah lagi?"


Perkataan om Jacky membuatku tertawa. Tapi benar, pujian mereka soal bubur ayamku bukan semata ingin mengalihkan pembicaraan. Mereka memuji sesuai fakta yang ada. Kandungan bawang putih dan batang bawangnya aku banyakin biar rasanya semakin enak. Untuk bawang merahnya sedikit saja kemudian di haluskan lalu di tumis sebentar sebelum di campur ke dalam bubur. Biar rasanya semakin lezat tambahkan penyedap rasa ayam. Untuk penyajian, taburkan bawang goreng yang banyak, daun bawang sama ayam goreng yang sudah di sobek-sobek. Hmm, aku jadi pengen nambah lagi membayangkan itu.


***


Selesai sarapan om Jacky dan Billy pamit ke kantor. Walaupun hanya sebagai tukang masak tapi aku sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Baik Billy dan om Jacky sekarang melarangku untuk bersikap formal kepada mereka.


"Mulai sekarang panggil aku om Jacky saja, ya. Aku tidak ingin mendengar lagi kamu memanggil pak atau tuan."


Tidak hanya itu, om Jacky malah menyuruh tukang service untuk membersihkan semua piring kotor selesai sarapan.

__ADS_1


"Pokoknya tugasmu hanya beli menu makan dan mengolahnya. Lebih dari itu ada si bibi yang akan membersihkan piring kotornya."


"Si bibi memang sudah digaji untuk bersih-bersih di sini," tambah Billy, "Selain membersihkan apartemen dan mencuci pakaian, beliau akan mencuci semua piring kotor."


"Satu lagi," kata om Jacky, "Mulai sekarang kamu bisa masuk ke pent house sesukamu. Aku tidak ingin kamu memasak di tempatmu kemudian membawa dan menyiapkannya di sini. Untuk mempermudahnya, aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan peralatan masak di sini agar kamu lebih mudah. Aku akan memberikan kode akses padamu biar pagi-pagi kamu bisa masuk tanpa harus menunggu aku dan Billy bangun."


Sebagai bawahan aku hanya bisa menurut, walaupun ada sedikit penasaran kenapa om Jacky mau berbaik hati padaku. Apalagi jika dibandingkan dengan statusku yang baru menjadi asisten sehari. Semoga saja di balik kebaikan itu tidak ada keinginan lain yang tersembunyi.


"Non," sapa seorang wanita paruh baya yang baru saja muncul. Saat ini aku sedang membereskan bekas piring kotor, biar si bibi datang waktunya tidak terbuang, "Apa anda Nona Zuri?"


"Iya, benar. Apa anda si bibi yang ditugaskan untuk membersihkan apartemen ini?"


"Benar, Nona. Sini, biar bibi saja yang bereskan."


Dilihat dari penampilan dan suara, si bibi sepertinya orang baik. "Tidak masalah, Bi. Oh iya, apa Bibi sudah sarapan? Ini masih ada bubur dan ayam goreng. Lebih baik Bibi sarapan dulu sebelum beraktivitas."


"Tidak usah, Non. Terima kasih."


Si bibi tampak malu-malu. Padahal tenggorokannya sudah naik turun karena mencium aroma bubur dan ayam goreng tersebut. Aku pun membujuk si bibi sampai akhirnya beliau mau menikmati bubur ayam buatanku.


"Non, ini enak sekali. Bumbunya berasa sekali, Non. Apa benar ini bubur ayam buatan Nona Zuri?"


Aku tertawa. "Tentu saja aku, Bi. Kalau bukan aku lalu siapa? Bukankah tugasku di sini untuk menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk tuan Jacky dan tuan Billy."


"Tadi waktu tuan Jack bilang ada juru masak hebat di sini, bibi pikir usianya sudah tua seperti bibi. Tidak tahunya masih sangat muda dan cantik lagi."


"Ah, Bibi berlebihan," aku tertawa sambil melihat si bibi dengan lahapnya memakan bubur buatanku, "Sebenarnya aku ingin melamar di kantornya tuan Jacky. Tapi tidak kenapa, beliau justru merekrutku untuk menjadi juru masaknya."


"Bibi juga akan setuju kalau seperti itu, Non. Bibi kasihan dengan tuan besar. Sejak bertengkar dengan nyonya kehidupan tuan jadi tak teratur. Bahkan pernah tuan Jack masuk rumah sakit karena tidak makan seharian. Asam lambung beliau kumat dan hampir saja meninggal, jika saja waktu itu Billy tidak cepat membawanya ke rumah sakit. Bibi rasa masalah di rumah tangga mereka membuat beliau jadi banyak pikiran dan lupa makan. Jadi jika sekarang tuan Jack merekrut seseorang sebagai juru madak, bibi sangat bahagia. Itu artinya tuan Jack tidak akan sakit lagi."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2