My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Alasan Sebenarnya.


__ADS_3

"Zuri, ada satu hal yang ingin saya jujur padamu."


Suara bariton om Jacky mengejutkan lamunanku. "Soal apa, Pak?"


"Saya ingin jujur kenapa ingin mencari asisten pribadi, padahal sudah memiliki sekertaris."


Satu hal yang membuatku penasaran juga itu. Begitu tahu Anggie adalah sekertaris om Jacky, pikiranku langsung kemana-mana memikirkan apa sebenarnya yang membuat om Jacky ingin menjadikanku sebagai asisten pribadinya.


"Saya mencari asisten pribadi agar ada seseorang yang mengingatkanku ketika sarapan, makan siang dan makan malam. Kesibukkan membuatku lupa akan hal sekecil itu. Memang itu hal kecil, tapi impact-nya luar biasa. Jadi, jika kamu tidak keberatan, saya ingin kamu mengatur jadwal dan asupanku setiap hari."


Aku terkejut. "Hanya itu saja, Pak?"


"Iya, Zuri," balas om Jacky sambil tersenyum, "Selain gaji pokok tial bulan, saya akan memberikan fasilitas apartemen, mobil dan lain sebagainya untuk mempermudah urusan. Kamu akan tinggal di apartemen sebelahku dan satu unit mobil untuk kamu gunakan setiap hari. Jika kamu tidak bisa masak, kamu bisa membeli makanan di luar. Yang penting bersih dan sehat, saya pasti akan memakannya. Jika kamu tidak bisa menyetir, untuk sementara saya akan menyediakan supir sampai kamu bisa mengemudi sendiri."


"Maaf, boleh saya bertanya?"


"Silahkan."


"Bukankah Anda sudah menikah ... Kenapa ...." Aku sengaja tidak meneruskan perkataanku. Sebagai orang yang lebih berpengalaman, tentu om Jacky tahu apa maksud pertanyaan itu.


"Saya tinggal terpisah dengan istri saya. Sesuatu hal yang menyebabkan kami seperti itu. Saya minta maaf tidak bisa menceritakannya padamu."


Aku pun mengerti. "Tidak masalah, Pak. Tapi, apa Anda yakin saya akan aman jika tinggal berdekatan dengan Anda? Eh ... maksud saya, apa istri Anda tidak akan mengira bahwa saya adalah selingkuhan Anda?"


Om Jacky tertawa. "Itu sudah pasti. Tapi kamu tenang saja, kamu akan aman bersama saya. Istri saya tidak akan berani macam-macam."


"Bisa saya tahu kenapa Anda memilih saya?"

__ADS_1


"Entalah, tapi hati saya mengatakan demikian."


Ya Tuhan, betapa beruntungnya diriku. Jika orang lain berbondong-bondong masuk ke perusahan ini dengan segala upaya, aku hanya menabrak pimpinannya saja sudah bisa diterima. Pekerjaanku juga tidak berat. Aku jadi penasaran bagaimana respon Anggie jika tahu hal ini. "Baiklah. Kalau begitu kapan saya bisa mulai kerja?"


"Kamu serius menerima tawaranku?"


"Saya serius, Pak."


"Kalau begitu hari saya akan mengajakmu untuk melihat apartemen, mobil dan apa saja yang kamu perlukan."


Ya ampun, aku bahagia sekali. Itu artinya mama tidak perlu mencarikanku apartemen lagi. Tapi tunggu, kalau aku memberitahukan pada mama apa profesiku, mama pasti tidak akan percaya dan menyuruhku pulang. Tidak, aku tidak boleh memberitahu mama. Aku harus merahasiakan profesi ini bagaimanapun caranya. Oh mama, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini agar bisa sembuh dari luka lama yang disebabkan oleh lelaki brengsek seperti papa. Mengingat soal papa membuatku emosi. Seandainya aku punya papa seperti om Jacky, hidupku pasti akan menjadi paling bahagia di dunia ini.


Bunyi getaran ponsel milik om Jacky menurunkan lamunanku yang tinggi. Kulihat beliau tersenyum samar kemudian menyuruhku menunggu.


"Ada apa, Billy?"


"Papa tunggu sekarang. Ada sesuatu yang ingin papa perintahkan untukmu."


Kulihat om Jacky memutuskan panggilan. "Maaf, Zuri. Sepertinya saya tidak bisa menemanimu mencari apartemen dan mobil. Tapi kamu tidak keberatan kan jika pergi bersama Billy?"


Apa? Teriakku dalam hati. Apa aku tidak salah dengar? "Tapi Pak, apa tidak apa-apa jika putra Anda tahu kalau aku ...."


"Kamu tenang saja. Billy tidak akan keberatan, dia sudah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan keluarganya. Sebab itu dia sama sekali tidak memihak diriku maupun ibunya. Dia anak yang luar biasa bijaksana. Dia tahu mana yang baik dan tidak baginya. Sejak kecil saya selalu mendidik Billy menjadi anak yang mandiri. Sekarang ... Seandainya bukan karena dia, sudah lama saya menceraikan istriku itu."


Aku tidak tahu dan tak mau tahu apa yang terjadi di antara om Jacky dan istrinya. Dalam hidup ini ternyata bukan hanya aku saja yang mengalami masalah dalam keluarga. Aku ditinggal papa sejak masih di dalam perut mama. Aaron di tinggal ibunya demi laki-laki lain hingga menyebabkan dia harus kehilangan sang ayah, dan sekarang entah karena apa om Jacky ingin menceraikan istrinya. Hidup ini ternyata tidak sebahagia yang kita bayangkan. Om Jacky yang terlihat bahagia dengan segala kekayaannya ternyata memiliki masalah keluarga yang kurang bahagia. Aaron yang terlihat tegar ternyata memiliki masa lalu yang pahit. Aku, mama dan kakek ... Orang yang melihat kehidupan kami selalu menilai kami sangat bahagia. Padahal di balik kebahagian kami tersimpan luka dan kebencian yang begitu dalam. Sebagai wanita mamaku memiliki luka yang menyebabkannya tidak pernah mau menikah lagi. Sementara aku ... aku sangat membenci papaku. Aku bersumpah akan membencinya seumur hidupku.


Tok! Tok!

__ADS_1


Bunyi ketukan pintu membuatku terkejut. Om Jacky segera bangkit dan mengajakku duduk di sofa panjang yang tersedia di ruangan itu.


"Masuk!"


Sosok tinggi dan tampan masuk dengan setelan jas gelap yang sangat pas di tubuh. "Pa, aku ...."


Seketika perkataan pria itu terhenti saat menatapku. Aku yang sudah tahu siapa sosok tersebut langsung berdiri dan menunduk hormat.


"Billy, kenalkan ... Ini Zuri, asisten pribadi yang papa ceritakan padamu."


Wajah yang sangat mirip dengan om Jacky itu tersenyum. "Aku Billy. Senang bertemu denganmu, Nona."


Rasa penasaranku akhirnya hilang. Sosok tampan di depanku bagaikan pinang belah dua dengan om Jacky. Aku bisa bayangkan betapa beruntungnya istri om Jacky yang memiliki suami dan anak setampan Billy.


"Papa ingin kamu menemani Zuri mencari mobil dan melihat-lihat apartemen. Pilihkan apartemen yang berdekatan dengan kita, karena mulai besok Zuri akan bekerja sebagai asisten pribadi papa."


Tunggu, tunggu. Tadi kalau tidak salah dengar om Jacky menyebutkan kata kita? Apa itu artinya papa dan anak ini tinggal di satu atap? Itu artinya aku harus menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk mereka, dong? Ya Tuhan, berapa beruntungnya aku bisa menjadi pelayan seksi bagi kedua laki-laki tampan seperti om Jacky dan Billy. Pasti banyak wanita yang akan iri padaku, jika tahu aku bekerja untuk kedua lak-laki ini. OMG, aku tak sabar lagi menunggu besok.


"Baiklah. Apa Anda sudah siap, Nona Zuri? Nona Zuri? Nona Zuri?!"


"Ah, iya. Maaf."


Aku terlarut dalam pikiranku sehingga tak mendengar suara Billy yang ternyata sejak tadi memanggilku.


"Apa kita bisa pergi sekarang?"


"Ah, tentu saja. Ayo."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2