My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Penyesalan Kakek Buyut.


__ADS_3

Dengan posisi kedua kaki mengangkang di atas pangkuan Billy aku dan pria ini berciuman. Kedua tanganku mengalung di lehernya. Kedua tangan Billy melingkar ke pinggangku.


"Kamu senang?" bisik Billy ketika bibirnya melepaskan bibirku.


"Sangat senang."


Billy kembali menciumku. Gerakan lembut yang kami lakukan tadi kini berganti tautan panas dan ganas. Kurasakan sesuatu yang keras di balik celana Billy. Bagian keras itu mengenai tepat di kewanitaanku yang basah dan berdenyut-denyut sejak tadi.


#Sudut pandang om Jacky.


Hari ini entah kenapa perasaan dan pikiranku sangat bahagia walaupun di tengah masalah rumah tangga yang kualami bersama istriku. Sebagai suami yang bertanggung jawab aku tidak ingin perceraian ini terjadi, walaupun sebenarnya Debora tidak pernah mendapatkan posisi di hatiku. Namun sikap Debora sudah sangat kelewatan.


Bukan hanya tanggung jawab terhadap suami dan anak yang sudah tidak ada lagi, tapi sikapnya yang seperti pencuri itu membuatku tidak terima. Sudah cukup kumenahan perlakukan ini selama bertahun-tahun. Jadi sudah kuputuskan untuk berpisah.


Membayangkan masalah itu membuat mood kerjaku hilang dan memutuskan untuk pulang lebih awal. Kuambil ponsel di depanku untuk menghubungi Billy. "Papa akan pulang sekarang. Kamu akan ikut atau ingin menyelesaikan pekerjaanmu?"


"Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan ikut Papa, aku tidak sabar lagi ingin bertemu Zuri."


Aku hanya tertawa kemudian memutuskan panggilan. Zuri tidak hanya mengalihkan Billy, tapi juga perhatianku dan semua keluargaku. Gadis itu sangat pintar dalam memasak. Tidak hanya semua menu masakan, sikap dan tingkah Zuri membuatku teringat kepada Abigail.


Seandainya Billy tidak menginginkan Zuri untuk menjadi pasangannya aku pasti sudah menjadikan Zuri saat ini sebagai calon istriku sendiri. Tak peduli perbedaan usia yang terpaut jauh, aku ingin menjadikann Zuri pasangan hidupku.


Aku merasakan sosok Abigail hadir dalam jiwa Zuri. Namun hal itu harus kutepiskan demi putraku Billy. Tidak masalah walaupun Zuri takkan bisa kudapatkan. Menjadikan Zuri sebagai menantupun aku rasa sudah cukup. Membayangkan kehadian gadis itu membuatku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya.


Begitu tiba di rumah aku senang melihat mamaku sedang duduk bersama Zuri. Ekspresi mama saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Tahu Debora mengkhianati kami membuat mama sangat kecewa dan marah. Saking kecewanya mama menghabiskan waktu seharian di restoran. Karena susana rumah tidak nyaman lagi aku dan Billy memutuskan tinggal di apartemen sejak itu.


Sekarang kekecewaan dalam diri mama hilang sejak Zuri hadir di tengah keluarga ini. Gadis ini membuat perubahan besar dalam hidup kami. Hal ini membuatku semakin tidak sabar lagi untuk mengikat Zuri agar tetap bersama kami.


Mengingat apa yang pernah dikatakan Zuri soal tanggungjawabnya di kemudian hari membuatku gelisah. Entah itu kapan suatu saat Zuri pasti akan meninggalkan kami semua. Aku tidak ingin itu terjadi dan aku harus melakukan sesuatu untuk membuat gadis ini agar tetap di sini. Zuri sudah seperti Abigail dan aku tidak ingin dia pergi meninggalkanku lagi.


"Permisi, Tuan," interupsi seorang ajudan mengalihkan pandangan kami semua, "Tuan besar ingin bicara dengan Tuan Jacky."


Kakek ingin bertemu denganku? Apa ini ada sangkutpuatnya dengan Debora? Kutatap wajah Zuri yang cantik lalu berkata, "Tunggu sebentar, ya. Papa akan segera kembali."

__ADS_1


"Iya, Pa."


Sambil berjalan aku bertanya dalam hati. Kakek akan memanggilku bicara seperti ini kecuali ada hal penting yang akan dibicarakan.


Tok! Tok!


Begitu tiba di depan ruangan aku segera mengetuk pintu. Kakek menyahut dan aku segera masuk. Kulihat ekspresi kakek tampak serius.


"Jack. Ayo, silahkan duduk."


Aku tersenyum kemudian menarik kursi di depan kakek.


"Maaf kakek mengganggumu sebentar."


"Tidak apa-apa, Kakek."


Kakek menarik napas panjang. "Bagaimana urusanmu dengan Debora?"


"Pengacara sudah mengurus semuanya. Besok beliau akan menemui Debora untuk meminta persetujuannya mengenai pengalihan aset."


"Semua sudah terjadi, Kakek. Jadikan pelajaran hidup saja."


"Kakek ingin kamu menceraikannya, Jack. Kakek tidak hanya ingin Debora keluar dari rumah ini, kakek juga ingin dia keluar dari keluarga Daniel."


"Aku tinggal menunggu pengalihannya selesai. Begitu pengacara mendapatkan tanda tangannya aku akan segera menceraikan Debora."


"Secepatnya lebih bagus."


Aku diam tak menjawab. Emosi dalam diri membuat wajah kakek merah padam.


"Oh iya. Soal Billy dan Zuri, bagaimana? Kapan kita akan melamar anak itu? Kakek sudah tidak sabar lagi ingin menjadikannya sebagai cucu mantu."


Aku tersenyum menatap kakek. "Kita harus bertemu keluarganya dulu, Kakek. Nanti aku akan bicara dengan Zuri. Aku ingin Zuri menyuruh mamanya datang, biar kita bisa membahas soal lamaran mereka."

__ADS_1


"Tidak sopan jika kita yang menyuruhnya datang. Ada baiknya dari pihak kita yang menemui mamanya untuk bertukar pikiran. Tapi bukankah kamu bilang Zuri punya keluarga di kota ini? Bagaimana kalau kita menemui beliau sebelum kita menemui mamanya?"


"Kakek benar. Nanti aku akan tanya ke Zuri siapa dan di mana keluarganya tinggal lalu kita ke sana untuk bermusyawarah."


Kakek membuang napas panjang. "Kali ini kakek tidak akan salah menilai. Zuri memiliki latar belakang yang bagus. Dan lihat ... walaupun orangtuanya punya perusahan Zuri lebih memilih menjadi juru masakmu dibanding menjadi sekertaris mamanya. Bukankah itu satu penilaian plus bagi gadis itu?"


Aku senang mendengar pujian kakek. "Sejak awal juga aku bisa menebak pribadi Zuri seperti apa. Orientasinya cukup menggabarkan jika Zuri memiliki intelektual yang bagus."


"Tapi ada satu hal yang membuat kakek takut, Jack."


"Takut kenapa, Kakek?"


"Kakek takut mama Zuri tidak setuju soal hubungan putrinya dengan Billy."


"Alasan mamanya menolak karena apa?"


"Entalah, yang jelas kakek sangat takut jika itu akan terjadi."


Aku membuang napas pelan. "Kita coba saja dulu. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan apakah Zuri akan berjodoh dengan Billy atau tidak."


"Kalau misalkan mamanya tidak setuju. Bagaimana kalau kamu dekati saja mamanya untuk menggantikan posisi Debora? Bukannya kau bilang Zuri tidak punya papa? Seandainya kau tidak bisa menjadi papa mertuanya, kau bisa kan menjadi papa sambungnya?"


Aku tertawa mendengar perkataan kakek. "Kakek ini ada-ada saja."


Kakek juga ikut tertawa. "Kakek hanya menyarankan saja. Kalau memang mama Zuri lebih tertarik padamu kakek rasa tidak masalah."


Aku tak menjawab. Aku hanya bisa tertawa sambil menggeleng kepala. "Kakek ini ada-ada saja."


"Oh iya Jack, kakek baru ingat. Bagaimana kalau kita undang mama Zuri bulan depan tepat di hari ulang tahun kakek? Dengan alasan itu pasti mamanya bisa mencari waktu untuk menghadiri acara tersebut. Biar bagaimanapun sebagai orang tua pasti dia mau hadir di acara ulang tahun bos besar anaknya sendiri."


Aku setuju-setuju saja, meskipun itu hal yang sangat tidak mungkin untuk terjadi. Meskipun kakek buyut adalah bos besarnya Zuri, tapi selama ini orangtuanya tidak mengenal kakek buyut. Jika berada di posisiku aku pasti tidak akan menghadiri acara tersebut. Alasannya karena aku tidak mengenal bos anakku sendiri.


"Kakek tenang saja, aku akan coba bicara dengan Zuri malam ini."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2