My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Rasa Nyaman.


__ADS_3

Aku berdiri mengambil jus jeruk di atas meja. Setelah menyesapnya sedikit aku kembali duduk lalu berkata kepada Tanisa, "Pikiranmu terlalu jauh. Mana mungkin lelaki berjabatan seperti itu dengan mudah jatuh cinta kepada wanita. Apalagi dia seorang pemilik perusahan, mana mungkin dia akan jatuh cinta kepada ibu dari bawahannya. Kau pikir ini cerita novel, hah? Ini dunia nyata, Tan. Hanya dunia fiksi yang mampu menciptakan kenyamanan yang sebenarnya."


"Nasib orang bisa saja berubah. Buktinya baru mengenal Zuri lelaki itu sudah menyayangi putrimu seperti anaknya sendiri."


Aku tersenyum menatap Tanisa. "Walaupun aku ingin menikah lagi, aku tidak ingin menerima lelaki yang sama sekali tidak kucintai. Percuma aku menerima lelaki itu kalau dalam hatiku masih ada orang lain."


"Kamu belum mencobanya. Ini kesempatanmu untuk melupakan Jacky."


Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Minggu depan kita akan atur jadwal lalu berangkat. Kita akan menemui Zuri diam-diam untuk mencaritahu semuanya. Ya Tuhan, semoga saja pikiran kami salah."


#Sudut Pandang Zuri.


Begitu selesai bicara di telepon dengan mama aku segera berendam di bak mandi. Memakan waktu satu jam setengah akhirnya aku baru saja selesai. Kulitku keriput karena terlalu lama berendam. Tapi tenang saja, aku punya almond oil yang mampu mengembalikan kekenyalan dan kelembutan kulitku sekalipun aku berjam-jam berendam di dalam bak mandi.


Saat ini aku dan Billy sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Daniel. Aku mengenakan gaun hitam panjang belengan pendek yang atasannya sedikit terbuka. Karena ini hanya makan keluarga jadi aku tidak menata rambut dengan rapi. Hanya dikuncir kuda agar leher putih dan panjangku terlihat. Billy juga mengenakan kaos hitam dan celana jins. Penampilan kami sangat serasi. Kalau orang tidak tahu, mungkin mereka kira aku dan Billy adalah pasangan kekasih.


Karena tidak tahu topik apa yang akan dibahas, aku memulai dengan menanyakan soal Anggie. Namun sebelum memulai aku melihat ekspresi Billy cukup bersahabat. Semoga saja apa yang kutanyakan ini tidak membuat senyum di wajah tampannya memudar.


Aku berdeham lalu berkata, "Anggie tadi menemuiku."


Dengan cepat Billy menyentakkan kepala menghadapku. "Wanita gila itu mengganggumu?"


Tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Billy. Bukannya tidak ingin jujur, aku tidak ingin Billy berurusan dengan Anggie yang nanti akan berdampak padaku lagi.


"Tadi saat belanja bahan makanan aku bertemu dia di sana. Katanya dia sudah dipecat, kenapa?"


Billy kembali fokus mengemudi. "Dia memalsukan data beberapa pelanggan. Yang seharusnya sudah dibayar lunas, Anggie membuat data tersebut masih diangsur. Karena sudah menunggak berapa bulan papa menyuruhku menghubungi orang tersebut. Sesuai data dan dokumen yang ada, ternyata pelangganan tersebut sudah membayar lunas ke pihak perusahan sejak awal melakukan transaksi. Dikonfirmasi kepada Anggie ternyata dia diperintahkan oleh mama."


"Apa? Mamamu menyuruh Anggie memanipulasi data pelangganan?"


Billy mengangguk. "Kejadian itu bukan hanya sekali dua kali kata Anggie. Sudah berkali-kali dan dia mendapatkan ancaman jika tidak menuruti perintah mama. Jadi ketika ada kenalan mama yang ingin membeli rumah atau gedung, mama yang menyuruh Anggie untuk mengurus semua datanya. Sementara transaksinya langsung dikirim ke rekening mama."

__ADS_1


"Apa kamu percaya itu? Eh, maksudku, mana mungkin mamamu melakukan hal sejahat itu."


"Itu benar, Zuri. Pelanggan itu memperlihatkan bukti transaksinya. Tak mau berurusan panjang lebar, papa langsung memecat Anggie secepat mungkin."


Alisku berkerut. Kalau karena itu Anggie dipecat lalu apa maksudnya dia menuduhku?


Billy melirik ke arahku. "Ada apa? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak ada."


"Jangan bohong, Zuri."


Dengan terpaksa aku mengatakan kepada Billy walaupun tidak sepenuhnya. "Kata Anggie dipecatnya dia dari perusahan karena aku mengadukan ancamannya waktu itu padamu. Itu saja yang dia katakan. Mungkin dia ingin menyalahkanku karena kamu menghindarinya."


"Kamu yakin tidak mau jujur padaku? Tidak mungkin dia berkata begitu dengan nada bicara yang datar. Anggie pasti melakukan sesuatu padaku, kan?"


Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa berbohong. Seandainya aku tidak jujur, pasti Billy tidak akan menganalisa seperti itu. Aku memegang lengannya sambil berkata, "Aku akan jujur asal kamu mau berjanji?"


"Aku tida ingin kamu menemuinya, Billy."


Tatapan lembut pria itu mengarahku. "Kenapa?"


"Kalau kamu menemuinya dan marah-marah, yang ada dia akan datang padaku dan mencelakaiku lagi."


"Oh, aku pikir kamu cemburu."


Aku menarik tanganku dari lengan Billy. Aku tertawa sambil menatap lurus ke depan. "Kenapa aku harus cemburu? Adanya Anggie yang cemburu karena kita berdua selalu bersama."


"Aku tidak peduli. Cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?"


"Janji dulu, bahwa kamu tidak akan menemuinya."

__ADS_1


"Aku janji, Zuri."


Entah kenapa perkataan lembut itu membuat jantungku berdetak. "Anggie memang menggangguku, tapi dia tidak menyentuhku. Dia merusak semua belanjaanku karena sakit hati kamu membencinya, serta dipecat dari pekerjaannya."


"Dia merusak belanjaanmu? Kurang ajar sekali dia. Aku harus memberinya pelajaran."


"Bukankah kamu sudah berjanji padaku?"


Tepat di saat itu mobil sport Billy berhenti di lampu merah. Pria itu menatapku kemudian memegang kedua tanganku. Aku bukannya marah, tapi merasa nyaman saat sapuan jempol Billy bergerak lembut di atas punggung tanganku.


"Aku tidak mau Anggie menyakitimu. Mungkin hari ini wanita gila itu menghancurkan belanjaanmu. Besok-besok kalau dia menyakitimu atau mencelakai dirimu, bagaimana? Aku tidak mau kamu terluka, Zuri."


Jantungku seketika berdetak sangat cepat. Ya Tuhan, apa yang kurasakan? Kenapa detak di dadaku begitu keras.


Bukannya menolak aku malah senang dan tersenyum. "Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau kamu menemui wanita gila itu. Bukannya cemburu, aku rasa diam adalah cara yang pantas untuk meladeni orang seperti Anggie."


Lampu merah berganti hijau. Billy melepaskan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain tetap menggenggam tanganku sambil mengemudikan mobil. Tuhan, apa yang terjadi pada kami? Kenapa Billy menggenggam tanganku dan aku hanya diam saja?


"Baiklah, aku tidak akan menemuinya. Tapi dengan satu syarat," kata Billy sambil mengemudi. Walaupun fokus ke depan, tapi sebelah tangannya tidak mau melepaskan tangan kananku.


"Apa?"


"Mulai besok aku akan menemanimu belanja. Ke manapun pergi kamu harus menghubungiku, biar aku yang akan mengantar dan menemanimu."


Aku tak bisa menolak. Aku malah senang dan bahagia mendengar itu. Kenapa?


"Bagaimana?"


Perkataan Billy membuyarkan lamunanku. Menyetujui hal itu adalah pemicu risiko yang tinggi. Tapi tak ingin jauh dari Billy, aku terpaksa setuju dan mengiyakan apa yang ditawarkan Billy tadi.


Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa aku bisa seluluh ini kepada Billy? Kenapa aku bisa merasakan nyaman di saat berdekatan dengan Billy? Kenapa aku tidak mau jauh darinya? Kenapa, Tuhan? Apa inikah yang namanya jatuh cinta? Apakah aku jatuh cinta kepada Billy?

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2