My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Kebencian Billy.


__ADS_3

Suara itu ....


"Jack."


Suara hentakan tubuh papa semakin terdengar.


"Sayang, kamu sempit sekali. Kamu sangat nikmat."


Rasa benci seketika muncul dalam diriku. Berani-beraninya papa membawa wanitanya ke sini dan melakukan hal yang tidak sopan. Kenapa papa tidak mengajaknya ke hotel, kenapa harus ke apartemen Zuri? Di ruang tamu lagi. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menegur mereka.


Dengan emosi yang membara dalam diri aku segera menerobos masuk. Tak peduli papaku sudah selesai atau tidak, aku tidak setuju papa membawa wanitanya ke apartemen Zuri.


Seketika aku berdiri dalam keremangan. Kulihat papaku dengan keadaan tanpa busana menghadap wanita itu. Tubuh dan wajah wanita itu tidak terlihat. Sofa panjang yang mereka pakai sandarannya cukup tinggi. Penerangan yang minim membuat aku sangat sulit melihat wajah wanita itu.


"Jack, aku sampai."


******* panjang pun keluar dari mulut papaku. Begitu melihat mereka berdua saling berpelukan aku dengan emosinya membuat mereka terkejut.


"Apa-apaan ini, hah?!"


Kulihat papa melonjak dari tubuh wanita itu. Dengan terburu-buru papa memakai celana panjangnya kemudian menarik ritsletingnya. Papa juga menarik kemejanya kemudian memberikan kepada wanita itu.


"Billy, sedang apa kamu di sini?"


Sayangnya sakelar lampu ruang tamu jaraknya sangat jauh denganku. Jika tidak, aku pasti sudah menyalahkannya untuk melihat wajah wanita itu. Dia pasti sangat malu.


"Aku yang harusnya bertanya, apa yang Papa lakukan dengan wanita ini di apartemen Zuri?"


"Bukan urusanmu, Billy! Ini apartemenku, aku yang membelinya. Jadi terserah aku melakukan apa saja di tempat ini."


Seumur hidup baru kali ini papa membentakku. "Iya, tapi sekarang apartemen ini milik Zuri. Lagipula siapa wanita ini? Aku tidak mendengar Papa punya pacar? Dan kenapa Papa tidak membawanya ke hotel atau aparteman yang lain? Ini apartemen Zuri, Papa. Ini ruang tamu menantumu."


Sebenarnya aku tidak marah seandainya kedapatan papa melakukan ini di apartemen sebelah. Ini apartemen Zuri, papa membelikannya untuk calon istriku. Dan sekarang tanpa sepengetahuan si pemilik papa membawa wanitanya ke sini.


Kulihat emosi papa meredah. Mungkin papa sadar kalau papa salah.


"Maafkan, papa. Papa pikir kamu tidak akan ke sini. Papa tidak ingin kamu menemukan kami di apartemen sebelah. Jadi, itu sebabnya papa mengjak calon mamamu ke sini."


Papaku sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Mungkin karena papa tidak ingin aku melihat wanita itu. Seketika emosiku meredah. Aku jadi penasaran, siapa sih wanita yang berhasil mengambil hati papaku ini.


"Ngomong-ngomong kenapa Papa berdiri terus, apa Papa tidak ingin menunjukkan wajah calon mama baru padaku?"


"Anak kurang ajar. Kamu datang di waktu yang tidak tepat, Billy."


Papaku benar. Aku datang di saat yang salah. "Baiklah. Aku akan keluar, tapi lima menit lagi aku akan masuk untuk melihatnya."


"Tidak! Eh, maksud papa tidak sekarang. Belum saatnya kamu tahu siapa calon mamamu."


"Kenapa?"


"Papa bilang belum waktunya, Billy. Akan tiba waktunya kamu tahu siapa calon mamamu. Sekarang, sebaiknya kamu pargi sebelum papa menyeretmu keluar."


Oh, ini sangat menarik. Aku semakin penasaran dan ingin tahu siapa wanita di balik sofa itu.

__ADS_1


Tak mau berdebat dengan papaku lagi, aku segera berbalik badan dan keluar dari sana. Aku bisa mengambil gaun Zuri setelah mereka pergi dari sini.


"Maafkan aku sudah mengganggu kalian."


Aku tak menunggu jawaban mereka. Tapi aku bisa mendengar papa bertanya kepada wanita itu kalau dia baik-baik saja.


#Sudut pandang Abigail.


"Aku baik-baik saja. Oh, Jack, aku takut sekali. Apa Billy melihatku?"


Jacky duduk di sampingku. Jacky menarik tubuhku kemudian memelukku. "Dia tidak melihatmu. Aku harus menghukumnya. Yang pertama dia sudah tidak sopan padamu dan yang ke dua dia sudah mengganggu kebersamaan kita."


"Dia tidak salah, kamu yang salah. Bukankah sudah kuingatkan, jangan melakukannya di sini."


Jacky melepaskan pelukannya. "Aku tadi kirim pesan singkat padanya. Aku menyampaikan seperti yang kamu bilang, bahwa antar Zuri pulang ke rumahmu. Dia juga menyetujui pesanku. Jadi, tidak ada dalam benakku mereka akan ke sini mengganggu kita."


Aku terdiam. Dengan sisa-sisa ketakutan aku menatap Jacky. Membayangkan kejadian tadi membuatku tertawa. "Ini sejarah dalam hubungan kita, Jack."


Jacky balas tertawa. "Untung saja aku sudah sampai. Kalau tidak, aku akan menghukum Billy seberat-beratnya."


Aku menatap sayu. "Kamu luar biasa malam ini, Jack. Kamu benar-benar luar biasa. Rasanya aku ingin melakukannya setiap hari denganmu."


"Mulai sekarang dan selamanya kita akan melakukannya."


Jacky kembali menciumku. Namun mengingat keberadaan Billy membuatku kembali takut. Aku melepaskan bibir Jacky lalu berkata, "Sebaiknya aku pulang saja. Mungkin Billy ke sini karena sesuatu yang ingin dia cari."


"Itu hanya perasaanmu saja. Ayo, aku ingin melakukannya lagi. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Abigail."


"Tidak, Sayang. Aku takut Billy akan ke sini dan melihatku. Belum saatnya Billy tahu soal hubungan kita."


"Aku tahu. Tapi belum sekarang, kita harus menjaga perasaannya sampai dia tahu yang sebenarnya."


Jacky mengendus. "Baiklah. Tapi berapa hari ke depan kamu harus tidur bersamaku sepanjang malam. Aku ingin melampiaskan rinduku setiap detik, menit dan berjam-jam."


"Kamu ingat yang papamu bilang di pertemuan tadi?" aku terkekeh, "aku tak menyangka kalau papamu mengarang cerita soal keberangkatan aku dan Debora."


"Papa memang sengaja agar pernikahan mereka cepat dilaksanakan."


"Kalau aku benar-benar pulang lusa nanti, bagaimana?"


Jacky terkejut. "Aku tidak akan mengijinkanmu, Abigail."


"Kau lupa, Zuri tahu soal itu."


"Justru itu lebih bagus. Jadi, kamu pamit kepada Zuri dan datang padaku. Aku akan mengurungmu di kamar sepanjang hari."


Aku terbahak. Jacky langsung memelukku dan menyerang tubuhku dengan ribuan kecupan.


Tiba-tiba aku teringat soal Debora. "Apa kakekmu akan mencobloskannya ke penjara?"


"Siapa?"


"Debora."

__ADS_1


"Aku rasa tidak. Apalagi keterkaitannya dengan pamanmu dan keluarga Debora."


"Aku sendiri masih tak menyangka semua ini bisa terjadi."


"Tapi dengan adanya kejadian ini aku bisa tahu siapa anakku yang sebenarnya. Seandainya Zuri tidak muncul, aku tidak akan bertemu denganmu dan tidak akan pernah tahu kalau dia putri kandungku."


Aku tersenyum nakal. "Bagaimana perasaanmu saat pertama kali melihatnya? Pasti kamu menyukainya, ya?"


Jacky membawaku ke pangkuannya. "Aku memang menyukainya, tapi tidak menginginkannya."


"Kenapa?"


"Selamanya kamu tidak akan bisa tergantikan dalam hidupku."


Aku bahagia. Refleks aku langsung memeluk Jacky. Namun, baru beberapa detik kami berpelukan bunyi ponsel membuatku segera melepaskan tubuh Jacky.


"Ponselku berdering."


Jacky membantuku mengambilkan benda itu. "Zuri."


"Ya ampun, jam berapa sekarang? Pasti dia mencariku. Aku harus pulang."


Jacky menempelkan bibirnya ke bibirku. "Ini sudah larut. Aku akan mengantarkanmu."


"Tidak usah, Sayang. Kan aku bawa mobil."


"Besok aku akan menjemputmu lagi."


"Hmm, aku akan mengabarimu, ya."


Setelah bermesraan sesaat aku dan Jacky sama-sama ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aku tak menyangka kamu membelikan apartemen semewah ini kepada Zuri. Seandainya dia bukan anakmu, apa kamu tidak menyesal memberikan fasilitas padanya?"


Saat ini aku dan Jacky sudah bersiap untuk keluar dari apartemen. Aku dan Jacky sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Meski hanya memakai pakaian yang tadi, tapi aku sudah terlihat rapi.


"Mungkin karena dia anakku. Jadi muncul inisiatif untuk itu. Kalau pun bukan, bukan hanya sebagai menantu, aku tidak akan menerimanya sebagai karyawan."


Aku tertawa. Jacky membukakan pintu apartemen dan kami pun berdiri sejenak di depannya.


"Kamu masuk saja, Billy pasti sudah menunggumu. Aku bisa turun ke bawah sendirian."


"Tidak apa-apa, aku akan mengantarmu sampai bawah."


"Kalau dia melihatku, bagaimana? Sekarang belum waktunya dia tahu, Jack."


"Sayangnya aku sudah tahu, Tante!"


Suara Billy mengejutkanku dan Jacky. "Billy."


"Iya, aku ... Kaget, ya?" Billy yang tadinya berdiri cukup jauh dari kami sekarang mendekat dengan ekspresi datar, "Aku tak menyangka kalau calon istri papa adalah calon mertuaku.


Billy tertawa. "Bagaimana ya kalau Zuri tahu soal hal ini?"

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2