My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Ancaman.


__ADS_3

"Anggie!" aku terkejut melihat wanita itu muncul dan langsung menarik tanganku, "Lepaskan aku!"


"Aku akan melepaskanmu kalau kau menjauh dari Billy. Ingat, ya. Jangan pernah kau dekati Billy lagi. Sekali lagi aku melihat kau mendekatinya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu."


"Aku ...." Belum sempat menyelesaikan kata-kata wanita gila itu langsung pergi begitu melihat Billy mendekatiku.


"Ada apa? Aku dengar tadi kau berteriak."


Ingin sekali aku mengatakan yang sebenarnya kepada Billy, bahwa Anggie datang dan mengancamku. Namun buktinya sudah tidak ada. Jadi pasti Billy tidak akan percaya.


"Tidak apa-apa. Tadi aku ingin mengambil itu, tapi terlalu tinggi dan jatuh ke wajahku."


Billy menatap wajahku. "Tidak apa-apa. Masih cantik, kok."


Aku tersenyum kemudian mengajaknya ke kasir. Setelah transaksi selesai aku dan Billy meninggalkan super market tersebut. Dalam perjalanan perkataan Anggie terus menghantuiku. Anggie akan membunuhku? Wanita gila itu pikir aku ini nyamuk apa, yang dengan segampang itu bisa mati.


"Kamu kenapa?"


Pertanyaan Billy mengejutkan aku. "Ah? Tidak, aku tidak apa-apa."


"Dari tadi aku ajak bicara kamu tidak menjawabnya."


Apa iya? Ya ampun, kenapa aku jadi mengabaikan Billy. Ini semua gara-gara Anggie. Tak ingin membuat atasanku kecewa, aku mengalihkan pandangan lalu berkata, "Oh iya, seandainya Anggie cemburu melihat kamu dan aku sering bersama, apa kamu tidak keberatan?"


"Keberatan ... Apa untungnya aku menjaga perasaan wanita itu, hah?"


"Siapa tahu kan dia akan mengadukanmu pada mamamu."


"Aku tidak peduli. Lagi pula mama sudah tahu kalau aku tidak menyukainya."


Kulihat ekspresi Billy tampak suram. Sepertinya pria ini tidak mau membahas soal Anggie. Kalau begitu ini kesempatanku untuk menanyakan siapa wanita yang dia cintai. "Bukankah tadi kamu bilang mencintai seseorang. Boleh aku tahu siapa wanita itu dan kenapa kamu tidak mengutarakannya?"


Mata Billy menatapku. Wajahnya merah. Apa itu artinya dia sedang malu? Aku tertawa.


"Kita kan sekarang seperti saudara. Tidak ada salahnya kan kalau kita berdua berbagi informasi satu sama lain."


Billy terbahak. "Kamu ingin tahu?"


"Tentu saja. Kenapa, tidak boleh ya?"


"Boleh, asal dengan satu syarat."


"Syarat apa itu?"

__ADS_1


"Kamu harus jadi pacarku. Aku akan mengajakmu bertemu mama. Aku akan mengatakan pada beliau, bahwa kamu adalah wanitaku."


"Apa?! Kamu sudah gila, ya?"


"Itu satu-satunya cara agar Anggie berhenti menggangguku."


"Aku tidak mau. Tadi saja dia mengancam akan membunuhku jika mendekatimu, apalagi kalau dia tahu kamu dan aku berpacaran."


Langkah Billy terhenti. "Anggie mengancammu? Kapan?"


Mati aku. Kenapa juga aku sampai keceplosan.


"Jawab aku, Zuri. Kapan Anggie mengancammu?"


Mau tidak mau aku akhirnya mengatakan yang sebenarnya. "Waktu aku mengambil yogurt tadi, dia datang tiba-tiba lalu menarikku. Dia mengancam akan membunuhku jika aku mendekatimu lagi."


"Apa dia menyakitimu? Apa karena itu kamu tadi berteriak?"


Aku mengangguk. "Aku terkejut waktu dia muncul dan langsung menarikku. Itu sebabnya aku berteriak, karena dia meremas lenganku."


Kebetulan aku memakai kaos berlengan pendek. Billy menatap lenganku dengan ekspresi khawatir. "Lengan mana yang dia tarik?"


Aku menunjukkan lengan kanannku. Billy kemudian memeriksanya dan untung saja tidak merah atau biru. Aku tidak menjadi provokator, tapi permintaan Billy sangat membuatku terkejut.


"Dia itu gila. Dia sudah kelewatan. Masa dia datang dan mengancam akan membunuhmu, sedangkan dia tahu kamu itu asistennya papa."


"Justru karena itu dia datang padaku. Yang Anggie tahu kan aku adalah asisten papamu, tapi kenapa aku harus pergi bersamamu? Sebagai wanita yang menyukaimu, sudah jelas dia cemburu melihat kita berdua selalu bersama. Jadi, mungkin ada baiknya aku dan kamu jangan pergi bersama lagi. Aku takut dia akan mengabulkan kata-katanya itu, Billy. Aku takut Anggie akan membunuhku."


Ekspresi garang muncul di wajah Billy. "Berani-beraninya Anggie mengancammu. Kamu tidak perlu takut, ada aku yang akan melindungimu. Lihat saja, Anggie pasti akan menyesal karena sudah begitu berani mengancammu."


"Apa yang kamu lakukan?"


"Lihat saja nanti."


Tak banyak bicara lagi aku dan Billy kemudian melangkah menuju apartemen. Di sana pria itu membantuku membuat nasi goreng. Aku menyiapkan wadah, sedangkan Billy membantuku mengaduk nasi gorengnya.


Bibi yang kebetulan sudah ada di sana ikut tertawa melihat tingkah kami berdua. Melihatku terlalu serius menyiapkan minuman, Billy suka menggangguku dengan cara melemparkan bekas potongan sayur. Aku tidak marah, karena entah kenapa hatiku senang diganggu olehnya.


"Nona Zuri dan tuan Billy adalah pasangan serasi."


Perkataan bibi membuatku tertawa. "Bibi tidak boleh bilang begitu. Kalau ada yang dengar nanti dia marah lho, Bi."


Si bibi baru saja selesai membersihkan semua ruangan. Karena sudah selesai bibi pergi ke dapur untuk bantu-bantu. "Siapa yang marah, Non?"

__ADS_1


Billy terlihat santai ketika aku dan bibi membicarakannya. Sepertinya dia memang tidak keberatan jika bibi mengatakan bahwa kami berdua adalah pasangan yang serasi. Dia terlihat bahagia sambil asik mengaduk nasi goreng sambil mengicip-icipnya sedikit demi sedikit.


"Si Anggie lah Bibi. Masa aku."


Billy protes. "Mau dia mati sekalipun aku tidak peduli."


Aku terkekeh melihat ekspresi bahagia tadi kini berubah datar. Sepertinya Billy memang tidak ingin disangkutpautkan dengan Anggie. "Kalau begitu berarti bukan Anggie, tapi wanita yang kau bilang padaku bahwa kau mencintainya."


"Tuan Billy mencintai perempuan lain? Siapa, Non?"


Billy berdeham. "Bi, pakaian kerjaku belum siap. Boleh tidak aku minta tolong untuk disiapkan?"


"Tentu saja, Tuan."


Aku tahu Billy sengaja menghindari pertanyaan itu. Aku tertawa lalu berbalik menatapnya. "Kamu belum bilang padaku ... Siapa wanita itu? Daripada kamu menjadikanku pacar pura-pura, kenapa kamu tidak ajak dia saja untuk menggantikan posisiku menghadap ibumu?"


Wajah Billy berubah merah. "Sepertinya ini sudah masak. Ayo, aku sudah lapar."


"Jangan alasan, Billy," kataku seraya mendekatinya, "Kenapa setiap kali membahas soal dia kamu selalu mengalihkan pembicaraan. Apa aku mengenalnya?"


Billy menatapku lama sekali. "Baiklah. Aku akan mengatakan siapa wanita itu, tapi belum sekarang."


"Kenapa?"


"Aku tidak yakin dia menyukaiku."


"0h, jadi kamu mengaguminya?"


Billy mengangguk. "Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Jadi, aku tidak berani mengungkapkannya karena takut ditolak."


"Kenapa berpikir seperti itu? Kamu harus mencobanya, Billy. Aku tidak perpengalaman dalam hubungan asmara. Tapi yang aku tahu dari teman-temanku, kalau menyikai seseorang kamu harus memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanmu. Sebab perempuan walaupun mereka juga suka, mereka akan menunggu kejelasan dan tindakan dari kalian para pria."


"Aku tidak yakin, Zuri. Dia tampak biasa saja denganku."


"Apa wanita itu bawahanmu?"


Billy mengangguk dengan wajah semakin merah.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba untuk mengutarakan perasaanmu? Berdasarkan pengalaman yang aku baca di novel online, banyak bawahan wanita yang ternyata diam-diam menyukai atasannya."


"Masa, sih?"


"Iya. Coba saja kalau begitu. Kamu menemui kemudian menyatakan cinta padanya. Aku yakin dia pasti tidak akan menolak pria tampan dan mapan sepertimu."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2