My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Restu Keluarga.


__ADS_3

"Apa Jacky tahu soal itu, bahwa tantenya meninggal di tangan orang suruhan kakeknya?"


Paman menarik cairan hidungnya. "Waktu itu Jacky belum lahir. Paman tidak tahu, apakah Theo atau ayahnya sudah menceritakan hal itu kepada Jacky. Apa Jacky pernah membahas soal Elis kepadamu?"


"Tidak pernah."


"Mungkin tuan Daniel telah merahasiakan kematian Elis dari mereka semua. Beliau pasti tidak ingin anggota keluarga Daniel tahu, kalau Elis meninggal dengan cara seperti itu."


"Setelah kejadian itu, apa kakek Daniel masih mengincar Paman?"


"Tidak. Tapi tuan Daniel menyuruh orang untuk mengantarkan surat kepasa paman. Dalam surat itu paman di minta untuk tidak menampakkan diri di hari pemakaman Elis."


"Tidak salah lagi. Pasti kakek Daniel tidak ingin tahu kematian Elis terbongkar. Kalau Paman muncul, salah satu anggota keluarga Daniel pasti akan menanyakan masalah itu kepada Paman."


"Entalah, Sayang. Jadi sekarang kamu sudab tahu kan kenapa paman tidak ingin kamu bertemu keluarga Daniel? Paman tidak ingin kamu merasakan hal yang sama seperti Elis. Paman tidak ingin tuan Daniel membalaskan dendamnya kepadamu. Biar bagaimana pun beliau pasti sakit hati karena keinginannya untuk menikahkan Elis dengan dokter itu tidak terwujud. Apalagi orang yang diharapkannya meninggal malah masih hidup sampai sekarang."


Setelah mendengar penjelasan paman rasa kecewaku sedikit berkurang. "Kalau memang begitu, kenapa sejak awal Paman tidak menceritakannya padaku? Aku bisa memutuskan hubungan dengan Jacky jika memang itu yang Paman inginkan."


"Tidak, Sayang. Paman tidak berani mengatakan hal itu karena kamu sangat mencintai Jacky. Begitu juga sebaliknya. Namun, mengingat apa yang dilakukan tuan Daniel membuat paman harus melakukan cara itu untuk memisahkan kalian. Paman minta maaf karena orang-orang paman sudah menyakiti Jacky waktu itu. Tapi percayalah, jauh dalam lubuk hati paman sangat menginginkan hubunganmu dengan Jacky."


Aku memeluk paman. "Pasti hari itu sangat menyakitkan buat Paman. Rasanya pasti sesak melihat orang yang Paman cintai meninggal di depan Paman sendiri."


"Hari itu ingin rasanya paman mati, agar bisa menyusul Elis. Papamu memberi semangat kepada paman. Sampai akhirnya paman melanjutkan sekolah kedokteran dan mendirikan sebuah rumah sakit. Awalnya paman ragu, karena paman hanya lulusan ekonomi. Tapi berkat campur tangan Tuhan paman akhirnya bisa mendapatkan apa yang paman inginkan. Walaupun Elis tidak bisa menikmati keberhasilan paman, setidaknya tuan Daniel bisa melihat keberhasilan paman. Bahwa paman bisa menjadi lebih dari menantu yang beliau inginkan."


"Aku rasa kakek Daniel menyesal karena menjauhkan putrinya dari Paman."


Paman terkikik. "Entalah. Saat ini paman hanya berharap Elis bisa bahagia melihat paman yang sekarang."


Aku melepaskan pelukan. "Boleh aku bertanya?"


"Tentu saja, Sayang."


"Sejak kapan Paman tahu Jacky adalah bosnya Zuri?"

__ADS_1


"Paman mengetahuinya dari Aaron. Pagi itu Aaron yang mengantarkan Zuri ke Daniel Corporation untuk wawancara. Paman tidak marah, Abigail. Mungkin ini cara Tuhan untuk menyatukan kalian kembali."


"Seandainya Jacky melamarku, apa Paman akan menyetujuinya?"


Paman tersenyum. "Tentu saja. Ini sudah waktunya kalian bahagia."


Betapa bahagianya aku mendengar itu. "Terima kasih, Paman. Aku sangat mencintai Paman."


"Paman juga mencintaimu, Nak. Ayo, kita turun. Zuri pasti sudah menunggu kita di meja makan."


Aku menyetujui dan membantu paman bangkit. Aku dan paman sama-sama keluar dari kamar di ikuti Aaron dari belakang.


"Mama dan Kakek sedang apa? Kenapa lama sekali, aku sudah lapar?" kata Zuri begitu aku dan paman tiba di ruang makan. Wajah cantik putriku itu terlihat kesal.


Aku menarik kursi untuk paman. Setelah paman duduk, aku menarik kursi di samping kanan paman tepatnya di depan Zuri.


"Kakek dan mamamu sedang membicarakan hal yang penting," pamanku memulai sambil menatapku dan Zuri secara bergantian, "Apa benar kamu ingin menjodohkan mamamu dengan atasanmu?"


Aku terkejut mendengar ucapan paman. Paman kenapa membahas soal itu di depan Zuri? Apa maksud paman, ya? Kutatap wajah paman yang tersenyum lebar ke arah Zuri. Sepertinya ada sesuatu yang ingin diketahui oleh paman tentang kedekatan antara Jacky dan Zuri. Sambil mengambilkan menu sarapan untuk paman dan putriku, aku terus menyimak apa yang mereka bicarakan.


"Dari mamamu, dong. Masa dari bosmu."


Aku menahan tawa mendengar itu.


"Iya, Kakek. Aku ingin sekali menjodohkan mama dengan om Jacky. Om Jacky lelaki yang baik dan ayah yang baik. Aku yakin, begitu menikah dengan mama om Jacky pasti bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagiku dan mama."


Aku merasa bersalah pada diri sendiri. Aku telah meracuni otak Zuri dengan kebencian terhadap ayahnya. Seandainya Zuri tahu semua kebenaran ini, Zuri pasti akan membenciku. Zuri pasti akan marah karena aku telah memisahkan dirinya dengan ayahnya. Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Apa aku harus memberitahu Zuri bahwa sebenarnya Jacky adalah ayahnya?


"Apa yang membuatmu sangat menginginkan Jacky menjadi ayahmu, Nak?" tanya pamanku kepada Zuri.


"Aku juga tidak tahu, Kakek. Sejak awal bertemu om Jacky, muncul keinginanku untuk mendapatkan sosok papa seperti om Jacky."


"Tapi bukannya Jacky sudah punya istri?"

__ADS_1


"Benar, tapi mereka sudah bercerai. Benarkan, Ma?"


Aku hampir saja tersendak saat menenggak jus orange milikku. Dasar Zuri, bisa-bisanya anak ini mengajukan pertanyaan itu di depan paman.


"Iya, benar."


Paman menatapku. "Dari mana kamu tahu?"


Mampus aku. Semalam aku merahasiakan pertemuanku dengan atasannya Zuri dari paman. Kalau aku jujur semalam aku bertemu Jacky, paman pasti akan mengataiku pembohong.


"Kakek tahu, om Jacky dan mama ternyata adalah teman se waktu kuliah dulu. Semalam mama dan om Jacky sudah bertemu."


Ya ampun, kenapa juga mulutnya Zuri tidak bisa diam. Gawat, paman akan semakin curiga padaku. Lagi pula kenapa juga paman memulai percakapan seperti ini. Rahasiaku kan akhirnya terbongkar.


"Kamu belum menjawab pertanyaan paman, Abigail."


Aku menelan sisa makanan yang kukunyah. Setelah menenggak lagi jus orange dalam jumlah sedikit, aku menatap paman dan Zuri secara bergantian. "Semalam aku dan Jacky bertemu di Restoran Bebbi. Alasanku ingin bertemu klien itu tidak benar. Zuri sudah melakukan janji dengan atasannya untuk mempertemukan kami. Tapi siapa sangka kalau ternyata atasan Zuri adalah Jacky. Mereka berdua mengerjaiku, Paman."


Paman tertawa. "Jadi tanpa komunikasi. Tanpa bicara. Tanpa berkenalan dan bertatap muka kamu setuju-setuju saja Zuri menjodohkanmu dengan atasannya? Kamu ini lucu, Abigail. Untung orang itu Jacky. Kalau tidak, bagaimana? Itu sama saja membeki kucing dalam karung."


Wajahku terasa panas karena malu. Kulihat Zuri juga terkikik sambil menunduk. "Bagiku kebahagian Zuri yang utama, Paman. Apapun yang dipilih Zuri itu sudah pasti yang terbaik buatku."


"Zuri," kata pamanku dengan nada pelan, "Kalau memang kamu ingin mamamu menikahi Jacky, kakek sangat setuju."


"Benarkah?"


"Iya, kakek serius. Abigail?"


"Iya, Paman?"


"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Paman sarankan, kamu selesaikan dulu masalah hubungan dengan Jacky di sini lalu kamu kembali keluar kota. Maksud paman, kalian bicara dulu berdua dan minta kejelasan. Paman dan Zuri seratus persen sudah setuju. Iya kan, Sayang?"


"Tentu saja, Kakek."

__ADS_1


Aku semakin malu. "Siang ini aku dan Jacky akan bertemu dan bicara. Kalian tenang saja."


Bersambung____


__ADS_2