My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Panggilan dari Mama.


__ADS_3

"Papa!"


"Om Jacky."


Om Jacky terkejut melihat aku dan Billy. "Eh, ayo ke sini. Zuri, apa kamu yang membuat puding ini? Hmm, rasanya sangat enak. Saking enaknya om menghabiskan setengah dari ini."


Aku senang om Jacky mau memakan puding mangga buatanku. Itu artinya tidak ada korelasi antara puding dan mantan pacar om Jacky.


"Apa kalian berdua akan berdiri terus di sana? Ayo, temani aku makan."


Billy melebarkan senyumnya saat menatapkan. Mungkin dia juga terkejut dengan apa yang dilakukan papanya. Kulihat papa dan anak itu sangat antusias mengambil menu makanan masing-masing. Sebagai juru masak mereka aku bahagia melihat kedua orang ini begitu menyukai masakanku. Berbeda dengan om Jacky dan Billy, aku justru sudah mabuk akan aroma masakan walaupun wanginya sangat menggiurkan.


"Tidak salah papa memilihmu sebagai juru masak, Zuri. Pasti nenek akan senang jika tahu kamu sangat pintar dalam memasak."


Perkataan Billy membuat om Jacky mengangguk-anggukan kepala. "Benar. Jika ibuku merasakan masakanmu, dia pasti akan mengajakmu ke restoran untuk memberitahukan resepnya."


"Jangan, Pa. Kalau nenek mengajak Zuri dan menahannya di sana, lalu siapa yang akan memasak buat kami?"


Aku tertawa mendengar pembicaraan anak dan papa itu.


"Ibumu pasti pintar masak, ya?" tanya Billy sambil menatapku, "Sangat jarang ada wanita muda bisa pintar masak sepertimu."


"Benar. Paling-paling mereka hanya tahu masak telur sama air," ledek om Jacky membuatku dan Billy terkikik.


"Justru itu yang membuatku heran, Om. Soal masak mamaku tidak hobi. Kesibukan di kantor membuat waktunya terbagi. Tapi soal rasa aku belajar semua ini dari mama. Mama tidak mau memasak kalau bumbunya kurang lengkap, rasanya tidak akan enak katanya."


"Berarti mamamu orang memprioritaskan kualitas. Mamamu orang yang hebat, Zuri. Jarang ada wanita karir seperti mamamu yang bisa masak. Papamu pasti lelaki yang beruntung mendapatkan anak gadis dan istri yang pintar masak."


"Benar, Pa. Seandainya mama seperti mamanya Zuri pasti ...."


Perkataan Billy terhenti saat melihatku menunduk sedih. Om Jacky yang juga sejak tadi tidak memandang kini menatapku penuh tanya.


"Ada apa, Zuri?" tanya om Jacky. Perlahan om Jacky melepaskan sendok dan garpunya.

__ADS_1


"Apa perkataan aku dan papa tadi menyinggungmu?"


Tak ingin mereka merasa bersalah aku pun segera tersenyum lalu berkata, "Om Jacky benar, papaku lelaki yang beruntung mendapatkan aku dan mama. Namun, sayangnya dia lebih memilih wanita lain dibanding aku dan mama."


Seketika Billy dan om Jacky saling bertatapan.


"Lelaki itu pergi sejak aku masih berusia dua minggu di perut mama. Dia meninggal kami untuk menikahi wanita lain. Aku tidak tahu apa yang distimewakan wanita itu, yang jelas papaku jahat karena meninggalkan aku dan mama."


Om Jacky menarik napas panjang. "Maafkan aku sudah membuatmu teringat pada hal itu."


"Tidak apa-apa, Om. Kita mengalami kehidupan yang sama. Om dan Billy merasa hilangan istri dan mama, sedangkan aku dan mama merasa kehilangan suami dan papa. Sekarang ... dengan kekurangan itu Om dan Billy bisa menjalani hidup dengan baik, begitu juga aku dan mama. Kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak bisa bangkit, bukan?"


"Kamu benar, Nak," jawab om Jacky, "Adanya masalah justru membuat kita bisa menjadi kuat dan bijaksana."


"Tapi kamu bersyukur tidak melihat papamu sejak lahir. Dengan begitu sakit hati terhadap papamu selamanya bisa kamu lupakan. Sedangkan aku dan papa ... Kami setiap hari harus siap menahan sakit melihat mama. Bahkan aku dan papa harus berpura-pura lupa dan tuli agar bisa terhindar dari rasa sakit itu."


Kulihat Billy menatap papanya.


"Aku minta maaf, Pa. Aku tidak bermaksud menceritakan masalah kita kepada Zuri. Namun, saat aku dan Zuri ke dealer untuk menjemput mobilnya, kami melihat mama keluar dari sana. Kata manager dealer mama memesan satu unit mobil keluaran terbaru atas nama orang lain."


"Terima kasih, Om."


"Oh iya, bagaimana dengan mobilnya, kamu suka? Aku lupa menanyakan tentang itu padamu tadi pagi."


"Bagaimana bisa diingat, papa terlalu fokus dengan bubur," ledek Billy membuatku tertawa.


Kulihat om Jacky dan Billy melanjutkan makan siang mereka. Suasana pun kembali hangat dengan candaan kami bertiga. "Aku juga mengucapkan terima kasih kepada Om. Mobilnya sangat bagus dan itu adalah warna impianku jika sudah punya cukup uang. Namun, impian itu ternyata sudah terkabul melalui Om Jacky. Aku sangat-sangat berterima kasih. Tapi, kenapa bisa Om berpikir aku menyukai warna itu?"


"Sebenarnya itu adalah mobilku. Sejak memesan ke pihak dealer selalu bahan bakunya kosong. Bertepatan waktu itu bahan bakunya sudah ada. Jadi mereka langsung membuatkan satu unit untuk pesananku. Dan karena kamu juga sudah ada di sini, aku rasa tidak ada salahnya memberikan mobil itu kepadamu."


"Kalau begitu Anda bisa menukarnya dengan mobil bekas yang lain saja. Itu kan warna favorit anda, Om."


Om Jacky tersenyum. "Tidak apa-apa, Zuri. Itu buatmu saja. Aku senang kalau kamu menyukainya."

__ADS_1


Billy berdeham. "Sepertinya aku juga butuh mobil seperti itu, Pa."


"Kalau begitu pesan saja lalu bayar. Bukankah kamu punya banyak uang?"


Aku menahan tawa. Sementara Billy terkikik sambil menyudahi makanannya. Setelah makan siang selesai om Jacky dan Billy berpamitan kembali ke kantor. Aku juga kembali kembali ke apartemen untuk beristirahat sebelum pergi berbelanja menu makan malam.


Setelah hampir dua jam setengah terbaring di ranjang, aku terbangun karena panggilan telepon dari mamaku. "Halo, Ma?"


"Zuri, kamu tidur?"


"Sudah bangun, Ma. Kalau tidur bagaimana aku bisa mengangkat panggilan dari mama?" Aku tersenyum lalu duduk di atas ranjang. Entah kenapa perasaanku hari sangat bahagia. Bahagia yang aku tidak tahu disebabkan oleh apa.


"Maksud mama kamu tidak bekerja? Ini kan masih jam tiga sore, Nak."


"Bukannya aku sudah bilang kepada Mama soal pekerjaanku."


"Mama ingat, Sayang. Kamu asisten pribadi pimpinan perusahan, kan. Maksud mama kenapa kamu tidak di kantor bersama atasanmu itu, kenapa kamu malah tidur?"


"Kemarin bos mengubah jadwalku. Beliau menyuruh aku stay di apartemen biar nanti di saat jam makan siang beliau dan putranya datang untuk makan siang bersama. Jadi aku tidak perlu standbye di kantor selama operasional. Lagi pula aku hanya membuatkab sarapan, makan siang dan makan malam. Selebihnya ada asisten mereka yang akan bersih-bersih."


"Terus kamu digaji berapa?"


Aku baru sadar kalau sejak awal sampai sekarang aku maupun om Jacky belum membahas soal gaji. "Maaf, Ma," kataku lemah.


"Maaf kenapa, Zuri? Jangan bilang kalau gajimu sedikit, ya."


"Itu dia masalahnya, aku belum tahu gajiku perbulan berapa. Tapi dari fasilitas yang bos berikan padaku, setahun tidak digajipun aku tidak keberatan."


"Apa?! Kamu gila, ya! Kalau begitu kamu pulang saja, mama bisa menggajimu berlipat-lipat tanpa harus masak buat mama."


"Jangan begitu, Mama. Aku kan hanya bercanda."


"Bercanda, bagaimana? Buktinya kamu tidak tahu berapa gajimu sebulan. Cepat berikan kontak bosmu itu, mama ingin bicara padanya."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2