My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Rahasia yang Diketahui.


__ADS_3

Kuterus berjalan menyusuri ruangan panjang, di mana perabotan unik, klasik dan mewah terlihat di mana-mana. Tidak salah mama memerlukan banyak pengawal dan pelayan. Rumah yang jauh dari keramaian dan tersendiri dari jalan raya ini membuat aku tak mungkin bisa menempatinya sendirian.


Dari depan menuju ruangan kerja mama saja membutuhkan waktu lima menit, apalagi ke dapur atau ke kamar. Butuh orang yang cekatan untuk bisa bekerja sama di dalam rumah sebesar ini agar tidak tersesat.


Entah berapa uang yang dikorupsi mama dari papaku, yang jelas rumah ini harga konstruksi serta isinya tidak main-main. Aku jadi ingin memiliki rumah seperti ini setelah menikah. Aku ingin anak-anakku leluasa bermain di rumah seperti ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anakku. Waktu yang tidak pernah kudapatkan dari orangtuaku semenjak aku dilahirkan.


Kini aku tiba di depan pintu ruang kerja mama. Aku melihat pengawal berdiri di sana. Pria itu menunduk padaku.


"Apa mama masih di dalam?"


"Iya, Tuan."


"Ponselku ketinggalan, aku ingin mengambilnya."


Pengawal setuju dan membukakan pintu ruang kerja mama. Kulihat tidak ada siapa-siapa di sana. Mataku mencari ke mana-mana, sampai akhirnya telingaku menangkap suara air dari ruangan yang ada di ruangan tersebut.


Rupanya mama ada di toilet. Tak Zuri menungguku lebih lama, aku segera meraih ponselku dari atas meja kerja mamaku. Aku hendak berbalik saat telingaku menangkap suara mama yang begitu keras dari dalam sana.


"Aku harap kalian jangan ceroboh lagi. Bagaimana kalau Billy tahu yang sebenarnya, hah? Semalam aku sampai pusing memikirkan hal itu. Bahkan tidurku tidak nyenyak memikirkannya."


Aku terdiam sesaat, mendekati pintu yang ternyata tidak sepenuhnya tertutup. Pantas saja suara air dan suara mama begitu jelas terdengar.


"Aku tidak ingin ini terjadi lagi, Jacky. Aku butuh kerjasama kalian dalam hal ini, belum waktunya Billy tahu soal ini."


Apa ... belum waktunya aku tahu soal ini? Apa maksud mama, apa ada sesuatu yang mereka rahasiakan? Kudengar mamaku tertawa.


"Sumpah, aku masih belum percaya kalau menantuku adalah putri kandungmu, Jacky. Putri mantan suamiku sendiri."


Zet!


Putri kandung mantan suamiku? Apa aku tidak salah dengar? Zuri putri kandung dari papa kandungku sendiri?


"Zuri anak yang luar biasa, dia berhasil menenangkan Billy semalam. Aku salut padanya, Jacky. Dia gadis yang luar biasa, sama seperti kau dan Abigail."


Aku tahu sekarang alasan papa dan tante Abigail memiliki hubungan dan mereka ... mereka semua menyembunyikan hal ini dariku? Kenapa?


Seketika otakku berproduksi dengan laju. Zuri anak kandung papa dengan tante Abigail? Itu berarti aku dan Zuri ... Apa maksud mereka menikahkan aku dengan saudaraku sendiri? Apa keluarga ini sudah gila?!

__ADS_1


Emosi dalam diriku seketika melonjak. Dengan cepat aku mendorong pintu toilet, hingga mamaku terkaget-kaget.


"Billy!" mamaku ketakutan. Wajahnya sangat pucat saat kedua matanya yang melotot menatapku, " Sejak kapan kau di sana, Nak?"


"Sejak Mama bilang menantumu adalah putri kandung papaku."


Mulut mamaku terbuka lebar.


"Kenapa, Mama terkejut aku mengetahui rahasia yang kalian sembunyikan dariku? Semalam aku datang ke sini, membahas apa yang sudah kuketahui, tapi Mama berlagak seakan-akan tidak tahu. Pantas saja Mama bilang Zuri akan memilihku daripada mereka."


Mamaku terpaku.


"Katakan padaku, Mama! Katakan kalau apa yang baru saja kudengar itu benar!"


Mama masih diam.


"Mama, apa benar yang Mama bilang, bahwa Zuri anaknya papa dengan tante Abigail?"


Mama menangis.


Aku berteriak membuat pengawal yang tadi berjaga di depan pintu masuk ke dalam ruangan.


Cukup! Anggukan mama cukup memuaskan rasa penasaranku. Aku berbalik, tapi suara mama menghentikan langkahku.


"Billy, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Zuri memang anak kandungnya papamu, tapi bukan berarti kalian tidak bisa menikah."


Seketika aku berbalik menatap mama. "Apa kalian semua masih waras? Apa karena tante Abigail dan papa bukan suami istri sampai kalian merestui pernikahan kami?"


"Zuri tidak tahu soal ini, Billy. Dia sama sekali tidak tahu kalau Jacky adalah papa kandungnya. Yang mengetahui hal ini hanya kami sekeluarga dan kamu. Zuri sama sekali tidak tahu."


Aku terpaku. Mama mendekatiku.


"Saat pertama kali papamu mendeklarikan soal lamaran itu pada Abigail, dia menolaknya. Dia pikir papamu yang akan menikahi Zuri. Begitu papamu mengucapkan, bahwa lamaran itu untukmu, Abigail mau tidak mau membongkar rahasia yang selama ini dia pendam sendiri.


"Abigail adalah kekasih papamu sejak kuliah. Mereka terpisah karena kakekmu tidak merestui hubungan tante Elis dan kakeknya Zuri."


Aku terkejut menatap mama.

__ADS_1


"Karena tidak direstui, kakeknya Zuri menyuruh tante Abigail keluar kota. Selain mengurus perusahan, kakeknya ingin tante Abigail terpisah dari keluarga Daniel, keluarga yang sudah membuat hatinya hancur, tapi beliau tidak tahu kalau Abigail sedang hamil anaknya papamu."


Aku terduduk.


"Maafkan kami, Nak. Masalah ini bukan masalah kecil. Hanya dengan cara ini kami bisa membuat papamu bisa bersatu dengan putrinya kembali."


Aku menatap tajam. "Bagaimana mungkin kalian berpikir bisa menikahkan aku dengan wanita yang sedarah denganku, hah? Jika Zuri sampai tahu soal ini, aku yakin dia pasti tidak akan mau menikah denganku."


"Jangan berpikir begitu, Nak. Selama kau tidak memberitahu papanya siapa, dia akan menerimamu sebagai suamimu. Percayalah."


"Apa Mama sudah gila? Kalian memikirkan perasaan Zuri, sedangkan aku ... Apa kalian tidak memikirkan perasaanku, hah?! Mana mungkin aku memperistri saudaraku sendiri, hah?!"


Aku melihat mama menunduk dalam tangis. Aku tak mau buang-buang waktu. Aku segera berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


"Billy, tunggu! Kau mau ke mana?"


Aku berdiri tepat di depan pintu. "Aku akan membatalkan pernikahan ini. Aku tidak akan menikahi Zuri, Mama."


Tak menunggu jawaban mama, aku segera bergegas keluar. Aku bahkan tak peduli saat om Gilbert baru saja masuk dan berpapasan denganku.


"Billy, tunggu! Billy!"


Aku tak peduli dengan teriakan mama. Aku terus melangkah dan masuk ke dalam mobil. Kunyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, membuat mobilku melaju, meninggalkan kepulauan debu yang sangat tebal.


Ini benar-benar gila, mereka ingin aku menikah dengan saudaraku sendiri? Apa yang ada dalam pikiran mereka, hah?


Mobilku semakin melaju. Sama seperti pikiranku yang kacau memikirkan soal apa yang baru saja kuketahui. Zuri anak kandung papaku. Aku anak kandung papaku juga dan mereka akan menikahkan aku dan Zuri. Benar-benar gila! Aku harus membatalkan pernikahan ini, aku harus membongkar rahasia ini di depan Zuri. Zuri harus tahu kalau bukan hanya aku anaknya papa, tapi dia juga.


Membayangkan Zuri sedarah denganku membuat hatiku sakit. Ya, Tuhan, kenapa Engkau membuatku jatuh cinta pada saudaraku sendiri ... kenapa, Tuhan?


Tiiiiiit!


Bunyi klakson mengejutkanku. Aku kehilangan kendali dan ....


Brak!


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2