
Dengan emosi meledak-ledak Anggie duduk di ruang tamu yang ukurannya lumayan besar. Saat ini ia sudah tiba di rumah mewahnya.
"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu kusut begitu, hah?" Stella duduk di samping Anggie, "Apa ini soal Billy?"
Sejak Debora memutuskan hubungan Anggie dan Billy, Stella memilih jaga jarak dari wanita itu. Tak peduli anaknya patah hati, Stella tak mau terlibat lagi dengan konspirasi yang mungkin akan membawanya ke balik jeruji. Baginya sudah banyak harta yang ia porot dari Debora dan itu sudah cukup.
"Lupakan saja dia, Billy bukan anak kandungnya Jacky. Percuma kau menikah dengannya, kau tidak akan dapat apa-apa."
Saat itulah Anggie buka suara, "Mama tahu?"
"Mama tidak tahu," katanya malas. Ia sibuk membolak-balikkan majalah.
"Mama harus dengar ini, aku mendengarnya sendiri dari om Gilbert."
"Ceritakan saja, mama akan mendengarnya."
Anggie sedikit jengkel dengan sikap masa bodoh ibunya. Namun, ia terus bicara dan berbagi informasi yang menurutnya tidak pernah diketahui Stella.
"Ibunya Zuri punya hubungan dengan om Jacky."
Stella hanya melirik kemudian kembali menatap majalah yang menurutnya lebih menarik dari informasi Anggie.
"Ibu dan anak sama saja."
"Awalnya aku pikir juga begitu. Namun, nyatanya tidak, Zuri anak kandungnya om Jacky, Ma."
Stella tertegun. Ia menatap Anggie dan mengulangi pertanyaan yang sama. "Zuri anak kandungnya Jacky?"
"Yep, dan Mama tahu? Billy mengetahuinya, membuatnya marah dan sekarang dia di rawat di rumah sakit."
"Maksudmu? Mama tidak mengerti," Stella meletakkan majalah itu di atas meja.
"Tadi aku ke rumah tante Debora. Begitu tiba di sana tante Debora tampak buru-buru. Bahkan David mengemudikan mobilnya sangat laju. Aku pikir dia bertengkar dengan om Gilbert, karena begitu aku tiba lelaki itu ada di sana. Kata om Gilbert semalam Billy menginap di rumah itu. Paginya dia mendengar pembicaraan tante Debora dan om Jacky melalui telepon. Mungkin dia marah, sampai akhirnya dia kecelakaan."
"Berarti sekarang mereka di rumah sakit?"
"Ya, dan katanya Aaron juga kecelakaan. Bahkan, kondisinya yang parah daripada Billy."
Stella tampak berpikir. "Zuri anaknya Jacky, kenapa bisa?"
"Entalah, Gilbert tidak menceritakannya. Lelaki itu sangat sombong. Aku semakin tidak suka kepadanya, Mama."
"Mama juga, semakin lama mereka berdua semakin berulah."
"Apa Mama hanya diam saja setelah mereka melakukan ini kepada kita? Gilbert dan Debora telah membuang kita."
Stella tersenyum. "Apa yang kita dapat dari mereka sudah cukup, kita tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan ini semua. Mobil, rumah. Namun, bukan berarti mama akan diam saja. Terutama Gilbert, dia sangat sombong sekali sekarang. Dia mungkin lupa, kalau bukan karena aku, hidupnya tidak akan seenak seperti sekarang."
"Aku tahu kenapa dia juga mendukung pernikahan Zuri dan Billy, uang."
"Kau benar, Nak. Menikahkan Billy denganmu dia tidak akan mendapatkan apa-apa."
Tiba-tiba ide muncul di benak Anggie. "Bagaimana kalau kita beritahu Billy soal itu, yang mana dia bukan anak kandungnya om Jacky? Aku yakin, dia pasti akan frustasi dan pergi dari rumah."
"Paling dia hanya pergi sesaat kemudian kembali lagi. Terlebih dia sangat menyukai gadis itu. Rahasia itu tidak akan berpengaruh selama keluarga Daniel mendukungnya."
Anggie berpikir, "Menurut Mama, apa keluarga Daniel sudah tahu tentang ini? Coba Mama pikir, mereka pasti belum tahu, sampai-sampai mereka semua setuju Billy menikah dengan Billy."
__ADS_1
"Mama rasa juga begitu."
"Gilbert bilang Billy tidak terima dan itulah yang menyebankan kecelakaan."
"Dia pasti berpikir keluarganya sudah gila, menjodohkan dirinya dengan saudaranya sendiri. Aku rasa kalau keluarga Daniel tahu soal ini, mereka juga akan membatalkan pernikahan itu. Mereka pasti belum tahu kalau Zuri putri kandungnya om Jacky."
Stella tersenyum licik. "Ini akan jadi berita berharga, Sayang. Mama rasa kita harus melakukan ini secepatnya."
"Melakukan apa, Ma?"
Buk!
Stella memukul tangan Anggie. "Kita akan membongkar informasi ini kepada keluarga Daniel. Mereka pasti akan kaget, jika tahu Billy anaknya Gilbert dan Debora, sedangkan Zuri anaknya Jacky bersama wanita lain. Posisi Zuri akan aman, keluarga Daniel pasti akan menerimanya. Sementara Billy, mama yakin Jacky pasti akan mengusirnya dari perusahan dan apartemen itu.
Mereka berdua tertawa.
"Mama tidak sabar lagi ingin melihat ekspresi Gilbert saat dia tahu keluarga Daniel menolak Billy. Dia akan jatuh miskin, harta berharganya akan hilang ditelan bumi. Debora akan masuk penjara dan Billy akan dipecat dari pekerjaannya."
Mereka terbahak.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ma?" tanya Anggie.
"Kita akan menemui keluarga Daniel, kita akan membongkar semuanya di depan mereka. Tapi sebelum itu kita akan ke rumah sakit menjenguk Billy, mama ingin melihat pria itu untuk terakhir kali sebelum dia jatuh miskin."
***
Di rumah sakit, sosok Debora duduk sambil menangis di depan ruangan. Di sampingnya ada Abigail yang sedang menghiburnya.
"Apa salahku, apa salahku, Abigail? Kenapa aku harus menjalani hidup seperti ini? Kenapa ujian dalam hidupku tidak pernah berhenti? Apa Tuhan marah padaku, apa Tuhan membenciku?"
Jacky yang duduk di depan mereka hanya bisa menatap sambil berdoa dalam hati.
Robbie yang juga berada tak jauh dari mereka terlihat sedang menangis. Baginya Aaron sudah seperti putranya sendiri.
Dentuman sepatu membuat Abigail dan Jacky menoleh. Sosok Lisa, Theo dan supir pribadi melangkah laju menyusuri koridor panjang. Jack berdiri menyapa mereka.
"Apa yang terjadi, Jack? Bagaimana keadaan Billy?" tanya Lisa. Nadanya gementar.
"Menurut penjelasan polisi tentang hasil CCTV jalan menunjukkan, mobil Billy dan Aaron bertabrakan di jalan sempit menuju hutan. Mobil Billy hilang kendali dari jalur yang lain dan menabrak mobil Aaron. Billy terkena luka ringan di wajah dan tubuhnya, sedangkan Aaron masih belum sadar karena mobilnya masuk jurang."
"Astaga," Lisa menatap Debora. Ia mendekat dan memeluknya, "Kamu yang sabar ya, Sayang. Berdoa dan minta pada Tuhan agar Aaron baik-baik saja."
Theo menatap Robbie. Ia mendekati lelaki tua itu dan duduk di dekatnya. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Robbie saat ini.
"Aku ikut perihatin dengan apa yang menimpa Aaron. Aku sendiri terkejut saat Jack menelpon, kalau Billy dan Aaron kecelakaan."
Robbie ingin sekali mendiami Theo. Apa yang diperbuat ayahnya di masa lalu membuat Robbie sangat membenci keluarga Daniel.
Munculnya Zuri dan menyatuhkan kembali hubungan mereka membuat Robbie melupakan masalah itu. Terlebih Abigail sudah menjelaskan semuanya, bila mana selama ini Jack dan keluarganya pun tidak terima, apa yang pernah dilakukan tuan Daniel terhadap Elis.
Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi emosi dan pelampiasan, yang ada saat ini hanyalah kedamaian dan harapan agar semuanya bisa bersatu kembali.
Diamnya Robbie membuat Theo tidak enak. Ia hendak menjauh, tapi suara Robbie membuatnya bertahan.
"Aku sudah menganggap Aaron seperti putraku. Dia segalanya bagiku."
Theo senang Robbie meresponnya. "Saat ini kita hanya bisa berdoa agar masa kritisnya bisa lewat."
__ADS_1
Clek!
Tepat di saat itu seorang perawat wanita muncul dari balik pintu, membuat semua orang langsung berdiri, kecuali Robbie.
"Syukurlah masa kritisnya sudah lewat. Pasien sudah sadar."
Semua orang lega mendengar itu.
"Bisa saya masuk melihatnya, Suster?" tanya Debora.
"Silahkan, Nyonya."
Debora melangkah mendekati Robbie. "Bisakah Anda temani saya melihatnya? Saya takut Aaron akan marah melihatku muncul di dalam sana. Saya takut kehadiranku tidak akan diterima."
Robbie terharu. "Tentu saja."
Semua orang ikut terharu melihat itu. Debora mengaitkan tangannya ke lengan Robbie dan mereka masuk bersama-sama.
Lisa menatap Jacky. "Di mana Billy? Aku ingin melihatnya."
"Dia di ruangan sebelah. Zuri ada di sana bersamanya."
Lisa dan Theo pun beranjak ke ruangan sebelah.
Jack dan Abigail saling mendekat kemudian duduk bersamaan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jacky pada Abigail.
Wanita itu menyandarkan kepala di bahunya. "Hari ini benar-benar menegangkan, Jack. Aku benar-benar takut."
"Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja."
Abigail menatap Jacky. "Bukan soal itu, Jack."
"Apa soal rahasia yang belum diketahui Billy dan Zuri?"
"Hmmm."
"Apa pun yang terjadi kita harus mengatakan pada mereka yang sebenarnya. Mereka mungkin akan kaget, tapi lama kelamaan mereka akan menerimanya. Kita hanya butuh waktu yang tepat untuk membongkar semuanya."
Abigail tersenyum sayang. Ia merasa tenang mendengar perkataan Jacky.
"Ayo, kita lihat Aaron. Aku ingin tahu reaksinya saat tahu Debora ada di sini."
"Kau ini. Ayo."
Tanpa Jack dan Abigail sadari, sosok Anggie dan Stella sedang duduk di bangku panjang tepatnya di ujung koridor. Mereka berdua memakai pakaian serba hitam.
"Apa kita akan diam terus saja di sini, Ma?"
"Sabar sedikit, tunggu mereka pulang baru kita masuk ke ruangan Billy. Target utama kita Billy. Jadi, kau tidak perlu buru-buru, biar mereka tidak curiga."
"Mama tidak akan menyakiti Billy, kan?"
Stella tersenyum licik menatap Anggie. "Mama akan menyakiti hatinya, Anggie. Mama akan membuat hatinya sakit, sama seperti dia menyakiti hatimu."
Bersambung____
__ADS_1