My Devilish Daddy

My Devilish Daddy
Keterikatan Billy dan Aaron.


__ADS_3

Aku tak bisa berkata apa-apa. Mulutku terkatup rapat menatap Jacky. Jadi ... Billy dan Zuri berpacaran. Mereka saling mencintai ... Kenapa Zuri tidak pernah cerita padaku? Lalu ... Kenapa Zuri ingin Jaccky menikahiku, sedangkan dia menjalin hubungan dengan anaknya?


Pikiranku kacang sampai tidak sadar Mr. Jimmy datang bersama beberapa pelayan, membawakan menu makab siangku dan Jacky.


"Selamat menikmati, Tuan, Nyonya."


"Terima kasih, Mr. Jimmy," jawabku dan Jacky bersamaan. Tatapan kami saling bertemu.


"Bagaimana, apa kamu tidak keberatan jika Billy menjadi suaminya Zuri?"


Aku lagi-lagi terpaku. Tidak, Zuri dan Billy tidak boleh menikah. Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? Aku ingin menolak, tapi aku tidak ingin Jacky curiga.


"Kalau Zuri menikah dengan Billy, bagaimana dengan kita?"


Hanya itu alasan yang bisa mengalihkan pikiran Jacky.


"Apa itu artinya kamu mau menjadi istriku, Abigail?"


"Tentu saja. Kenapa tidak?"


Maafkan aku Jack, kataku dalam hati. Hanya itu kata-kata yang bisa kuucapkan sekarang ini. Aku tidak mungkin menolak lamaran itu sekarang. Jacky pasti akan curiga. Jacky pasti akan menuntut alasan kenapa aku menolaknya. Jika Jacky tahu alasan aku menolak karena Billy dan Zuri kakak beradik, pasti masalah ini akan semakin menyebar.


Di satu sisi aku tidak habis pikir dengan Zuri. Jika benar dia mencintai Billy, lalu kenapa dia ingin menikah dengan Jacky? Aku harus bicara dengan Zuri secepatnya.


Kutatap wajah Jacky yang terus menatapku. "Ada apa, apa ada yang aneh?" tanyaku sambil tersenyum. Jujur aku malu di tatap seperti itu oleh Jacky.


"Kamu menempatkanku di posisi yang membingungkan, Abigail."


"Membingungkan ... membingungkan bagaimana maksudmu?"


"Sudah, lupakan saja. Ayo, sebaiknya kita makan saja dulu."


Aku menurut dan mengambil menu kesukaanku. Setelah menelan satu suapan aku menatap Jacky yang begitu menikmati makanannya dan berkata, "Sebagai orang tua kebahagiaan anak adalah yang utama, bukan? Jika benar hubungan mereka akan membuat anak-anak kita bahagia, aku tidak akan keberatan."


"Kamu benar. Sebagai orang tua kita harus banyak mengalah demi anak. Billy satu-satunya anak dan paling berharga buatku. Selama ini Billy selalu mendukungku. Bahkan tahu akan bercerai dengan mamanya, Billy malah mendukungku dan ingin tetap terus bersamaku."


"Aku belum bertemu dengannya, tapi aku yakin dia anak yang bijaksana. Sama sepertimu."


Jacky membersihkan mulutnya. "Sayangku kepada Billy sama seperti sayangku kepada Zuri saat ini," Jacky menghentikan makannya, "Aku tidak ingin mengecewakan putrimu, Abigail. Aku memang ingin mengabulkan permintaan Billy untuk melamar Zuri, tapi aku juga ingin mengabulkan permintaan Zuri untuk menikahimu."

__ADS_1


"Kamu tidak bisa mengabulkan ke duanya, Jack."


Ekspresi sedih muncul di wajah Jacky. "Aku benar-benar di posisi yang sangat sulit saat ini, Abigail. Keinginaku adalah menikahimu. Aku ingin hubungan kita yang sempat putus kembali dan aku akan memperbaiki semuanya. Tapi aku tidak ingin menyakiti anak-anak kita. Billy dan Zuri saling mencintai dan mereka tidak bisa dipisahkan."


"Kalau memang demikian, kenapa Zuri memintamu untuk menikahiku?"


Jacky terdiam.


"Begini saja. Kamu beri aku kesempatan bicara dengan Zuri, aku ingin tahu alasan dia sangat ingin aku menikah denganmu. Aku janji apa yang dia katakan akan kuceritakan padamu."


"Aku merasa tidak tenang, Abigail. Sumpah."


"Tenang saja, aku yakin kamu pasti bisa melewatinya."


***


Seperti yang kukatakan kepada Jacky tadi siang, malam ini aku menemui Zuri di kamarnya. "Boleh mama masuk, Sayang?"


"Mama! Silahkan masuk, Ma."


Kamar Zuri tidak tertutup. Begitu selesai makan malam aku langsung mengirim pesan singkat kepada Zuri, bahwa ada hal penting yang ingin aku bicarakan malam ini.


Aku tersenyum sedih mendengar itu. "Alasan mama ke sini karena itu. Mama ingin kamu menjawab semua pertanyaan ini dengan jujur."


Zuri berubah serius.


"Apa benar kamu menjalin hubungan dengan Billy?"


"Apa om Jacky yang mengatakannya?"


Aku mengangguk kemudian mengusap rambut Zuri. Saat ini kami berdua duduk di sofa dekat jendela kamar yang masih terbuka. "Mama tidak marah, Sayang. Mama tidak melarangmu menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Kalau memang kamu sangat mencintai Billy, lalu kenapa kamu ingin om Jacky menikahi mama?"


"Aku hanya ingin Mama bahagia."


"Terima kasih, Sayang. Tapi kebahagiaanmu lebih penting bagi mama. Jika bersama Billy kamu bisa lebih bahagia mama tidak akan keberatan."


"Tidak Ma, aku akan lebih bahagia jika Mama menikah dengan om Jacky."


"Lalu bagaimana dengan Billy? Apa kamu tega membuatnya sakit?"

__ADS_1


Zuri menunduk sedih.


Aku menyentuh dagu kemudian menghadapkan wajah sedihnya kepadaku. "Mama tahu kamu melakukan ini karena ingin mama bahagia. Kamu juga pasti sulit berada di posisi seperti ini. Tapi percayalah pada mama ... mama akan lebih bahagia jika putri mama yang cantik ini bisa menikah dengan pria yang sangat dia cintai."


"Aku memang akan menikah dengan Billy, tapi sebelum itu aku ingin om Jacky menikahi Mama terlebih dahulu."


Aku tertawa. "Itu tidak mungkin, Sayang. Kalau mama menikah dengan om Jacky, itu artinya kamu dan Billy akan menjadi kakak-beradik. Kalian tidak boleh menikah, Sayang."


"Aku tahu, Mama. Tapi kalau Billy bukan anak kandungnya om Jacky, bagaimana? Apa aku akan Billy tidak boleh menikah setelah Mama dan om Jacky resmi menjadi suami-istri?"


"Bukan anak kandung ... apa maksudmu Billy bukan anak kandung om Jacky?"


Zuri dengan cepat menarik ke dua tanganku lalu menggenggamnya erat-erat. "Mama harus janji padaku, bahwa Mama tidak akan mengatakan masalah ini kepada om Jacky. Aku janji akan mengatakan yang sejujurnya, asalkan Mama juga harus berjanji padaku."


Aku cukup syok mendengar ini. Seandainya punya riwayat penyakit jantung, hari ini pasti aku sudah dilarikan ke rumah sakit.


"Mama janji."


"Terima kasih, Ma. Jadi begini," kata Zuri yang masih menggenggan tanganku, "Billy itu bukan anak kandungnya om Jacky. Billy itu adalah anak om Gilbert bersama tante Debora."


"Om Gilbert siapa, Sayang? Kamu jangan mengarang cerita. Kalau sampai ini tidak benar kamu bisa dituntut sebagai pencemaran nama baik."


"Aku tidak mengarang cerita, Mama. Aku tahu masalah ini dari tante Debora. Tante Debora sendiri yang bilang, kalau Billy bukan anak kandung om Jacky tapi om Gilbert."


Lagi-lagi jantungku berdetak tak karuan. Berita-berita hari cukup membuat jantungku berdebar-debar. Ya ampun, semoga saja setelah ini tidak ada lagi berita yang mengejutkan.


"Kenapa bisa tante Debora menceritakan rahasia itu padamu, Sayang? Apa beliau tahu kamu dan Billy berpacaran?"


Zuri menggeleng. "Jauh sebelum tante Debora tahu aku menjalin hubungan dengan Billy dan jauh sebelum tante Debora memberitahu bahwa Billy bukan anak kandung om Jacky, tante Debora pernah melihatku bersama Aaron. Tante Debora mendekatiku dan menanyakan apa hubunganku dengan Aaron."


"Aaron ajudannya kakek?"


"Iya, Ma."


"Tante Debora mengenal Aaron?"


"Tidak hanya mengenal Ma, Aaron itu anak kandungnya tante Debora. Jadi, Billy dan Aaron itu kakak-beradik."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2