
Kulihat ekspresi om Billy begitu cerita. "Jam berapa mama kamu tiba?"
"Belum tahu, Pa. Mama juga tidak memberitahu jam berapa berangkatnya dari sana."
"Apa mamamu akan menginap di apartemen bersamamu?"
"Belum tahu, Pa. Yang jelas mama ingin aku merahasiakan kedatangannya dari kakek. Apa Papa mau bertemu mama?"
Wajah om Jacky berubah merah. Aku terheran. Om Jacky wajahnya seperti kepiting. Apa iya om Jacky malu bertemu mama karena sebentar lagi mereka akan menjadi besan? Yang satu janda. Yang satu lagi duda. Aku terbahak membayangkan itu.
"Nanti papa akan memikirkannya. Kamu tidak memberitahu papa kepada mamamu, kan?"
"Rahasia aman, Pa."
Om Jacky berdiri. "Sebaiknya begitu. Biar nanti papa yang akan menampakkan diri di depan mamamu secara langsung, papa akan memberinya kejutan."
Apa jadi penasaran hubungan apa yang mama dan om Jacky jalani dulu. Kalau hanya teman biasa, mana mungkin om Jacky akan segugup ini. Tapi kalaupun punya hubungan, kenapa om Jacky atau mama tidak pernah cerita? Ah, tidak. Bibi bilang om Jacky hanya mencintai satu wanita dan wanita itu tidak pernah kembali dan tidak tahu ada di mana.
"Baiklah, papa pergi dulu. Zuri Sayang, kalau mau ke mana-mana harus bersama Billy. Jangan pergi sendirian." Ekspresi om Jacky berubah serius.
"Iya. Papa hati-hati, ya."
"Terima kasih, Sayang."
Kutatap tubuh om Jacky menjauh.
Billy mendekatiku lalu berdiri. Sambil meraup kedua pipiku Billy berkata, "Tunggu sebentar."
"Kamu mau ke mana?"
"Mau mengantarkan papa sampai di bawah. Ada hal yang ingin kubicaran dengan papa masalah kantor. Aku lupa memberitahu papa."
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu sambil membuatkanmu sarapan."
Tanpa menjawab Billy segera menunduk. Billy menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku dan Billy saling ******* beberapa detik kemudian melepaskannya.
"Ingat, kamu punya hutang padaku."
Selepas mengatakan itu Billy langsung keluar mengejar papanya. Aku juga langsung ke dapur dengan wajah merah padam karena malu. Walaupun tidak secara langsung tapi aku tahu apa yang dimaksud hutang oleh Billy. Membayangkan kepala Billy bersembunyi di balik dress membuat kewanitaanku lembab. Dasar Billy.
__ADS_1
#Sudut pandang Abigail.
Sejak mendapat telepon dari Jacky aku menjadi gelisah. Aku tidak ingin Jacky mengganggu kehidupanku dan mengetahui siapa Zuri yang sebenarnya. Setelah memutuskan apa yang harus dilakukan, aku akhirnya menghubungi Zuri dan menyampaikan apa yang seharusnya kusampaikan.
"Kamu yakin akan ke sana besok?"
Saat ini aku ada di dalam ruangan bersama Tanisa. "Keputusanku sudah bulat, Tan. Aku tidak ingin Jacky menemukan Zuri. Aku harus mencegahnya. Aku akan mengajak putriku kembali. Aku takut Jacky akan tahu dan mengambil Zuri dariku."
Perasaanku bercampuk aduk. Takut, gelisah ... Aku takut Zuri akan meninggalkanku. Aku takut Jacky akan tahu Zuri adalah anaknya dan merampasnya dariku.
"Apa kamu akan bertemu Jacky?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Aku diam sesaat. "Aku tidak ingin mengganggu kehidupannya, Tan. Biarkan saja, Jacky sudah bahagia dengan keluarganya."
"Aku tidak percaya. Buktinya malam-malam Jacky menghubungimu, kan? Seandainya Jacky masih mencitaimu, bagaimana?"
Aku tertawa. "Kau ini gila. Jack sudah punya istri. Jack sudah punya anak. Itu artinya Jacky sudah melupakanku dan mencintai wanita lain. Kau jangan mengada-ngada, Tan."
"Kita lihat saja nanti. Ya Tuhan, pertemukan sahatku ini dengan mantan kekasihnya. Pertemukan dia Abigail Oliver dengan Jacky Daniel walau sesaat saja. Sahabatku ini sangat merindukan ayah dari anaknya, Tuhan. Kabulkan doaku, Tuhan. Amin."
Jujur aku memang merindukan Jacky. Dengan statusku sekarang sebenarnya tidak masalah jika aku menjalin hubungan dengan Zuri. Jack adalah ayah dari putriku. Jack pasti akan menuruti semua keinginanku. Namun aku tidak ingin Jack tahu tentangku. Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga Jacky, apalagi sampai merebut Zuri dariku.
"Seandainya tidak secara sengaja kalian bertemu, bagaimana?"
Suara Tanisa mengejutkanku. "Itu tidak mungkin, Tan."
"Kalau mungkin, bagaimana?"
"Tidak. Aku akan berusaha agar Jack tidak bertemu denganku. Aku tidak akan mengelilingi kota, makan di restoran atau belanja. Aku akan menghabiskan waktu bersama Zuri. Kau lupa Zuri akan menjodohkanku dengan atasannya? Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengenalnya. Kalau memang cocok, aku pasti akan menerimanya. Aku ingin Zuri bahagia, Tan."
Tanisa berdiri, mengelilingi meja kemudian memelukku. "Aku akan selalu mendukung apa yang kamu inginkan. Selama itu yang terbaik bagimu aku pasti bahagia."
Aku membalas pelukannya. "Terima kasih, Tanisa. Kamu dan Zuri segalanya bagiku."
Tanisa melepaskan pelukannya. "Aku ingin kau dan Zuri bahagia. Walaupun menurut Zuri atasannya itu yang terbaik, kamu juga punya hak untuk memilih. Aku tidak hal yang dilakukan Jacky terjadi lagi."
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu memang sahabat terbaikku, Tanisa."
#Sudut pandang Billy.
Mendengar mama Zuri akan datang seketika ide muncul. Ini kesempatanku menyuruh papa untuk bertemu mamanya Zuri. Aku menyusul papa hingga ke parkiran. Untung saja papa belum pergi.
"Ada apa, Billy?" tanya papa sambil berdiri di dekat mobil. Di dekat papa ada Mike yang selalu standbye untuk membukakan pintu mobil.
"Mamanya Zuri kan akan datang. Bagaimana kalau Papa buat janji untuk bertemu dengannya?"
Senyum papa melebar. "Tanpa kau katakan pun papa akan melakukannya."
"Papa serius?" tanyaku penasaran, "Papa akan bertemu mamanya untuk membicarakan pernikahan kami, kan? Papa akan melamar Zuri, kan?"
Kulihat ekspresi papa berubah. Senyum bahagia di wajah tampannya sedikit memudar. "Papa memang akan bertemu mamanya Zuri, tapi bukan berarti papa akan membahas soal pernikahan kalian."
"Kalau begitu papa ingin bertemu beliau untuk apa?"
"Untuk berkenalan. Sebentar lagi papa akan mengurus perceraian dengan mamamu. Itu artinya papa akan berstatus duda. Mamanya Zuri berstatus janda. Kalau mamanya Zuri terima papa adanya, papa akan menikahi wanita itu, biar selamanya kau dan Zuri tidak akan berpisah."
Aku terkejut. "Papa sudah gila, ya?"
"Gila, kenapa?" papa masuk ke dalam mobil.
"Pa, tunggu! Masa Papa ingin menikahi mamanya Zuri. Zuri kan pacarku, Pa. Dia calon istriku."
Tanpa membalas perkataanku papa segera menutup pintu mobil kemudian berlalu meninggalkan area apartemen. Aku tahu papa bercanda. Papa ingin meledekku saja, sebab ekspresi papa tadi terlihat bahagia. Mana mungkin papa akan menikahi mama dari wanita yang kucintai.
Mengingat Zuri sedang membuatkanku sarapan, aku segera kembali memasuki gedung. "Aku harus menagih hutang kepada Zuri. Aku harus memberi Zuri hukuman, pagi ini Zuri sudah berbohong dan berbuat kesalahan. Aku akan membuatmu basah dan berteriak minta ampun."
Lift terbuka di saat si bibi baru saja keluar dari apartemenku dan papa. "Bi, mau ke mana?"
"Mau bersihkan tempatnya non Zuri, Tuan."
Bagus, ini kesempatanku untuk berduaan dengan Zuri. "Baik, Bibi. Kalau perlu sesuatu telepon saja aku. Untuk sekarang sampai satu jam ke depan aku ingin berduaan dengan Zuri. Jadi siapapun yang mencariku, bilang saja aku tidam ada.
"Tenang saja, Tuan.erima kasih, Tuan."
Tanpa membalas perkataan bibi aku segera masuk dan mencari Zuri ke dapur. Kulihat tubuh seksi dan indahnya membelakangiku sambil berdiri. Bagian belakang tubuhnya yang besar dan bulat ikut bergoyang saat Zuri mengaduk masakan di atas kompor.
__ADS_1
"Kamu membuat Joniku gelisah, Zuri," kataku pada diri sendiri, "Awas kamu ya, aku akan membuat si jini-mu basah dan minta ampun."
Bersambung___